Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 80


#Happy Reading's🌻


.


.


.


"Ayo bereskan semuanya... Yang itu juga harus bersih."


"Ya ampun Nara... Kan ada bi Ijah yang bersihin ini semuanya. Emang aku pembantu apa!" Gerutu Ansel yang disuruh membersihkan tempat tidur. Nara menahan tawanya melihat wajah kesal Ansel.


"Kamu kan udah janji kalo hari ini 24 jam harus menuruti semua permintaan ku." Ucap Nara.


"Gak gini juga kali!" Kesal Ansel seraya membereskan seprai.


"Udah jangan ngeluh terus... Kita itu harus mandiri, jangan bi Ijah terus yang beresin ini." Nara membantu Ansel membereskan kamar.


Setelah membereskan kamar, Nara meminta Ansel untuk membawanya ke kantornya. Ia sangat suntuk terus dirumah setiap hari. Ansel pun mau tak mau harus membawa Nara karna perjanjiannya kemarin.


"Kamu tunggu aja disini, aku akan rapat dulu." Pinta Ansel.


"Aku mau ikut."


"Nara, ini tidak akan lama... Kamu tunggu aja ya disini." Bujuk Ansel agar Nara tidak perlu ikut.


"Ck pelit!"


Ansel menghampiri Nara dan memeluknya. "Tunggu aku ya, jangan kemana-mana. 20 menit aku akan menyelesaikan rapatku." Diakhir kalimat Ansel mengecup kening Nara. Nara hanya diam terpaku saja tanpa membalas ucapan Ansel.


Melihat Ansel sudah pergi dari ruangan, Nara terduduk dan memegangi dadanya. "Ada apa denganku? Kenapa aku merasa aneh seperti ini? Gak mungkinkan aku..." Nara menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Gak mungkin!" Nara mengelak dengan perasaannya.


20 menit berlalu, Ansel benar-benar menyelesaikan rapatnya dan kembali keruangan. Ia melihat disana istri tercintanya sudah terlelap tidur dengan memeluk majalah. Ia menghampirinya dan mengambil majalah itu lalu menyimpannya diatas meja. Ia menatap lekat wajah Nara yang sedang tertidur.


"Sangat cantik." Lirih Ansel seraya mengelus wajah Nara.


Karna merasa ada yang menyentuh wajahnya, Nara membuka matanya. Yang ia lihat pertama kali ialah wajah Ansel yang sedang menatapnya. Sejenak ia memandangi wajah Ansel, begitu pun sebaliknya.


"Bangunlah... Kita pergi makan siang." Ujar Ansel tersenyum.


"Ah ya... Ayo..." Gugup Nara dan langsung berdiri tanpa sadar sendal dan tasnya ditinggalkan begitu saja di sofa.


"Nara..." Panggil Ansel yang berdiri disamping sofa.


Nara membalikan tubuhnya. "Ya?" Tanya Nara dengan polosnya.


"Apa kamu tidak memerlukan sendal dan tasmu?"


Spontan Nara melihat kearah kakinya dan melihat kearah sofa yang terlihat sendal dan tasnya disana. "Astaga... Aku lupa." Nara salah tingkah dibuatnya. Segera saja ia memakai sendal dan tasnya.


"Pfftt..." Ansel terkekeh.


"Ayo..." Tanpa melihat kearah Ansel, Nara langsung pergi menuju pintu keluar. Ia sangat malu dengan tingkahnya.


"Bodoh!" Gerutu Nara dalam hati.


Mereka mengunjungi restoran yang tak jauh dari perusahaan Ansel.


"Ini... Kamu pesan saja yang kamu inginkan." Ansel memberikan buku menu. Nara langsung mengambilnya dan menutupi seluruh wajahnya dengan buku menu itu. Melihat itu Ansel tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Saya pesan ini dan minumnya ini ya..." Pinta Ansel kepada salah seorang pelayan disana seraya menunjukan makanan didalam menu.


"Nara, kamu mau pesan yang mana?" Tanya Ansel.


"Emmm... Aku samakan saja denganmu." Ujar Nara menaruh buku menu.


"Kalo begitu tadi kenapa kamu menutupi seluruh wajah dengan buku menu jika pada akhirnya memesan makanan yang sama denganku?"


"Te... Terserah aku dong!" Elak Nara yang masih salah tingkah. Entah kenapa dirinya hari ini terasa begitu bodoh dihadapan Ansel.


"Aneh." Lirih Ansel pelan.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang dan mereka pun langsung menyantapnya sampai habis.


"Nara, itu di bibirmu ada sedikit saus."


Nara memegang bibirnya dan mengelapnya. "Bukan disitu..." Ansel pun mengambil tisu dan mengelapkan sisa saus dibibir Nara. Nara terpaku dengan perlukuan Ansel yang begitu perhatian. Jantungnya berdegub sangat kencang.


"A... Aku saja sini." Nara mengambil tisu di tangan Ansel dan membersihkan bibirnya kembali.


"Yasudah ayo kita kembali ke kantor..."


Drrrtt... Drrrtt


Baru saja Nara hendak bangun, ponselnya berdering.


"Tunggu sebentar." Pinta Nara dan mengangkat telponnya.


"Halo?"


"......"


"Apa? Oke saya akan kesana." Nara langsung mematikan sambungan telponnya.


"Siapa?" Tanya Ansel penasaran.


"Ibunya Bayu." Jawab Nara.


"Untuk apa ibunya Bayu menelponmu?"


