Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 92


#Happy Reading's🌻


.


.


.


"Berhenti disini." Pinta Viana.


"Eh, kenapa berhenti disini? Bukanya kamu mau kasih aku surprise?" Bingung Tony.


"Aku akan kasih kamu surprise disini." Ucap Viana lalu turun dari mobil dan di ikuti Tony.


Mereka turun disebuah toko pakaian baju bayi & perlengkapan bayi.


Viana memilih-milih baju & perlengkapan bayi. Baju yang ia pilih, semua berwarna merah muda. Tony kebingungan, apa yang akan Viana surprise kan padanya. Setelah memilih banyak sekali baju dan perlengkapan bayi, Viana dan Tony kembali kedalam mobil


"Kenapa kamu memilih banyak sekali baju dan perlengkapan bayi perempuan?"


Viana mengambil hasil USG nya pada Tony.


"Ini."


"Ini... Perempuan? Anak kita berjenis kelamin perempuan?"


"Iya." Angguk Viana.


Tony memeluk Viana. "Jadi ini surprise nya?" Tanya Tony bahagia dan dibalas anggukan Viana.


"Aku sangat suka dengan surprise nya."


Tony pun melepaskan pelukannya. "Baby girl, Ayah akan pikirkan nama yang cocok untukmu. Pasti kamu secantik Mama mu ini." Ucapnya lalu mencium perut Viana.


"Tentu saja aku akan secantik Mama..." Viana menirukan suara khas anak-anak. Tony pun mendengarnya tertawa gemas.


....


Hari mulai berlalu, semuanya tampak baik-baik saja. Kehidupan pernikahan Viana dan Nara pun tak luput dari keharmonis. Tidak ada duri dalam pernikahan keduanya. Hanya saja pada pernikahan Viana sedikit ada kegoyahan sebab Tony selalu saja sibuk dengan pekerjaannya tanpa ada waktu untuknya dan Viana.


"Sayang maafkan aku hari ini aku lembur lagi. Mungkin tengah malam aku akan pulang. Jadi kamu tidur duluan saja ya..." Ucap Tony di balik sambungan telpon.


"Selalu saja lembur huft... Yasudah aku tutup dulu telponnya." Viana langsung mematikan sambungan telponnya.


Sudah satu bulan lebih Tony selalu lembur. Pergi pagi, dan pulang larut malam. Hanya kesendirian saja yang Viana rasakan saat ini. Ia melihat dirinya di pantulan cermin. Sungguh, ia terlihat bukan dirinya yang dulu. Ia sangat kurus, pucat dan rambut semakin menipis akibat rontok.


Viana mengelus perutnya yang sudah memasuki hampir bulan ke 7. "Baby... Kita akan lewati ini bersama-sama ya. Ayah mu bekerja keras demi kehidupan kita." Ucapnya lirih seraya tersenyum.


Lalu ia pun mengambil buku diary nya yang selama ini ia selalu simpan di dalam laci meja rias. Ia curahkan semua yang ia rasakan dan deritakan. "Kandungan ku hampir memasuki 7 bulan. Aku yakin, aku & bayi ku akan baik-baik saja." Lirih nya meneteskan air mata dan memeluk buku diary nya.


"Nara... Gue kangen lo."Lirihnya lagi lalu ia pun terlelap tidur.


Pukul 23:45 malam, Tony baru pulang. Wajah letihnya terlihat diwajahnya. Sebenarnya akhir-akhir ini perusahaannya terkena krisis karna salah satu pegawai nya mengorupsi sebagian uang perusahaannya. Ia juga merasakan rindu pada istrinya yang selama ini ia selalu tinggalkan bekerja setiap saat.


Tony memasuki kamarnya, ia melihat istrinya tertidur di meja rias. Ia perlahan mendekatinya dan melihatnya dari dekat. Ia singkapkan anak rambut yang menutupi wajah Viana. Ia tersenyum lalu mengecupnya dengan lembut dan mengelus rambutnya dengan penuh kasih sayang.


