Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 51


#Happy Reading's🌻


#Typo bertebaran... Maklumi ya😉


.


.


.


Nara terdiam sejenak. Ia menatap kearah sekeliling nya. Ia melihat satu persatu benda-benda yang tergeletak di atas aspal. Banyak darah yang begitu pekat di atas aspal yang tak jauh dari motor dan helm. Seketika saja lutut Nara terkulai lemas mengingat itu adalah benda-benda yang mirip dengan yang di gunakan kekasihnya.


"Pak, dimana korban kecelakaan ini?" Ucap Nara dengan nada gemetar kepada salah seorang warga yang menyaksikan kecelakaan itu.


"Korbannya sudah di bawa ke rumah sakit terdekat mbak."


"Pak, kalo boleh tau ini kecelakaannya karna apa ya?" Tanya Nara kembali.


"Saya menyaksikannya sendiri, kalo tuan yang mengendarai motor ini menerobos lampu merah sampai-sampai dia tidak melihat kearah truk yang melaju dari arah sana." Tunjuk orang tersebut.


"Te~Terimakasih pak..." Nara pun kembali ke taxi. Ia meminta pada sopir taxi itu untuk pergi ke rumah sakit terdekat.


"Semoga saja itu bukan Bayu..." Lirih Nara. Ia terlihat cemas. Matanya sudah mengeluarkan air mata keresahan.


Sesampainya di rumah sakit, Nara langsung saja lari kedalam rumah sakit itu dan menemui resepsionis rumah sakit.


"Sus, di mana ruangan pasien kecelakaan tadi." Ucap Nara.


"Sebentar ya, saya cek dulu..."


"Pasien yang mengalamani kecelakaan tadi ada di ruang UGD nomor lima."


"Baik sus terimakasih." Setelah itu Nara langsung lari keruang yang di tujukan resepsionis tadi.


"Ini ruang UGD nya." Nara melihat kearah pintu dan melihat ke dalam ruangan.


Tak selang beberapa lama, seorang dokter pun keluar dari ruangan UGD. Nara yang melihatnya pun langsung menghampiri dokter itu.


"Dok, bagaimana keadaan pasien yang di dalam?" Tanya Nara tanpa fikir panjang jika itu adalah Bayu ataupun bukan.


"Anda keluarganya?" Tanya Dokter itu.


"Sa~saya kekasihnya dok." Ucap Nara.


"Oh kekasihnya... Pasien di dalam mengalami luka yang sangat serius di bagian kepala dan bagian tulang rusuk. Dan..." Dokter itu terdiam sejenak.


"Dan apa dok?" Ujar Nara tak sabaran.


"Dan pasien itu sedang koma saat ini. Kemungkinan besar, koma ini akan memakan waktu yang lama mengingat kondisinya yang begitu parah." Jelas dokter itu.


Nara terkejut mendengarnya. "Dok, apa saya boleh melihatnya?" Nada bicara Nara bergetar.


"Silahkan..." Dokter itupun pergi.


Nara masuk secara perlahan kedalam ruangan. Dan tak lupa juga ia memakai baju pasien. Suara denyutan jantung terdengar sangat jelas di telinga Nara. Bau obat-obatan pun tak luput dari penciuman Nara. Perlahan-lahan Nara membuka tirai yang menutupi pasien.


DEG


Jantung Nara berdetak sangat kencang melihat siapa yang terbaring koma di kasur pasien itu. Air matanya selalu mengalir di pelupuk matanya. Badannya begitu bergetar dan lemas. Andaikan ini hanya mimpi untuknya.


"Bayu... Hiks." Nara menghampiri Bayu yang penuh dengan selang yang menempel di tubuhnya.


"Apakah ini mimpi? Ya! Ini pasti mimpi! Bangun lah Nara! Bangun!" Nara menangis sesegukan memukul-mukul pipinya berulang kali agar ini bukan lah nyata melainkan mimpi.


"Bayu... Hiks. Bangun sayang... Bangun!!" Nara memegang tangan Bayu dan menangis menyulusupi wajahnya di tangan Bayu. Hatinya sangat sakit melihat laki-laki yang baru saja memasuki hatinya terbaring lemah.


Nara mengusapkan air matanya dan menatap Bayu seraya memegang tangan nya. "Bayu, bangunlah... Ini tidak lucu Bayu! Kamu pasti becanda kan? Oke, kalo kamu gak mau bangun aku akan marah sama kamu. Atau kita putus saja? Hem? Bangunlah Bayu!! Hiks..." Racau Nara. Ia memeluk Bayu


Beberapa kali Nara menciumi tangan dan dahi Bayu. Ia terus saja meracau agar Bayu nya bangun.


"Permisi..." Tiba-tiba saja seorang suster masuk menghampiri Nara yang tengah bersedih.


"Iya sus?" Tanya Nara mengusap air matanya.


"Anda keluarganya?" Tanya suster itu.


"Iya, saya kekasihnya sus."


"Tolong anda urusi biaya administrasi untuk saudara Bayu. Dan tolong juga hubungi keluarganya."


"Baik sus..." Nara menghampiri Bayu dan mengusap pipi nya lembut.


"Kamu tunggu disini dulu ya... Aku akan urus semua administrasi kamu dan memanggil keluarga mu. Kamu jangan takut ya, aku akan kembali lagi." Nara mencium sekilas dahi Bayu yang terbalut dengan kain kasa. Lalu ia pun pergi.


........


Ansel sedang berkutat dengan pekerjaannya. Ia saat ini berada di ruang kerja mansion nya.


