Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 64


#Happy Reading's🌻


.


.


.


Hari pernikahan Nara dan Ansel pun telah tiba. Semua orang tengah sibuk mempersiapkan pernikahan Nara dan Ansel. Nara sedang menyiapkan dirinya, ia sudah memakai baju kebaya yang indah dan cocok di tubuhnya. Dan tak lupa tatanan wajah atau make up yang melekat di wajahnya begitu terlihat sangat cantik dan fresh.


Nara menatap dirinya dipantulan cermin. Sungguh, dada nya terus berdetak sangat kencang. Ia sangat gugup menantikan dimana ia menjadi istri dari Ansel yang selama ini sosok yang ia benci. Tetapi takdir menyatukan keduanya tanpa di kira-kira. Beberapa kali air bening itu mengalir di pelupuk matanya.


"Apa keputusan ku benar? Hiks... Aku merasa bersalah pada Bayu. Aku harus apa jika suatu saat nanti Bayu terbangun?" Lirih Nara mengusap air matanya.


"Kenapa harus dia tuhan? Kenapa laki-laki yang menghancurkan persahabatan ku dengan Viana menjadi pasangan hidupku? Takdir macam apa ini Tuhan?!" Lagi-lagi air matanya mengalir tanpa henti.


Tok... Tok...


Sebuah ketukan pintu mengalihkan Nara. Ia segera menghapus air matanya dan mempersilahkan masuk. Terlihat Ranty masuk kedalam ruangan, menghampirinya.


"Astaga... Kamu kenapa nangis sayang?" Tanya Ranty pada anaknya. Ia melihat anaknya itu menangis, sehingga make up di wajahnya sedikit luntur.


"Mah..." Nara memeluk Ranty. Ia menangis kembali di pelukannya.


"Kamu kenapa sayang? Apa kamu sangat gugup?" Ranty mengusap-usap punggung Nara berusaha menenangkannya.


Nara melepaskan pelukannya. "Aku tidak ingin menikah dengan Ansel mah." Nara menunduk menyembunyikan kesedihannya yang begitu dalam.


Ranty mendongakkan wajah Nara. "Kenapa tiba-tiba seperti ini? Kamu sudah terlambat sayang... Ini kan juga keputusan mu." Jelas Ranty mengusap air mata Nara.


"Nara hanya ingin ayah bahagia. Hiks... Nara tidak tau bagaimana kedepannya mah. Nara hanya seorang pengecut yang meninggalkan orang yang mencintai Nara dengan tulus menikah tanpa sepengetahuan nya. Nara mengkhianatinya mah... Hiks."


"Sayang... Dengarkan mamah. Apa kamu benar-benar mencintai Bayu? Atau kamu hanya merasa kasihan saja padanya?" Tanya Ranty.


"Aku..." Tiba-tiba saja lidahnya kelu. Ia juga semakin bimbang dengan hatinya. Ia mengira dirinya sudah mencintai Bayu. Tetapi makin kesini, ia merasakan kebimbangan.


"Lupakan Bayu, dan terimalah Ansel di hatimu. Jika suatu saat Bayu akan sadar dari komanya, kamu hanya perlu menjelaskannya. Soal masalah cinta dengan Ansel? Itu urusan belakang. Kamu tau sayang, mamah dan ayahmu dulu menikah karna perjodohan. Kami menikah tanpa di dasari cinta. Tetapi dengan seiringnya waktu, kami mulai saling menerima satu sama lain. Cinta itu hadir tanpa di duga-duga. Mamah yakin, kamu akan seperti itu. Jadi... Terimalah takdir mu ini sayang." Tutur Ranty yang tak luput dari air matanya.


Nara kembali memeluk mamahnya. Benar apa yang dikatakan mamahnya, ia harus menerima takdir nya.


"Sudah ya... Kamu harus benarkan make up mu ini. Sebentar lagi pernikahan mu dengan Ansel akan dimulai."


"Iya mah..."


Nara kembali di make up kan. Sedangkan Ansel, ia sudah datang dengan tampilan yang sangat mempesona. Dengan tuxedo yang melekat di tubuh atletisnya. Wajahnya terlihat berseri-seri memberitahukan jika dirinya sangat bahagia dengan pernikahannya. Ia juga sebenarnya sangat gugup, tetapi rasa bahagianya mengalahkan rasa gugup nya. Ia sangat menantikan hari ini.


"Ayo, pak penghulu sudah datang." Ucap Riani.


