Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Sesuatu untuk nya


kembali ke Pullman Jakarta Central Park hotel.


Hari ini.


Setelah menyelesaikan sholat subuh berjama'ah, Cakra membawa Senja untuk bergerak mencari sarapan di restoran bawah, perut baru terasa benar-benar lapar dengan sensasi berbeda setelah kegiatan melelahkan kemarin selama penikahan.


Dia menggenggam erat telapak tangan Senja seolah-olah takut gadis tersebut terpisah dari nya, bergerak turun menuju ke lantai bawah, kemudian menyerok masuk ke dalam restoran hotel Pullman Jakarta Central Park.


mereka menghabiskan waktu untuk menikmati sarapan pagi sambil sesekali bercanda ria disana.


"Mau pergi keluar untuk jalan-jalan?"


Cakra bertanya pada Senja, menatap istrinya sambil sesekali menikmati makanannya.


Dia takut terlalu lama di kamar akan membuat istrinya bosan.


Mendengar pertanyaan suaminya sejenak membuat Senja berpikir, pada akhirnya gadis tersebut menggelengkan kepalanya.


"Istirahat saja"


Senja menjawab cepat, dia menikmati makanan nya, sesekali menyeruput es lemon miliknya.


Cakra hanya melebarkan senyumannya, dia ikut menikmati es teh miliknya untuk beberapa waktu.


"mau langsung kembali ke kamar setelah ini?"


Cakra bertanya lagi kepada senja berusaha untuk meyakinkan istrinya.


gadis itu manggukan kepalanya.


"baiklah itu bukan masalah, aku pikir sekalian aku akan mengecek handphoneku sejenak, satu hari sebelum menikah aku mematikan handphone ku hingga hari ini, mungkin ada beberapa berita dari keluarga atau kabar lainnya yang tidak aku ketahui diluar sana"


dia pikir dia harus mengecek handphonenya, tiga hari tidak menyalakan handphonenya sama sekali rasanya cukup aneh untuk laki-laki yang berkutat pada pekerjaannya, tapi papa nya sama sekali tidak mengizinkannya untuk membuka handphone nya, laki-laki tua tersebut berkata,


"Nikmati bulan madu kalian sebelum mengambil liburan kemana yang diinginkan Senja, jangan terlalu memikirkan soal handphone, bahkan soal perusahaan papa dan Rudi ia akan mengurus semuanya bersama Nabila"


Tapi lucunya dia pikir mungkin sebaiknya dia mengecek sejenak handphone nya, siapa tahu ada berita tertinggal yang tidak dia ketahui sejak kemarin.


mendengar ucapan suaminya senja hanya menganggukkan kepalanya, dia menghabiskan sisa suapan terakhir dari sarapan yang ada di hadapannya.


di mana Cakra telah menyelesaikan sesi menikmati sarapannya jauh lebih dulu daripada dirinya.


hingga pada akhirnya mereka memutuskan untuk kembali ke kamar setelah perut mereka berdua kenyang.


Cakra sejenak mencari handphonenya yang ada di dalam lemari nakas, dia pikir mungkin dia harus menyalakan handphonenya untuk beberapa waktu atau bertanya pada Rudi apakah ada permasalahan di perusahaan.


namun sayangnya belum juga dia melaksanakan keinginannya tiba-tiba saja senja meminta bantuannya.


"Abang"


gadis itu terlihat mencoba untuk meraih tas mereka yang ada di atas lemari tinggi di dalam kamar hotel tersebut.


"Hmmm?"


Cakra langsung bertanya kemudian menoleh ke arah Senja, melihat gadis itu yang berusaha untuk mengambil tas dari atas lemari, tentu saja gadis itu tidak bisa menggapainya mengingat tubuh senja yang terlalu kecil dan mungil.


Cakra terlihat mengulum senyumannya, dia menggelengkan kepalanya secara perlahan kemudian memilih untuk kembali meletakkan handphonenya di dalam nakas, mengurungkan niatnya kemudian berdiri dari posisinya dan berjalan mendekati Senja.


