
Kembali ke Pullman Jakarta Central Park hotel
Kamar hotel bulan madu Senja dan Cakra.
Lewat tengah malam.
Cakra membiarkan tubuh nya berada pada posisi miring ke sisi kiri, menatap Senja yang terlelap sejak tadi, bola mata laki-laki tersebut menelusuri lekuk indah wajah istrinya, memperhatikan kening, alis, bola mata, hidung, pipi, bibir dan dagu istri nya satu persatu.
Lama dia melakukan nya, membiarkan dirinya menikmati keindahan dihadapan nya tersebut, hingga akhirnya Cakra mengulum senyuman nya sendiri, kemudian dia mencoba menahan tawa kecil nya.
Laki-laki tersebut kemudian membiarkan diri nya memajukan wajah nya, melesat kan ciuman lembut ke bibir Senja.
"Kau tumbuh se dewasa ini hmmm? masih cantik seperti dulu, aku hampir melupakan kamu"
Laki-laki tersebut berbisik pelan, menyentuh lembut wajah istrinya untuk beberapa waktu, mengelus nya penuh cinta dan ingat pada moment lama yang nyaris terlupakan.
*******
Kembali ke masa lalu.
Rumah sakit xxxxxxx.
Cakra menyembulkan kepalanya ketika dia memasuki sebuah ruangan rawat inap VVIP, mencari sosok mama Niar disana.
senyum bola mata Cakra bertemu dengan bola mata mamanya, seulas senyuman mengembang dari balik bibir mamanya.
"kamu sudah tiba?"
saat mamanya bertanya seperti itu sembari menatap dirinya, secara perlahan Cakra menyewa masuk ke dalam ruangan tersebut sembari membawa seorang baby kecil yang ada di tangannya.
"Oh ya ampun, sayang anak siapa yang kamu bawa?"
bayangkan bagaimana ekspresi Mama Niar, melihat putra kesayangannya menggendong seorang baby imut, bergerak mendekati dirinya dengan cepat lalu duduk di depan di samping kasur di mana mama dan Niar berbaring saat ini.
"Dedek nya datang menemui Cakra dan tidak mau melepaskan Cakra, papa nya sedang mencari mamanya, mungkin baru mau lepas kalau dengan mama nya sendiri"
cakram mulai bercerita pada wanita di hadapan nya itu, berusaha untuk memberikan gadis kecil itu pada mama nya, tangan nya cukup lelah menggendong baby mungil tersebut.
Nyatanya alih-alih mau ikut mama nya, sang gadis mungil malah menangis dan mencengkram erat kerah baju sekolah Cakra.
"Kannnn? dia benar-benar tidak rela melepas kan Cakra"
laki-laki itu bicara sambil tertawa kecil, langsung memeluk baby Senja dan menepuk-nepuk punggung nya.
"Ssttttt sssttttttt cupppp cupppp oh sayang.... ini tidak apa-apa"
Cakra kembali bicara, memejamkan bola matanya, memeluk Senja sambil membujuk nya, aroma baby sangat lembut dan manis, shampoo buah, baby oil, minyak kayu putih dan bedak talk bercampur aduk menjadi satu,sangat menyenangkan dan membuat nyaman.
Melihat hal tersebut Mama Niar terkekeh kecil, dia membantu mengelus lembut punggung baby Senja, kemudian berkata.
"Baby mungil jatuh cinta dengan Om muda dewasa, dia tahu pangeran berkuda putih nya ada di pelukan nya"
mendengar ucapan mamanya seketika membuat cakra membuka bola matanya, dia terkekeh kecil kemudian membalas ucapan mamanya.
"Saat dewasa mungkin tidak lagi suka sama Cakra, sebab dia selera nya bukan om om muda tapi laki-laki seusia nya"
"Aihhh siapa bilang? anak Om Arif nikah sama laki-laki dewasa kok, tapi ingat jangan suami orang,bujang tua ga masalah"
"Loh di sumpahin bujang tua, ma?"
Cakra protes.
"Duda juga bukan masalah"
Mana Niar spontan bicara.
"Mama... Ucapan itu doa"
Cakra protes berat.
Mama Niar langsung istighfar, menepuk keningnya secara spontan.
"Mama barusan ngomong apa? Allahuakbar, cabut ucapan hamba mu ya Allah"
Buru-buru dia meralat ucapan nya.
Cakra menggelengkan kepalanya, kembali menatap Senja yang rupanya mulai lelap didalam tidurnya.
"Dia bobok ma?"
Cakra bisa bernafas lega, mencoba meletakkan baby Senja tepat disamping mama nya.
"Cakra mau cari papa nya"
Dia bicara, menundukkan kepalanya, kemudian dengan iseng kembali mencium manis bibir Senja.
"Cakra.... jangan cium bibir dedek nya, di mulut banyak kuman nya"
Mama Niar protes, menepuk pundak putranya dengan cepat.
"Awhhhh mama..."
Dia meringis, langsung melonjak kaget.
"Cium calon bidadari surga, siapa tahu nanti jadi jodoh Cakra"
Laki-laki tersebut kemudian tertawa terbahak-bahak.
"Dasar"
Mama Niar menggelengkan kepalanya.
"Di amin kan kek ma?"
"Kamu terlalu tua untuk dia kalau dia sudah dewasa"
"Amin kan saja sih ma"
"Yah yah yah amin amin, aminnnnn ya rabbal alamin"
Niat nya cuma amin amin saja, siapa tahu doa yang terlintas mujarab terdengar.
Lagi Malaikat mencatat harapan manusia di atas torehan pena nya.
Cakra terkekeh, bergerak cepat keluar dari sana.
"Cakra cari calon papa mertua dulu"
Dia tertawa terkekeh, bicara tanpa sadar melampaui pemikiran.
Mama Niar menggelengkan kepalanya, menatap Senja kecil sambil mengembangkan senyuman nya, dia pikir tiba-tiba ingin punya anak lagi, tapi sadar diri ternyata usia sudah cukup tua.
"Ohhh sayang, kamu kenapa imut sekali?"
*******
Kembali ke masa kini.
Cakra kembali mengulum senyuman, jadi malu jika ingat tentang masa lalu.
"Selamat malam ya bidadari surga ku, tidur nyenyak dalam peraduan sejenak, mari bercerita tentang pertemuan pertama kita saat besok mata kita saling terbuka"
Lagi satu ciuman diberikan Cakra di bibir Senja, kali ini begitu dalam dan penuh dengan cinta, Seolah-olah enggan lepas karena bahagia.
Terlalu bahagia, siapa tahu ucapan terkadang benar-benar menjadi sebuah doa dan satu hari di ijabah oleh Allah SWT.