Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Berdebar-debar manja


Entah apa yang dipikirkan oleh gadis tersebut, dia terus mereka telapak tangan kokoh di hadapannya itu untuk beberapa waktu.


hingga akhirnya dengan perasaan ragu-ragu dia memberikan tangannya kepada Cakra secara perlahan, bisa dilihat seulas senyuman dari Cakra terlihat menghiasi wajah tampan tersebut, laki-laki itu menggenggam erat telapak tangan senja kemudian membawa gadis tersebut secara perlahan menuju ke arah teras depan dan halaman depan masjid As Salam Lubuklinggau di mana banyak orang berkumpul di sana untuk menghabiskan waktu hingga matahari terbit Dengan indah.



begitu tiba di halaman muka mereka terlihat mencari tempat kosong yang kini cukup lumayan dipadati oleh orang-orang, Cakra memilih satu sudut di mana ada tempat yang cukup luas untuk mereka berdua.


dia menduduki dirinya ke atas lantai keramik di halaman muka masjid tersebut diikuti oleh senja yang menduduki dirinya pula tepat di sisi kiri Cakra.


"sering datang ke sini untuk menghabiskan waktu?"


Cakra bertanya dengan sedikit penasaran, sembari bola matanya melirik ke kiri, kanan, depan dan belakangnya. tempat ini sangat cocok sekali diajak untuk bersantai setelah menjalani shalat apalagi dikala langit masih menggelap seperti shalat magrib, isya atau bahkan salat subuh.


untuk pilihan waktu bulan tempat itu bisa menjadi rekomendasi untuk orang-orang bersantai, tapi di kala cuaca panas matahari kering ini bukan tempat rekomendasi baik untuk bersantai.


suasananya sangat mendukung dan begitu terlihat menyenangkan, di mana di setia bukan masjid baik di sisi kiri kanan bahkan depan juga belakangnya terlihat jutaan lampu-lampu yang berkilauan dan menambah kecantikan di area masjid tersebut.


seolah-olah konsepnya sejak awal telah ditata dengan sedemikian rupa.


"aku sering menghabiskan waktu dikala subuh atau bahkan dikala isya, yang paling enak asal bulan puasa ketika menjalankan shalat tarawih, di sini benar-benar padat merayap dan ramai, membuat kita rindu dengan suasananya ketika jauh.


senja mulai menjawab pertanyaan dari Cakra sembari dia bercerita.


"kalau malam hari di bagian sebelah kiri masjid di ujung sana itu adalah pasar malam, tepatnya pusat makanan kuliner yang menjual berbagai macam makanan seperti jajanan anak-anak Korea ala sea food dengan segala macam makanan yang menggunakan lidi yang ditusuk-tusuk, bahkan ada berbagai macam makanan lainnya seperti soto, sate, bakso dan berbagai macam makanan tidak bisa aku sebutkan satu persatu"


lanjut gadis tersebut lagi.


"bukankah dulu pernah ke Lubuklinggau pasti sudah tahu tempat makanan itu bahkan masjid ini juga?"


tiba-tiba dia ingat jika Cakra pernah ke sini sebelumnya.


"tempat ini belum seperti ini, begitu sederhana dengan masjid bangunan biasa, aku ingat di sisi kiri ini adalah lapangan kosong yang digunakan anak-anak berkencan atau mejeng dengan pasangan mereka, dan di sana ada para penjual makanan tapi tidak banyak, hanya ada jagung bakar atau bahkan wedang jahe, aku tidak tahu jika sekarang sudah berubah menjadi pusat makanan kuliner"


laki-laki itu menjawab dengan cepat sembari mencoba mengingat-ingat bagaimana rupa tempat itu dulu.




...(Doloe)...


"sekarang sudah sangat jauh berbeda"


lanjut laki-laki itu lagi kemudian.


"aku cukup terkejut saat kamu membawaku tadi ke sini pertama kali, bahkan saat kamu mengajakku keluar, bagian sisi kiri kanan jalanan cukup membuatku pangling, karena tempat ini dulu persis sebuah kampung, tapi sekarang tempat ini adalah kota maju yang berkembang"


setelah berkata seperti Cakra menghela pelan nafasnya, dia berniat untuk menoleh ke sisi kirinya namun siapa sangka tiba-tiba saja tanpa sengaja Senja menoleh ke arah sisi kanan nya, membuat sebuah gerakan refleks yang membuat hidung mereka beradu lembut antara satu dengan yang lainnya.


Terlalu manis dan lembut, membuat siapapun melihat nya menjadi berdebar-debar manja (Ahayyyyy🤭🤭🤭, jangan baperrr yaaaa🤣🤣🤣).