
tidak tahu berapa lama keheningan terjadi di antara mereka, tidak ada yang bicara sedikitpun sejak tadi, ucapan senja menjadi satu benalu baru yang berusaha mengikis jarak di antara mereka.
meskipun senja berucap seperti itu dan membuat hati Rudi bergetar mendengar nya, tapi laki-laki tersebut pada akhirnya berkata.
"Aku memang mencintai kamu Senja, bahkan jika kamu tanya sebesar apa rasa cintaku padamu, aku tidak bisa mengukurnya sama sekali seperti mengukur jalanan atau bahkan lautan sekalipun, dibandingkan besarnya cintamu padaku cintaku padamu jauh lebih besar dan tak terukur tapi aku mencoba menekan seluruh sistem akal waras Ku untuk tidak terlalu dalam mencintai kamu"
Rudi berucap pelan, menahan rasa sakit didalam dirinya.
"kau tahu? sekuat apapun kita berlari untuk mencapai garis finish meskipun kita telah melihatnya di ujung pelupuk mata, tapi kita tidak mungkin berada di sana, senja"
laki-laki itu bicara sambil melirik ke arah senja melalui kaca cermin tengah, bisa dia lihat air mata membasahi pipi cantik wajah gadis yang menjadi cinta pertamanya.
jangan ditanya bagaimana sakitnya dia melihat air mata itu, ingin sekali dia menyapunya tapi dia sadar diri jarak diantara mereka semakin terbentang luas ketika dia ingat senja telah menjadi istri sang tuannya.
"sejak awal kita memang telah diharamkan untuk bisa bersama dan menikah"
lanjut laki-laki itu lagi kemudian.
“Diharamkan bagi kamu (menikahi) ibu-ibumu, anak-anakmu yang perempuan, saudara-saudaramu yang perempuan, saudara-saudara ayahmu yang perempuan, saudara-saudara ibumu yang perempuan, anak-anak perempuan dari saudara-saudara laki-lakimu, anak-anak perempuan dari saudara-saudaramu yang perempuan, ibu-ibumu yang menyusui kamu, saudara perempuan sepersusuan…” (Q.S. An-Nisa’: 23).
"Pada akhirnya kita adalah saudara menjadi sekandung"
Lanjut nya lagi.
Senja diam, tidak menjawab, Isak tangisan nya semakin menjadi, dia berusaha untuk tidak menangis sama sekali tapi dia tidak bisa menghentikan isak tangisan nya bahkan rasa sakit di hatinya semakin menjadi menjadi.
laki-laki dihadapan nya terus melajukan mobilnya ke arah depan, telinganya mendengar dengan baik tangisan pilu bagaikan disayat sembilu yang keluar dari bibir gadis yang ada dibelakang nya itu.
mereka menenggelamkan diri dalam pemikiran mereka masing-masing, dimana senja terus menangis tanpa bisa mengendalikan hatinya.
sebenarnya siapa yang ingin dia salahkan dia juga tidak tahu, siapa juga yang ingin terjebak dalam kisah cinta dengan orang yang tidak sepantas nya dia cintai, andaikan saja dia bisa mengulang waktu, ini sekali rasanya dia mengulang pada masa-masa itu, keakraban yang tercipta di antara mereka bertiga, dia, Rudi dan April.
Menghabiskan banyak waktu layak nya saudara kandung, yang memangkas jarak tanpa ada rasa cinta.
Andaikan saja dia bisa mengendalikan hati nya, bahwasanya mereka tidak mungkin mengubah takdir yang seharusnya memang berjalan indah tanpa melibatkan rasa didalam nya.
Andaikan saja, yah andaikan saja.
Waktu berlalu cukup lama, sisa tangis tersisa tanpa terdengar lagi isakan lirih didalam nya, bola mata indah Senja hanya menyisakan warna merah, dimana bibir nya memilih menutup rapat untuk tidak mengeluarkan suaranya.
Keheningan terus terjadi, Senja membuang pandangannya lantas membiarkan bola mata nya melirik kearah jalanan disamping nya.
Sebaris tanya itu kembali keluar dari bibir Rudi, ini untuk kedua kali nya dia bertanya pada gadis dibelakang nya tersebut.
Alih-alih menjawab, Senja lebih memilih diam, menenggelamkan dirinya dalam rasa sakit yang masih tersisa.
Apa Cakra berlaku baik pada nya?.
entahlah, dia tidak pernah tahu jawaban apa yang paling tepat untuk menjabarkan nya.
Mereka bagaikan dua orang asing yang melebur menjadi satu, dipertemukan dalam situasi berbeda karena keadaan yang memaksa.
"Abang tidak bertanya soal emak dan bapak?"
Tiba-tiba Senja bertanya, menatap punggung kepala Rudi untuk beberapa waktu.
"Seolah-olah abang telah tahu keadaan mereka berdua sejak awal dan tidak butuh jawaban nya dari Senja"
Saat gadis tersebut berkata begitu, Rudi memilih diam seribu bahasa.
Rudi memang tidak memiliki jawaban pasti dan benar untuk menjawab pertanyaan Senja hingga pada akhirnya laki-laki tersebut bertanya.
"Apa bapak dan emak baik-baik saja?"
Sebaris tanya itu terucap dengan biasa, meluncur halus dibalik bibir laki-laki berperawakan tinggi dengan wajah tampan berhiaskan rahang kokoh bagaikan seorang ajudan perwira tinggi.
"Bapak habis menjalankan operasi nya"
Jawab Senja pelan.
berikut nya keheningan kembali terjadi.
Tidak ada ekspresi terkejut dari balik wajah laki-laki tersebut, dia tetap membiarkan bola mata nya fokus menuju kearah depan, dimana di ujung sana, rumah tinggi yang menjulang indah milik Cakra telah mulai terlihat dengan sempurna.
****
Jika aku bilang aku tahu tentang semuanya, apa kamu akan membenci ku?.
Jika aku bilang......
Sudahlah, lupakan saja.
Rudi Anggara.