
Beberapa bulan setelah nya
Senja dan Cakrawala.
"Abang?"
Senja terlihat menggenggam erat telapak tangan Cakra, agak bingung saat laki-laki tersebut memapah tangan nya, berkata ingin memberikan kejutan untuk nya.
Sebenarnya setelah sekian lama waktu berlalu ini kali pertama mereka keluar dan mengambil waktu liburan. Selain kasus Mell yang terus naik ke permukaan di mana satu persatu persoalan dan juga kasus-kasus terbuka satu persatu hingga membuat jeratan hukum wanita tersebut semakin berat membuat keluarga Anggara ataupun Dewantara tidak memiliki waktu untuk mendapatkan waktu senggang atau bermain-main dengan keadaan.
mereka benar-benar menjelang Mel dengan banyak kasus yang menghantamnya dimulai dari kasus penipuan, pengambilan hak yang bukan miliknya, perencanaan pembunuhan terhadap Mak Hesty dan anak-anak di masa lalu, pembunuhan terhadap tuan Dewantara, keterlibatannya pada kematian Juna, penipuan investasi perusahaan, manipulasi dana Dewantara, penipuan pengambilan alihan hak Dewantara, pemalsuan tanda tangan saat dia menjadi penerus Dewantara berikutnya ditambah lagi kasus penembakan terhadap Rudi semakin membuat wanita itu tidak bisa keluar dari jeratan hukum yang menghantam dirinya.
hukuman seumur hidup kemudian berubah menjadi hukuman mati menjadi balasan paling setimpal untuk wanita tersebut, meskipun sebenarnya itu masih belum seberapa dengan kejahatan-kejahatan miliknya tapi setidaknya membuat semua orang lega karena pada akhirnya ketukan palu jaksa dan hakim menyatakan dia bersalah dan dia divonis hukuman mati tanpa ada sedikitpun keringanan atau toleransi.
meskipun tidak dipungkiri ada bagian sisi baik dari keluarga Dewantara di mana emak berpikir cukup kasihan dengan Riana, tapi orang-orang berkata Mell sudah sepantas yang mendapatkan balasan tersebut dan seharusnya Putri yang paling tahu apakah itu pantas atau tidak pantas hukuman yang didapatkan oleh ibunya dari semua orang.
"Sebentar lagi"
Ucap Cakra saat mendengar kegelisahan Senja, dia mengulum senyuman sembari membawa Senja turun dari mobil nya secara perlahan, laki-laki tersebut menuntun istri nya dalam keadaan bola mata Senja tertutup pada kain mendominasi berwarna merah.
Tidak heran jika Senja merasa gugup karena perempuan itu pikir ke mana suaminya akan membawa dirinya, tiba-tiba saja berkata agar bersiap-siap dari rumah, meminta Senja berpakaian rapi kemudian membawa nya begitu saja dengan alasan ada yang ingin dia berikan pada perempuan tersebut.
Senja mencoba untuk menerka-nerka, dia pikir ini bukan hari ulang tahunnya, anniversary pernikahan jelas saja masih sangat jauh mereka baru beberapa bulan menikah, Cakra tidak dalam keadaan ulang tahun juga, bahkan dia mencoba untuk mengingat-ingat tanggal kelahiran papa dan mama mertuanya juga kak Nabila, semuanya tidak ada yang sedang berulang tahun.
"hati-hati dengan langkahmu sayang"
Cakra berusaha untuk mengingatkan sembari terus menuntun jalan Senja ke arah depan, bisa dilihat beberapa senyuman orang-orang di hadapan mereka mengembang dengan sempurna, Cakra ikut melebarkan senyumannya sembari terus membawa Senja pada satu ruangan di dalamnya.
Hingga pada akhirnya laki-laki tersebut membiarkan istrinya duduk di sebuah kursi yang ada di hadapan Senja.
"Kita sudah tiba"
Laki-laki itu berbisik kemudian secara perlahan dia membuka ikatan mata istrinya, Senja berusaha untuk membiasakan bola matanya yang merasa gelap menuju ke arah terang, jantungnya berdetak tidak menentu dan dia berusaha untuk mendapat kan penglihatan secara perlahan.
Begitu dia mendapatkan penglihatan nya yang terang seketika ekspresi Senja berubah, dia tercekat saat menatap pemandangan didepan nya.
"Hahhh?"
Seketika bola mata Senja berkaca-kaca, dia menutup mulutnya dengan kedua belah telapak tangan nya.
"Abang?"
Dan dia langsung menoleh kearah Cakra, Begitu tidak percaya atas apa yang dilihat nya.