
#Happy Reading's🌻
.
.
.
"Tony, apakah kamu sudah tau jika Ansel dan Nara sebentar lagi akan menikah?" Tanya Abraham setelah mereka menyelesaikan makan siang bersama. Para maid pun sudah membersihkan bekas makan mereka.
"Sudah kok..." Tony tersenyum kecut.
"Syukurlah... Jangan lupa kamu harus datang di pernikahan mereka berdua." Timpal Abraham kembali.
"Siap dad Abraham..."
"Yasudah, dad kembali ke kantor dulu. Sebentar lagi jam makan siang berakhir."
Abraham pun kembali berangkat ke kantor. Riani pun begitu, ia pergi ke pusat perbelanjaan. Kini tinggal Ansel, Nara dan Tony saja. Ansel melihat raut wajah Tony sangat masam, ia sangat curiga mengenai hubungannya dengan Nara. Ansel mempersilahkan keduanya duduk di ruang tamu.
"Apa kalian sebelumnya memiliki hubungan?" Tanya Ansel.
"Tidak."
"Ya."
Nara dan Tony menjawab pertanyaan Ansel serentak. Tetapi jawaban keduanya berbeda, Nara menjawab dengan kata Tidak sedangkan Tony menjawab dengan kata Ya. Ansel semakin curiga dengan itu.
"Mana jawaban kalian yang benar?" Tanya Ansel kembali.
"Aku."
"Gue."
Serentak Tony dan Nara, lalu mereka saling memandang.
"Ada apa dengan Kalian? Jawablah dengan jujur, jangan membuatku mati penasaran seperti ini!"
"Nara mantan gue." Sergah Tony cepat.
"What?! Sejak kapan?"
"Sejak kami sekolah menengah pertama." Ucap Tony.
"Kenapa lo gak pernah cerita ini sama gue?"
"Gue kan baru tau kalo cewek yang lo kejar-kejar Nara."
"Tapi waktu pertama kali kalian bertemu, kenapa gak kasih tau gue kalo kalian saling mengenal bahkan kalian adalah mantan?!" Tegas Ansel.
"Gue..." Belum sempat Tony berbicara Nara menyelanya.
"Berisik tau gak kalian! Jangan mengungkit-ungkit masa lalu!" Nara bangkit dari duduknya dan mengambil tasnya yang tergeletak diatas meja ruang tamu.
"Sebenci itu kah kamu Nara?" Batin Tony.
"Eh Ra, kamu mau kemana?" Tanya Ansel bangkit juga dari duduknya, di ikuti oleh Tony.
"Nyemir sepatu! Mau ikut kalian?!" Ucap Nara kesal, dan malah dibalas anggukan oleh Ansel dan Tony.
Nara menepuk keningnya. "Gue mau pulang! Kalian jangan ikut..." Nara pun melenggang pergi dari mansion Ansel menggunakan motornya.
Ansel dan Tony kembali duduk.
"Lo gak mungkin masih berharap kan sama Nara?!" Ujar Ansel menatap Tony di sampingnya.
"Awalnya gue masih berharap." Jawab Tony santai.
"Heh... Awas aja lo sampe rebut calon bini gue! Nara udah milik gue! Lagian juga kalian udah lama putus."
"Ya gue tau. Tapi gue menyesal udah sia-siain dia waktu dulu. Karna kebodohan gue, orang yang sebenernya gue cintai tanpa gue sadar ninggalin gue." Jelas Tony lirih.
"Kebodohan? Maksud lo apa?" Tanya Ansel penasaran.
"Gak usah kepo lo!" Tony melemparkan bantal sofa dengan keras ke kepala Ansel lalu ia bangkit dari duduk.
"Aduh! Woy... Ceritain ke gue masalah lo sama Nara! Woy Tony sableng!" Teriak Ansel melihat kepergian Tony dan Tony membalasnya dengan lambaian tangannya saja.
"Sialan tuh keong racun! Berani-beraninya dia membuat gue penasaran kayak gini!" Gerutu Ansel.
......................
Viana, ia tengah berada di dalam mobilnya. Ia tidak masuk ke kantor, pikirannya masih kacau mengingat sewaktu malam yang ia lakukan bersama Tony. Ia ingin menenangkan pikirannya dengan pergi ke suatu tempat.
"Eh kenapa ini mobil?"
Mobil Viana tiba-tiba melambat, ia meminggirkan mobilnya. Viana turun dari mobil dan mengecek mesinnya.
"Sial! Aku lupa kalo mobil yang aku pake ini belum di service!" Gerutu Viana.
Tony yang tak sengaja melintasi mobil Viana, ia merasa familiar dengan wajahnya. Ia berfikir-fikir siapakah wanita yang terlihat familiar tadi.
"Bukankah itu Viana?" Tony menghentikan Mobilnya dan membalikan mobilnya kembali.
