Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 15


#Happy Reading's🌻


.


.


.


Ketika Nara sedang membuatkan pesanan Ansel, tiba-tiba saja ada dagu seseorang yang menempel pada pundak Nara.


"Ehh..." Nara terkejut melihat siapa yang menempel dagu nya di pundaknya.


"Eh, apa-apaan sih lo!!" Nara menyingkirkan dagu itu dari pundaknya dengan menggeserkan badannya. Dan ternyata itu adalah Ansel.


"Selain cantik, lo juga bisa buat kopi? Wah... Istri idaman lo." Ucap Ansel. Ia kembali menaruh dagunya dipundak Nara.


"Ih... Apaan sih, pake nempel-nempel segala kayak tokek!" Kesal Nara menyingkirkan kepala Ansel.


"Ngapain lo disini?!" Ketus Nara, yang tak menghiraukan ucapan Ansel.


"Ya suka-suka gue dong..." Ansel mengangkat kedua bahu nya seraya menatap Nara.


"Heh! Ini tempat, bukan punya nenek moyang lo ya... Yang bisa seenaknya masuk aja! Mending lo pergi deh dari sini, ganggu gue tau gak lo?!" Geram Nara.


Dan semua orang yang berada di dapur memperhatikan Nara dan Ansel. Tetapi mereka semua tak bisa berbuat apa-apa, karna itu bukan urusan mereka fikir mereka pada saat ini.


"Nih pesenan lo!" Nara menyerahkan coffee pesanan Ansel yang sudah di buatnya.


"Ya bawain dong... Masa pelanggan yang bawa Sendiri!" Elak Ansel dan melipatkan kedua tangannya di dadanya.


"Yaelah... Lebay banget sih lo! Cuman bawa pesanan sendiri aja, ribet banget."


Nara dengan kesalnya langsung beranjak pergi membawakan pesanan Ansel ke meja nya. Baru saja Nara melangkah, Ansel mencekal pundak Nara.


"Apalagi sih..." Nara membalikan badannya dengan malas.


Ansel mengambil coffee nya itu, dan menaruhnya kembali ke meja dapur. Dan setelah itu Ansel menarik lengan Nara dan membawanya ke belakang restoran. Nara mencoba melepaskan cekalan Ansel, yang membawanya paksa.


"Eh-eh... Apa-apaan sih lo! Lo mau bawa gue kemana?!" Ronta Nara berusaha melepaskan diri.


"Udah, diem aja... Lo harus ikut gue." Ansel terus membawa Nara. Dan setelah sampai di belakang restoran, Ansel memojokan Nara di tembok.


"A... Apa? Lo... Ma... Mau apa sih?! Jangan macam-macam ya!" Nara mencoba untuk melarikan diri, tetapi Ansel lagi-lagi mencekalnya dan memojokannya kembali. Kedua tangan Ansel menumpu tubuhnya dan mengunci Nara agar ia tak kabur.


"Lo ingat perkataan gue di perpustakaan?"


Tanya Ansel sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Nara. Nara memundurkan kepalanya dengan spontan. Nara mencoba untuk menetralkan dirinya, yang kini sangat takut terhadap Ansel.


"Ma... Maksud lo?" Nara memalingkan wajahnya karna wajah Ansel semakin mendekat.


"Lo harus tanggung jawab, karna lo udah nabrak gue di perpustakaan tadi." Bisik Ansel tepat di telinga Nara, Nara merasa sangat geli dengan bisikan itu.


"Ta... Tanggung jawab? Tanggung jawab gimana maksud lo?! Gue gak ngerti maksud lo!" Ucap Nara tanpa menatap Ansel.


"Lo..." Ansel menarik dagu Nara agar melihat ke wajahnya. Dan Nara pun menatapnya.


"Lo harus jadi pacar gue!" Ansel menatap lekat Nara. Mendengar hal itu, Nara membulatkan matanya dan langsung mendorong Ansel dengan keras.


"LO!! Lepasin gak!" Galak Nara sambil meronta-ronta ingin di lepaskan.


"Kalo gue gak mau gimana?" Ansel semakin memperatkan pelukannya di pinggang Nara.


