Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 73


#Happy Reading's🌻


.


.


.


Nara tidur disamping Ansel. Ia melihat Ansel tidur membelakanginya. Sungguh, dirinya sangat penasaran mengenai kejadian di meja makan tadi. Mengapa Ansel tiba-tiba saja menyudahi makannya dan terlihat kesal? Kalimat itulah yang selalu berputar-putar di kepalanya.


"Mungkin aku bisa menanyakannya nanti pagi." Pikir Nara lalu ia pun memejamkan matanya dan tertidur.


Beda halnya dengan Ansel. Ia membuka matanya yang masih membelakangi Nara. Ia sedari tadi tidak tertidur, dirinya hanya pura-pura tertidur saja.


Ansel membalikan tubuhnya menghadap Nara. "Ck, kenapa dia langsung tidur begitu aja? Dia benar-benar sangat tidak peka!" Gerutu Ansel lalu kembali membalikan tubuhnya lagi membelakangi Nara.


Pagi hari pun menjelang. Nara membuka matanya dan melihat kearah samping. Ternyata Ansel sudah bangun. Gemericik air terdengar di dalam kamar mandi. Nara duduk di kepala ranjang menunggu Ansel selesai mandi. Setelah beberapa menit kemudian, Ansel sudah selesai dengan mandinya.


Nara kebingungan melihat tingkah Ansel yang diam saja. Tidak biasanya Ansel diam seperti itu. Biasanya setiap pagi, Ansel selalu menyapanya bahkan selalu bersikap manis. Tetapi berbeda dengan hari ini.


Saking penasarannya Nara pun angkat bicara. "Ansel, ada apa?" Tanya Nara.


Ansel menatap Nara.


"Baru sekarang dia menanyai ku?! Sungguh menyebalkan!" Batin Ansel kesal. Lalu ia pun memalingkan wajahnya seraya memasang kancing kemejanya.


"Ansel..." Panggil Nara. Tapi lagi-lagi Ansel mendiaminya.


"Ansel aku memanggilmu! Lihat aku!" Gertak Nara. Ia kesal sekali Ansel tak menghiraukannya.


Ansel tetap diam dan sibuk dengan aktifitas nya sendiri.


"ANSEL!" Teriak Nara.


Viana yang hendak turun kebawah pun tak sengaja mendengar teriakan Nara.


"Kenapa Nara teriak ya?" Lirih Viana bingung. Lalu ia pun menempelkan kupingnya di pintu kamar Nara dan Ansel. Ia sangat penasaran dengan itu.


"Kau berani membentakku?!" Ansel menatap tajam Nara.


"Aku berteriak karna kamu tidak menghiraukan panggilan ku! Ada apa denganmu hah?!"


"Apa pedulimu hem? Baru sekarang kamu ingat aku? Semalam kamu tidak memperdulikan ku, tidak menyusulku ke kamar, dan malah mengobrol dengan orang lain!" Ansel menaikan nada bicaranya. Mood nya sedang tidak enak hari ini.


"Viana bukan orang lain! Dia sahabat ku!" Nara pun ikut menaikan nada bicaranya.


"Dan aku suami mu!"


"Kenapa kamu..."


"Satu hal lagi." Ansel memotong ucapan Nara dan berjalan kearah Nara.


"Kamu masih mencintai Tony?"


Nara terkejut mendengar pertanyaan Ansel. "Kamu bicara apa? Kenapa kamu bahas Tony?"


Ansel mengangkat dagu Nara. "Aku tanya, apa kamu masih mencintai Tony?" Mata Ansel sudah memerah. Rasa kesal, marah, sakit hati bercampur di dirinya saat ini.


Nara menepis tangan Ansel di dagunya. "Tidak." Ucap Nara.


Ansel menatap mata Nara. Ia mencari kebohongan disana. "Kau berbohong. Jelas-jelas aku melihat semalam kamu menentang hubungan Tony dan Viana."


"Astaga Ansel... Karna itu kamu marah seperti ini? Sungguh kekanakan! Aku itu bukan menentang hubungan mereka. Aku berbicara seperti itu, karna merasa kasihan melihat mereka tidak nyaman dengan pertanyaan itu." Jelas Nara.


"Sungguh? Hanya itu alasannya?"


Nara mengangguk, dan Ansel pun memeluknya.


"Aku tidak akan membiarkanmu mencintai orang lain selain diriku. Aku tidak akan membiarkan itu Nara... Tidak akan!" Ansel memejamkan matanya.


Nara awalnya tidak membalas pelukannya, tetapi tanpa ia sadar kedua lengannya membalas pelukan Ansel bahkan menepuk-nepuk punggungnya.


Ansel melepaskan pelukannya. "Kamu harus berjanji tidak akan mencintai orang lain selain aku." Ansel menangkup kedua pipi Nara.


"Bagaimana aku bisa berjanji, jika aku sendiri belum mencintaimu." Jawab Nara.


"Aku akan membuatmu mencintaiku."


"Dengan cara apa?"


"Dengan cara meluluhkan hati kerasmu ini." Ansel menunjuk dada Nara.


Nara tampak diam mendengar itu. Ansel mendekatkan dirinya dan mencium bibirnya. Tak terasa oleh Nara, dirinya memejamkan matanya. Tetapi beberapa saat ia tersadar dan langsung mendorong Ansel.


"Kita harus turun. Pasti Viana menungguku." Ujar Nara yang tampak salah tingkah.


"Baiklah... Tapi ada syaratnya."


"Yaudah, kalo kamu gak mau syaratnya... Kita tetap disini."


"Hah... Iya-iya apa syaratnya?"


"Ini..." Ansel menunjuk-nunjuk pipinya.


"Apa?" Tanya Nara tak mengerti maksud Ansel.


