
Kembali ke episode 37
Lubuklinggau, Kamar Cakra dan Senja
Terlalu gerah.
Laki-laki tersebut mengacak-acak rambutnya untuk beberapa waktu, rasa gerah benar-benar menyiksa dirinya, Cakra buru-buru menoleh ke arah senja yang sejak tadi sibuk menyusun pakaian ke dalam kopernya.
Sial bukan hanya gerah, dia juga gelisah karena dia baru tahu jika bayi mungil itu Senja. Ciuman pertama yang dia berikan di bibir saat dia remaja kepada Senja masih terlalu mungil untuk dikatagorikan sebagai gadis remaja.
"tidak bisakah kita keluar sebentar untuk membeli kipas angin yang baru?"
Pada akhirnya laki-laki tersebut mulai membuka suaranya, sebenarnya dia tidak ingin untuk berkomunikasi terlalu banyak dengan gadis yang ada di hadapannya itu, tapi bukankah ini menjadi alasan yang sangat tepat dan luar biasa untuk dirinya berkomunikasi dengan senja saat ini.
Gadis yang diajak bicara dengan cepat langsung menoleh, menghentikan gerakan tangannya kemudian menghadap ke arah Cakra.
"apa kipas angin yang kurang dingin?"
Senja bertanya dengan cepat sembari mengerutkan keningnya.
"Tidakkah kamu merasakannya? ini benar-benar menyiksa, coba duduk di tempatku dan rasakan apakah anginnya bisa mengenai tubuhku"
Laki-laki tersebut mulai protes dan menepuk-nepuk kasur di sampingnya, dia bergeser cepat, menunggu dengan berdebar-debar, tapi masih menampilkan ekspresi sombong nya, malu kalau terlalu berharap Senja mendekat, maklum bukankah dia begitu angkuh sejak di pertemuan pertama?!.
Cakra kau benar-benar sialan.
Laki-laki tersebut mengumpat didalam hatinya pelan.
Saat Senja beringsut dari posisi nya, bola mata Cakra enggan melepaskan pandangannya, menatap gadis tersebut yang langsung duduk di sampingnya.
Sejenak dia menatap Senja yang mencoba memejamkan sejenak bola matanya, merasakan angin dari kipas usang dihadapan mereka, mata nya menelisik wajah Senja, jantung Cakra seperti nya tidak baik-baik saja.
Kening, alis, hidung, bibir, dagu dan tunggu dulu, bulu mata dan....
Begitu Senja membuka bola matanya, Cakra memperhatikan baik-baik bola mata indah tersebut.
"Oh ya Allah ya Rabb"
Cakra seketika membatin, dia menemukan sosok yang sama dengan bayi yang ada didalam foto tersebut. Meskipun telah dewasa, bukankah kemiripan akan tetap terasa antara kita bayi, anak-anak dan dewasa? bahkan bibir dan bola mata tidak akan pernah berubah.
"ini sudah cukup malam, aku ragu jika ada toko yang menjualnya"
gadis itu bicara dengan cepat menoleh ke arah Cakra.
Takut malu karena terpana, laki-laki itu buru-buru melirik ke arah jam di dinding yang ada di sisi kiri mereka.
Memalukan.
"tidak ada ke toko satu x 24 jam atau apapun itu? aku pikir ini masih jam 08.00 malam, jika kita tidak berhasil mencarinya di toko atau di manapun itu bukankah mall-mall besar biasanya masih buka?"
Laki-laki itu kembali bertanya, bicara dengan tidak sabaran dan langsung berdiri dari posisi duduknya, dia menyambar kunci mobil yang ada di atas meja kecil yang warnanya sudah mengelupas di berbagai sisi.
Sejujurnya dia gemetaran, terasa begitu memalukan, dia tidak pernah merasakan jantungnya tidak baik-baik saja sejak dia pacaran dengan Almarhumah Jelita dimasa lalu.
Malam ini Senja mampu memporak-poranda kan seluruh jantung dan hati nya.
Jantung Ohhh jantung kenapa kamu tiba-tiba tidak baik-baik saja??!!!.
"Bukankah menggunakan mobil akan semakin memperlambat laju jalan kita? ini adalah malam minggu, menggunakan mobil bukan alternatif yang baik, aku tidak bilang ini adalah kota besar tapi setiap kali malam minggu jalan menuju ke pusat kota jelas padat merayap"
Senja langsung protes saat Cakra ingin membawa mobilnya untuk mencari sebuah kipas angin.
sejenak Cakra menghentikan gerakannya, dia menatap kearah kunci mobilnya kemudian menatap ke arah senja.
"Lalu?"
tanya laki-laki itu kemudian, berharap ada satu jawaban manis misalnya pergi naik motor bersama yang penting jangan naik grab, itu mengganggu keromantisan mereka.
Ohhhh dasar Cakra, dia terlalu 'Ngarep!.'
Hahahah.
"Tentu saja kita pergi menggunakan motor, masa kita harus menggunakan sepeda?"
ucap gadis itu kemudian.
Cakra terlihat diam untuk beberapa waktu, dia mengulum senyumannya, ingin melompat girang tapi gengsi, dia kan Cakrawala.
melihat ekspresi laki-laki di hadapannya jelas saja membuat senja menaikkan ujung alisnya.
"jangan bilang tuan tidak bisa mengendarai kendaraan roda dua?"
tanya gadis itu cepat sambil menatap wajah laki-laki di hadapannya itu untuk beberapa waktu.
Sial, tentu saja bisa. Aku bahkan dulu mengelilingi kota Lubuklinggau dengan motor kesayangan.
Batin nya kemudian.