Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 81


🌻Happy Reading's


.


.


.


Keduanya tampak diam. Ada keanehan yang dilihat Bayu pada diri Nara. Nara sedang kebingungan, bagaimana ia harus menjelaskan semuanya agar Bayu mengerti dan tak sakit hati. Nara menghela nafasnya dengan kasar beberapa kali.


"Ada apa? Kenapa kamu dari tadi keliatan risau?" Tanya Bayu.


"Bayu... Aku~ Aku mau hubungan kita akhiri saja sampai sini." Nara memejamkan matanya.


"Pftt... Kamu becanda kan? Gak lucu tau Ra."


Nara membuka matanya dan menatap Bayu dengan sayu. "Maafkan aku..." Ucap Nara.


Bayu memegang tangan Nara. "Sayang... Ini bener-bener gak lucu!" Tatapan Bayu kini berubah serius.


"Aku serius Bay... Aku mau hubungan kita sebatas teman aja. Maafkan aku, sampai saat ini belum bisa menerima mu di hatiku."


Bayu semakin memegang tangan Nara. "Kalo masalah itu aku gak keberatan. Aku yakin, dengan seiringnya waktu kamu pasti menerimaku."


Nara melepaskan genggaman tangan Bayu.


"Itu gak mungkin Bay..."


"Kenapa? Apa karna Ansel?" Mata Bayu berkaca-kaca.


Nara menunduk nggan menatap Bayu. Ia sungguh merasa bersalah.


"Jawab Nara! Apa karnanya kamu mau memutuskan hubungan kita?"


"Ya." Singkat Nara dan menatap Bayu.


"Heh..." Bayu tersenyum kecut.


"Maafkan aku Bayu... Aku..." Belum sempat Nara melanjutkan ucapannya, Bayu memotongnya dengan mengangkat telunjuknya.


"Apa karna aku terbaring disini? Atau jangan-jangan selama ini kamu hanya menerimaku karna merasa kasihan?"


"Bukan seperti itu Bay... Aku dijodohkan oleh kedua orang tuaku dengan Ansel. Aku juga terpaksa menerimanya." Jelas Nara.


"Jika seperti itu, kamu minta cerai saja dengannya."


Nara berdiri. "Aku tidak bisa."


"Kenapa? Apa kamu sudah mencintainya?" Bayu mengepalkan kedua tangannya. Sungguh, hatinya amat sakit mendengar bahwa Nara dan Ansel sudah menikah karna perjodohan. Impiannya bersama Nara pupus begitu saja ketika dia bangun dari komanya.


Nara diam membisu. Ia sangat bingung ingin menjawabnya seperti apa. Hatinya saja tidak menentu, apakah ia benar-benar sudah mencintai Ansel atau belum.


"JAWAB NARA!' Teriak Bayu.


"A... Aku..." Nara mengepalkan tangannya kuat-kuat dan memejamkan matanya. Ia ingin meyakinkan hatinya.


"Ya, kamu benar... Aku sudah mencintainya."


Air mata Bayu lolos. Hatinya benar-benar hancur. "Kamu tidak boleh seperti ini Nara! Kamu sudah berjanji denganku bahwa kamu akan mencintaiku." Bayu menatap Nara narnar.


"Maafkan aku." Hanya maaf lah yang bisa di ucapkannya.


"Aku tidak butuh maafmu! Yang aku butuhkan cintamu!"


"Bayu... Aku mengaku, aku mengingkari janji itu. Tapi cinta ini tidak bisa dipaksakan."


"Kau benar, cinta itu tidak bisa dipaksakan. JIKA BEGITU KENAPA WAKTU ITU KAMU MENERIMAKU DAN MEMBERIKU HARAPAN NARA?!" Teriak Bayu.


"AH..." Tiba-tiba saja kepala Bayu sakit.


Nara melihat itu terkejut, segera saja ia menghampiri Bayu. "Bayu... Ada apa? Kamu kenapa?"


"MENYINGKIR!" Dorong Bayu.


Nara terhuyung kebelakang. "Aku akan memanggil dokter." Nara berlari keluar ruangan untuk memanggil dokter.


Ibu Bayu yang sedari tadi menunggu diluar pun panik. "Ada apa dengan anakku Nara?" Tanya ibu Bayu mencegah Nara.


"Kepala Bayu sakit bu... Aku harus memanggil dokter." Nara melanjutkan larinya. Setibanya dokter, Bayu langsung ditangani.


"Bagaimana keadaan anak saya dok?" Tanya ibu Bayu seraya mengelus kepala Bayu yang terlelap tidur pengaruh obat yang di berikan di infusannya.


"Tensi darahnya naik dan dia mengalami syok ringan, akibatnya jaringan di otaknya terpengaruh. Sebaiknya kalian tidak membuat pasien mengalami syok atau marah." Jelas dokter.


"Baiklah dok, terimakasih..."


Setelah kepergian dokter, ibu Bayu menghampiri Nara. "Apa yang kamu bicarakan dengan anakku?!"


