
#Happy Reading's🌻
.
.
.
BRAK
"Bagaimana bisa data keuangan perusahaan di hacker?!" Bayu menggebrak mejanya. Ia sangat terkejut melihat beberapa data keuangan perusahaan terkena hacker. Banyak sekali kerugian yang di dapatinya.
"Bagaimana ini?! Aku tidak bisa memulihkannya. Hacker ini sangat rumit." Bayu mengacak-ngacak rambutnya frustasi.
Bayu mencoba lagi beberapa kali untuk memulihkan data itu, tetapi tetap saja ia gagal karna hackeran itu sangat rumit tidak bisa mengembalikan data keuangan perusahaan. Ketika Bayu sedang berusaha memulihkan data, tiba-tiba saja ada seorang sekretaris bos nya menghampirinya.
"Pak Bayu, anda di panggil untuk keruangan pak Tio." Ucap sekretaris bos nya itu.
"Baiklah, saya akan kesana sebentar lagi." Ujar Bayu. Dan sekretaris itu pun pergi.
"Sial! Pasti pak bos sudah tau masalah ini! Bisa-bisa aku di pecat dari perusahaan ini." Bayu mengusapkan wajahnya dengan kasar.
Bayu bangkit dari duduknya dan pergi menuju ruangan bos nya lebih tepatnya CEO perusahaan itu. Bayu menghela nafasnya terlebih dahulu sebelum masuk keruangan kerja, lalu mengetuk pintu. Dari dalam pak Tio menyuruhnya masuk, dan Bayu pun masuk atas perintah pak Tio.
"Bapak memanggil saya?" Ujar Bayu.
"Duduklah..." Pinta pak Tio. Bayu pun menuruti nya dan duduk di hadapan pak Tio.
Pak Tio membuka kacamatanya, dan menatap Bayu tajam. "Kau tau apa kesalahan mu?!" Tegas pak Tio.
"Maafkan saya pak, saya belum bisa memperbaikinya kembali." Ucap Bayu.
"Apa kamu tau berapa kerugian perusahaan ini akibat keteledoran mu?! Hampir setengah modal perusahaan ini Bayu! Perusahaan kita bisa saja bangkrut karna ini!" Tegas pak Tio.
"Maafkan saya pak... Saya akan berusaha memulihkannya kembali." Ujar Bayu menatap bos nya.
"Tidak perlu! Hari ini saya pecat kamu!"
Mendengar hal itu, sepontan saja Bayu terkejut. "Pak, tolong percayakan saya sekali lagi... Saya yakin, saya bisa memulihkannya. Saya mohon, beri saya satu kesempatan lagi." Bayu memohon pada pak Tio. Ia tidak ingin di pecat dari perusahaan ini. Ia perlu membiayai kebutuhan keluarganya. Apalagi ia harus membayar sekolah adiknya yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
"Maaf, saya tidak bisa memberikanmu kesempatan kedua. Kesalahan mu ini sudah sangat fatal." Ujar pak Tio.
"Huft... Baiklah, saya akan pergi dari perusahaan ini sekarang juga. Terimakasih atas semuanya pak." Bayu pun pergi dari ruangan pak Tio dengan muka yang murung.
Melihat kepergiaan Bayu, pak Tio langsung menelpon seseorang.
"Halo tuan, semua sudah saya laksanakan." Ucap pak Tio kepada seseorang di balik telpon.
"Kerja bagus! Saya akan kembali berinvestasi di perusahaan mu."
"Terimakasih tuan..." Sambung telpon itu pun terputus.
"Maafkan saya Bayu... Saya terpaksa melakukan ini. Saya hanya takut perusahaan ini akan di bangkrutkan." Pak Tio menghela nafasnya kasar.
Bayu sudah memberesi barang-barang nya, lalu ia pun pergi. Ia tak pergi ke rumahnya, melainkan ke rumah Nara. Ia menelpon Nara jika dirinya akan ke rumahnya. Bayu menunggu Nara hingga petang hari, menunggu Nara pulang.
Petang hari
Nara sudah pulang, ia memarkirkan motornya di teras depan rumahnya. Ia melihat Bayu di kursi teras sedang meemjamkan matanya. Nara melihat kondisi Bayu begitu memprihatinkan. Bajunya sangat berantakan, rambutnya pun begitu awut-awutan tak karuan. Dengan beberapa kardus yang berserakan.
"Bayu? Kenapa kondisinya begitu memprihatinkan? Ada apa dengannya?" Lirih Nara melihat Bayu. Ia pun menghampiri Bayu dan menepuk-nepuk pipinya agar ia bangun.
Bayu terbangun. "Nara? Ah maafkan aku..." Ucap Bayu membenarkan posisi duduknya.
"Kamu kenapa Bay?" Tanya Nara. Ia pun juga duduk di sebelah Bayu.
