
Rumah utama Cakra
Jelang makan malam keluarga.
Begitu Cakra masuk kedalam rumah nya, sejenak bola mata laki-laki tersebut menangkap sosok dua orang yang bergerak di atas anak tangga, laki-laki itu menatap kearah Nabila kemudian melihat Senja yang turun dari atas tangga bersama Nabila.
laki-laki itu tidak bergeming di tempatnya untuk beberapa waktu, menatap kearah gadis yang menuruni satu persatu anak tangga bersama kakak perempuannya itu.
bola mata laki-laki itu menulis penampilan senja dari ujung kepala hingga ke ujung kakinya, memperhatikan dandanan serta pakaian yang dipilih untuk senja.
Sejenak senja menatap para Cakra hingga berakhir pada dua pandangan yang saling bertatapan, membiarkan pemikiran masing-masing melebur menjadi satu di dalam kepala tanpa mengeluarkan sama sekali suara mereka atau bahkan mengembangkan senyuman mereka.
Senja memang terlihat cantik ketika disulap oleh tangan para ahlinya, meksipun tidak didandani sekalipun gadis tersebut memang nyatanya cantik.
tidak dipungkiri meskipun Cakra mencari istri sementara untuk mencetak generasi penerus Gunawan, tapi bukan berarti dia harus mencari gadis asal tanpa melihat face nya terlebih dahulu.
Dia tidak mungkin sembarang memilih gadis asal tunjuk tanpa melihat tampang nya terlebih dahulu, setidaknya dia harus memiliki keturunan dari wajah yang memadai.
selanjutnya yang akan jadi pokok penting untuk penerus nya yah akhlak dan Budi nya, mana mungkin dia memilih sembarang gadis tanpa tahu bagaimana dua poin tersebut lebih dulu.
Setidaknya sebelum bertindak dia sudah mencari tahu soal gadis tersebut lebih dulu.
dan senja adalah pilihan sempurna yang menjadi salah satu kandidata beruntung yang dipilih oleh dirinya di dalam keadaan gadis tersebut yang memang membutuhkan sesuatu yang membuat gadis tersebut terdesak keadaan dan mau menyetujui tawaran pernikahan yang dia berikan.
dia cantik.
dia mengakui dengan lantang jika senja memang cantik dalam banyak aspek terutama wajah dan juga Tata kramanya, tapi tetap saja senja tidak akan pernah mengalahkan jelita dalam banyak hal termasuk cinta dan juga kenangannya.
gadis yang berdiri di tangga tersebut tidak memiliki apa yang dimiliki oleh jelita dan gadis tersebut tidak akan mampu membuatnya jatuh cinta seperti dia yang tergila-gila pada jelita.
ada perbedaan kapasitas besar di antara kedua orang tersebut bagaikan langit dan bumi juga bagai kan isi lautan dan isi bumi yang tidak mungkin menyatu antara satu dengan yang lainnya atau berpindah posisi dan saling berbaur begitu saja.
dia tidak pernah memikirkan sesuatu yang lebih dari pernikahan mereka, bagi nya ini hanya sebuah kesepakatan di suatu hari kesepakatan ini akan hancur lebur bersama dengan surat perjanjian mereka.
tidak ada ekspektasi berlebihan atau bahkan impian juga harapan untuk memupuk hubungan mereka menjadi sekedar perjanjian, mereka menyepakati semuanya berdasarkan keuntungan yang sama-sama ingin mereka dapatkan.
Cakra dengan keuntungannya dan juga senja dengan keuntungannya juga, tidak ada hal yang lain yang terjadi di dalam kesepakatan pernikahan mereka.
setelah menatap Senja untuk beberapa waktu pada akhirnya laki-laki tersebut membuang pandangannya, dia enggan kembali melihat para gadis tersebut.
senja sendiri ikut membuang pandangannya setelah bola mata mereka lama bertemu.
bohong jika senja tak berkata Cakra memiliki kharismatik yang begitu menawan, mungkin tidak akan ada perempuan atau gadis yang menolak kharismatik laki-laki matang yang berdiri di ambang pintu menatap dirinya tersebut tadi.
meskipun usianya sudah lebih dari 35 tahun tidak dipungkiri jika laki-laki itu memiliki satu penampilan yang akan membuat jantung siapapun bergemuruh melihatnya dengan pesona dan juga kesempurnaannya.
