
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Satu minggu sudah berlalu, persahabatan Nara dan Viana semakin baik setelah insiden Viana dirawat di rumah sakit. Nara melupakan perdebatannya, demi persahabatan mereka berdua. Begitu juga dengan Viana, ia pun melupakan perdebatan itu ia tak ingin egois kali ini. Dan Viana juga menunggu Nara membuktikan perkataannya mengenai Ansel.
Nara sudah berjanji pada Bayu, bahwa dirinya akan datang ke hari wisuda nya tepat nya hari ini. Kebetulan juga Nara dan Viana sudah menyelesaikan semua skripsi dan sidang nya. Mereka juga tinggal menunggu hari wisuda. Nara sedang bersiap-siap ingin pergi ke kampus menghadiri wisuda Bayu.
"Vi, lo jadi kan ikut sama gue ke wisuda-annya Bayu?" Tanya Nara yang sudah bersiap.
"Tentu dong... Lo perginya sama gue aja bareng Ansel." Ucap Viana. Ia juga sudah bersiap-siap.
"Apa? Bareng Ansel? Gak, gue mau bawa motor aja." Tolak Nara.
"Beneran lo mau bawa motor? Kan lo pake gaun pendek, gimana kalo nanti bawah lo keliatan gara-gara kesingkap sama angin?" Ujar Viana kembali berusaha membujuk Nara.
"Iya juga ya. Yaudah deh gue ikut." Nara akhirnya mengiyakan tawaran Viana.
"Yaudah yuk, Ansel udah di depan noh."
Nara dan Viana menuju ke arah mobil Ansel yang sudah terparkir di depan rumah kontrakan mereka. Ansel membuka kaca mobilnya, ia terpana melihat Viana. Salah! Ia melainkan terpana pada Nara. Ansel sudah biasa melihat Viana berdandan seperti itu, tetapi ia tak pernah melihat Nara berdandan secantik ini. Ansel terus menatap kearah mereka berdua, lebih tepatnya lebih memfokuskan melihat ke arah Nara.
"Sempurna." Batin Ansel melihat Nara.
"Ra, lo di belakang ya." Ucap Viana dan dibalas anggukan Nara.
"Ayo sayang..." Ucap Viana menyadarkan Ansel dari lamunannya.
"Eh iya ayo."
Ansel pun menyalakan mesin mobil dan melajukannya. Sesekali ia melirik Nara dari kaca spion depan. Nara yang menyadari Ansel meliriknya sedari tadi, ia membalas nya dengan tatapan tajam dan tak suka. Begitu juga dengan Viana yang menyadari lirikan Ansel pada Nara.
"Kenapa Ansel selalu melirik Nara seperti itu?" Pikir Viana bingung.
"Sayang..." Viana membuka suaranya.
"Iya?" Ansel melirik sekilas pada Viana.
"Bagaiamana dengan penampilan ku hari ini?" Tanya Viana berbasa-basi.
"Bagus." Singkat Ansel. Ia lebih fokus melihat kearah depan.
"Hanya bagus?" Viana memanyunkan bibirnya karna kesal dengan jawaban Ansel.
"Iya bagus, memangnya aku salah bicara?" Ucap Ansel tanpa menatap Viana.
"Ya kamu harusnya bilang aku cantik, atau anggun atau apalah gitu... Emang nya aku barang apa di kata bagus." Kesal Viana.
"Kan emang lo barang Vi dimata si cobul itu! Buka mata lo Viana, kalo cowok yang lo cintai itu playboy kelas kakap!" Batin Nara yang menyaksikan perdebatan Viana dan Ansel.
"Bukan kayak gitu maksud aku Viana." Ujar Ansel.
"Kalo penampilan Nara hari ini gimana?" Viana mengalihkan pembicaraan nya. Ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan Ansel yang selalu melirik Nara.
"Cantik." Spontan Ansel tanpa sadar.
Nara dan Viana terkejut mendengarnya. Terutama Viana, apa pendengaranya salah? Atau keajaiban apa yang menimpa pada diri Ansel saat ini sehingga ia mengatakan Nara cantik, tetapi ia malah mengatainya hanya bagus saja seperti barang.
"Apa Ansel sebenarnya menyukai Nara? Batin Viana melirik kearah Ansel yang fokus dengan kemudinya.
"Apa yang dikatakan cobul gila?! Ah, dia benar-benar gila!" Batin Nara.
Keterdiaman Nara dan Viana menyadari Ansel dengan perkataannya barusan. Ia berdehem berusahan mencairkan suasana.
"Ekhem, maksud ku... Aku berkata seperti itukan hanya mengikuti perkataanmu tadi." Dalih Ansel pada Viana.
