
Disisi lain
Masih di rumah sakit xxxxxxx.
Vervita terus menatap nanar pintu ruang operasi yang ada di hadapannya, kegelisahan menghantam dirinya, dia bahkan mengubah posisinya sejak tadi tanpa henti, dari berdiri duduk menjokokan tubuhnya hilirmu di kesana kemari seperti gosokan panas dan entahlah apalagi.
jika ditanya bagaimana histeris nya dia maka tidak ada yang bisa menjabarkannya dengan kata-kata, yang jelas dia telah kehilangan air matanya bahkan hampir kehilangan seluruh suaranya, dia tidak peduli apapun saat ini yang dipedulikan hanya Rudi.
Bola mata nya jelas memerah, bahkan tubuh nya tidak ingin berhenti bergetar, mama Niar sesekali mendekati dirinya dan memeluk dirinya, karena disana hanya dia yang tidak memiliki pegangan atau teman untuk menguatkan diri.
Mama Niar sedikit banyak tahu betul siapa Vervita, bahkan wanita itu juga tahu siapa Rudi kini, wanita itu juga bahkan paling menyukai Rudi, bukan karena dia sektretaris Cakra atas pilihan tuan Gunawan, tapi karena Rudi memang Type anak laki-laki yang pandai mengambil hati orang tua.
Sssttttttt.
Takkkkkk.
Seketika bola mata Vervita membulat dan dia langsung membenahi posisinya ketika dia menyadari pintu ruang operasi terbuka dan lampu bagian atasnya dimatikan dengan cepat.
"Om?"
Laki-laki tua berusia tidak lebih dari 45 tahun itu keluar dari sana, masih menggunakan pakaian dinas lengkap nya dimana seorang perawat menunggu laki-laki tersebut melepas kan beberapa perlengkapan di tubuh nya.
Melihat Vervita memanggil dirinya, laki-laki yang di panggil Om terlihat menghela pelan nafasnya, dia belum sempat menjawab ketika Mak berhamburan mendekati dirinya.
"Apa yang terjadi pada putra ku, dok? apakah semua baik-baik saja?"
Mak bertanya dengan air mata yang terus tumpah, mencoba menatap laki-laki yang jauh lebih muda dari nya, menunggu jawaban laki-laki tersebut dengan bola mata terus mengeluarkan air matanya.
Tuan Anggara ikut bertanya, menunggu laki-laki tersebut bicara.
"Hendra?"
Dia kenal betul dengan laki-laki berprofesi dokter tersebut, karena itu langsung menyebutkan nama nya dengan cepat.
"Kami bisa mengeluarkan peluru nya, bahkan mengangkat penyakit nya, Rudi mungkin memang bisa melewati masa operasi nya tapi kami tidak berjanji apakah dia mampu melewati masa kritis nya, kita akan melihat perkembangan nya dalam beberapa hari, selang-selang akan terus menancap di tubuh nya, monitor akan terus mengawasi detak jantung nya dan kita hanya bisa banyak-banyak berdoa"
Begitu panjang penjelasan laki-laki bernama Hendra tersebut, menatap Anggara dengan wajah yang jelas tidak menampilkan harapan yang banyak, Seolah-olah berkata kita hanya sedang menunggu keajaiban dari Allah SWT, sebab sebaik-baiknya pemberi Allah SWT, dan Allah SWT paling suka pada manusia yang mau berdoa dan meminta.
"Meminta lah, karena kami sudah berusaha semaksimal mungkin, Allah SWT paling tahu apa yang terbaik untuk kita, dan Allah SWT paling suka pada kita yang mengingat nya dalam berbagai macam keadaan, pergilah meminta pada nya"
Dokter Hendra bicara sambil menepuk-nepuk bahu Anggara, dia pada akhirnya bergerak menjauhi semua orang tanpa kembali mengeluarkan suara nya, berjalan kearah depan dengan langkah yang rumit, entahlah berapa jam dia berada di ruangan operasi, yang jelas sejak pagi hingga siang dan saat ini hampir menjelang sore hari.
Mendengar ucapan dokter Hendra, Anggara terlihat diam, bisa dia lihat Mak Hesty mencoba untuk mencari pegangan, bergerak kearah depan dengan langkah bingung, Anggara buru-buru meraih tubuh Mak yang seolah-olah siap tumbang saat ini juga.