"Maafkan aku bu, aku tadi berkata ingin mengakhiri hubunganku dengan Bayu. Aku lupa jika keadaannya..."


PLAK


Satu tamparan dilayangkan ibu Bayu. "Dasar wanita ular! Kamu mau membuat anakku mati?! Cepat pergi dari sini, sebelum saya memanggil satpam!" Gertak ibu Bayu.


"Maafkan aku bu... Aku benar-benar menyesal." Nara menangis terisak.


"Saya tidak akan memaafkanmu! Cepat pergi dari hadapanku! Dan ingat, jagan pernah muncul lagi di kehidupan anakku!"


"Sekali lagi, saya meminta maaf... Permisi." Sebelum pergi, ia menatap Bayu terlebih dahulu.


"Maafkan aku Bayu..." Batin Nara.


Nara keluar dari ruangan Bayu. Ia berjalan ke setiap lorong rumah sakit, dan ia terduduk di salah satu kursi di tepi lorong. Ia menangis sejadi-jadinya, mengeluarkan emosi yang mendalam di lubuk hatinya. Perasaan bersalah pun tak luput dari itu.


Malam hari pun tiba, Ansel menunggu Nara yang belum pulang. Ia marah, ia khawatir, dan ia pun masih menyimpan rasa cemburu. "****! Dimana Nara?! Apa dia masih bersama Bayu?" Ansel membayangkan Nara dan Bayu sedang bercanda ria, lalu seperkian detik ia menggelengkan kepalanya.


Ansel melihat kearah arloji ditangannya. "Ini udah jam sembilan malam... Aku harus menjemputnya bagaimana pun juga." Ansel keluar dari kamarnya dan menuruni tangga. Disaat ia membuka pintu, secara bersamaan Nara datang.


"Nara?"


Ansel melihat keadaan Nara dari ujung kepala hingga kaki. Ia pun melihat mata sembab istrinya dan rambut yang berantakan.


"Kamu kenapa?" Tanya Ansel memegang pundak Nara. Nara menatap Ansel sendu dan langsung memeluknya. Nara kembali menangis dipelukan Ansel. Ansel benar-benar bingung, tetapi ia tetap membalas pelukan Nara dan menenangkannya.


"Hiks... Aku salah Ansel... Hiks. Aku jahat Ans... Hiks." Tangis Nara.


Ansel terus mengelus punggung Nara hingga membuatnya tenang. "Ayo kita masuk dulu, setelah itu kamu ceritakan apa yang terjadi." Ucap Ansel lalu menuntun Nara sampai kedalam kamar. Ansel menyuruh Nara duduk dipinggir kasur dan ia pun mengambilkan minum.


"Di minum dulu." Ansel menyerahkan segelas air, lalu Nara menerima nya dan meminumnya sampai habis.


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Ansel duduk di sebelah Nara.


Nara diam saja.


"Huft... Sudahlah, sebaiknya kamu bersihkan badanmu dulu dan setelah itu tidur. Aku akan menunggu kamu menceritakan semuanya." Ansel menghela nafasnya.


"Aku akan keruang kerja..." Ansel bangkit dari duduknya.


Nara memegang tangan Ansel, dan Ansel menoleh kearah Nara. "Terimakasih." Nara tersenyum kecil lalu berjalan menuju kamar mandi.


"Ada apa denganmu Nara?" Batin Ansel bertanya-tanya. Ingin sekali Ansel memaksa Nara agar memberitahunya. Tetapi ia tidak tega ketika melihat kondisi Nara.


......................


Viana sedari tadi mundar-mandir dari sudut ruangan ke sudut ruangan yang lain. Ia sedang berfikir bagaimana caranya memberitahu bundanya mengenai kehamilannya.


"Aku harus bagaimana?" Viana memegang kepalanya yang pening.


"Tony! Ya, sebaiknya aku meminta saran pada Tony." Viana pun mengambil ponselnya dan menghubungi Tony.


"Halo Viana?" Ujar Tony di sebrang telpon.


"Ton... Aku harus gimana ngasih tau bunda masalah kehamilanku?" Tanya Viana to the point.


"Ya langsung bilang aja... Apa susahnya?"


"Bodoh! Disini bukan luar negeri yang seenaknya berbicara seperti itu!"


"Iya juga sih... Yasudah begini saja, kita majukan tanggal pernikahan kita bagaimana?"


"Emm... Baiklah. Tapi sama aja Tony... Setelah menikahkan perutku semakin membesar!"


"Kita pikirkan hal itu nanti. Yang terpenting kita secepatnya menikah."


"Oke, kita urus itu besok."


TUT


Viana menutup sambungan telponnya sepihak.


"Ck... Gak ada romantis-romantisnya apa?! Seharusnya dia bilang, sayang... Tidur yang nyenyak ya... Mimpiin aku. Lah ini malah langsung di matiin!" Gerutu Tony seraya menirukan gaya bicara Viana.


.


.


.


TBC