Senja Di Atas Cakrawala

Senja Di Atas Cakrawala
Tidak salah pilih


Kamar utama Cakra dan Senja.


21.10 Malam.


"Bik Rodiah bilang kamu menangis seharian?"


meskipun sebenarnya Cakra bertanya tapi laki-laki itu sama sekali tak menoleh ke arah Senja dia sibuk melepaskan sepatu milik nya kemudian mulai melepaskan jas miliknya, laki-laki tersebut pulang begitu larut dari perusahaan.


sengaja terlambat karena enggan berinteraksi terlalu lama dengan Senja, dia tidak terbiasa hidup berdua dengan orang asing kecuali bersama Jelita, Takut hubungan itu akan menyulitkan mereka.


Mendengar pertanyaan Cakra senja yang sejak tadi duduk di tepian jendela sembari menatap ke arah halaman bawah seketika langsung diam bentuk beberapa waktu.


gadis tersebut kemudian menoleh ke arah Cakra.


"sudah terlalu jauh jika kamu ingin menyesali pernikahan ini, kamu sudah mengambil uang mukanya dan sudah masuk ke dalam keluargaku tanpa bisa diulang lagi"


Suara datar dan tanpa perasaan itu selalu bicara seenaknya tanpa berpikir apakah orang lain akan mampu menerima ucapannya, senja Menatap laki-laki tersebut yang kini bergerak mendekati sisi kasur kamar tidur.


Laki-laki itu langsung berspekulasi tanpa mau tahu apa yang ada di dalam pemikiran atau beban lawan bicaranya.


"aku juga merasa berat ketika harus berhadapan dengan gadis yang cukup cengeng, jangan bilang kamu ingin pulang ke rumah orang tuamu dan membatalkan semuanya"


lanjut Cakra lagi kemudian.


Senja yang awalnya diam pada akhirnya menatap ke arah Cakra dengan sedikit mencibir kemudian gadis tersebut berkata.


"Bukankah di dalam Islam, menangis itu bukan berarti cengeng, lemah, rapuh, rentan dan membutuhkan pertolongan, seperti ilmu psikologi Barat menjelaskan. Islam sangat perhatian terhadap perilaku menangis. “ Dan bahwasanya Dialah Yang menjadikan orang tertawa dan menangis. ” (QS. An-Najm : 43). dan siapa yang membuat manusia menangis? Jawabannya Allah, DENGAN SEGALA PROSESNYA YANG RASIONAL. “ Menangislah kalian semua. Dan apabila kamu tidak dapat menangis maka pura-pura menangislah kamu” (HR.Ibnu Majah dan Hakim).


"Dan aku hanya ingin menangis"


jawab gadis tersebut dengan cepat, menganggap ucapan Cakra tadi terlalu berlebihan.


"Aku cukup terkejut setiap kali bicara denganmu, kamu selalu punya jawaban yang bisa membuat seseorang kehilangan kata-katanya, awalnya aku pikir kamu hanyalah gadis kampung biasa yang mungkin akan menuruti semua ucapanku di mana kamu tidak memiliki kekuatan apapun untuk melindungi dirimu sendiri"


ucap laki-laki tersebut dengan cepat, cukup suka mendapatkan lawan sepadan yang tahu bagaimana cara menjawab tiap kata pedas yang dia lontarkan.


Dia tidak pernah melihat gadis dengan bola mata sendu dan wajah lembut nya tapi memiliki satu tingkat kepintaran yang bisa mengoyak lawan nya hanya dengan bicara.


mendengar apa yang dikatakan oleh Cakra seketika membuat senja mengembangkan senyumannya, gadis tersebut beringsut dari posisinya, berdiri dan berjalan mendekati Cakra kemudian dia berkata.


"Aku Anggap itu suatu pujian"


Ucap nya lantas mengulurkan tangannya, dia menunggu Cakra memberikan jas nya kepada dirinya.


"Meskipun ini kontrak, aku masih seorang istri yang akan menunaikan semua tanggung jawabnya, aku Patuh dan akan berbakti layaknya istri yang sesungguhnya"


Senja masih menunggu Cakra memberikan jas nya, tatapan dua pasang netra tersebut saling bertemu, menatap antara satu dengan yang lainnya dalam pemikiran masing-masing.


Cakra seketika menaikkan ujung bibirnya, dia menyerahkan jas nya pada Senja kemudian berkata.


"Awal nya Memilih mu membuat ku cukup ragu, tapi semakin kesini semakin membuat aku yakin, seperti kata orang itu, aku tidak akan salah pilih untuk menjadikan kamu partner bisnis di dalam pernikahan kita"


Ucap laki-laki tersebut kemudian sambil menyerahkan jas nya pada Senja.


Mendengar ucapan Cakra seketika membuat Senja mengerutkan keningnya.


"Ya? siapa?"


Dua tanya tersebut meluncur dari bibir indah nya.