"Aku di pecat Ra..." Lirih Bayu.
"Di pecat? Memangnya apa kesalahan mu sampai di pecat seperti ini?" Tanya Nara. Ia melihat kesekilingnya, ada beberapa kardus disana.
"Data keuangan perusahaan ku terkena hacker. Hampir sebagian modal perusahaan hilang." Jelas Bayu. Nara terkejut mendengar itu.
"Bagaimana bisa?!" Nara menutup mulutnya menggunakan tangannya.
"Aku juga tidak tau. Ini sangatlah tiba-tiba..." Bayu memijat pelipisnya yang terasa pening.
Nara mengusap-usap punggung Bayu, merusak menenangkannya. Ia merasa kasihan pada Bayu yang begitu terlihat terpuruk.
"Aku akan mencarikan mu pekerjaan lain." Ucap Nara.
"Tidak usah Ra... Itu akan merepotkan mu. Kamu kan lagi sibuk dengan pekerjaan mu akhir-akhir ini. Jadi kamu tidak usah mencarikan ku pekerjaan." Ujar Bayu. Ia tetap menampilkan senyuman nya di hadapan Nara.
"Aku tidak merasa di repotkan. Kamu tidak usah fikirkan mengenai pekerjaan aku. Kita akan mencari nya bersama-sama bagaimana?" Ucap Nara meyakinkan.
Bayu terharu mendengar ucapan Nara. Ia pun memeluknya. "Terimakasih... Terimakasih karna kamu ingin membantuku." Lirih Bayu dalam pelukan Nara.
"Kita sepasang kekasih, sudah sewajarnya kita saling membantu dan mensupport satu sama lain." Nara membalas pelukan Bayu.
"Bagaimana kalo malam ini kita dinner? Aku yang membayar semuanya." Ucap Nara kembali.
"Tapi itu..."
"Hanya malam ini saja... Setelah kamu mendapatkan pekerjaan baru, kamu harus mentraktirku!"
"Hahaha... Baiklah."
Malam Harinya
Di sebuah club kota, terdapat dua orang pria tampan yangs sedang menikmati minuman. Mereka tak lain adalah Ansel dan Tony. Keduanya tengah asyik berbincang yang di selangi minuman. Ansel tidak memesan minuman beralkohol, melainkan jus. Hanya Tony saja yang meminum itu.
"Bagaimana rencana mu?" Tanya Tony seraya menyesapkan minumannya.
"Berjalan dengan sempurna." Ansel tersenyum smrik.
"Aku sudah menghancurkan nya. Dia tidak akan diterima di perusahaan manapun. Itulah akibatnya karna telah mengambil milikku." Lanjut Ansel. Ia mengambil nikotin nya di dalam saku celana nya.
"Tidak ada yang bisa melawan ku."Bangga Ansel pada dirinya sendiri.
"Gue benar-benar pengen ketemu cewek yang lo bucinin ini." Ucap Tony.
"Nanti gue kenalin... Tenang aja, sebentar lagi dia akan menjadi milikku seutuhnya." Yakin Ansel. Ia pun bangkit dari duduknya hendak pergi dari club itu.
"Lo mau kemana? Ini kan masih jam delapan malam!" Teriak Tony melihat Ansel keluar dari club.
"Gue mau pulang!!" Jawab Ansel berteriak.
"Ah lo mah gak asik!" Gerutu Tony. Tapi tak di hiraukan oleh Ansel yang terus melangkah keluar dari club.
Ketika Ansel hendak menaiki mobil, ia melihat dua sejoli yang tak asing di matanya.
"Nara?" Lirih Ansel melihat Nara dan Bayu tengah masuk ke dalam restoran. Restoran itu berada tepat di sebelah club yang Ansel tempati. Perlahan namun pasti, Ansel mengikuti mereka berdua dari belakang.
Setelah Nara dan Bayu duduk, Ansel pun juga ikut duduk yang tak jauh dari keduanya duduk. Ia menutupi wajahnya menggunakan buku menu seraya memperhatikan kedua sejoli itu.
"Kamu mau pesan apa?" Tanya Nara pada Bayu.
"Samakan saja." Jawab Bayu tersenyum.
"Baiklah. Permisi..." Nara memanggil pelayan restoran.
"Saya pesan chiken stik saus enoki dua. Untuk minumannya dua jus blackberry." Pinta Nara pada pelayan itu.
"Baik," Pelayan itu pun pergi kedapur.
Nara dan Bayu tengah mengobrol di selingi candaan keduanya. Ansel terlihat kepanasan melihat mereka berdua yang terlihat begitu romantis. Ia mengepalkan tangan nya dan menggeram kesal.
"Aku harus melakukan sesuatu." Pikir Ansel.
