
#Happy Reading's🌻
.
.
.
.
"Roni, bukankah perusahaan kita memiliki beberapa saham di perusahaan Swift Corp?" Tanya Ansel pada Roni sang asisten.
"Iya, 20 persen saham kita ada di Swift Corp tuan." Jelas Roni.
"Kerjasama yang ditawarakan Swift Corp beberapa hari lalu, kita akan tandatangani."
"Bukankah kita sudah menandatangani kerjasama dengan perusahaan periklanan JR Corp?" Tanya Roni.
"Ya, kita akan bekerjasama di dua perusahaan sekaligus. Dan kita harus prioritas kan Swift Corp." Ansel menyeringai.
"Tuan, apakah ini tidak akan mengalami konflik jika kita lebih memprioritaskan Swift Corp dibandingkan JR Corp yang sudah lebih awal menandatangani kerja sama dengan kita?"
"Itu urusan belakang. Yang terpenting aku bisa dekat dengan pujaan hatiku." Ansel menyeringai kembali membuat Roni merinding.
"Haduh bos, emang si bos enteng ngomong gitu... Lah, saya yang tidak diuntungkan disini karna harus menyelesaikan masalah si bos. Apalah dayaku yang hanya bawahan ini!" Batin Roni menggerutu.
"Kapan kita tandatangani ini dengan Swift Corp?"
"Besok tuan."
"Baiklah, siapkan dokumennya untuk besok. Dan kabari saja mereka bahwa perusahaan kita akan menyetujui kerjasama itu. Kita akan bertemu di cafe saja." Ansel pun beranjak pergi keluar kantor.
"Baik tuan."
........
Nara sedang membereskan beberapa berkas karna jam kerja hampir usai. Semua pegawai pun seperti itu, mereka sibuk menyiapkan kepulangan mereka.
"Nara, kamu dipanggil sama pak Tian." Ucap Tari pada Nara. Dan Nara pun menghentikan kegiatannya.
"Dipanggil? Memangnya ada apa?" Taya Nara bingung.
"Aku kurang tau, tadi pak Tian menyuruhmu ke ruangannya"
"Baiklah, aku akan kesana." Nara pun pergi menuju rumah pak Tian. Ia sepanjang jalan memikirkan apa ada yang salah dengan pekerjaan nya atau ada hal lain?
Setehlah sampai di depan ruang pak Tian, Nara mengetuk pintu. Dari dalam pak Tian menyuruhnya untuk masuk. Nara pun membuka pintu dan masuk kedalam ruangan.
"Bapak memanggil saya?" Tanya Nara yang sudah di hadapan pak Tian.
"Ya saya memanggil kamu."
"Ada apa ya pak? Apa pekerjaan saya ada yang salah?" Ucap ragu Nara.
"Pekerjaanmu tidak ada yang salah. Dari perusahaan IT Wihama Corp menerima kerjasama perusahaan kita. Jadi disini Saya memanggil mu untuk menemani saya besok untuk bertemu dengan perusahaan Wihama Corp di cafe." Jelas pka Tian.
Deg
Nara tahu perusahaan Wihama Corp itu milik Ansel. Ia terkejut bahwa perusahaan ini ada kerjasama dengan perusahaan Ansel.
"Kenapa bapak memilih saya? Kan masih banyak pegawai lain yang lebih berpengalaman dari saya." Nara mencoba menolak tawaran pak Tian. Ia mencari alasan untuk berusaha menolaknya.
"Justru itu kamu baru menjabat disini, jadi saya ingin mengajak kamu untuk bisa berpengalaman juga."
"Duh bagaimana caraku untuk menolaknya ya? Aku tidak mau bertemu dengan Ansel." Lirih Nara dalam hati.
"Tapi pak..."
"Tidak ada tapi-tapian, ini sudah keputusan saya."
"Baiklah pak." Nara dengan terpaksa menyetujui keputusan pak Tian. Ia merasa tak enak hati untuk berdalih terus menerus.
"Ya, silahkan kamu siapkan pekerjaan kamu kembali. Jam pulang akan segera tiba."
"Baik pak, saya permisi...." Nara menunduk hormat, lalu keluar dari ruangan pak Tian.
"Bagaimana ini? Huft... Semoga aja, besok yang datang hanya sistennya sama manajernya aja." Gimum Nara. Ia pun kembali kemejanya dan bersiap-siap untuk pulang.
.
Roni melihat wajah bos nya sangat berseri-seri, tidak seperti biasanya yang masam dan terkesan dingin berbeda dengan hari ini. Ansel sudah rapih dengan kemeja dan celana biru tua, jas berwarna hitam dipadukan dengan dasi berwana biru langit.
