Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 42


#Happy Reading's🌻


.


.


.


"Jangan sentuh Nara!" Geram Ansel seraya menarik Nara kedekapan nya.


"Apa hak lo hah?!" Bayu turun dari motornya dan membuka helmnya.


"Nara milik gue!"


"Apa-apaan sih lo!!" Nara melepaskan dekapan Ansel, tetapi Ansel menariknya kembali dan mendekapnya dengan kuat.


"Lepasin Nara brengsek! Nara bukan milik lo!" Bayu hendak menarik Nara dari dekapan Ansel. Ansel pun langsung menendang perutnya.


Bugh


"Bayu!!" Teriak Nara. Ansel langsung membawa Nara kedalam perusahaan Swift Corp. Ansel meminta agar satpam disana tidak membiarkan Bayu masuk. Bayu tersungkur, ia merintih kesakitan akibat tendangan Ansel.


"Ansel!!" Bayu mengejar Ansel yang membawa Nara. Tetapi satpam disana langsung menahan Bayu atas perintah Ansel.


"Lepasin! Pak, pria tadi membawa wanita saya!" Teriak Bayu. Satpam hanya diam saja, tidak memperdulikan Bayu. Dengan hatinya yang kesal, Bayu mengalah dan pergi menuju kantornya.


Ansel terus menarik Nara yang masih berusaha melepas diri. Pegawai-pegawai memperhatikan keduanya dengan tatapan bingung. Banyak sekali yang berbisik membicarakan keduanya.


"Ansel! Lepasin gue!!" Ronta Nara. Ansel tak menghiruakannya, ia saat ini dipenuhi oleh api cemburunya.


Ansel membawa Nara ke atas gedung yang paling atas. Sesampainya disana, Ansel menghempaskan Nara.


"Sampai kapan Ansel?! Sampai kapan lo giniin gue?! Dan sampai kapan lo harus campuri hidup gue?!" Kedua mata Nara berkaca-kaca menahan emosinya yang telah di ubun-ubun.


"Sampai kamu jadi milikku!" Nafas Ansel memburu, kedua matanya memerah.


Nara terdiam. Ansel menghampiri Nara.


"Aku benar-benar tulus sama kamu Nara... Aku harus apa agar kamu bisa memaafkan aku?!" Ansel medekatkan wajahnya kewajah Nara.


"Lo harus pergi dari..."


"Aku tidak bisa!" Ansel menyela ucapan Nara. Ia sudah hapal dengan ucapannya.


"Maka jangan harap gue maafin lo!" Nara berjalan melewati Ansel. Tetapi Ansel memeluknya dari belakang menghentikan langkahan Nara.


"Aku mohon Ra, maafkan aku... Jika itu syarat kamu untuk memaafkan aku, aku tidak bisa! Aku tidak mau kehilangan kamu... Aku cinta sama kamu Nara." Lirih Ansel memeluknya dari belakang. Nara merasakan pundaknya basah. Ia tertegun dengan itu.


"Apa Ansel menangis?" Pikir Nara. Ia membalikkan tubuhnya, ingin melihat Ansel. Tapi Ansel menahannya agar ia tak bisa melihatnya yang sedang menangis.


"Jangan berbalik..." Lirih Ansel.


"Kamu tau Ra, hati aku... Hati aku sakit melihatmu bersama laki-laki lain. Aku benar-benar tulus... Aku tidak peduli jika kamu menganggap ini hanya sekedar obsesi saja. Tetapi apa Kamu tau? Obsesi dan cinta itu berbeda tipis. Mulia sekarang, kamu tidak perlu mencintaiku, biarkan aku saja yang mencintai mu. Jika kamu belum bisa memaafkan aku, tidak apa-apa aku terima itu asalkan kamu tidak pergi dari hidupku." Ucap Ansel mencurahkan isi hati nya.


Hati Nara tersentuh mendengarnya. Ia pun meneteskan air matanya. Ia menghapus air matanya, dan melepaskan pelukan Ansel. Lalu Nara langsung pergi meninggalkan Ansel yang masih berdiri.


"Aahhh!!" Ansel menarik rambutnya. Ia menghapus air matanya, dan menyusul Nara.


🌻 Los Angeles, Amerika Serikat.


Terlihat seorang wanita dengan rambut terurai, memakai kemeja dan rok span diatas lutut tengah berjalan di koridor kantor. Semua mata memandangnya takjub. Bagaikan dewi portuna yang mereka lihat. Ke sexian nya mengalihkan semua pandangan.


"Good morning, Miss Viana..." Begitulah sapaan semua pegawai di sana.