"Bodoh! Kenapa aku berkata seperti itu. Tapi~ tak ada salahnya juga." Lirih Ansel dalam hati merasa tak salah dengan perkataannya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di kampus. Suasana di kampus sangat ramai, semua nya terlihat tengah bersua foto. Kelihatannya, mereka terlambat. Nara, Viana dan Ansel turun dari mobil.
"Dimana Bayu?" Nara celingak-celinguk melihat kearah sekitar mencari sosok Bayu. Lalu akhirnya ia menelpon Bayu meninggalkan Viana dan Ansel di belakangnya.
"Cih, segitunya kah dia mencari pria itu?" Kesal Ansel dalam hati melihat kearah Nara dengan kesal. Pandangan Viana melihat Ansel yang tengah terlihat kesal menatap Nara.
"Ada apa?" Tanya Viana pada Ansel.
"Tidak ada." Ansel yang tadinya melihat kearah Nara, kini mengalihkan pandangannya lurus tanpa niat melihat Viana.
"Terus, kenapa muka kamu kelihatan kesal gitu ngeliat Nara?" Heran Viana. Hatinya cemburu melihat tingkah Ansel yang berbeda dari biasanya. Ansel terlihat lebih terbuka dengan perasaan nya.
"I~itu..." Belum sempat Ansel menjawab, Nara sudah menghampiri nya.
"Ayo, Bayu udah nunggu di dalem." Ucap Nara menyela. Ia melangkah dahulu, lalu di ikuti Viana dan Ansel.
Sesampainya mereka di dalam, Bayu melambaikan tangannya kearah mereka.
"Itu Bayu." Tunjuk Nara melihat lambaian Bayu. Mereka pun menghampirinya.
"Hai Bay. Maaf ya telat..." Ucap Nara tak enak hati.
"Iya gak apa-apa, yang pentingkan kamu kan dateng." Senyum Bayu. Ansel mendengarnya hanya memutar kan bola matanya saja.
"Uhh sosweet nya..." Ucap Viana gemas.
"Apaan sih lo!" Nara menyenggol lengan Viana pelan.
"Hahah... Yaudah yuk." Bayu menuntun Nara untuk berfoto bersama.
"Viana, fotoin kita dong." Ucap Bayu memberikan ponselnya pada Viana. Viana pun mengiyakan dan mengambil ponsel Bayu.
Viana memulai potretannya. Gaya pertama, terlihat biasa-biasanya dimata Ansel, tetapi untuk yang kedua mata Ansel memanas tangannya pun mengepal menahan rasa cemburu. Gaya kedua Bayu merangkul pinggang Nara, terlihat juga Nara tak nyaman dengan rangkulan itu. Tetapi ia tak hati untuk menolak nya.
"Apa-apaan itu! Berani sekali dia memegang pinggang Nara! Ah... Sialan!" Batin Ansel menahan emosinya.
"Gue juga mau foto dong... Sayang, tolong kamu fotoin kita bertiga ya." Pinta Viana. Ansel pun mengambil ponsel itu dan memotretnya asal dan malas.
"Kok kamu fotoin nya miring gini sih... Terus, kenapa Nara gak dibawa cuman aku sama Bayu doang yang kamu foto?!" Kesal Viana melihat hasil jepretan Ansel. Bayu dan Nara juga ikut melihatnya dan tak kalah kesalnya.
"Lo bisa gak sih fotoin kita?!" Kesal Nara juga.
"Gue bukan tukang foto!" Tegas Ansel lalu berbalik meninggalkan ketiganya.
"Dasar cobul gila bin gesrek!" Gerutu Nara.
"Udah-udah, mending kita minta fotoin ke orang lain aja." Ujar Bayu menenangkan situasi.
Ansel terus saja menggerutu sepanjang jalan. Ia menuju cafe depan kampus, ia duduk dan mengambil nikotin di saku celananya tanpa memesan apapun. Ia menyesapnya dalam-dalam nikotin itu untuk meredakan emosinya.
"Beginikah rasanya jatuh cinta yang sebenarnya? Ah... Sungguh melelahkan." Lirih Ansel menyesap nikotin nya.
"Awalnya aku hanya ingin bermain-main saja dengan kedua sahabat itu. Sekarang? Aku malah jatuh cinta sungguhan dengan salah satu sahabat itu. Apakah ini karma ku ya?" Lirih Ansel kembali.
"Malam ini kan ada prom night di kampus, saat itu juga aku harus melancarkan misiku untuk memutuskan Viana. Setelah itu, aku akan memilikimu Nara." Ansel mematikan nikotin nya lalu beranjak kembali kedalam kampus menyusul Nara, Viana dan Bayu.
.
.
.
TBC