Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 61


#Happy Reading's🌻


.


.


.


Tiga hari kemudian, Hari pernikahan Nara dan Ansel semakin dekat. Mereka tengah di sibukan oleh beberapa persiapan pernikahan. Nara mengambil cuti nya tujuh hari, awalnya Viana sebagai CEO perusahaan Swift Corp melarangnya untuk cuti dengan alasan Nara sudah mengambil cutinya tempo hari.


Dengan alasan ini menyangkut keluarga, baru Viana memperbolehkan nya. Ingin sekali Viana menanyai ada apa dengan keluarga Nara tetapi ia sangat gengsi. Ini bukan urusannya lagi, pikirnya waktu itu. Nara sengaja tidak memberitahu pernikahannya pada Viana, agar dirinya tidak semakin membencinya.


Nara juga meminta jika pernikahan nya ini disembunyikan, hingga waktunya tiba baru pernikahan nya di publikasikan. Nara tak ingin teman-temannya yang hampir semua tahu jika Ansel adalah mantan Viana itu akan mencemooh nya dan Ansel. Bukan itu yang terpenting di benaknya, ia sangat menjaga hati Viana agar tak semakin terluka. Sudah cukup kejadian prom night waktu itu membuatnya sakit hati.


Ansel menyetujui alasan Nara untuk menyembunyikan pernikahannya. Sama halnya dengan kedua orang tua mereka, semuanya setuju-setuju saja dengan keputusannya karna menurut mereka yang terpenting adalah pernikahan Nara dan Ansel berjalan lancar dan mereka bisa menjadi sepasang suami istri. Pernikahan nya pun di selenggarakan di gedung yang cukup jauh dari kediaman Ansel dan Nara.


Saat ini, Ansel dan Nara hendak mencoba beberapa gaun pengantin mereka. Boutique yang mereka tempati itu adalah boutique salah satu temannya Riani. Mereka tidak didampingi oleh kedua orang tua mereka. Nara tengah memilih-milih gaun pengantin nya terlebih dahulu. Setelah itu mereka akan foto prewedding.


"Ra, udah belum? Ini hampir mau satu jam! Tapi kamu masih belum mendapatkan gaunnya? Astaga!" Keluh Ansel. Benar kata Ansel, Nara hampir satu jam mengelilingi boutique tetapi belum satu pun menemukan gaun yang pas dengan keinginannya.


"Aku bingung..." Cengir Nara.


"Huft. Mbak, tolong carikan gaun yang terbaik di boutique ini." Ucap Ansel pada salah satu pelayan di boutique itu.


"Baik tunggu sebentar ya mas, mbak..."


"Kenapa gak dari tadi sih!" Gerutu Nara.


"Aku kasih kesempatan buat kamu mencari gaun yang kamu sukai. Tapi hampir satu jam kamu hanya mengelilingi boutique."


"Hehehe..." Nara hanya bisa cengengesan.


"Ini di coba mbak." Pelayan boutique itu memberikan sebuah gaun pengantin berwarna putih.


Nara mengambilnya, dan melebarkan gaunnya yang sempat tadi di lipat. "Wah... Cantik sekali." Nara terpukau melihat keindahan gaun pengantin yang di tangannya.


"Silahkan dicoba di ruang ganti mbak." Ujar pelayan tersebut.


"Baik..." Nara pun memasuki ruang ganti. Sedangkan Ansel menunggunya di sofa yang berada tepat di depan ruang ganti seraya membaca beberapa majalah.


"Selesai... Wah, gaun ini benar-benar cantik." Nara memutar-mutar gaun pengantin yang sudah ia pakai di depan cermin.


Ingatannya tiba-tiba tertuju pada siapa yang ia nikahi. Wajahnya berubah menjadi sendu."Maafkan aku Bayu..." Lirih Nara membayangkan betapa kecewanya jika Bayu mengetahui ini semua.


"Mbak, jika sudah kita keruang make up." Pelayan boutique mengejutkan Nara.


