Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 55


#Happy Reading's🌻


.


.


.


Nara menghentikan langkah nya ketika ibunda dari Bayu menghalang nya.


"Enak sekali ya kamu berkeliaran di luar dan bersenang-senang! Sedang anakku terbaring koma dan tak berdaya! Pacar macam apa kamu?!" Gertak ibunda Bayu menghardik Nara yang terpaku di depannya.


"Apa ibu melihat saya terlihat bersenang-senang?" Tanya Nara balik.


Ia berusaha menyikapinya dengan sopan santun walau hatinya sungguh muak dengan ibunda Bayu yang selalu saja salah paham dengan nya.


"Ya! Saya melihat kamu berkeliaran di luaran dan tidak mengurus anak saya! Bayu kecelakaan itu gara-gara kamu!" Hardiknya kembali.


"Bagaimana aku ingin mengurusnya jika adiknya Bayu saja tidak mengijinkan aku karna alasan dirinya (Ibunda Bayu)" Batin Nara meremang.


"Kenapa diam?! Benarkan apa kata-kata saya barusan bahwa kamu penyebab Bayu kecelakaan!"


Nara mengepalkan kedua tangannya. "Kenapa ibu selalu saja menuduhku yang menjadi penyebab Bayu kecelakaan?! Aku tidak menyelakainya bu! Bagaimana aku mencelakainya jika aku mencintainya!" Nara menaikkan nada bicaranya.


"Kau berani membentakku?! Dasar wanita kurang ngajar!" Ibunda Bayu hendak melayangkan pukulannya ke arah pipi Nara.


Nara memalingkan wajahnya dan menutup matanya erat bersiap merasakan sakitnya pukulan ibunda Bayu. Satu detik, dua detik, sampai tiga detik Nara tak merasakan pukulannya.


Ia pun membuka matanya dan melihat layangan pukulan ibunda Bayu di cekal oleh seseorang. Nara pun mengalihkan pandangan nya kepada seseorang yang mencekal tangan ibunda Bayu.


"Ansel?" Lirih Nara melihat Ansel lah yang menghadang pukulan ibunda Bayu.


"Kau?! Beraninya memegang tangan ku!" Ibunda Bayu melepaskan tangannya dengan kasar dari cekalan Ansel.


"Anda tidak berhak memukulnya nyonya!" Ucap Ansel melayangkan tatapan tajam kearah ibunda Bayu.


"Jangan ikut campur urusanku!" Tunjuknya.


"Ini urusanku jika menyangkut nya!" Balas Ansel dengan sinis lalu merangkul pundak Nara. Nara hanya melihat kearah keduanya saja tanpa membalas.


"Oh... Aku mengerti! Jadi kamu mempermainkan anak saya?! Kamu tidak benar-benar mencintai Bayu?! Hahaha... Hebat sekali! Sungguh hebat! Dasar wanita murahan!" Gertak ibunda Bayu dengan kencang sehingga semua orang yang berlalu-lalang melihat kearahnya.


"Saya bukan wanita murahan! Dan saya juga tidak mempermainkan Bayu! Ibu hanya salah paham dengan nya! Saya tidak mempunyai hubungan apapun dengannya!" Nara melepaskan rangkulan Ansel.


"Tidak untuk saat ini Nara... Suatu saat nanti kita mempunyai hubungan. Suatu saat nanti Nara!" Batin Ansel menahan rasa sakit hatinya mendengar ucapan Nara yang begitu menohok.


"Hahaha... Wanita murahan tetaplah wanita murahan! Kau tidak pantas dengan anak saya Bayu! Pergilah dari hidupnya! Jangan pernah kamu muncul lagi di hadapan ku apalagi di hadapan anak saya! Enyahlah kalian!" Ibunda Bayu pun meninggalkan Nara dan Ansel.


Nafas Nara memburu, hatinya begitu sakit. Apakah tuhan selalu mempermainkan perasaan nya? Cobaan apalagi yang Nara alami saat ini?!


"Nara..." Ansel hendak mengelus kepala Nara tetapi Nara langsung menepisnya.


"Pergilah!" Lirih Nara pada Ansel.


"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Ansel.


"Aku bilang pergi!" Histeris Nara mengusir Ansel.


"Tidak! Aku tidak akan pergi!" Kekeh Ansel.


Nara melihat sekilas Ansel dengan sinis lalu berlari pergi keluar rumah sakit. Ansel mengejarnya, ia tak mau jika Nara terjadi apa-apa.


"Apakah aku salah mencintai seseorang? Kenapa? Kenapa setiap aku mulai mencintai seseorang selalu saja aku yang tersakiti? Kenapa tuhan?!" Batin Nara.


Ia terus berlari menyusuri lorong-lorong rumah sakit. Ketika ia sampai di luar rumah sakit, tiba-tiba saja seseorang menariknya dari belakang dan mendekap nya kepelukannya.


"Menangislah di pelukan ku..." Ucap Ansel mendekap Nara kepelukannya. Ia memeluknya begitu erat.


"Hiks... Hiks..." Nara menangis tersedu-sedu. Ia tak bisa menahan emosinya lagi. Sungguh sakit mengingat setiap perkataan ibunda Bayu.


Ansel mengusap-usap kepala Nara dan sesekali mengecup puncak kepalanya. Hati nya pun ikut sakit melihat wanita yang dicintai nya menangis dan diperlakukan tidak baik oleh ibunda Bayu.