"Cium aku dulu, baru kita akan kebawah." Ansel kembali menepuk-nepuk pipinya.


"Hanya pipi bukan? Oke..." Nara mencondongkan bibirnya ke pipi Ansel. Dengan isengnya Ansel langsung memalingkan wajahnya, sehingga yang dicium Nara bukan pipinya melainkan bibirnya. Nara terkejut dengan kejahilan Ansel.


"Hei! Apa yang kamu lakukan!" Gertak Nara.


"Menciummu." Kekehan Ansel.


"Dasar penipu!!" Nara mengambil bantal di samping nya dan memukulannya kearah Ansel.


"Aduh hahaha... Siapa yang penipu? Aku tidak pernah menipumu!" Ansel tertawa dengan itu.


"Kamu bilang cium di pipi, kenapa kamu malah memberikan bibir jelekmu itu!" Kesal Nara dan terus memukuli Ansel dengan bantal.


"Hei-hei... Ini namanya taktik sayang... Dan apa yang kamu bilang tadi? Bibirku jelek? Asal kamu tau ya, bibirku ini candu semua wanita. Bibirku ini bibir tersexy di dunia." Narsis Ansel.


Nara menghentikan pukulannya. "Apa kamu bilang? Candu semua wanita? Jadi, bibirmu itu tidak perjaka lagi? Oh astaga... Kasihan sekali bibir perawan ku ini dikasih ke bibir buaya seperti mu!" Nara memengangi bibirnya.


"Hah? A... Aku... Aku tadi salah bicara. Bibirku masih perjaka... Bahkan adikku juga masih perjaka. Kamu mau coba?" Ucap Ansel sembari menaik-naikkan alisnya.


BUK


"Dasar mesum!"


Dengan kesalnya Nara melemparkan bantal ke wajah Ansel sangat keras.


"Hahaha... Aku becanda, aku becanda... Yaudah, ayo kita kebawah." Ajak Ansel dan mengangkat Nara ke kursi rodanya.


Tanpa mereka sadari, Viana melihat semua kejadian itu. Ia yang tadinya hanya ingin mendengar saja pun, membuka pintu kamar mereka yang kebetulan tidak dikunci.


"Aku masih merasakan sakit dihatiku melihat kemesraan kalian. Aku masih mencintaimu Ansel..." Lirih Viana pelan seraya menghapus air matanya, lalu ia pun pergi.


Tony melihat tingkah Viana di depan kamar tamu yang tak jauh dari kamar tamu Viana dan kamar Nara dan Ansel.


"Apa Viana masih mempunyai perasaan dengan Ansel?" Pikir Tony, dan ia pun juga pergi menyusul Viana.


Setelah melakukan sarapan pagi, Viana dan Tony berpamitan untuk pulang.Tony mengantar Viana ke apartemennya. Viana memintanya untuk diantar sampai depan gedung saja. Ia takut kejadian kemarin terulang kembali. Ketika Tony hendak pergi, tiba-tiba saja ia melihat ponsel Viana yang tergeletak di sampingnya.


"Aku mengembalikan ponselnya dulu." Tony pun memarkirkan mobilnya dan pergi menyusul Viana.


Viana dengan tubuh yang tidak bersemangat, menyenderkan tubuhnya terlebih dahulu di depan pintu apartemennya. Ia membayangkan kemesraan Nara dan Ansel yang sempat ia lihat tadi.


"Ah sial!" Umpat Viana, lalu ia pun menekan kode tombol pintunya.


Bersamaan dengan itu, Tony keluar dari lift. Ia melihat Viana sedang menekan-nekan kode tombol pintunya.


"Bukankah Viana tinggal di unit 125?" Lirih Tony menghentikan langkahnya.


Tony pun berjalan kembali dan ia kira mungkin, dirinya salah melihat Viana memasuki unit nomor 116. Ia pun mencoba mencari tahu kebenarannya dan mengetuk pintu unit 125.


Wanita paruh baya yang Viana akui sebagai neneknya itupun membuka pintunya.


"Selamat pagi nek... Viananya ada?" Tanya Tony.


"Nenek siapa yang kamu maksud? Aku bukan nenek-nenek! Apa kamu tidak bisa melihat jika masih muda seperti ini hah? Eh tunggu-tunggu... Bukankah kamu pria yang kemarin bersama wanita yang mengataiku neneknya?" Cerocos wanita paruh baya itu.


Tony tampak diam dan berfikir mendengar pengakuan wanita paruh baya didepannya. Apakah Viana membohonginya? Tetapi apa tujuannya? Itulah yang berada di benak Tony saat Ini.


"Oh, maafkan saya nyonya... Mungkin saya dan pacar saya sudah salah paham. Saya permisi... Sekali lagi saya minta maaf." Tony pun pergi dari unit 125.


Ia berjalan ke unit 116 yang ia sempat lihat Viana memasuki unit tersebut. Tetapi mustahil jika Viana memasuki unit itu, yang Tony tahu unit 116 adalah tempat yang dimana kejadian malam itu ia bercinta dengan seorang wanita yang ia tidak kenal.


"Tidak mungkin itu Viana!" Sergah Tony pada dirinya.


Dengan berat hati, ia pun mengetuk pintunya. Deguban jantungnya semakin kencang. Ia berharap, wanita itu bukanlah Viana. Beberapa kali ia mengetuk, akhirnya pintu itu terbuka. Tony sangat terkejut yang membukakan pintunya adalah Viana. Begitu juga dengan Viana, ia tak kalah terkejutnya dengan Tony.


.


.


.


TBC


Bagaimanakah reaksi dari Viana dan Tony? apakah Tony akan mengetahui yang sebenarnya? Yuk ikuti terus ceritanya🙏


Beri dukungan kalian dengan cara like, coment, Hadiah dan vote🙏🙏