
Masih kembali di hari H
Pullman Jakarta Central Park
Gedung pernikahan.
Mell bergerak masuk ke dalam gedung megah tersebut, membawa langkah putri nya yang cukup ribet dengan kebaya nya, entah kenapa hati Mell merasa tidak baik-baik saja, sejuta kemarahan masih menghantam dirinya soal Anggara.
"Kemana dia?"
Masih pertanyaan tersebut memenuhi isi kepalanya, bola mata wanita tersebut masih berusaha untuk mencari sosok suami nya, terlalu gelisah dan tidak bisa untuk dirinya tidak mencari Anggara.
Laki-laki yang dicintainya, laki-laki yang dia dapatkan dengan berbagai macam cara dimasa nya.
Dia tidak akan lupa bagaimana perjuangan dirinya bisa sampai pada titik dimana dia mendapatkan Anggara, menghalalkan banyak cara untuk memiliki nya, bahkan lupa pada dosa juga kematian yang akan menghantam nya.
Dia adalah Mell, yang selalu menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apapun yang dia inginkan, dia adalah Mell yang tidak pernah menggunakan hati nya saat dia ingin mencapai puncak kejayaannya, bagi nya hati nya telah mati karena kemiskinan yang merongrong dirinya sejak dia mulai menyapa bumi.
Dia adalah Mell, yang sudah bosan menjadi orang miskin, dia iri setiap kali melihat kebahagiaan orang-orang disekitarnya, yang memiliki keberuntungan tidak seperti takdir hidupnya.
Bahkan dia bisa menghancurkan orang yang berlaku seperti malaikat sekalipun pada dirinya.
Satu ingatan menghantam Mell, dia ingat bagaimana papa Hesty dalam kesekaratan nya bertanya.
"Kenapa kau melakukan semua nya, Mell? kurang baik apa aku pada ku? kurang baik apa Hesty pada mu?"
Laki-laki tua itu berjuang di antara kematian nya, selang-selang menancap tubuh nya, mata sayu dan tubuh ringkih tak berdaya dengan bibir pucat nyaris membiru tersebut telah siap mati kapan saja, dia menatap Mell dengan bibir gemetar, bertanya dengan bola mata yang menampung air matanya.
Menyesali semua perbuatannya, tergoda pada pesona Mell, menghancurkan Keluarga kecil nya sendiri, membuat istrinya meregang nyawa atas perselingkuhan nya dengan Mell, membuat wanita yang menemani nya dari 0 menghembuskan nafasnya dalam kepahitan, membuang jauh putri dan cucu nya sendiri, demi perempuan lacur yang pandai merayu nya.
Menghapus Hesty dari daftar keluarga dan menghapus hak waris putri nya sendiri demi seorang perempuan iblis seperti Mell.
Mell muda terlihat terkekeh mendengar pertanyaan laki-laki tua tersebut, ditengah gelap nya langit malam dan ruangan tanpa penghuni nya.
Dia bergerak mendekati laki-laki sekarat tersebut, mendekati bibirnya tepat disamping telinga kiri laki-laki yang selalu dipanggil papa oleh sahabat baik nya.
"Aku hanya benci dan iri melihat kebahagiaan Hesty, aku benci dia memiliki sesuatu yang tidak aku miliki, aku menginginkan apa yang dia miliki saat ini tanpa terkecuali"
Dia puas mengatakan pada laki-laki tersebut, tertawa ngeri di keheningan malam, membuat laki-laki tidak berdaya tersebut meneteskan air matanya.
Dia sulit bicara, karena tubuh nya telah melumpuh dengan sempurna, bahkan kini suara nya mulai menghilang dimana kematian sebentar lagi datang menghantam.
Mell membenahi posisi nya, mengeluarkan sesuatu dari kantong nya, sebuah suntikan penuh dengan cairan didalam nya.
"Sssttttttt, ini tidak akan sakit, dia akan membuat kamu tidur dengan nyenyak untuk selamanya, sayang"
Ucap Mell pelan.
"Ahhh iya, apa kau tahu sayang? beberapa bulan yang lalu aku sudah meminta seseorang menghantar Hesty dan anak-anak nya pada jurang kematian, dan...aku akan menikahi Anggara dengan cara yang manis"
Lalu dia secara perlahan menyuntikkan obat didalam tangan nya ke selang yang akan membawa laki-laki dengan panggilan Dewantara tersebut pada kematian nya.
"Wanita iblis laknat"
Dewantara bicara dalam kemarahan diliputi sejuta sesal dalam kesekaratan nya.
Masih tersisa di ingatan nya bagaimana Dewantara meregang nyawanya, dan dia berhasil naik menjadi pewaris satu-satunya Dewantara group dengan hasil usaha nya selama bertahun-tahun ini.
Pencapaian luar biasa.
Mell tersadar dari ingatan nya, terus membawa langkah mencari suaminya, meskipun dia telah menyusuri bola mata nya pada seluruh bagian gedung, namun realitanya dia tidak kunjung menemukan sosok yang dia cari sejak tadi.
Dia pada akhirnya menyerah, memilih duduk di barisan kursi ke 2 dimana para keluarga Gunawan berkumpul, sejenak dia mencari putri nya yang ikut menghilang entah kemana.
"Dasar"
Dia mengoceh didalam hati, mencoba memperhatikan kearah panggung di depan sana, awalnya bola matanya menatap Mengejek pada para barisan keluarga besan Gunawan, menatap istri pilihan Cakrawala.
Meskipun tidak dia pungkiri gadis pilihan Cakra memang cantik bak boneka Barbie, cukup jauh kalah dari putri nya, tapi bagi nya tetap saja gadis tersebut tidak sepadan dengan Cakra.
Kini bola mata wanita tersebut berpaling, mencoba menatap besan dari Gunawan, awalnya ekspresi Mell biasa saja, dimana bisa dia dengar suara desas-desus mengencang soal nama mantan suami nya dan almarhumah anak tiri nya Hesty.
"Dia mirip putri Dewantara"
"Bukankah mereka mirip?"
"Aku pikir mungkin hanya kebetulan"
"Bukankah ada istilah Doppelganger? 7 wajah mirip dunia?"
Desas-desus tidak enak terdengar dimana-mana, kehebohan terjadi pada para kalangan sosialita"
Mell menatap wajah besan Gunawan, mengabaikan bisik-bisik dari sisi kiri dan kanan, awalnya biasa saja hingga pada akhirnya bola mata Mell membulat dan wanita tersebut tercekat.