"Kalo lo gak mau lepasin gue, gue akan teriak!" Ancam Nara.


"Teriak aja gak apa-apa... Kalo lo teriak, semua orang bakal datang kesini. Semuanya akan mengira kalo kita sedang melakukan hal mesum... Dan setelah itu, gak tau deh akan bagaimana jadinya." Jelas Ansel dengan licik.


"Lo!!" Nara tak bisa berkata apa-apa lagi. Melihat itu, Ansel tersenyum kemenangan.


"Bagaimana? Lo mau jadi pacar gue?" Tanya Ansel lagi. Ia terus mendesak Nara agar menjadi pacarnya.


"GAK MAU! awas lepasin gue!!"Jawab Nara kembali meronta.


"Gak bakal gue lepasin, sebelum lo mau jadi pacar gue!" Desak Ansel.


"Kalo gue terima lo, bagaimana dengan Viana? Hemm?" Tanya Nara dengan penuh penekanan. Ia tahu bahwa Viana menaruh hati pada laki-laki yang di hadapannya ini.


"Itu gampang, gue akan jadikan kalian berdua pacar gue. Gampangkan?" Jawab Ansel dengan lantangnya tanpa memperdulikan akibatnya.


PLAK... DUG...


Nara dengan kesalnya menampar Ansel, dan menendangnya sehingga Ansel terjatuh kebelakang. Tendangan dan tamparan Nara begitu keras, sampai-sampai Ansel meringis dibuatnya.


"DASAR BAJI***N! Gue gak akan biarin lo melukai hati Viana dengan menjadikan kami berdua pacar lo! Itu gak akan terjadi! Dan gue juga gak sudi jadi pacar lo! Cih..." Nara sangat marah, dadanya bergemuruh menandakan kesalnya begitu sangat-sangat kesal dan marah mendengar ucapan yang dilontarkan Ansel.


"HAHAHAHA... Nara-Nara... Ini yang membuat gue semakin tertarik sama lo. Lo itu beda sama perempuan yang lain." Ansel bangun dari jatuhnya, dan menghampiri Nara yang tengah mengontrol emosinya.


"Dan ini juga yang membuat gue muak sama lo! Lo itu bajing*n gila!" Nara pun meninggalkan Ansel dan masuk kembali ke dalam restoran.


"Heh, benar-benar menarik." Ansel menyeka darah yang ada di sisi bibirnya, akibat tamparan keras Nara.


"Gue akan kasih lo pelajaran yang begitu menyakitkan Nara... Dan gue akan tundukan lo di depan gue, sehingga lo gak bisa berbuat apa-apa." Licik Ansel, dan setelah itu ia juga kembali kedalam restoran.


Nara kini sedang berada di dalam toilet. Ia membasuh wajahnya di westafel. Ia menatap wajahnya di cermin, ia mengingat perkataan Ansel di belakang restoran tadi. Amarahnya muncul kembali.


"Dasar baji***n gila!! gue gak akan biarin lo mempermainkan kita berdua. Apalagi, sampai lo ngehancurin persahabatan gue sama Viana. Gak... Gue gak akan biarkan itu terjadi. Sampai kapan pun, lo gak akan dapetin gue!" Nara berbicara di depan cermin dengan emosi yang memuncak.


Setelah itu, ia kembali ke pekerjaan nya. Disaat Nara keluar untuk memberikan pesanan pelanggan, ia melihat kearah Ansel dan Viana yang sedang berbincang di meja kasir. Dan setelah itu Ansel pergi begitu saja. Nara yang melihatnya pun masih begitu kesal terhadap Ansel.


Ansel yang tak sengaja melihat Nara mengedipkan sebelah matanya, untuk menggoda Nara. Nara semakin kesal dibuatnya, dan membalas kedipan Ansel dengan menatapnya tajam dan membunuh. Ansel yang melihatnya malah terkekeh geli.


"*Lucu sekali kamu Nara... Kita lihat saja permainan yang aku buat." Batin Ansel melihat tatapan tajam Nara. Setelah itu pun ia pergi membawa mobilnya kembali ke mansion.


"Andaikan lo itu ayam... Udah gue cincang kali!" Nara mengerutuki Ansel*.


.


.


.


TBC