
#Happy Reading's🌻
.
.
.
"Akh Ansel hentikan! Sakit!" Nara begitu kesakitan ketika Ansel terus saja menggosok seluruh tubuhnya dengan kasar dibawah guyuran shower. Bahkan kulitnya sampai memerah.
Nara mengigit bibirnya menahan rasa perih. "Ansel hiks... Aku mohon hentikan! Ini sangat menyakitkan!" Mohon Nara mencengkram erat bahu Ansel.
Seketika Ansel tersadar. Ia melihat wajah istrinya yang sudah menahan kesakitan akibat ulahnya. "Astaga... Apa yang aku lakukan?!" Ia menjambak rambutnya sendiri.
"Sa~sayang... Ma~maafkan aku..." Ia langsung memeluknya dibawah guyuran shower.
Nara tak henti-hentinya menangis. "Di~dingin... Hiks." Ucapnya bergetar kedinginan. Bagaimana tidak kedinginan? Ansel mengguyur Nara dibawah shower hampir satu jam penuh. Kecemburuannya benar-benar membuat akal sehatnya hilang.
Melihat Nara kedinginan Ansel pun meggendongnya kedalam kamar dan segera ia baluti Nara dengan pakaian lalu menyelimutinya diatas kasur.
"Aku benar-benar minta maaf... Aku begitu tidak sadar menyakitimu. Aku..."
"Diamlah!!! Aku lelah!" Tutur Nara menyela dan membalikan badannya membelakangi Ansel.
Ansel memeluknya dari belakang. "Maaf aku sudah kelewatan. Aku cemburu, dan aku juga tidak rela dia menyentuh tubuhmu. Maafkan aku ya sayang..." Lirihnya lalu menyusupkan kepalanya diceruk leher Nara.
Nara menangis dalam diamnya. Ia benar-benar kecewa dengan perlakuan kasar Ansel terhadapnya, ia mengerti bahwa Ansel marah dan merasa cemburu. Tetapi yang ia lakukan juga salah. Ketika Nara memikirkan kesalahan yang dilakukan Ansel, tiba-tiba saja ceruk lehernya terasa basah.
"Apa Ansel menangis?" Pikir Nara lalu mengusap air matanya.
Ia membalikan tubuhnya menghadap kearah Ansel. Ia melihat Ansel memejamkan matanya dengan air mata yang mengalir.
"Kamu menangis?" Tanya Nara terkejut.
Ansel menggelengkan kepalanya lalu kembali memeluk Nara dan menyembunyikan wajahnya di dada Nara. Ia berusaha menyembunyikan air matanya. Nara pun mengangkat wajah Ansel.
"Kenapa menangis?" Tanya nya.
"Tidak, aku tidak menangis." Elak Ansel dengan suara serak lalu melepaskan pegangan tangan Nara di wajahnya.
"Bohong! Jelas-jelas kamu menangis!" Nara kembali menarik wajah Ansel menghadapnya.
"A~aku... Aku hanya merasa bersalah saja sama kamu. Aku tidak menjagamu dengan baik, dan aku juga sudah menyakitimu." Lirih Ansel memejamkan matanya.
Nara terharu mendengar Ansel mengakui kesalahannya. "Aku baik-baik saja..." Nara mengusap air mata Ansel dan memberinya senyuman.
"Tapi tetap saja aku merasa bersalah sama kamu."
"Lupakan..." Nara pun memeluk Ansel dan Ansel membalas pelukannya.
"Maaf... Lain kali aku tidak akan mengulanginya lagi."
"Kali ini aku memaafkanmu."
"Terimakasih." Ansel mengecup singkat kening Nara dan mereka pun terlelap dalam tidur.
Di lain tempat, Viana dan Tony sedang duduk dipinggir ranjang dengan menjaga jarak. "Viana... Kenapa sedari tadi kamu selalu menjauhiku?" Tanya Tony frustasi karna sejak selesai acara pernikahan tadi, Viana selalu menghindari bahkan menjauhi Tony tanpa alasan yang jelas.
Karna Viana diam saja, Tony pun berinisiatif mendekati dirinya. "Jangan mendekat!" Ucap Viana mencegahnya.
"Ayolah sayang... Beri aku penjelasan, kenapa kamu menjauhiku?"
