
#Happy Reading's🌻
.
.
.
BUGH
"Lo gila Ansel! Jadi Viana mantan lo?! Lo bener-bener bajingan!" Tony mencengkram kerah Ansel setelah memukulnya.
"Ya! Emang gue gila! Dan sekarang gue semakin gila karna gue malah jatuh cinta sama sahabatnya yaitu Nara!" Teriak Ansel memegang kedua lengan Tony yang masih mencengkram kerah nya.
Tony melepas cengkramannya. "Bagaimana bisa lo setega itu sama mereka Ansel?! Lo tau, mereka udah dari kecil bersahabat! Dan persahabatan mereka hancur gara-gara lo!"
Ansel menyeka darahnya di pinggir bibirnya akibat pukulan Tony tadi.
"Bukannya lo juga punya masa lalu yang gak baik dengan Nara? Lo dulu udah nyakitin Nara juga bukan?" Tanya balik Ansel.
"Situasinya berbeda Ansel! Ya, gue akui kalo gue udah nyakitin Nara dulu. Tapi gue gak sebajingan lo Ansel!"
"Sekarang, lo harus perbaiki hubungan mereka seperti semula lagi!" Ujar Tony kembali.
"Baiklah... Gue akan mencobanya."
Tony dan Ansel pun kembali kedalam aula pernikahan. Tetapi tidak ada orang satu pun. Semuanya tampak berkumpul di depan gedung yang lebih tepatnya parkiran.
"Untung lah kalian disini... Kalian tau, jika perempuan di hadapanku ini seorang pelakor?!" Viana menunjuk-nunjuk wajah Nara.
"Apa?!" Semua
"Apa maksudmu nak Viana?" Ucap Ranty tak mengerti apa yang dimaksud ucapan Viana.
"Mah, mamah Ranty tau kalo anak yang mamah banggakan ini adalah seorang pelakor? Dia udah merebut Ansel dariku mah!"
"Viana! Jaga ucapan mu! Anakku tidak seperti itu!" Kilah Dani tak terima jika Nara dijelekan seperti itu.
"Apa yang aku katakan tadi benar, Jika dia penghianat dan seorang pelakor!"
"Hiks... Viana cukup!" Lirih Nara yang terus menangis. Hatinya sungguh sakit atas semua tuduhan yang diberikan Viana.
"Cukup lo bilang?! Kalo aja waktu prom night itu gue gak mempergoki lo sama Ansel berciuman, gue gak akan tau penghianatan lo! Waktu itu Ansel masih pacar gue! Lo gak akan tau bagaimana rasa sakitnya Nara!" Histeris Viana.
"Benar apa yang dikatakan Viana, Nara?" Tanya Dani.
Nara menunduk dan mengangguk perlahan.
PLAK
"Ayah tidak pernah mengajarkan kamu menjadi manusia menjijikan seperti itu Nara Lathesia!" Dani menampar Nara.
Semuanya tampak tercengang mendengar ucapan Viana dan pengakuan Nara. Ranty pun kini sudah menangis dan Mario memeluknya untuk menenangkan.
"Sayang, dimana anak berandalan itu?" Lirih Abraham pada Riani.
"Mommy juga tidak tau dimana anak sialan itu! Dia penyebab semua ini, tetapi dirinya tidak ada disini. Benar-benar anak itu!" Geram Riani mengerutuki anaknya sendiri.
"Ini semua salah paham!" Ansel menghampiri Viana dan Nara. Semua orang mengalihkan pandangannya kearah Ansel dan Tony yang berada di belakangnya.
Ansel mengangkat wajah Nara yang sedari tadi menunduk dan menangis. Hatinya teriris melihat wanita yang di cintainya menangis. Ansel menghapus air matanya dan mengusap lembut pipinya yang tadi sempat ditampar Dani.
"Aku akan menyelesaikan semuanya." Bisik Ansel di telinga Nara.
"Semua ini hanya salah paham saja Viana." Ucap Ansel seraya merangkul Nara.
Tetapi, tiba-tiba saja Dani menarik tubuh Nara. "Jangan sentuh anakku sebelum kamu menjelaskan semua kekacauan ini!" Gertak Dani pada Ansel.
"Baiklah yah... Aku akan menjelaskan semuanya." Yakin Ansel.
"Viana... Sebelumnya aku benar-benar meminta maaf karna sudah menyakiti hatimu. Aku mengaku bersalah. Tetapi apa yang kamu tuduhkan pada Nara itu tidak benar. Awalnya ya, aku hanya berniat mempermainkan mu saja. Aku mengencanimu tidak ada kaitannya dengan perasaan. Seharusnya kamu berterimakasih pada Nara, karna dialah yang selama ini meyakini mu agar menjauhi ku."
"Tidak mungkin!" Sela Viana.
"Kau dengarkan aku dulu. Aku bertaruh dengan Nara jika aku akan mendapatkan mu.