Suara ponsel Ansel berdering, dan Ansel pun mengangkatnya.


"Ada apa?"


"Tuan, ada kabar jika Bayu masuk kerumah sakit karna kecelakaan." Ucap Roni di balik telpon.


Selama ini Ansel selalu memata-matai Bayu. Ansel yang sedang berada di ruang kerjanya pun memutar-mutar kursi nya dan tersenyum.


"Baguslah... Dengan begitu, hubungan mereka sedikit demi sedikit akan memudar." Senyum licik Ansel lalu menumpu dagunya.


"Benar-benar kejam." Batin Roni melihat kelakuan bos nya yang begitu ingin memiliki Nara.


"Yasudah... Tetap pantau mereka." Ucap Ansel kembali.


"Baik tuan." Roni pun mematikan sambungan telpon itu.


Nara saat ini sudah mengabari keluar Bayu dan juga sudah mengurusi administrasi pengobatan Bayu. Nara kembali kedalam ruangan tempat Bayu terbaring.


"Bayu... Aku mencintai mu. Jangan pernah kamu ingkar dengan janji mu untuk tidak meninggalkan aku. Aku akan membencimu jika itu terjadi." Lirih Nara memegang tangan Bayu dan mengusap nya lembut.


Malam pun semakin larut, Nara tertidur di samping lengan Bayu dengan posisi duduk. Ia lupa jika dirinya belum makan dan berganti pakaian. Seakan-akan ia melupakan dirinya sendiri karna terlalu khawatir dengan Bayu.


Pagi harinya.


"Bayu?" Seorang wnaita paruh baya menghampiri Bayu dan Nara pun terbangun dengan itu.


"Nak... Hiks. Apa yang terjadi dengan mu nak..." Tangis wanita paruh baya itu yang tak lain ibunda Bayu. Di susul pula dengan ayahnya dan adik laki-laki nya.


"Permisi, apa anda ibu nya Bayu?" Ucap Nara yang sudah berdiri menatap keluarga Bayu.


"Ya, saya ibu nya. Siapa kamu?" Ucap sinis ibunya Bayu.


"Jangan seperti itu." Ucap ayahnya Bayu mengusap lembut punggung istrinya.


"Biarin yah... Aku tau, pasti wanita ini yang menyebabkan Bayu seperti ini?!" Tegas ibunya Bayu.


"Sa~saya..." Gugup Nara meremas jari jemarinya.


"Bu, jangan menuduh seperti itu. Mungkin kakak ini yang menolong kak Bayu." Timpal Adit adiknya Bayu.


"Saya adalah pacarnya Bayu." Spontan Nara.


"Pacar? Oh kamu ternyata pacarnya anak saya yang membuatnya setiap pagi tidak pernah memakan sarapan masakan saya, dan dia juga seakan-akan lupa dengan keberadaan saya karna Bayu anak saya lebih mementingkan pacar nya di bandingkan ibunya sendiri." Geram ibunya Bayu.


Ya, setiap pagi Bayu pasti langsung berangkat tidak sarapan terlebih dahulu karna ia harus menjemput Nara. Walaupun hanya beberapa kali saja, tetapi ibunya selalu geramndengan tingkah Bayu yang tidak seperti biasanya. Pernah sewaktu-waktu ibunya ingin diantar oleh Bayu ke pasar tetapi Bayu malah menolaknya dan lebih memilih pergi ke rumah Nara. Itulah mengapa ibunya selalu kesal. Dan bahkan saat ini terlihat benci dengan Nara.


"Ma~maafkan saya bu." Nara merasa bersalah.


"Pergi kamu dari sini!" Usir ibu Bayu.


"Bu, jangan seperti ini. Dia udah membiayai rumah sakit Bayu. Kita mempunyai hutang budi padanya." Tutur ayahnya Bayu.


"Hutang budi kita sudah lunas dengan sikap Bayu selama berpacaran dengan perempuan ini. Gara-gara dia Bayu berubah!! Pergi kamu!" Usirnya kembali.


"Bu..." Lirih Adit.


"Emm... Saya permisi dulu." Nara pun langsung keluar dari ruangan itu. Hatinya begitu sakit mendengar setiap perkataan ibunya Bayu. Ia memegangi dadanya yang sesak dan menahan tangisnya.


"Kak..." Adit menghampiri Nara yang masih berdiri dekat pintu ruangan.


"Iya?" Nara menoleh.


"Maafkan ibu ya... Ibu tadi seperti itu hanya terlalu khawatir saja pada kak Bayu." Ucap Adit.


"Iya tidak apa-apa, kakak memakluminya kok." Senyum Nara.


"Kakak pulang dulu ya... Nanti kakak kesini lagi." Ucap Nara kembali.


"Emmm, alangkah baiknya kakak untuk beberapa hari ini tidak usah menjenguk kak Bayu dulu. Maksudku bukan seperti yang kakak bayang kan, tapi ibu..."


"Kakak mengerti. Yasudah kakak pergi dulu ya." Nara tersenyum kembali dan pergi dari rumah sakit menuju rumahnya.


.


.


.


TBC


**Karna kalian tidak ingin Bayu meninggal, jadi author kabulkan. Bayu untuk sementara ini di rehatkan dulu ya, karna author akan memfokuskan kisah cinta Nara, Ansel dan Viana.


Jangan pernah bosan ya untuk membaca setiap bab novel author ini😊 Author akan up nanti siang, di tunggu saja ya🤗**