Disaat 0mengelus rambutnya, tiba-tiba saja ia merasakan rambut Viana rontok memenuhi tangannya. Ia benar-benar terkejut dibuatnya. Tetapi Tony tak berfikir macam-macam, mungkin saja Viana salah memakai produk sampo sehingga rambutnya rontok.


Matanya tertuju pada sebuah buku diary yang ada di dalam pelukan Viana. Perlahan ia mengambilnya lalu membacanya karna penasaran. Dari bab ke bab ia baca curahan isi hati Viana. Tangannya tiba-tiba saja mengepal dengan erat dan tubuhnya bergetar dengan hebat. Perlahan air matanya luruh di pelupuk matanya. Hatinya begitu hancur ketika mengetahui apa yang selama ini Viana sembunyikan darinya.


Ia tertunduk melihat kembali wajah sang istri. Dirinya baru menyadari bahwa wajah istrinya itu begitu sangat pucat seperti mayat hidup. Isakan tangis mulai terdengar dari mulutnya. Ia tak bisa berkata-kata, hatinya semakin sesak lagi ketika rambut yang rontok tadi bukan karna salah memakai produk sampo, melainkan karna penyakit yang diderita istrinya.


Karna merasa terusik, Viana pun terbangun. Ia sudah melihat Tony bersimpuh duduk di depannya dengan isakan tangis. Viana sangat heran dibuatnya.


"Tony, kamu kenapa?" Tanya Viana khawatir.


Tony melihat Viana lalu memeluknya dengan erat. Isak tangisnya semakin menjadi-jadi. "Kenapa kamu menyembunyikan ini semua dariku?!" Ucap Tony yang masih memeluk tubuh Viana.


"Menyembunyikan apa maksud kamu?" Tanya heran Viana. Tony tak menjawab. Lalu pandangannya tertuju pada buku diary miliknya yang sudah tergeletak diatas lantai. Viana memejamkan matanya, pasti Tony sudah membaca semuanya pikirnya saat itu.


Viana mengelus-elus punggung Tony dan ikut menangis. "Maaf... Maaf aku tidak bisa menceritakannya karna aku tidak mau kamu terbebani. Dan aku juga tidak mau kamu merasa sedih seperti ini." Jawabnya.


Tony melepas pelukannya lalu memegang kedua pipi Viana. "Aku ini suami mu! Aku berhak tau! Aku tidak merasa terbebani sedikitpun... Kamu istriku Viana! Istriku!! Aku akan melakukan apapun demi menyembuhkan penyakitmu. Ayo kita kedokter dan melakukan operasi." Tony menarik tangan Viana.


"Tony berhenti! Ini sudah malam..." Cegah Viana.


"Kita cari rumah sakit 24 jam, ayo..." Tony kembali menarik Viana.


"Tony cukup!" Viana melepaskan pegangannya.


"Aku tidak mau melakukan operasi! Jika aku melakukannya maka anak kita akan mati. Aku tidak mau itu terjadi." Viana memeluk perutnya seraya terisak.


"Viana... Apa kamu benar-benar tidak memperdulikan hidupmu?!"


"Tidak! Aku hanya memperdulikan hidup anakku!"


Viana membulatkan matanya. "Kamu tega membunuh anak kita!" Viana mendorong keras Tony. Ia merasa marah saat Tony berkata seperti itu.


"Aku tidak berusaha membunuhnya... Aku hanya ingin keselamatan hidupmu. Itu saja! Pokoknya ayo kita lakukan operasi mengangkat kanker otakmu..." Tony kembali menarik Viana.


"Aku tidak mau Tony!!!!" Teriak Viana menepis tangan Tony lalu berlari keatas kasur dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.


"Viana!!" Panggil Tony.


Tony menghampirinya. "Sayang... Pedulikan keselamatanmu. Aku mohon... Aku tidak mau kamu meninggalkan ku." Tangis Tony.


Viana membalikan tubuhnya dan memeluk Tony, mengusap air matanya lalu mengecupnya. "Aku tidak akan meninggalkan mu... Aku akan selalu disini." Viana menunjuk dada Tony.