Senja yang berdiri dibelakang Mak bersama Cakra langsung menoleh kearah suaminya, bola matanya terlihat berkaca-kaca, dan seketika bahu nya bergetar menatap Cakra, laki-laki tersebut menenggelamkan Senja kedalaman dekapan nya.
Vervita seketika langsung menatap kearah mama Niar dan didetik berikutnya.
Brakkkkkkk.
"Akhhhhhh"
"Vervita"
Gadis tersebut pingsan begitu saja.
******
"Om...."
Mereka berjalan menyusuri jalanan malam, dibawah langit berbintang di antara pohon bonsai yang berjajar rapi disisi kiri dan kanan taman.
"Hmmm?"
Saat Vervita bicara, Rudi hanya berkata hmmm, dia cukup lelah melangkah sejak tadi, mobil yang dibawa nya mendadak macet tanpa sebab, tugas nya mengantar Vervita sesuai permintaan tuan Gunawan, pergi ke pesta ulang tahun teman gadis tersebut sejak pukul 7.30 malam.
Ini sudah terlalu larut, hampir tengah malam.
Jika bukan permintaan tuan Gunawan, dia tidak akan mau mengantar gadis muda tersebut, laki-laki itu berkata ayah gadis tersebut meminta Cakra untuk mengantar jemput nya, karena tuan Gunawan tidak mau ada skandal terjadi di antara kedua nya, terpaksa menggunakan Rudi sebagai batu loncatan nya.
"jangan cepat-cepat Om, kakiku lecet semua"
Dia pikir bagaimana bisa ada laki-laki sedingin Rudi, mengantar jemput nya tanpa banyak bicara, mengabaikan nya bahkan sekarang Membiarkan dia berjalan dengan heels tinggi nya, kaki nya sudah lecet sejak tadi, rasanya dia ingin menangis saat ini juga
"Ommmmm"
Teriak Vervita lagi dengan perasaan kesal, dia pikir apa sebaiknya dia berguling-guling dilantai karena di abaikan?!.
Rudi buru-buru menoleh, menantap Vervita diujung sana, jarak mereka tidak kurang dari 10 meter, gadis tersebut sama sekali tidak mau melanjutkan langkahnya.
Om?! cihhhhh.
Rudi berdecih, seumur-umur baru kali ini dia dipanggil oleh seorang bocah, Om.
Usia mereka tidak terlalu jauh berbeda, usia Vervita kisaran 25 tahunan, dia belum terlalu jauh melewati Kepala 3, paling tidak mungkin selisih hanya sekitar 5 tahunan, mungkin kurang mungkin juga lebih sedikit, yah sedikit saja.
Bagaimana bisa dia dipanggil Om oleh gadis tersebut?!.
Kau pasti bercanda.
Batin Rudi kesal.
"Haisshhhh"
Dia ingin membalikkan tubuhnya tapi Vervita lebih dulu langsung memutar tubuhnya.
"Dia benar-benar tidak menyenangkan"
Vervita mengoceh, membalikkan tubuhnya dan berniat kabur dari Rudi.
"Hei....hei... bocah..."
Rudi langsung berteriak tidak percaya, Bergerak dengan cepat mengejar langkah Vervita.
"Sial"
Dia mengumpat.
Rudi pikir kenapa dia harus berhadapan dengan gadis yang begitu rumit?, dia mengejar langkah, meraih tangan gadis itu dan memaksa nya menyeret langkah.
"Berhenti bercanda"
Rudi terlihat protes, Vervita langsung berbalik, memicingkan mata nya dan menatap tidak ramah kearah Rudi.
"Aku mau kembali kerumah teman ku"
"Apa kau bercanda?"
"Om yang tidak menyenangkan, berhenti memasang muka datar, om pikir aku menyukai nya? itu sangat buruk, seperti burung hantu kekurangan pasokan oksigen dan siap mati kapan saja"
Gerutu Vervita.
"Apa?"
"Pulang sana, sana...aku mau pergi ke rumah teman ku"
Dia ingin kembali berbaik tapi Rudi seketika langsung mendengus kesal, tanpa aba-aba langsung menjongkokkan tubuhnya dan tiba-tiba.
"Akhhhh"
Vervita histeris saat laki-laki tersebut memaksa nya dan menggotong nya persis seperti karung beras.
"Yakkkk om....om...yakkkk papa...."
*****
Bukankah permulaan kita begitu manis?.
Aku merindukan nya, sungguh merindukan nya, bangunlah, katakan pada ku, aku bagaimana tanpa kamu Ga?.
Vervita.