Ansel sudah duduk dihadapan pak penghulu. Kini Nara pun tengah dituntun oleh mamahnya Ranty dan adiknya Mario. Semua orang yang sebenarnya hanya beberapa orang terdekat saja itu mengalihkan pandangan nya pada pengantin wanita. Semua orang berdecak kagum melihat betapa cantiknya Nara saat ini.


"Sempurna..." Batin Ansel terpesona dengan Nara.


"Apakah kalian sudah siap?" Ucap pak penghulu. Ansel terus saja menatap Nara dan tak menyadari jika Nara sudah berada di sampingnya. Ansel tersentak ketika pak penghulu kembali memanggilnya.


"Ah ya! saya siap pak..." Spontan Ansel. Semua orang terkekeh geli melihat kelakuan Ansel. Nara menundukan kepalanya merasa malu.


Acara ijab kobul pun berlangsung. Ansel dengan satu kali mengucapkan ijab kobul itu begitu lantang dan lancar tanpa halangan apapun. Kini keduanya sudah resmi menjadi pasangan suami istri. Nara menyalami tangan Ansel, dan Ansel mengecup dahi Nara yang kini sudah resmi menjadi istrinya.


Beberapa resepsi pernikahan sesuai adat yang mereka tekuni sudah berlangsung. Kini keduanya duduk di pelaminan. Para tamu yang hadir tak seberapa banyak mulai menikmati hidangan yang tersedia.


Guratan lelah terlihat di wajah keduanya. Ansel yang melihat Nara terus cemberut, ia mengambil botol minum dan memberikan nya pada Nara. Ia mengira jika Nara kecapean. Nyatanya, Nara memikirkan kata-kata yang diucapkan mamahnya Ranty sebelumnya.


"Apa benar aku akan jatuh cinta pada Ansel?" Batin Nara.


"Ini minumlah... Pasti kamu capek." Ansel menyerahkan sebotol minuman.


"Terimakasih." Nara mengambilnya lalu meminumnya.


"Tersenyumlah jangan cemberut seperti itu. Kamu lebih terlihat sangat terpaksa menikah dengan ku." Ujar Ansel.


"Memang kenyataannya kan begitu!" Gerutu Nara dalam hati. Lalu ia menampilkan senyumnya dengan terpaksa membuat Ansel terkekeh geli.


"Nah kan kalo seperti itu kamu terlihat menikah denganku dengan dasar cinta. Tetap tersenyum seperti itu, oke... Awas saja, jika kembali cemberut akan aku cium kamu disini!" Pinta Ansel sekaligus mengancamnya.


"Ck... Iya-iya!" Decak Nara.


.....


Mobil sport hitam terparkir di sebuah gedung apartemen.


"Apa benar Viana tinggal di gedung apartemen ini? Bukankah ini apartemen wanita yang aku tiduri malam itu?" Lirih Tony penuh tanda tanya.


"Tetapi benar ini adalah alamat yang di tujukan Viana." Tony memeriksa pesannya dengan Viana. Viana sebelumnya memberikan alamat tempat tinggalnya.


Tak beberapa menit dari itu, Viana menghampiri mobil Tony yang sudah terparkir di depan gedung apartemen nya. Tampilannya saat ini sangat cantik, dengan gaun diatas lutut berwarna gold.


"Viana, kamu tinggal di apartemen nomor berapa?" Tanya Tony.


"Aku..."


"Astaga aku lupa, pasti Tony mengingat gedung apartemen ini. Kenapa kamu bodoh sekali Viana!" Gerutu Viana dalam hati.


"Apartemen ku nomor 125... Ya! 125..."


"Syukurlah..."


"Syukurlah? Syukurlah kenapa memang?" Ucap Viana berusaha bersikap tenang.


"Ti... Tidak ada. Ayo kita jalan saja ini sudah siang." Tony pun menyalakan mesin mbil dan melajukannya menuju tempat pernikahan Ansel dan Nara.


"Ternyata bukan Viana... Apartemen kejadian malam itu nomor 116. Lumayan jauh dari apartemen Viana." Batin Tony.


Mobilnya terus melaju hingga menjelang sore hari, mereka baru sampai.


"Kenapa tempatnya sangat jauh sekali." Keluh Viana. Jaraknya lumayan jauh, mereka sampai disitu butuh waktu 4 jam.


"Aku juga tidak tau. Kenapa sepupuku ingin mengadakan pernikahan nya jauh seperti ini. Sudahlah, ayo kita kedalam." Ucap Tony.


