Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Demam panggung


Kediaman utama keluarga Gunawan


Kamar Cakra dan Senja.


"Kenapa hmmm?"


Cakra menatap kearah Senja yang terlihat gelisah sejak tadi, gadis tersebut tampak belum memejamkan bola matanya, sejak tadi membalikkan tubuhnya berkali-kali.


Senja seketika terkejut mendengar suara Cakra dan laki-laki tersebut ternyata belum tidur juga, dia pikir Cakra sudah terlelap mengingat sejak tadi laki-laki tersebut tampak menutup bola matanya.


"Abang belum tidur?"


Senja bertanya cepat, menatap Cakra yang berbaring tepat di sisi kirinya, mereka saling menghadap antara satu dengan yang lainnya, netra terlihat saling bertemu antara satu dengan yang lainnya.


"cukup susah tidur karena istriku sejak tadi bolak-balik membaringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan tanpa henti"


mendengar ucapan Cakra seketika membuat wajah Senja memerah, dia tidak tahu jika laki-laki tersebut sama sekali belum tidur dan rupanya juga terganggu dengan pergerakan dirinya sejak tadi.


Yah Senja cukup kesulitan meminjamkan bola matanya karena dia cukup gelisah menunggu hari esok, tidak tahu bagaimana acara ngunduh mantu berjalan tapi yang jelas sejak malam kemarin dia gelisah bahkan tidurnya tidak benar-benar nyenyak.


"aku hanya sedikit gelisah"


gadis tersebut akhirnya bicara, mengadu apa adanya, jika dia benar-benar merasa gelisah dengan keadaan dan rasanya tidak tahu harus melakukan apa menunggu acara besok berjalan.


Jantung nya terasa tidak baik-baik saja.


mendengar ucapan Senja membuat Cakra mengulum senyumannya, dia kemudian menggeser tubuhnya dan membenahi kepalanya secara perlahan lantas laki-laki tersebut mengulurkan lengannya sambil berkata.


"masuklah kemari"


dia membiarkan senja untuk segera masuk ke dalam dekapannya, mencoba untuk menenangkan gadis tersebut atas demam panggung yang sebenarnya telah dirasakan oleh Senja saat ini.


Demam panggung adalah kekhawatiran, ketakutan, atau fobia yang berhubungan dengan penampilan yang akan dilakukan di depan penonton atau kamera. Bentuk ketakutan ini dapat mendahului atau menyertai penampilan di depan umum.


dia tahu setiap kali pernikahan terjadi akan ada banyak sekali pasangan yang merasa demam panggung atau bahkan takut berada di atas panggung dan dilihat oleh banyak orang serta dijemput oleh kamera dari sisi kiri kanan depan dan belakang, dan bagi Cakra itu hal yang biasa.


mungkin dia tidak merasakan hal seperti itu karena dia terbiasa berhadapan dengan khalayak ramai, dia sudah terbiasa berurusan dengan banyak orang bahkan di jepret kamera atau bahkan dia harus berhadapan dengan berbagai macam orang dari berbagai macam kalangan yang ada di hadapannya belum lagi dia terbiasa untuk menghadapi para bawahannya setiap kali memimpin rapat di perusahaan, karena itu dia sama sekali tidak merasa mendapatkan demam panggung untuk pernikahan mereka besok.


mendengar apa yang diucapkan oleh suaminya seketika Senja mengikuti perintah dari Cakra, gadis itu secara perlahan menyeruak masuk di dalam pelukan Cakra, menenggelamkan dirinya pada dekapan laki-laki tersebut.


lagi dia mencium aroma parfum khas milik Cakra, membiarkan nya masuk ke dalam hidungnya tetap dengan aroma yang sama, sejenak dia memejamkan bola matanya, menikmati aroma sang suami yang bisa membuatnya sedikit merasa lega.


"jangan khawatir soal apapun, ini hanya respon normal untuk calon pengantin yang akan naik ke atas panggung dan menghadapi ribuan undangan"


laki-laki itu bicara dengan cepat memeluk senja dengan orang sembari mencium puncak kepala gadis itu untuk beberapa waktu.


Ohhhh demi apapun, dia bukan malaikat, setiap kali memeluk Senja ada hasrat tersendiri yang bergelombang dan menggulung dirinya dalam keinginan untuk memiliki senja lebih dari ini dan bukan hanya sekedar pelukan.


mendengar ucapan Cakra, Senja sama sekali tidak menjawab, dia pikir apa yang diucapkan suaminya ada benarnya juga, dia hanya merasa demam panggung karena merasa cemas Dan panik juga khawatir tentang hari esok di mana dia harus duduk di atas panggung megah bersama Cakra dan dilihat oleh ribuan pasang mata.


"jantungku rasanya tidak baik-baik saja menunggu hari esok"


dengan polosnya Senja berkata, kemudian dia mendongakkan kepalanya.


"aku pikir jantungku jauh lebih tidak baik-baik saja menunggu hari esok"


Dan Cakra berusaha untuk menggodanya, dia tahu dia jauh lebih tidak sabar untuk menanti hari esok, mungkin setelah ngunduh mantu dia harus bersabar menunggu satu hari lagi untuk melewati momen paling berharga di antara mereka.


Dan mendengar ucapan Cakra sejenak membuat senja memicingkan bola matanya.


"suamiku juga demam panggung kah?"


dia bertanya dengan rasa penasaran yang tinggi.


mendengar pertanyaan istrinya seketika membuat Cakra mengulum senyumannya.


"aku tidak demam panggung sama sekali, hanya demam tinggi dalam beberapa hari karena hal yang lainnya"


Bisa-bisanya laki-laki tersebut mencoba menggoda istri polos nya, dia menahan tawa membiarkan Senja berpikir sambil mengerutkan keningnya.


"Abang demamkah? kenapa aku tidak tahu?"


Senja berusaha untuk menyentuh kening Cakra.


Cakra langsung memicingkan sebelah bola matanya, membiarkan tangan mungil istrinya menyentuh lembut kening nya.


"Abang baik-baik saja bukan?"


Gadis tersebut terlihat gelisah.


"Sayang aku hanya main-main"


melihat respon saja seketika membuat laki-laki itu mencoba untuk terus menahan tawa nya.


"Abang ah"


Senja merengek kesal.


Cakra terkekeh kecil.


"Oh ya ampun, jangan terlalu dibawa serius, aku tidak benar-benar demam sayang"