Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Suami ku


"Aku bingung harus manggil apa tuan, eh pak, eh om, eh.... eh... eh..?"


Senja buru-buru menggigit lidah nya, merasa terintimidasi saat Cakra menatap tajam kearah Senja, gadis tersebut jadi seperti kura-kura, memendekkan lehernya seketika sambil membiarkan dua Jemari nya saling di takutkan antara satu dengan yang lainnya.


seram amat.


Batin nya saat melihat ekspresi Cakra.


Laki-laki tersebut sepertinya tengah serius menikmati kekesalan nya, dia pikir harus memberikan sedikit hiburan.


"Suami ku.... jangan mengeluarkan ekspresi seperti itu"


Tiba-tiba dia mengedip-ngedipkan bola matanya, menampilkan barisan gigi putihnya yang indah, Cakra ingin protes tapi ekspresi Senja seolah-olah membunuh kemarahan nya.


"Anak ini"


Dia awalnya pikir dulu pertama kali bertemu Senja hidupnya akan datar-datar dan B saja, tapi ternyata jadi sedikit banyak warna dengan lisan yang selalu bisa mengimbangi dan menghibur dirinya.


Sepersekian detik kemudian tiba-tiba saja kedua tangan senja bergerak ke sisi kiri dan kanan bibir Cakra, menariknya ke atas agar laki-laki tersebut tersenyum dengan Indah.


Cakra mengerutkan keningnya.


Apa?.


Laki-laki tersebut membatin.


"Dia terlihat lebih tampan ketika mengeluarkan ekspresi begini"


Oceh Senja kemudian sambil menatap wajah Cakra yang memang jauh lebih baik tersenyum.


"Yang tadi seperti hantu"


Lanjut nya lagi.


"Iya toh??? suami ku...?"


Masih sempat nya dia mengajak laki-laki tersebut bercanda di saat Cakra lagi serius-serius nya.


Lagi Senja mengeluarkan ekspresi terbaik nya, mengedip-ngedipkan bola mata indahnya.


"Hehehe pak suami ku..."


Gadis tersebut menaikkan dua Jemari nya, memberikan tanda peace untuk Cakra.


"Haishhhhh"


Seketika Cakra mengeluh, sebenarnya ingin tertawa melihat ekspresi Senja barusan, terlalu lucu dan bikin hati adem, tapi gengsinya jauh lebih tinggi dari pada harga dirinya.


Mana Sudi dia tertawa.


Tiba-tiba terbersit ide didalam kepala nya, jari telunjuknya bergerak cepat.


"Panggil aku terus dengan kata Suami ku, itu terdengar keren"


Pada akhirnya laki-laki tersebut memutuskan nama panggilan nya, laki-laki tersebut berbalik berniat kembali melajukan motornya.


"Eh..loh?"


Niat hati main-main malah di anggap serius sama yang punya badan.


"Lohhh om? "


"Kenapa jadi suami ku?"


Dia protes, itu bukan nama panggilan cuma sekedar kata hiburan.


Cakra kembali menoleh, mengurungkan niat untuk kembali melajukan motornya.


"ehhh berani ngajak debat?"


Lagi laki-laki tersebut menatap Senja dengan cara mengintimidasi nya.


Melihat ekspresi Cakra lagi, gadis tersebut menggelengkan kepalanya, dia mana berani.


"Coba ulangi, tadi..kata tadi.."


Cakra langsung mendongakkan kepalanya, ingin mendengar Senja kembali memanggil nya.


"Ya?"


"Ulangi"


Itu persis seperti kalimat perintah.


"Suami ku...."


Gadis tersebut menelan salivanya.


Cakra langsung menaikkan kedua bibir nya keatas.


Puas!.


"Terdengar keren"


Ucap Cakra lantas berbalik, dia menahan tawa nya, mengulum sejenak senyumannya, jadi tiba-tiba suka di panggil suami ku.


Lucu dan keren, tidak juga pasaran.


"Anak pintar"


Tambah Cakra lagi.


Kan aku cuma main-main.


Senja membatin, dia memunyungkan bibirnya dengan perasaan kesal, tidak menyangka ucapan nya malah jadi Boomerang untuk dirinya sendiri.


Suami ku? masa dia harus memanggil laki-laki tersebut begitu? berdua sih bukan masalah tapi....


"didepan Mak bapak masa panggil begitu juga?"


Tiba-tiba dia protes berat.


"Tentu saja"


Jawab Cakra kemudian.


"Tapi..."


"Membantah ucapan suami itu dosa besar"


Bisa-bisanya dia berkata begitu saat yang dibelakang panik karena panggilan nya.