"Tuan, ada yang ingin anda pesan?" Ucap pelayan itu mneghampiri Ansel.
"Ah ya, aku pesan green tea satu." Pesan Ansel. Pelayang itu pun mencatatnya laku pergi.
"Tunggu..." Panggil Ansel menghentikan pelayan itu.
"Iya tuan, ada yang ingin saya bantu?" Ujar pelayan itu dengan sopan.
"Aku hanya ingin melihat proses pembuatan minuman ku untuk makalah observasi pekerjaan ku. Apakah boleh? Saya akan membayar berapa pun jika itu dikenakan biaya." Ansel mencari alasan untuk melancarkan misinya.
"Emm... Sebentar saya akan minta ijin kepada manajer kami dulu." Ujar pelayan itu.
"Tidak usah! Ah maksud ku, itu tidak usah... Lagiankan hanya sebentar saja. Bolehkan nona cantik." Rayu Ansel dengan mengedipkan sebelah matanya. Pelayan itu sempat terpesona dengan ketampanan Ansel.
"Ba... Baiklah... Ayo ikut saya." Ucap pelayan itu sambil menyelipkan anak rambutnya. Ansel pun langsung saja ikut kedapur bersama pelayan tadi.
Setibanya di dapur, ia melihat pelayan yang tadi melayani Nara dan Bayu. Ia pun mencegahnya.
"Tunggu..." Cegah Ansel.
"Iya tuan?" Tanya bingungnya.
"Apa itu pesanan untuk meja nomor 13?" Tanya Ansel. Meja nomor 13 adalah meja yang di tempati Nara dan Bayu.
"Bukan, ini untuk meja 4. Untuk meja nomor 13, ada disana. Belum saya antar." Jelas pelayan tersebut.
"Baiklah, terimakasih..."
Ansel berjalan menuju makanan pesanan Nara dan Bayu. Ia berpura-pura mengelilingi dapur itu agar tak di curigai. Disaat semuanya terlihat sangat sibuk, Ansel mencari kesempatan itu untuk menuangkan sesuatu kedalam makanan pesanan Nara dan Bayu.
"Selesai..." Ucap Ansel setelah menuangkan sesuatu kedalam makanan itu. Lalu ia pun menghampiri pelayan yang sedang membuatkan minumannya.
"Sini, biar aku saja yang membawanya." Pinta Ansel keoada pelayan itu yang hendak membawakan pesanannya.
"Terimakasih tuan..." Senyum malu pelayan itu.
"Iya sama-sama..." Ansel pun dengan senyuman licik yang terukir dibibirnya pergi ke mejanya dan ia duduk disana menyaksikan apa yang akan terjadi.
"Hoam... Kenapa tiba-tiba saja mataku terasa berat ya. Dan aku merasa sangat ngantuk..." Lirih Bayu di tengah makan nya.
Nara yang melihat keanehan dengan Bayu, ia pun memanggilnya. "Bay... Kamu kenapa?" Tanya Nara menghentikan kegiatan makannya.
"Mataku tiba-tiba saja terasa berat Ra..." Ucap Bayu memegangi matanya dan menumpu kepalanya.
"Berat? Kenapa bisa seperti ini?!" Bingung Nara.
"Aku tidak tau. Sebaiknya kita pulang saja Ra... Aku tak kuat, ingin memejamkan mataku." Lirih Bayu melemah.
"Oke, kita akan pulang." Dengan berat hati, Nara langsung membayar makanannya yang masih tersisa dan ia pun keluar. Ada rasa kecewa di hati Nara. Ia sudah berencana untuk menghabiskan malamnya dengan Bayu. Tetapi rencananya hanya angan-angannya saja.
Ansel yang tengah memperhatikan keduanya dari kejauhan, tersenyum kemenangan.
"Untung saja aku tadi sempat membeli obat tidur." Ucap Ansel. Ia pun berdiri dari duduknya dan pergi melenggang keluar restoran.
Sebelum Ansel pergi ke club, ia terlebih dahulu membeli obat tidur di sebuah apotek. Akhir-akhir ini ia tidak bisa tidur, alias insomnia. Maka dari itu Ansel membelinya. Ansel tadi menambahkan obat tidur itu di makanan Bayu. Ia sengaja menambahkan dosis tinggi di makanan nya agar efek obat tidur itu cepat.
.
.
.
TBC
Author akan up episode selanjutnya nanti malam ya😉 Mohon maaf Author hanya bisa up sedikit hari ini karna ada keterbatasan waktu. Kegiatan Author sangat padat hari ini, mohon dimaklumi🙏 Terimakasih untuk kalian yang sudah mendukung Author sampai tahap ini🤗
Semoga kita semua dapat dilindungi oleh Allah swt. agar tetap sehat dan terhidar dari penyakit...
Aamiin...