tapi anehnya tidak untuk dirinya, begitu surat perjanjian dibaca dan mulai ditandatangani seolah-olah senja berkata dia akan mulai terbelenggu bersama laki-laki tersebut hingga kelahiran penerus tahta Gunawan Group.
tidak ada ikatan yang paling kencang di antara tangan dan kakinya kecuali ikatan yang diberikan oleh Cakra untuk dirinya.
seolah-olah sejak awal kebebasannya telah dibelenggu dengan rantai dalam kubus kaca yang dipenuhi oleh air yang menenggelamkan dirinya.
ingin dibawa ke mana hubungan mereka dia tidak tahu tapi jelas-jelas dia paham dan dia
jika para perempuan dan gadis akan berkata mereka beruntung bisa dinikahi oleh Cakra, maka dia ingin berkata dia tidak memiliki keberuntungan tersebut karena dia yakin dia berada di penjara yang tidak pernah dia inginkan sama sekali.
orang miskin selalu tidak memiliki pilihan, karena uang akan menjadi pemicu utama untuk mereka bertahan, selama tidak mencuri atau menjual diri itu jauh lebih baik daripada dunia dan seisinya.
Senja menghela kasar nafasnya untuk beberapa waktu, dia pada akhirnya melangkah terus mengikuti langkah kak Nabila.
Cakra yang membuang pandangannya langsung menoleh ke arah Nabila.
"kamu sudah pulang?"
sebaris pertanyaan tersebut dilontarkan oleh Nabila pada Cakra, membuat laki-laki tersebut langsung berdehem lantas bergerak untuk naik ke arah sisi tangga yang satunya.
dia bergerak sedikit terburu-buru karena pulang terlambat padahal jelas-jelasnya memiliki janji temu untuk makan malam bersama dengan keluarga mereka.
"sedikit terlambat karena banyaknya pekerjaan di kantor"
ucap laki-laki tersebut tanpa ingin menoleh ke arah Nabila atau Senja.
"Tidak memberikan pujian untuk istri kamu?"
Nabila bertanya sambil mengerutkan keningnya, menatap Cakra yang menampilkan ekspresi biasa-biasa saja, malah berniat bergerak melewati tangga di sisi kiri mereka, membuang pandangan hidup saja dan bergerak dengan tergesa-gesa.
"biasanya juga pasti memuji kalau melihat penampilan cantik atau bahkan sempurna baik dari diriku maupun jelita, tumben tidak memuji sama sekali? senja bahkan tidak kalah cantik dari kami berdua"
perempuan itu kembali bertanya sambil memicingkan bola matanya, menatap ke arah Cakra dengan penuh kecurigaan, seketika dia berpikir ada yang aneh dengan pernikahan mereka.
dia tahu betul karakteristik adiknya, laki-laki tersebut akan memuji dan berkata sempurna ketika dia membuka satu penampilan cantik orang-orang yang dia cintai, kamu laki-laki tersebut sama sekali tidak membenci istri barunya, seolah-olah senja bukan siapa-siapa.
hal tersebut memicu tanda tanya di kepala perempuan tersebut.
Cakra menghentikan langkah kakinya saat dia baru menaiki beberapa langkah anak tangga, menoleh kearah Nabila kemudian menatap kearah Senja.
mereka berada pada posisi saling berhadapan antara satu dengan yang lainnya, menciptakan keheningan untuk beberapa waktu lamanya di antara barisan anak tangga.
"Dia cantik"
Cakra bicara sambil bersusah payah mengembangkan senyuman nya, lantas berniat membuang pandangannya kembali.
"Tidak ingin bercerita kepada Ku, sebenarnya bagaimana cara kalian bertemu? jangan bilang kalian tidak saling mencintai namun terikat pada satu perjanjian"
tiba-tiba saja perempuan itu melontarkan tanya kepada Cakra dan senja, mencoba untuk menahan kecurigaan serta kegelisahan di dalam hatinya soal hubungan keduanya.
Mereka tidak dalam hubungan yang baik-baik saja.
Nabila membatin sambil mengernyitkan dahi nya.
seketika ucapan kakak perempuannya membuat Cakra menoleh dan terdiam, seolah-olah pertanyaan kakaknya tersebut membuat dia kehilangan kata-katanya.