"Tenang saja sayang... Aku akan membalas rasa sakit mu." Batin Ansel.


.....


Di luar bandara Soekarno Hatta, Viana dan Maxim sedang menunggu taxi seraya memegang koper mereka masing-masing. Ketika taxi melintas kearah mereka, Viana menghentikan nya.


"Kenapa kamu mengikuti ku?!" Tanya Viana hendak menyimpan kopernya di bagasi taxi, tetapi Maxim pun mengukutinya dan menyimpan kopernya juga.


"Aku tidak mengikutimu." Elak Maxim yang sibuk menyimpan koper nya.


"Kalo kamu tidak mengikuti ku, kenapa menyimpan barang kamu di bagasi taxi ku?"


"Apa salahnya kan aku ikut menumpang? Lagiankan hanya ini saja taxi yang lewat. Aku sangat lelah jika harus menunggunya lagi." Ucap Maxim lalu menutup bagasi mobil.


"Hei-hei... Kamu tega sekali! Ini kan sudah malam!" Maxim mengambil kopernya.


"I don't care!" Viana pun langsung menaiki taxi dan melaju pergi meninggalkan Maxim seorang diri dan menggerutu kesal.


"Dasar pelit! Huft... Terpaksa aku menunggu taxi lain." Keluh Maxim mengerucutkan bibirnya kesal.


Di taman dekat rumah sakit, Nara sudah terlihat tenang.


"Minumlah..." Ansel menyerahkan minuman botol kearah Nara.


"Terimakasih." Nara pun mengambilnya dan menegak minuman itu.


"Apa sudah tenang?" Tanya Ansel duduk di samping nya.


"Lumayan." Singkat Nara tanpa melihat kearah Ansel.


"Apa kamu sebegitunya mencintai Bayu?" Tanya Ansel kembali.


"Aku tidak tau."


"Hah... Ayo ikut aku." Ajak Ansel lalu berdiri.


"Kemana?" Nara kini mengalihkan pandangan nya pada Ansel.


"Ikut saja..." Ansel menarik tangan Nara.


Ansel membawa ke sebuah restoran.


"Restoran?" Nara mengerutkan alisnya.


"Iya. Kamu belum makan malam kan? Kita makan malam dulu disini, setelah itu aku akan membawa kamu ke sebuah tempat. Ayo..." Ansel pun turun dari mobilnya di ikuti pula oleh Nara.


Beberapa puluh menit pun berlalu, Ansel dan Nara sudah menyesaikan makan malam mereka. Ansel pun membawa Nara ke sebuah tempat.


"Kita kemana?" Tanya Nara penasaran karna sejak tadi tidak kunjung berhenti.


"Ikut saja... Sebentar lagi sampai."


Mereka sudah sampai di sebuah bukit. Nampak sebuah pemandangan kota Bandung terlihat begitu indah disana. Lampu-lampu berkelipan berwarna-warni memenuhi setiap bukit itu. Nara terpana oleh pemandangan di depannya.


"Bagaimana kamu bisa tau tempat ini?" Tanya Nara. Mereka berdua sudah berada di puncak bukit.


"Sejak kecil, daddy pernah membawa ku kesini. Saat itu aku sangat sedih ketika nenek ku meninggal. Dan di saat itu juga daddy membawa ku kesini." Ucap Ansel. Pandangan nya melihat kearah pemandangan kota.


Nara terperangah mendengar cerita Ansel. Ia menatap Ansel dengan lekat. Ansel yang merasa di tatap oleh Nara, ia pun menoleh membalas tatapannya.


"Aku tau, aku sangat tampan... Jangan melihat ku seperti itu." Ucap Ansel terkekeh.


Nara mendengar itu, langsung mengalihkan pandangan nya kedepan dan salah tingkah.


"Jangan kepedean!" Elak Nara. Tangannya bersidekap menahan rasa dinginnya angin malam. Ansel melihat itu, ia pun membuka jasnya dan menutupinya ke pundak Nara.


"Terimakasih." Ucap Nara.


"Sama-sama." Jawab Ansel.


"Cobalah kamu berteriak disini untuk menenangkan hati kamu." Pinta Ansel.


"Berteriak? Tidak, aku tidak mau!"


"Hei, apa salahnya berteriak? Itu sangat menyenangkan. Lihatlah ini..."


"NENEK... AKU MERINDUKAN MU NEK!! YANG TENANG YA DISANA... ANSEL CUCUMU INI SUDAH MENJADI PRIA TAMPAN NEK!" Teriak Ansel.


"Pfftt... Hahaha..." Nara tertawa mendengar teriakan konyol Ansel.


"Kamu lihatkan? Ini sangat menyenangkan... Cobalah." Ucap Ansel. Nara pun mengangguk mengiyakan.


"AAHHH!! NARA KAMU SANGAT PINTAR, CERDAS DAN HEBAT! AKU MENCINTAI MU NARA! SI NENEK SIHIRNYA SAJA YANG BUTA MELIHATMU NARA!" Nara mulai berteriak.


"Hahaha..."


Keduanya pun tertawa bersama tanpa menyadari jika sebelumnya mereka saling bermusuhan. Tanpa sadar juga hati Nara sedikit demi sedikit menerima Ansel.


.


.


.


TBC