"Viana?" Ucap Tony turun dari mobilnya dan menghampiri Viana.
Viana melihat Tony, ia pun langsung memalingkan wajahnya. Ingatannya sewaktu semalam berputar kembali. Ia merasa malu saat ini.
"Kamu Viana kan?" Ucap Tony kembali.
"Apa dia lupa kejadian semalam? Atau jangan-jangan dia gak liat muka ku waktu pagi?" Batin Viana menatap Tony.
"Hey..." Tony menjentikan jarinya di depan wajah Viana.
"Kebetulan sekali kita bertemu. Oh ya, kenapa mobil mu?" Tanya Tony.
"I~ini... Mo~mobilku... Mobilku tiba-tiba mogok." Jawab Viana terbata-bata.
"Biar aku periksa."
Tony memeriksa mesin mobil Viana dengan telaten.
"Aku berharap, Tony benar-benar melupakannya." Pikir Viana.
"Mobilnya perlu kamu service. Aku akan memanggil tukang bengkel kemari. Tunggu..." Tony menelpon bengkel langganannya.
"Tukang bengel dan mobil derek sebentar lagi akan datang. Ayo, kamu ikut bersamaku saja." Ucap Tony.
"Ti~tidak usah... Aku akan memanggil taxi saja." Tolak Viana.
"Kawasan disini sangat jarang dilalui taxi. Ayolah... Biar aku antar saja kamu." Pinta Tony.
"Ba~baiklah..." Angguk Viana.
Didalam mobil, Viana terlihat sangat gugup. Ia meremas-remas jari jemarinya.
"Apa kabarmu selama ini Vi?" Tanya Tony memecahkan keheningan.
"Baik."
"Oh ya, kenapa aku tidak pernah melihatmu bersama Nara? Bukankah sedari dulu kalian selalu bersama? Dan yang aku dengar kalian satu kampus juga."
"Emmm... Hubunganku dengan Nara sedang tidak baik."
"Benarkah? Kenapa?"
"Itu..."
"Ah maafkan aku... Aku lancang." Tony menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
"Tidak apa-apa." Senyum Viana.
"Kamu sudah tau jika Nara akan menikah beberapa hari lagi?" Tanya Tony mengejutkan Viana.
"Apa? Menikah?"
"Iya, dia akan menikah dengan sepupuku." Tony lagi-lagi tersenyum kecut.
"Kenapa aku tidak tau ini ya? Ah lagian juga ini bukan urusanku lagi." Pikir Viana.
"Aku tidak tau." Viana menundukan kepalanya.
"Begini saja apa kamu mau menemaniku nanti datang ke pernikahan Nara dan sepupuku? Ya itung-itung aku ingin menunjukan kepada sepupuku jika aku sudah belajar move on dari Nara."
"Walaupun belum sih saat ini." Lirih pelan Tony.
"Emm... Aku..."
"Aku tau, jika hubungan mu dan Nara tidak baik. Tapi kamu bisa menunjukan jika kamu adalah sahabat yang baik walaupun kalian, ya... Sedang tidak baik. Aku pastikan kita tidak lama disana."
"Tapi aku..."
"Ayolah Vi... Kali ini saja."
"Huft... Baiklah. Tapi hanya sebentar saja oke."
"Deal!" Tony menjulurkan tangannya kearah Viana.
"Deal!" Viana membalas uluran nya.
"Eh ya, kamu mau kemana? Aku antar." Ucap Tony.
"Antar aku ke taman kota dekat danau."
"Oke..."
Tony mengantar Viana ke taman kita dekat danau. Setelah mereka sampai, keduanya duduk di tepi danau yang menyejukan. Tony membelikan Viana es krim yang tak sengaja lewat. Viana menerima es krim itu.
"Hati kamu sedang tidak baik ya?" Tanya Tony pada Viana.
"Ya begitulah..." Senyum Viana membalas Tony.
Tony mengambil sebuah kerikil kecil. Lalu ia melemparkannya ke danau.
"Cobalah... Mungkin hatimu akan sedikit terhibur."
Viana mengangguk, ia pun mengambil kerikil dan melemparkannya. Tetapi lemparannya membuat Tony tertawa.
"Cara melemparnya bukan seperti itu. Lihat ini..." Tiny melemparkan kerikil ke danau.
"Kamu hanya perlu memegang kerikil ini dan melemparnya dari bawah. Nanti kerikil itu akan melompat-lompat seperti kodok."
"Pfftt... Hahaha... Baiklah aku akan mencobanya lagi." Viana mencoba melemparkan batu kerikilnya lagi sesuai petunjuk yang di berikan Tony.
"Wah ini menyenangkan Tony!" Viana terlihat bahagia. Tony melihatnya terkesima dengan senyuman Viana.
"Viana sangat cantik. Tetapi tidak bisa menghapus nama Nara di hatiku." Batin Tony.
.
.
.
TBC