
Martabak Leman
Pasar atas
Lubuklinggau.
"Mereka benar-benar sudah jauh berubah"
Begitu mematikan motornya, Cakra menatap bagian pasar terminal atas jl. Kalimantan Lubuklinggau, dulu tempat nya masih kaki 5, menggunakan gerobak dorong yang berjajar disana, kini sudah berjajar bangunan permanen meskipun bukan ruko bertingkat, masih petak 1 lantai tapi cukup rapi dan berjajar bagus dibandingkan dulu.
Para penjual telah banyak menghilang, mungkin pindah atau sudah pensiun karena usia dan anak tidak meneruskan usaha jualan mereka.
Laki-laki tersebut turun dari motor nya didahului oleh Senja.
Gadis tersebut diam mematung, baru tahu ini tempat makanan yang di cari laki-laki tersebut, martabat kari India.
"dulu bentuknya bagaimana?"
Senja bertanya penasaran, secara kala itu mungkin dia masih bayi.
"Susunan gerobak dari ujung ke ujung"
Ucap Cakra seperti bercerita.
"kami sering mampir dan makan disini"
Ucap nya lagi.
Kata kami jelas menunjukkan bukan pada satu orang, bisa senja tebak mungkin yang dimaksud adalah Almarhum istri Cakra, Jelita.
"Aku pernah beberapa kali di ajak salah satu keluarga makan disini"
Ucap Senja pelan.
"Enak bukan?"
"He em, cukup rekomended dengan harga yang juga tidak mencekik kantong"
Senja mengangguk kan kepala nya tanda setuju.
Cakra melangkah maju, duduk di kursi plastik yang ada di hadapan meja persegi dihadapan mereka, laki-laki tersebut menoleh pada penjual nya.
"2 porsi Om"
Seolah-olah penjual nya ingat benar siapa yang ada di hadapannya.
Mendengar ucapan sang penjual, seketika Cakra berdiri sambil mengembangkan senyuman nya, dia bergerak mendekati laki-laki tersebut, menyalami nya dan bertanya kabar juga bertegur sapa, seolah-olah mencoba untuk mengingat masa lalu sambil bertanya jawab antara satu dengan yang lainnya.
kedua orang itu seolah-olah seperti sahabat lama yang saling melepaskan rindu, bercerita tentang banyak hal ini dan itu sembari sang penjual laki-laki itu terlihat sibuk dengan tangan-tangan cekatannya di mana istrinya di samping laki-laki tersebut ikut sibuk dengan kegiatannya.
tanya jawab terjadi di antara mereka seolah-olah kedua orang tersebut memang saling mengenal sejak lama pada masa lalu.
Senja tidak begitu mendengar percakapan mereka, memilih diam membisu, tidak ingin melihat kedua orang tersebut, tidak ingin menebak-nebak atau bahkan dibicarakan oleh mereka juga tidak ingin mengganggu pendengarannya atas pembicaraan yang mungkin bukan miliknya.
entah berapa lama waktu berlalu hingga pada akhirnya tiba-tiba saja Cakra telah selesai dengan obrolannya, laki-laki itu bergerak mendekati Senja, di sisi kiri senja sembari laki-laki tersebut menarik sebuah minuman teh botol yang ada di hadapan mereka dan semua kerupuk yang dibuka secara perlahan oleh Cakra kemudian laki-laki tersebut mulai memakannya.
"tidakkah kamu ingin mengunyahnya? "
laki-laki tersebut bicara sembari melirik ke arah senja.
gadis tersebut hanya mengembangkan senyumannya sembari melirik ke arah kerupuk yang ada di hadapan Cakra, laki-laki itu menggeser kerupuknya membiarkan senja untuk ikut menikmati bersama dirinya, gadis tersebut menurun secara perlahan mengambil satu keping krupuk dan mencoba untuk melahapnya.
"ternyata benar-benar pernah ke sini dan cukup banyak kenal orang-orang di sini rupanya?"
senja mulai membuka obrolan.
"aku sering makan di sini di masa lalu, dulu di sini ada makanan nasi padang favoritku, tapi abang di sini berkata mereka sudah tidak jualan lagi, ada mie ayam yang di sebelah sana kami sering memakannya dan pangsit nya lumayan recommended, yang di sebelah kanan kita itu"
petunjuk Cakra pada senja.
gadis itu menoleh dengan cepat.
"beberapa kali kalau kami punya lebih uang suka makan di sana"
senja ikut bercerita.
"kalau begitu malam lainnya kita bisa coba untuk makan mie ayam disana"
laki-laki tersebut menawarkan, membuat senja langsung menaikkan ujung alisnya.
"memangnya kita akan libur lama disini?"
dia pikir bukankah mereka hanya satu dua hari di sini bagaimana bisa Cakra menawarkan untuk pergi makan besok-besok lagi.