Viana Agata, menjabat sebagai CEO menggantikan pamannya. Ia bekerja dengan profesional dan teliti. Banyak perusahaan yang bekerjasama dengan perusahaan nya. Bukan hanya sekedar cara kerjanya saja yang mengagumkan, tetapi parasnya yang elok dan sexi itu membuat perusahaan mana pun terpesona olehnya.


Sampai-sampai pernah sekali Viana dilamar oleh pria yang tak ia kenal melamarnya untuk menjadi istri keduanya. Sungguh gila pikir Viana saat itu. Viana langsung menolaknya mentah-mentah dan membatalkan kerjasamanya dengan orang tersebut. Sifat Viana yang dulu dengan sekarang sangat berubah 180 derajat.


Viana selalu memasang wajah dinginnya, dan terkesan cuek. Ia tak membalas sapaan pegawai-pegawai nya. Tak banyak orang menilai nya sombong dan angkuh. Tetapi Viana tak menghiraukan perkataan itu. Ia juga dirumorkan sedang berpacaran dengan salah satu anak CEO dari perusahaan sebelah.


Walaupun hampir semua orang tak mempercayai nya, karna mengingat sifatnya Viana tetapi mereka yakini saja sebab laki-laki itu sering sekali ke perusahaan Viana untuk menemuinya. Viana tengah berkutat dengan laptopnya. Mengerjakan pekerjaannya yang menumpuk. Walau Viana baru tiga bulan menjabat disana, tetapi kehandalannya dalam bekerja tak diragukan lagi.


Ia sangat mahir dengan itu. Ketika Viana sedang sibuk-sibuk nya, ia dikejutkan oleh seseorang yang main masuk saja kedalam ruangannya tanpa mengetuk pintu. Biasanya asistennya Clair akan memberitahunya jikakalau ada tamu, tetapi Clair sedang sibuk dengan pekerjaanya juga jadi ia tak sempat untuk itu.


"Hai Viana..." Maxim membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.


"Astaga!" Viana terkejut.


"Kau sibuk?" Tanya Maxim seraya duduk di sofa. Ia merasa bersalah karna telah mengejutkan Viana.


"Tidak lihat? Lagian kenapa main masuk aja?! Emang tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu?!" Kesal Viana, lalu ia kembali mengerjakan pekerjaannya kembali.


"Hehe... Sorry-sorry. Ini, aku bawakan makan siangmu." Ujar Maxim mengeluarkan beberapa makanan dari plastik.


"Bisa tidak, kau tak usah repot-repot kesini?"


"Kenapa? Kan aku hanya memberikan mu makan siang saja sebagai balas budiku." Ucap Maxim.


Ia mengingat satu bulan yang lalu, ketika ia dikeroyok masa oleh beberapa preman. Saat itu Viana menolongnya. Jadi mulai dari situ, Maxim selalu datang ke perusahaan Viana untuk sekedar membawakan makan siang untuk balas budi nya. Jadi saat itu juga rumor itu datang, yang menyatakan Viana dan Maxim sedang menjalin hubungan spesial. Padahal nyatanya tidak.


"Aku sudah bilang beberapa kali, tidak usah membalas budi! Aku ikhlas..." Jelas Viana.


"Aku merasa tidak enak hati saja... Kamu sudah menyelamatkan nyawaku, ini tidak seberapa dengan itu." Ujar Maxim.


"Tidak usah berlebihan seperti itu! Kau tau? Jika kau itu dikira pacarku oleh semua orang-orang di perusahaan ini! Dan aku tak suka rumor itu!"


"Kalo kau tidak suka, jangan dihiraukan. Diamkan saja. Dan apa salahnya dengan itu? Seharusnya kamu mengakui saja, aku kan salah satu pria tertampan nomor satu di Los Angeles. Jadi tidak apa-apa akui saja aku sebagai pacarmu." Percaya diri Maxim.


"Cih." Viana mendengarnya hanya berdecih saja. Seketika itu ia terdiam, ia mengingat Ansel. Ia mengingat setiap godaan dan gombalan Ansel. Tetapi ia tepis perasaan itu. Hatinya merasakan sakit kembali jika mengingat penghianatan itu.


"Aku belum bisa melupakan mu Ans... Dan aku juga belum bisa melupakan penghianatan mu!" Viana memejamkan matanya, dan air matanya menetes.


"Hei, ayo kemari makan dulu! Bukankah ini sudah jam makan siang?" Ucap Maxim yang telah menyiapkan makanan diatas meja.


Viana membuka matanya dan langsung menghapus air matanya. Ia mau tak mau, menuruti permintaan Maxim dan makan siang bersama.


.


.


.


TBC