"Ini terlalu tinggi"


Gadis tersebut mengeluh sambil mengadu.


Cakra menyentuh lembut puncak kepala Senja, dia kemudian membantu meraih tas tersebut.


Bisa-bisa nya laki-laki tersebut menggoda begitu.


Yah Senja memang terlalu kecil dan mungil, sangat berbanding terbalik dengan dirinya jadi sangat sulit untuk menggapai sesuatu yang diletakkan ditempat yang tinggi, dia lupa itu.


Mendengar ucapan Cakra membuat Senja mengerucut kan bibirnya.


"Tapikan Abang suka"


Sebenarnya hanya untuk kalimat pembelaan, tapi siapa sangka malah terdengar seperti sebuah godaan, dia menggeser tas nya ke samping ranjang, bermaksud mencari sesuatu tapi tiba-tiba.


"Tentu saja, sangat suka"


Cakra menjawab dengan nada mantap, duduk di tepian ranjang mengikuti Senja yang ikut duduk disana.


"Sampai bisa bikin jatuh cinta"


Ahayyyyy pengantin baru mulai pandai merayu, membuat Senja menghentikan gerakan nya, menoleh kearah Cakra yang melebarkan senyumannya di hadapan Senja.


Wajah gadis tersebut memerah, Semerah tomat, jantung terasa tidak baik-baik saja, dia malu dan seketika gelisah, menatap dalam bola mata Cakra yang menatap dalam dirinya lebih dulu.


Tidak tahu kenapa rasanya tatapan kali ini sedikit berbeda, cukup membuat Senja agak gimana-gimana, entah kenapa menatap wajah Cakra kali ini membuat dia sedikit gelisah, ada desiran manja mengganggu dirinya.


"A..ku pikir mau menghubungi emak"


Dia gugup, berusaha mencari handphone nya didalam tas, tapi Cakra tiba-tiba berkata.


"ada sesuatu yang ingin aku berikan buat kamu"


Laki-laki tersebut bicara, kemudian beranjak dari posisinya dan meraih sesuatu didalam lemari, bergerak kembali mendekati Senja yang urung mengambil handphonenya.


"Pejamkan bola mata kamu sebentar"


Cakra meminta, Senja dengan perasaan bingung mematuhi ucapan suaminya.


Entah berapa lama waktu berlalu, laki-laki tersebut menggeser sejenak tubuh nya dan tiba-tiba dari telinga kanan nya cakra berbisik menggoda.


"Bukalah"


Secara perlahan Senja membuka bola matanya, menatap Cakra yang kini ada di belakang nya, memperlihatkan sebuah kalung Indah di hadapannya, mereka berdiri tepat dihadapan sebuah lemari kaca besar yang menampilkan mereka berdua didalamnya.


Sejenak Senja membeku, menatap benda indah dihadapan, bola mata gadis tersebut terlihat berkaca-kaca.


"Ohhhh ini indah"


Dia menyentuh kalung tersebut, menatap nya dengan seksama, itu berlian, dia pikir harganya pasti mahal.


"Mau aku pakaikan?"


Cakra kembali berbisik.


Senja mengangguk kepalanya, mencoba menyingkirkan rambut nya secara perlahan dimana seluruh permukaan leher dan tengkuknya terlihat dengan sempurna.


Cakra menatap tiap pori-pori indah milik Senja, dimana kulit semulus batu pualam dan seputih salju tersebut Seketika mampu menggetarkan jiwa nya.


Dia tiba-tiba gelisah, meletakkan kalung tersebut tepat dileher indah milik istrinya, membiarkan kulit tangannya menyentuh kulit selembut kapas tersebut.


"Cantik"


Dia berbisik, menatap keindahan bidadari surgawi yang ada dihadapan nya.


bukan kalung nya, tapi Senja, hadiah dari Allah SWT yang belakangan mengusik seluruh kehidupan nya.