Nara tau jika aku hanya mempermainkan mu saja, dan dia sudah berusaha untuk meyakinkan mu tanpa mengeluh karna beberapa kali kamu tidak mempercayainya. Dan disitulah aku melihat kegigihannya memperjuangkan persahabatan nya. Dari situ juga aku mulai jatuh cinta padanya. Waktu prom night itu, akulah yang mencium paksa Nara. Aku..."
PLAK
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Ansel.
Viana tak kuasa lagi mendengar penuturan Ansel. Bukan hanya itu saja, kini dirinya merasa malu karna selama ini telah menuduh sahabatnya sendiri. Bahkan dia tidak mempercayainya sedikit pun. Viana berlari menjauhi kerumunan orang.
"Viana!"
Nara yang melihat Viana berlari, ia pun berlari juga menyusulinya.
"Viana berhentilah berlari!" Teriak Nara mengejar Viana.
"Jangan mengejarku!" Teriak Viana yang terus berlari. Karna kecepatan Nara berlari, akhirnya ia dapat meraih tangan Viana.
"Viana tunggu!"
"Lepasin!" Ronta Viana. Nara memeluknya erat.
"Gue mohon, jangan seperti ini... Gue udah capek Vi! Gue capek setiap hari mikirin lo. Gue kangen masa-masa dimana kita bersama." Ucap Nara memeluk Viana.
"Hiks... Maafin gue Nara... Maafin gue... Hiks. Gue bodoh! Gue bodoh karna gue gak pernah percaya sama lo. Seharusnya lo benci sama gue. Gue gak pantes jadi sahabat lo Ra... Hiks."
"Lo gak usah ngomong kayak gitu. Lo tetap Viana sahabat terbaik gue... Jangan tinggalin gue lagi ya."
"Maaf Ra... Tapi gue gak bisa. Kesalahan yang gue lakuin ke lo ini udah fatal. Maafin gue Ra..." Viana melepas pelukannya dan berlari ke tengah jalan.
Tin... Tin...
Sebuah mobil melaju kencang dari arah berlawanan. Viana tak dapat menghindar. Ia diam terpaku di tengah jalan dan menjerit melihat mobil semakin mendekati tubuh nya.
"VIANA!"
BRAK
Seperkian detik, Viana membuka matanya. Tetapi ia melihat dirinya berada di pinggir jalan dan tak melihat darahnya mengalir.
"NARA!"
Teriakan Ansel mampu menyadarkan Viana dari keterkejutannya. Viana melihat, tepat di tengah jalan Nara sudah terkapar di penuhi darah. Viana menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia berusaha bangkit menghampiri Nara yang tergeletak tak berdaya.
"Nara..." Lirih Viana melihat Nara yang sudah dipenuh dengan darah.
"Sayang bangun... Hiks... Kamu tidak boleh meninggalkan ku! Kamu harus kuat sayang..." Tangis Ansel memeluk Nara. Beberapa kali Ansel menyeka darah yang mengalir dari kepala ke wajah cantik Nara.
"Hiks... NARA! Bangun Ra... Hiks. Maafin gue..."
"Jangan sentuh istriku! Kamu yang telah menyebabkan Nara ku seperti ini! Menjauhlah darinya!" Ansel mendorong Viana.
"Ti... Tidak... Aku... Hiks... Nara..."
Ambulan sudah datang. Ansel menggendong Nara kedalam ambulan.
"Aku ikut Ans... Aku juga ingin menemani Nara, hiks..."
"Tidak!" Ansel kembali mendorong Viana.
"Ansel! Biarkan aku menemani Nara! Ansel! Biarkan aku menemaninya juga Ansel!" Teriak histeris Viana melihat ambulan itu melaju.
"Kak Viana... Kenapa kakak tega sama kak Nana?" Ujar Mario.
"Maafin kak Viana Rio... Hiks. Kakak salah..."
"Aku benci kak Viana!" Mario berlari meninggalkan Viana.
"Hiks... Maafkan aku... Hiks..." Viana terduduk diatas aspal dan menangis tersedu-sedu meratapi kesalahannya.
"Viana..." Panggil Tony. Viana mengangkat wajahnya melihat Tony yang sudah berjongkok dihadapannya.
"Tony..." Viana memeluk Tony dan Tony pun membalas pelukannya.
"Ini semua salahku Tony... Aku yang menyebabkan Nara kecelakaan. Aku sudah menyakitinya Tony... Hiks."
"Ini bukan salah mu. Ini semua adalah takdir dari tuhan. Jadi, berhentilah menangis ya. Ayo, kita kerumah sakit. Kita melihat keadaan Nara disana." Ucap Tony.
Viana mengangguk. Lalu Tony pun membawa Viana kedalam mobilnya menuju rumah sakit.
.
.
.
TBC