"Bagaimana penampilanku hari ini?" Tanya Ansel pada Roni.
"Sangat tampan..." Jawab Roni. Ansel pun tersenyum puas mendengarnya.
"Ya, aku memang sangat tampan." Percaya diri Ansel. Roni memutarkan bola matanya mendengar ucapan Ansel.
"Kamu sudah bicara pada mereka, bahwa kita akan bertemu di cafe tidak dikantor?"
"Sudah tuan..."
"Baguslah. Ayo kita berangkat..."
Ansel dan Roni berangkat menuju cafe yang sudah disiapkan kedua belah pihak untuk bertemu disana. Sedangkan perusahaan Nara, sudah berada di cafe tersebut.
"Apakah kamu sudah menghubungi pak Roni, jika kita sudah disini?" Tanya pak Tian pada asisten nya Mira.
"Sudah pak." Jawab Mira. Tampilan Mira begitu terbuka, ia sengaja memakai pakaian itu guna untuk menggoda Ansel agar terpikat padanya. Ia akan berusaha mengalihkan pandangan Ansel.
Sedangkan Nara? Ia hanya memakai pakai seperti biasanya, memakai celana dan kemeja putih di balut dengan blazer hitamnya berpaduan dengan celananya yang hitam. Hatinya sedang gusar saat ini, ia berharap yang menghadiri itu bukan Ansel. Tetapi harapannya itu musnah, ketika melihat Ansel yang didampingi Roni di belakang menghampiri mejanya.
"Sial! Kenapa harus dia yang datang!" Batin Nara kesal.
"Tapi, kenapa hari ini dia sangat tampan sekali? Ah tidak! Sadarlah Nara... Kamu gak boleh terpesona sama cobul gila itu! Huft, kamu harus profesional Nara..." Batin Nara menenangkan dirinya.
Ansel melihat Nara, hatinya semakin berbunga-bunga melihatnya.
"Semakin cantik." Lirih Ansel. Mira yang berada
di samping Nara, salah tingkah karna ia menganggap bahwa Ansel tengah memperhatikannya. Padahal Ansel memperhatikan Nara.
"Sudah kuduga, pasti pak Ansel terpesona oleh kecantikan ku." Batin Mira, sembari membenarkan anak rambutnya dan merapihkan pakaiannya.
Nara melihatnya hanya acuh saja, ia berusaha untuk bersikap profesional.
"Selamat pagi tuan Ansel dan tuan Roni..." Pak Tian menyalami Ansel dan Roni.
"Selamat pagi juga pak Tian..." Balas salam Ansel. Lalu matanya melirik sebentar kearah Nara.
"Selamat pagi pak Tian." Roni mengangguk memberi salam.
"Oh ya, perkenalkan ini asisten saya Mira." Tunjuk pak Tian pada Mira.
"Perkenalkan saya Mira tuan Ansel..." Mira menyalami Ansel dengan suaranya dimanja-manjakan. Ansel mendengarnya merasa jijik, lalu ia segera melepaskan tangannya dari Mira.
"Dan perkenalkan ini Nara. Dia kepala bagian produksi periklanan yang baru di perusahaan kami." Ucap pak Tian memperkenalkan Nara.
"Halo nona Nara..." Ansel mengulurkan tangannya, ia tersenyum penuh arti pada Nara.
Nara menelan ludah nya lalu membalas uluran tangan Ansel.
"Nara." Singkat Nara berusaha tersenyum.
Nara hendak melepaskan tangannya dari Ansel, tetapi Ansel menguatkan pegangannya dari tangan Nara. Nara sangat kesal, dan ia kembali berusaha melepaskan genggamannya. Dengan sekaligus Ansel melepaskan genggamannya ketika Nara menarik tangannya keras. Sehingga Nara terjungkal kebelakang. Untungnya saja Ansel dengan sigap menarik tangan Nara dan sampai kepelukannya.
Ansel pun berbisik pada Nara.
"Selamat datang dikehidupanku lagi sayang..." Bisik Ansel ke telinga Nara yang masih berada di pelukan nya. Nara merinding mendengar bisikan Ansel di telinganya.
Roni, Tian dan Mira terkejut melihat adegan itu. Mira sangat kesal melihatnya, ia mengepalkan kedua tangan nya
"Lagi-lagi kamu Nara! Awas aja, aku akan membalasmu!" Gimana kesal Mira dalam hati.
Nara melepaskan pelukan Ansel.
"Dasar gila!" Lirih Nara tanpa bersuara, tetapi Ansel melihatnya dari gerak bibirnya jika Nara mengumpatinya.
.
.
.
TBC