Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Happy together


Mansion utama keluarga Anggara


Jakarta.


"Satu"


Suara seorang fotografer terdengar memecah keadaan, dia mulai mengarah kan orang-orang yang ada dihadapan.


Kebisingan dan suara-suara terlihat saling sahut bersahutan, di ujung sana terlihat sepasang anak manusia saling tertawa sambil mengeluarkan cerita mereka.


"Dua"


Lagi suara fotografer memecah keadaan, semua orang mulai bersiap pada posisi mereka masing-masing, mencari gaya terbaik untuk mereka.


"Tiga...."


Plashhh.


Lampu flash mulai menyala di antara semua orang.


ceklekkk.


ceklekkk.


ceklekkk.


Jepretan demi jepretan kamera terdengar memecah keadaan.


"Ganti...."


Saat kata ganti di lesatkan, seketika semua orang mulai berganti gaya.


Ceklekkk.


Ceklekkk.


"Ganti..."


Kembali terdengar suara ganti di antara semua orang, mereka berganti posisi bahkan berganti gaya. Senyuman dan tawa bahagia terdengar memenuhi ruangan tersebut.


"Calon pengantin baru ...."


Suara kembali terdengar, sepasang kekasih terlihat bersiap-siap, saling melirik antara satu dengan yang lainnya, saling menatap netra dengan rasa bahagia"


Mereka duduk di sebuah kursi dengan sedikit grogi, begitu lucu layak nya pasangan baru.


"Abang tangan nya begini"


Senja bicara, memecah keadaan, mencoba memberikan contoh pada laki-laki yang dia panggil Abang dimana tidak lain laki-laki tersebut adalah Rudi Anggara.


Rudi yang di arahkan Senja terlihat bingung, dia menatap bahu gadis disamping nya dengan perasaan berdebar-debar, demi apapun meskipun lamaran sudah di lakukan, tanggal pernikahan sudah di tetapkan, dia masih gugup tiap kali berhadapan dengan Vervita.


Gadis tersebut selalu membuat jantung nya tidak baik-baik saja, biasanya dia tidak segugup itu jika berhadapan dengan para perempuan dan gadis diperusahaan nya, dimana para karyawan atau pegawai nya juga banyak kaum hawa nya, tapi dengan Vervita selalu berbeda, dia merasa setiap kali berhadapan dengan gadis tersebut dia selalu merasa terlalu grogi dan tidak baik-baik, jantung nya berdetak puluhan kali lebih hebat dari biasanya, dan Vervita selalu mampu membuat dia gelisah dan menggila dalam debaran jantung yang berdetak kencang dan indah.


Dia selalu berpikir untuk merangkai masa depan bersama, ingin menyusun banyak agenda kehidupan dan bicara soal segala sesuatu tentang mereka, ada banyak hal yang ingin dia habiskan bersama gadis tersebut sejak pertama kali dia melihat nya, bahkan dia pikir mungkin dia ingin mereka memliki beberapa buah hati setelah penikahan mereka.


"Jangan terlalu kaku, seperti ini, bahu.... pinggang...."


Cakra menyahut, dia bicara kepada Rudi, mencoba mencontoh kan nya pada Rudi bagaikan gaya terbaik untuk pasangan calon pengantin baru yang akan ber pose di depan kamera.


Laki-laki tersebut memeluk istrinya Senja dengan refleks, memberikan contoh keromantisan mereka pada laki-laki tersebut.


"Seperti ini"


Dia bicara, memeluk bahu Senja dan merapatkan nya pada dirinya.


"Atau begini"


Cakra menarik pinggang Senja Kemudian menenggelamkan istri nya kedalam pelukan nya, be pose begitu romantis, membuat iri siapapun yang melihatnya.


"Abang malu di lihat mama dan papa, bahkan Mak dan papa Anggara juga lihat, bapak malu melihat kita abang"


Senja bicara, dia mencubit dada suaminya Karena memperlakukan dirinya dengan cara yang begitu romantis, cukup malu di lihat para orang tua.


Laki-laki tersebut menggoda, dia terkekeh kecil kemudian mengedipkan sebelah matanya.


"Dasar"


Senja merona, dia mengulum senyuman nya.


Rudi masih bingung, mencoba memeluk lembut pinggang Vervita dengan ragu-ragu.


"Seperti ini?"


Vervita bertanya pada Senja, meraih tangan Rudi dan membiarkan laki-laki tersebut merapatkan tubuh mereka.


Gadis tersebut merespon dengan serius, tidak tahu jika Rudi terus menatap nya dengan perasaan yang begitu gugup.


"Lebih rapat lagi"


Senja menjawab.


Sang fotografer mendekat, merapatkan tubuh kedua nya agar memangkas jarak di antara mereka.


"Lebih rapat seperti ini jauh lebih indah dan romantis"


Laki-laki tersebut bicara sambil mengembangkan senyuman nya.


"saling tatap antara satu dengan yang lainnya"


"Ok...satu..."


Dan mereka telah sampai pada posisi terbaik mereka.


"Vervita".


Rudi bicara pelan dengan telapak tangan yang sedikit bergetar dan dingin.


"Hmmm ada apa?""


Vervita menjawab sambil mengembang kan senyuman nya, dia membiarkan Rudi menatap dalam bola mata nya.


"Dua"


Sang fotografer kembali bicara.


"I love you"


"Tiga"


Dan bersamaan dengan kata cinta, satu jepretan kamera melesat menghatam mereka.


Posisi nya terlihat begitu indah, dimana Vervita tengah menatap kearah Rudi yang menyatakan cinta nya dengan bahasa yang terlalu sakral, membuat bola mata gadis tersebut langsung berkaca-kaca.


Jepretan kamera menangkap mereka dengan ekspresi begitu indah, dimana kedua orang tersebut saling menatap dengan pandangan penuh cinta.


******


Ilmu ikhlas, sabar dan pasrah itu mahal. Untuk sampai pada titik seperti ini jelas tidak sebentar, untuk bahagia jelas harus melewati rasa sedih dan sakit terlebih dahulu tapi bukankah hasil akhir tidak akan mengkhianati hasil?!.


Dan semua orang hari ini akhirnya sampai pada titik bahagia mereka masing-masing.


...*****THE END*****...


Catatan \= insyaAllah dikasih part bonus yah Mak, bulan ini semua novel slow update karena Mak author sakit cukup parah, Alhamdulillah sekarang sudah sehat tapi tetap masih bersisa sakit flu, batuk dan sesak nafas Mak.


InsyaAllah siapa tahu di 2023 ini bisa rutin update crazy up seperti novel-novel sebelumnya Mak.


SELAMAT TAHUN BARU 2023 Makkkkk, semoga tahun ini semua cita-cita dan harapan tercapai ya All.


Love you selangit cakrawala


Salam sayang dan cinta.


Eva Hye Seung 💋💋💋💋😍😍😍🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