
Disisi lain
H-2
Kediaman keluarga Anggara.
Mell meremas undangan yang ada ditangan nya dengan kemarahan yang mendalam saat dia tahu Gunawan menitipkan undangan pernikahan Cakra pada pembantu nya.
"Dia benar-benar tidak ingin di ajak berkompromi, benar-benar menyakiti Riana dengan gadis tidak jelas pilihan nya"
Dia marah, sangat, entahlah bagaimana menjabarkan kemarahan nya, sangat tersinggung permintaan nya untuk menikahkan Riana dan Cakra di tolak mentah-mentah.
Dulu permintaan nya yang pertama di tolak, karena Jelita telah mengisi relung hati Cakra, dia menahan perasaan dan mencoba membuat rencana, ingin menghancurkan pernikahan Cakra dan Jelita.
Tapi dia bahagia, merasa beruntung karena putri sialan Anggara menderita penyakit dan mati dengan sendirinya, tapi sekarang?!.
"Baji..ngan itu .."
Mell mengumpat, dia pikir dari mana juga Gunawan menemukan gadis udik sialan itu.
Riana berkata gadis tersebut miskin, sangat, rumah kayu panggung dan berada di kota kecil di belahan dunia entah dimana, putri nya sudah mengejar Cakra, mencari kesempatan menggagalkan pernikahan nya, tapi sekretaris kepercayaan Gunawan menghalangi jalan putri nya.
"Siapa lagi laki-laki sialan yang selalu bergerak disamping Gunawan?"
Bola mata tajam yang menatap nya penuh dengan kebencian, sejak awal bertemu dengan laki-laki tersebut bersama almarhum jelita, sekretaris Gunawan yang kala itu bekerja menjadi Office boy menatap nya dengan tatapan penuh kebencian dan kemarahan.
Apa dia gila? memangnya aku ini punya salah apa dengan diri nya?!.
Perempuan tersebut kini bergerak keluar dari kamarnya, mencari putri kecilnya yang pasti terluka dengan berita pernikahan Cakra, dia tahu Riana pasti hancur lebur karena keadaan ini.
"Kau tidak akan jadi pengecut karena cinta bukan?"
Mell bertanya sambil menaikkan ujung alisnya, dia menautkan dua lengan nya didepan perut atas nya, menatap kearah putri nya yang meringkuk di pinggir ranjang.
"Kau seharusnya tumbuh sekuat diri ku, kau tahu bagaimana aku masuk ke keluarga Dewantara? aku menghancurkan dua pernikahan sekaligus untuk bisa sampai pada puncak kejayaan ku, Riana"
Ucap Mell sambil menaikkan ujung bibirnya, dia puas atas pencapaian nya, menghancurkan banyak keluarga demi mendapatkan obsesi dan kekayaan yang dia impikan.
"Untuk mendapatkan apapun yang kamu inginkan, kamu harus memiliki hati sekuat batu dan membuang rasa malu, aku bahkan tidak segan menyingkirkan siapapun dulu yang aku anggap sebagai batu penghalang"
Lanjut Mell lagi kemudian.
"Bahkan menyingkirkan orang yang menganggap ku kekuarga sendiri untuk bisa menjadi seperti hari ini"
Tambah perempuan tersebut lagi kemudian.
Riana yang mendengar ucapan Mama nya langsung mendongakkan kepalanya, menatap wajah mama nya yang berdiri sombong dan pongah dihadapan nya tersebut.
"Aku dua kali kehilangan kesempatan"
Dia menangis tersedu dan terisak, begitu marah karena tidak mendapat kan Cakra.
"Dua kesempatan itu hal yang biasa, untuk mendapat kan keinginan mu, jatuh berkali-kali bukan hal yang sulit, jadi lah sedikit mengerikan untuk mendapat kemauan mu, singkirkan siapapun yang menjadi batu penghalang mu Riana, seperti mama dulu, menyingkirkan Dewantara dan putri nya, kemudian mendapatkan papa mu Anggara dengan sejuta cara"
Seulas senyuman mengerikan mengembang dari balik wajah Mell, ib..lis mengerikan tersebut tengah mengajari putri nya agar berbuat lebih mengerikan daripada dirinya.