Nara keluar dari ruang ganti, Ansel melihatnya karna posisi duduknya berhadapan dengan Nara. Ia terpana melihat betapa cantiknya Nara memakai gaun pengantin. Belum di poleskan make up saja sudah secantik itu, apalagi sudah di make up kan. Pikir Ansel saat ini yang terus memandangi Nara tanpa bergedip.


"Ekhem... Ayo mbak, katanya saya mau di make up." Dehem Nara yang sangat canggung ditatap Ansel.


Nara pun masuk keruang make up. Ansel pun segera mengganti pakaiannya dengan jas yang setara dengan gaun pengantin Nara. Keduanya sudah selesai, kini tinggal bersiap untuk acara foto prewedding mereka. Foto mereka di adakan di ruang khusus.


Tak lupa pada saat itu, kedua orang tua Ansel dan Nara datang untuk menyaksikannya. Tetapi hanya ibu-ibunya saja, karna Dani dan Abraham sibuk dengan pekerjaan mereka.


"Oke, kalian sudah siap?" Ucap fotografer itu pada Nara dan Ansel. Keduanya mengangguk mengiyakan.


"Calon pengantin wanita kalungkan kedua tangannya ke leher calon pengantin pria. Untuk calon pengantin pria, simpan tanganmu di pinggang calon pengantin wanita." Fotografer mengarahkan posisi Nara dan Ansel. Mereka menuruti perintah fotografer itu.


"Sekarang kalian bertatapan dengan penuh cinta." Ucap fotografer itu kembali.


Nara dan Ansel sudah menuruti arahan fotografer. "Ya begitu! Bagus sekali!" Fotografer memulai memotretnya.


"Kenapa jantungku berdegub kencang seperti ini? Oh ayolah... Cepat selesai! Aku sangat gugup." Batin Nara.


"Dan kenapa Ansel sangat tampan sekali?" Batin Nara kembali seraya menatap Ansel menuruti arahan fotografer.


"Kau sangat cantik." Gumam Ansel pada Nara. Nara mendengarnya tersipu malu.


Ansel mendekatkan wajahnya pada wajah Nara. "Jangan macam-macam!" Ancam Nara gugup ketika Ansel semakin mendekatkan wajahnya.


"Bagus sekali! Ya tetap seperti itu posisinya... Tahan." Fotografer memotret posisi Ansel yang hendak mencium Nara.


"Mereka sangat serasi!" Sorak Riani.


"Iya, mereka sangat serasi!" Ujar Ranty juga.


Ansel pun menggendong Nara ala bridal style dengan mesra.


"*K*apan ini akan berakhir?!" Batin Nara kesal.


Mereka mengambil beberapa potret foto prewedding. Banyak sekali gaya yang harus mereka peragakan. Di mulai dari gaya saling tatap, berpelukan bahkan kebagian intim pun mereka lakukan dengan arahan yang diberikan fotografer.


.....


Malam pun tiba, suara dentuman musik memantul di berbagai penjuru ruangan. Bau alkohol pun tak luput dari indra penciuman. Tempat maksiat itu sangat ramai dan padat malam ini. Tony mendatangi tempat itu malam ini. Sudah tiga hari setelah pertemuannya dengan Nara membuatnya selalu datang ketempat haram ini.


"Berhentilah minum! Kau sudah menghabiskan dua botol!" Ucap sahabatnya Maxim. Ya, Maxim adalah salah satu sahabat nya dari Los Angeles. Mereka satu kampus dulunya.


"Kau tidak akan tau bagaimana rasanya ditinggal nikah oleh mantanmu! Bahkan aku masih berharap dengannya. Aku tau, jika dirinya begitu membenciku karna kebodohan ku waktu itu! Tapi aku ingin berusaha mendapatinya kembali, tetapi dia malah ingin menikah dengan sepupuku! Hahaha... Itu sangat menyakitkan dan konyol!" Racau Tony sudah mabuk.


"Haish... Sudahlah, sebaiknya kita pulang saja. Ayo..." Ajak Maxim berusaha membantu Tony bangun.