"Aku tidak menajuhimu. Baby kita yang ingin menjauh dari ayahnya..." Ucap ketus Viana.
"Tidak mungkin. Kenapa seperti itu?" Bingung Tony.
"Karna baby kita gak mau disentuh oleh tanganmu yang sudah menembak orang!"
"Oh astaga... Karna itu kamu menjauhiku? Sayang... Ini tidak masuk akal. Aku menembaknya untuk melindungi sepupuku bukan untuk membunuhnya. Menembaknya di lengan tidak akan membuatnya mati." Jelas Tony.
"Apapun alasannya, jangan dekat-dekat! Dan malam ini, aku ingin... Oh bukan-bukan, baby kita ingin kamu tidur di sofa satu malam!"
"What?!" Tony terkejut bukan main.
"Sayang... Jangan seperti ini, aku tidak mungkin tidur di sofa. Bukankah ini malam pernikahan kita? Masa kamu tega merusaknya." Keluh Tony.
"Aku gak mau tau! Kamu harus tidur di sofa, TITIK!" Ucap Viana menekankan kata Titik.
Dengan terpaksa, Tony pun tidur di sofa. Di balik semua itu, Viana cekikikan tertawa karna sudah mengerjai suaminya.
"Ini hukumanmu karna sudah melarangku menemui Nara xixixi." Batin Viana tersenyum senang melihat Tony benar-benar tidur di sofa.
Viana begitu kesal dengan Tony karna sebelumnya ia melarangnya menemui Nara setelah acara pernikahan mereka selesai. Alasan Tony tidak mengijinkan Viana menemui Nara karna mungkin saja Nara membutuhkan istirahat penuh dan menenangkan dirinya atas kejadian yang menimpanya.
Pagi harinya...
Hari ini Nara dan Ansel ingin berangkat kembali ke London. Ingin sekali Nara tetap disini karna ia masih merindukan kedua orangtuanya dan Viana. Ansel pun tak lagi mengijinkan Nara tinggal disini karna kejadian kemarin. Walaupun Bayu sudah dimasukkan ke dalam penjara, tetapi kejadian itu masih membekas didalam ingatannya. Nara juga memiliki tanggung jawab pada Ansel sebagai istrinya untuk senantiasa bersamanya.
"Huaa Nara... Kenapa cepet banget sih berangkatnya." Ucap Viana memeluk Nara. Pagi sekali dirinya dan Tony ke kediaman Nara dan Ansel sejak kabar keberangkatan mereka ingin kembali ke London.
"Lo baik-baik ya disini sama Tony. Gue kapan-kapan main kesini." Balas Nara memeluk Viana.
"Gue bakalan kangen sama lo..." Isak Viana mulai terdengar.
"Sayang..." Panggil Ansel disampingnya yang ingin memberitahunya bahwa mereka harus segera berangkat.
Nara melepaskan pelukan Viana dan beralih pada kedua orangtuanya, Mario, dan kedua orangtua Ansel.
"Sampai jumpa semuanya...." Lambaian tangan Nara dan Ansel di dalam mobil.
"Jaga kesehatan kalian disana ya..." Teriak Ranty.
"Jangan lupa, saat kembali ke Indonesia lagi harus bawain ponakan buat gue!!" Teriak Tony.
"Siap!!" Balas teriakan Ansel. Lalu mereka pun berangkat menuju London.
Semua orang pun kembali kedalam Mansion. Mereka duduk di ruang keluarga seraya berbincang-bincang.
"Kandungan mu sudah berapa bulan nak Viana?" Tanya Riani.
"Sudah 4 bulan tan..." Jawab Viana.
"Lumayan sudah besar ya..." Riani pun mengelus perut Viana.
"Semoga kalian tetap bahagia ya sampai akhir hayat." Tutur Riani.
"Aamiin..." Balas Tony mengamini.
Ditengah obrolan keluarga, tiba-tiba saja kepala Viana terasa sangat sakit. Ia memegangi kepalanya membuat semua orang bertanya-tanya. Saat itu Viana hanya menjawabnya bahwa ia tidak apa-apa.
"Benarkah kamu tidak apa-apa nak? Tapi mukamu pucat sekali." Tanya Ranty.