"Dan kamu juga akan selalu berada disini sampai kapan pun." Viana bergantian menunjuk dadanya.


"Sayang... Aku..." Belum sempat Tony melanjutkan ucapannya, Viana langsung membungkamnya dengan mulutnya. Rasa cinta dan kesedihan bergemulat didalam ciuman panas mereka. Air mata tak henti-henti nya bercucuran menahan rasa sesak di dada.


Menempelkan jidat dengan nafas terengah-engah. Tangis keduanya pecah lalu saling memeluk satu sama lain. "Aku akan mencintai mu selamanya.... Aku mencintaimu Viana."


"Aku juga mencintaimu Tony... Sebentar lagi anak kita akan hadir ke dunia. Cintai juga dia, seperti kamu mencintaiku. Jaga dia sampai tumbuh besar dan rawatlah dengan baik. Kamu harus berjanji tentang itu."


"Kita akan akan merawatnya bersama-sama. Kita akan berikan cinta padanya bersama-sama, aku tidak akan mengijinkanmu meninggalkan kita." Ucap Tony. Viana hanya tersenyum saja mendegarnya.


"Aku juga ingin seperti itu Ton." Batin Viana.


London, Inggris.


"Hoek... Hoek..." Tak henti-hentinya Nara pergi ke kamar mandi. Rasa mual selalu menyerang nya. Rasa pusing pun ia rasakan saat ini.


"Kita periksa ya kedokter." Ucap Ansel membantu Nara memuntahkan isi perutnya.


"Tidak usah... Mungkin ini hanya masuk angin biasa."


"Makanya ayo kita kedokter." Bujuk Ansel.


"Tidak usah sayang... Aku baik-baik saja. Mungkin beristirahat sebentar rasa mualnya akan hilang."


"Baiklah, ayo aku antar kamu ke kamar. Biarkan bi Anna yang memasak." Ansel merangkul Nara.


Bi Anna adalah kepala pelayan keluarga Wihama yang sudah mengabdi selama puluhan tahun. Ansel dan Anna kini sudah tidak lagi tinggal di hotel. Mereka tinggal di Mansion keluarga Wihama. Uncle nya Mike sudah di usir dari kediaman itu dan mencebloskannya kedalam penjara.


"Hoek... Hoek..." Nara berbalik lagi ke kamar mandi.


Bi Anna datang membawakan segelas air hangat untuk Nara. "Ini minumlah nyonya." Ucap bi Anna.


"Makasih bi..." Nara pun meminumnya.


"Apa mungkin nyonya hamil?"


"Uhuk... Uhuk... Ha~hamil?"


"Benarkah bi?" Antusias Ansel.


"Mungkin saja tuan... Gejala yang dialami nyonya benar-benar mirip dengan gejala orang-orang hamil."


"Emmm... Sebenarnya aku juga sudah telat datang bulan. Apa jangan-jangan benar aku hamil? Ayo cepat kita kedokter sekarang!" Tanpa aba-aba Nara menarik Ansel.


Di rumah sakit.


"Bagaimana keadaan istri saya dok? Apa dia benar-benar hamil?" Tanya Ansel tak sabaran.


"Benar. Istri anda sedang hamil... Kandungannya sudah menginjak 6 minggu." Tutur dokter itu.


"Sayang, kamu hamil..." Ansel memeluk Nara.


"Syukurlah..."


"Mulai sekarang anda harus menjaga dirimu dengan baik nyonya agar anak yang ada di dalam perutmu tetap sehat."


"Baik dok. Terimakasih..."


Nara dan Ansel pun keluar dari rumah sakit.


"Sayang... Kita pulang ya ke Indonesia. Aku ingin memberitahu kehamilanku pada semua orang secara langsung. Pasti mereka sangat senang. Terutama Viana." Ucap Nara mengelus-elus perutnya dengan gembira.


Ansel memegang tangannya. "Baik. Besok kita pergi..." Jawab Ansel mencium tangannya lalu mengusap lembut perut Nara.


.


.


.


TBC