Viana menghembuskan nafasnya dengan kasar sebelum ia memasuki gedung.


"Kita bertemu disini Nara... Aku ingin tau ekspresimu seperti apa mengetahui aku datang di hari pernikahan mu. Apa Ansel juga tau pernikahan mu ini?" Batin Viana.


"Sudah aku bilang, tersenyum..." Ansel memaksa bibir Nara agar tersenyum.


"Apa benar mau aku cium?" Ansel mendekati wajahnya.


"Hei! Aku sudah berjam-jam terus tersenyum. Rahangku pegal! Apa kamu mau mulutku seperti ini?!"


Nara memperagakan mulutnya tersenyum lebar dengan deretan gigi-giginya. Sungguh wajah Nara begitu konyol dan lucu. Ansel tertawa melihat itu, Nara pun ikut tertawa. Tetapi tawanya tak berlangsung lama, ketika ia melihat sosok sahabatnya ah tidak! Mantan sahabatnya tengah memperhatikannya. Mereka saling menatap dengan tatapan terkejut.


"Ada apa?" Tanya Ansel melihat keterkejutan di wajah Nara.


"Viana..." Ucap Nara pelan tetapi mampu terdengar oleh Ansel. Ansel pun mengalihkan pandangannya. Ia juga sangat terkejut dengan sosok Viana.


Ke empat nya saling menatap tanpa bertegur sapa. Entah, takdir apa ini sehingga mempertemukan mereka. Viana meremas tas nya erat. Hatinya pedih, ia semakin membenci Nara. Ia baru mengetahui jika sepupu yang dimaksud Tony itu adalah Ansel. Matanya memerah dan berkaca-kaca.


Viana membalikan tubuhnya dan berlari keluar gedung.


"Viana!" Nara turun dari pelaminan. Ia mengejar Viana.


Ansel pun begitu, ia ingin mengejar Nara dan Viana tetapi Tony mencegahnya dan membawanya kebelakang.


Viana berhenti berlari. Ia berjongkok di depan mobil Tony lalu menyembunyikan kepalanya di atas lututnya. Ia menangis tersedu-sedu menumpahkan rasa sakit di hatinya. Nara melihat itu, ia pun menghampiri Viana.


"Viana... Maafkan aku. Hiks... Maafkan aku Viana... Aku tidak tau jika takdir menyatukan ku dengan Ansel. Maafkan aku Viana... Hiks." Nara pun ikut berjongkok berusaha memeluk Viana. Tetapi Viana langsung mendorongnya dengan keras.


"Kejutan apa lagi ini Nara?! Lo udah berkali-kali khianatin gue Nara! Lo belum puas sakitin gue? APA LO BELUM PUAS HAH?!" Teriak Viana histeris sehingga semua orang melihat mereka.


"Viana... Sumpah demi apapun, aku tidak pernah berusaha menyakitimu Viana... Aku berusaha menjaga hatimu agar tidak sakit. Percayalah Viana..." Nara tidak mengucapkan kata Lo-Gue. Ia berusaha bersikap lembut. Dirinya merasa bersalah, sangat bersalah.


"Gue harus percaya seperti apa? Apa gue harus percaya sama lo, kalo lo udah ngambil laki-laki yang gue cintai?!"


Kedua orang tua Nara dan Ansel mendengar kegaduhan dari luar mereka pun menghampiri sumber kegaduhan itu.


"Yah, mah, bukankah itu kak Viana dan kak Nana? Sepertinya mereka lagi ribut." Ucap Mario.


"Benarkah? Ayo kita lihat."


Nara terisak mendengar kalimat yang dilontarkan Viana. "Gue gak pernah sekalipun ngambil Ansel dari lo Vi... Percaya sama gue ya Vi." Nara berusaha ingin memeluk Viana.


Viana memundurkan langkahnya. "Gak pernah? Lalu ini apa? Lalu malam prom night waktu itu juga apa NARA?! Hati gue sakit Ra... Hiks."


"Ada apa ini?" Tanya Riani di ikuti Abraham di sampingnya.


"Nak Viana... Ada apa dengan kalian?" Timpal Dani di ikuti pula Ranty dan Mario.


"Untung lah kalian disini... Kalian tau, jika perempuan berada dihadapanku ini seorang pelakor?!" Viana menunjuk-nunjuk wajah Nara.


"Apa?!" Semua tampak terkejut mendengar hal itu.


.


.


.


TBC