"Bayu sudah siuman... Aku akan kerumah sakit dulu. Kamu ke kantor aja sendiri." Ucap Nara.


"Aku akan ikut."


"Aku janji tidak akan mencari keributan." Janji Ansel.


"Baiklah."


Ansel dan Nara pergi ke rumah sakit dimana Bayu berada. Sesampainya disana, Nara begitu tergesa-gesa mencari ruangan Bayu. Ansel yang berada dibelakangnya terlihat murung dan tidak suka.


"Apa kamu masih mencintainya?" Batin Ansel melihat punggung Nara.


Nara dan Ansel tiba diruangan Bayu. Segera saja mereka menghampirinya.


"Bayu..."


"Nara?" Bayu menoleh melihat kekasih hatinya datang.


"Bayu, syukurlah kamu sudah sadar..." Mata Nara berkaca-kaca.


Bayu memegang tangan Nara dan menciumnya. "Iya... Terimakasih sudah datang."


Ansel mengepalkan tangannya melihat hal itu. Nara merasakan hawa dingin di punggungnya yang ternyata Ansel lah yang mengeluarkan hawa tersebut. Nara menyadari kehadiran Ansel, ia segera melepas pegangan tangannya dari Bayu.


"Kenapa kamu baru sekarang menjengukku?" Tanya Bayu.


"Aku..." Baru saja Nara ingin menjawab pertanyaan Bayu, ibu Bayu menyelanya.


"Karna dia sibuk dengan pria lain!"


"Kenapa ibu berkata seperti itu?" Ujar tak suka Bayu.


"Kamu lihatkan dia kemari bersama siapa? Pria lain Bayu!" Tunjuk ibu Bayu kepada Ansel.


Bayu menoleh kearah Ansel. Ia baru menyadari kehadiran Ansel. "Lo kenapa ikut Nara kesini?" Ucap Bayu.


"Karna gue su..."


"Karna Ansel adalah bosku." Sela Nara.


Ansel dan Bayu menoleh kearah Nara. Nara hanya menelan salivanya karna gugup dan takut jika Bayu mengetahui bahwa Ansel adalah suaminya. Ia ingin Bayu mengetahuinya dengan penjelasannya sendiri.


"Kan dia hanya bos kamu, kenapa harus ikut segala sih!"


"Heh! Justru itu gue bosnya jadi dia tanggung jawab gue dan harus dalam pengawasan gue." Ketus Ansel.


"Aturan macam apa itu?" Ujar Bayu.


"Udah-udah... Yang penting aku sudah disini kan? Jadi aku gak apa-apa bawa Ansel kemari bukan?" Lerai Nara.


"Huft baiklah..." Bayu tersenyum dan mengalah.


"Ck dasar perempuan bermuka dua!" Kesal ibu Bayu.


"Ibu!"


"Nyonya, perhatikan ucapanmu!" Geram Ansel tak suka.


"Memang kenyataannya seperti itu kan? Bayu, kamu putuskan saja wanita ular ini!"


"Ibu! Aku tidak akan pernah memutuskan Nara sampai kapanpun! Ibu jangan mengatai Naraku seperti itu!" Ucap Bayu tegas.


"Ck Naraku? Udah deh turutin aja permintaan nyokap lo!" Ujar Ansel.


"Ansel..." Nara menatap tajam Ansel.


"Kenapa kamu menatap aku seperti itu?" Tanya Ansel dengan kesal.


Spontan saja Nara mengedipkan matanya. "Maaf..." Ucapnya.


"Gak usah minta maaf Ra... Mending lo pergi aja deh dari sini!" Usir Bayu pada Ansel.


"Oke gue pergi dari sini... Tapi asalkan Nara juga harus pergi sama gue!" Ansel meraih tangan Nara dan menariknya.


"Apa-apaan lo! Nara pacar gue, jadi dia harus tetap disini!" Bayu pun menarik tangan Nara sebelahnya.


"Hanya pacar? Bukan berarti suamikan?" Ucap Ansel seraya menatap Bayu dengan tatapan membunuh.


"Sama aja, Nara tetap milikku!" Kekehan Bayu membalas tatapan Ansel.


"Baiklah kita tanya saja langsung pada Nara apakah dia mau tetap disini atau ikut pergi denganku!" Ujar Ansel dan Bayu pun menyetujui itu.


"Bagaimana Nara?" Tanya Ansel.


"Pasti Nara memilihku! Karna aku suaminya." Batin Ansel dengan penuh harap.


"Duh gimana ini?" Pikir Nara melihat kearah Ansel dan Bayu secara bergantian.


"Aku... Emmm..." Nara berfikir keras.


"Sebaiknya aku tetap disini dulu. Aku ingin membicarakan mengenai hubunganku dengan Bayu. Aku tidak ingin hubungan ini tetap berlanjut sedangkan aku sudah memiliki Ansel sebagai suamiku. Ya, aku harus berbicara baik-baik dengan Bayu saat ini." Pikir Nara.


"Aku tetap disini." Ucap Nara menatap Ansel.


Ansel melepaskan tangan Nara dan tersenyum kecut. Lalu ia pergi dari ruangan Bayu tanpa berbicara sepatah katapun.


"Apakah aku sudah sangat terlambat Nara? Apa dihatimu hanya ada Bayu saja?" Batin Ansel mengepalkan kedua tangannya.


"Ah sial! Kenapa ini sangat menyakitkan!" Gerutu Ansel.


.


.


.


TBC