"Tidak Mah... Mungkin ini hanya efek kecapean aja." Jawab senyum Viana
"Yasudah kalian istirahat saja disini." Tawar Abraham.
"Tidak usah paman, kita pulang saja. Ayo sayang..." Ajak Viana dan Tony mengiyakan lalu mereka pun pergi.
Didalam perjalanan, Viana menidurkan dirinya di bahu Tony. Ia merasakan kepalanya semakin sakit. Dirinya berusaha menahan rasa sakit itu. Hingga pada akhirnya Viana memutuskan untuk pergi kedokter dengan alasan cek up kehamilannya.
"Sayang... Kamu tunggu aja ya diluar. Aku akan masuk sendiri saja." Pinta Viana.
"Kenapa harus menunggu diluar? Aku juga ingin tau keadaan baby kita."
"Sayang, aku mohon... Aku ingin membuatkanmu surprise. Kamu tetap disini ya." Ucap Viana dengan jurus imutnya.
"Haish... Baiklah... Aku akan menunggu diluar. Dan aku juga akan menanti surprise apa yang akan kamu berikan."
"Terimakasih...." Sekilas Viana mencium pipi Tony sebelum ia masuk kedalam ruangan kandungan.
Di dalam, Viana sedang melihat bayi yang ada diperutnya. Ketika melihat bayinya muncul di dalam mesin USG, senyumnya mengembang.
"Bayinya perempuan..." Ucap sang dokter.
"Benarkah?" Ucap Viana bahagia.
"Benar."
"Bunda tidak sabar menemui mu baby girl..." Lirih Viana.
"Silahkan ikut saya nyonya..." Pinta sang dokter setelah melakukan USG.
Viana pun duduk dihadapan dokter. "Ini hasil USG nya nyonya." Ucap dokter itu.
"Terimakasih dokter."
"Bayi anda sangat sehat, tetapi..."
Viana sudah tau apa yang akan dokter itu bicarakan. "Saya tau, pasti ini mengenai penyakit saya kan?" Ucap Viana menyela seraya menampilkan senyumnya dengan tegar.
"Iya. Apakah anda benar-benar yakin ingin mengambil resiko ini?"
"Saya sangat yakin dok... Saya sudah memutuskannya."
"Selain nyawa anda yang akan menjadi taruhannya, bayi yang ada didalamnya pun akan mengalami dampaknya." Tutur sang Dokter.
"Apa?!" Viana begitu terkejut mendengarnya.
"Biasanya orang normal akan melahirkan diwaktu usia kandungannya 9 bulan. Tetapi anda tidak akan mungkin mencapai 9 bulan. Perkiraannya hanya 7 bulan saja... Itupun memakai metode operasi caesar." Jelas dokter.
"Dok, apa itu juga akan mempengaruhi kondisi anak saya nanti?"
"Pengaruh yang sering terjadi bisa seperti kelumpuhan, buta, tuli, atau gagal jantung yang bisa saja seumur hidupnya tidak akan kuat beraktifitas yang berlebihan."
Viana menutup mulutnya. "Do~dokter... Bagaimana caranya supaya anak saya tidak mengalami gangguan-gangguan yang anda sebutkan tadi? Saya tidak mau anak saya hidup di dunia penuh dengan penderitaan." Viana gemetar.
"Hanya keajaiban lah yang bisa mengubahnya."
Tubuh Viana seakan-akan lemas tak berdaya. Lalu ia pun keluar ruangan. "Bagaimana pemeriksaannya?" Tanya Tony.
"Sangat baik..." Senyum Viana mengembang dihadapan Tony. Ia menyembunyikan rasa takut dan khawatirnya.
"Mana surprise ku hmm?"
"Kamu ini tidak sabaran sekali... Nanti aku kasih ayo." Viana menggandeng lengan Tony menuju keluar rumah sakit.
"Sayang... Kamu tunggu dimobil, aku lupa mengambil obat vitamin kehamilanku."
"Baiklah..."
Viana berbohong, ia sebenarnya ingin pergi kemoterapi sekaligus membeli obatnya yang sebelumnya sudah habis. "Maaf, aku berbohong lagi padamu Tony..." Lirih Viana.
.
.
.
TBC