"Tidak mau! Aku masih ingin minum! Kau saja yang pergi!" Racau Tony mendorong Maxim dan kembali duduk.


"Tidak-tidak... Kau sudah mabuk Tony! Sebaiknya kita pulang. Aku juga sudah tidak kuat ingin kencing! Ah Ayolah Tony! Aku sudah tidak tahan!" Maxim menahan kencingnya dan mencoba membawa Tony. Tapi tenaganya tak cukup kuat untuk menggendong Tony.


"Ah sudahlah! Kau disini dulu jangan kemana-mana, aku akan ke toilet dulu! Aku benar-benar sudah tidak tahan!" Maxim lari menuju toilet.


"Nara... Nara..." Racau Tony. Ia pun bangkit dari duduknya dengan berjalan berlenggak-lenggok karna mabuk.


"Bukankah itu Tony?" Lirih Viana.


Viana malam ini pergi ke club itu menenangkan pikirannya yang kacau. Ia tak sengaja melihat sosok yang ia kenal yang tak lain Tony.


"Tony?" Panggil Viana menepuk bahu Tony.


"Nara? Apa itu kau Nara? Ah Nara ku..." Tony tiba-tiba saja memeluk Viana.


"Hey Tony! Aku bukan Nara, aku Viana! Hey... Bangunlah!" Viana berusaha membangunkan Tony.


"Tunggu mas... Tolong bantu saya mbawa pacar saya kedalam mobil." Pinta Viana pada salah seorang pengunjung club. Ia sengaja mengakui Tony sebagai pacarnya.


Setelah membawa Tony kedalam mobilnya, Viana pun mengendarainya.


"Aku sedang berbaik hati hari ini. Tapi tunggu... Aku kan gak tau tempat tinggal Tony?! Ah sialan! Kenapa juga harus nolongin ni orang!" Geram Viana.


Dengan terpaksa, Viana membawa Tony ke apartemen nya karna tak mengetahui tempat tinggal Tony. Sesampainya di apartemen nya, Viana dibantu oleh satpam untuk membawa Tony kedalam apartemennya. Tony dibaringkan diatas sofanya.


"Sangat merepotkan!" Viana pergi kekamar mandi membersihkan dirinya.


Setelah selesai dengan kegiatannya di kamar mandi, Viana yang sudah memakai pakaian tidur itu pun menghampiri dapur karna tenggorokannya terasa kering. Viana hendak kembali kedalam kamar, tetapi ia melihat Tony sudah tergeletak di bawah ubin yang dingin.


Dengan terpaksa, Viana mencoba membangunkan Tony agar pindah keatas sofa. Tony masih dalam keadaan mabuk berat, ia pun tak mendengarkan perkataan Viana.


"Terpaksa deh..." Viana mencoba mengangkat Tony.


"Ah!" Ketika ia sudah menidurkan Tony ke sofa, dirinya malah di peluk oleh Tony seakan-akan dirinya adalah guling.


"Aduh... Hei Tony! bangunlah... Aku ini manusia, bukan guling! Lepas!" Viana berusaha melepas pelukan Tony, tetapi usahanya sia-sia saja, karna pelukan Tony sangat erat.


"Nara..." Tony membuka sedikit matanya. Ia melihat bayangan Nara di wajah Viana yang kini ia peluk.


"Aku mencintaimu..." Tony menarik tengkuk Viana dan menciumnya. Viana berusaha melepas ciuman itu, tetapi lagi-lagi ia tak bisa. Tenaga Tony terlalu kuat.


Dan pada akhirnya, Viana ikut terbuai dengan ciuman Tony. Malam panjang pun mereka lewati bersama, tanpa ada rasa cinta diantara keduanya. Hanya saluran nafsu saja yang mereka ikuti saat ini.


.


.


.


TBC


Berikan Like, Coment, Hadiah dan Vote kalian untuk Author🙏 Supaya Author tetap semangat melanjutkan part Novel SATU HATI DUA RASA ini🌹❤


Sehat selalu untuk kalian para Reader's🌹**