
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Dua minggu berlalu, Nara semakin membaik. Begitu juga dengan hubungannya dengan Ansel dan Viana. Persahabatan nya kembali lagi seperti dulu. Untuk hubungannya dengan Ansel pun semakin baik. Nara merasakan kenyamanan setiap bersama Ansel.
Hatinya perlahan menerima kehadirannya, dengan ketulusan dan kesabaran Ansel selama menjaga Nara membuat hati Nara tersentuh. Ia berfikir bahwa ia akan belajar menerima Ansel sebagai suaminya.
Setiap tiga kali dalam seminggu, Nara rutin mengikuti terapi di kakinya. Ansel pun selalu menemani Nara terapi. Pekerjaannya selalu ia tunda agar dirinya bisa menemani Nara pergi terapi. Kini Ansel dan Nara tengah duduk di balkon kamar mereka. Keduanya menikmati udara malam yang segar dan ditemani teh hangat.
"Terimakasih untuk semuanya..." Ucap Nara pada Ansel seraya memandangi langit yang tampak beberapa bintang bersinar diatas sana.
"Tidak usah berterimakasih. Itu semua kewajibanku sebagai suami... Kau istriku." Jawab Ansel memandangi wajah Nara dari samping.
Nara pun mengalihkan pandangannya pada Ansel. "Maaf, aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu." Ujar Nara.
Ansel memegang tangan Nara yang kebetulan jarak duduk mereka dekat. "Tidak apa-apa. Menurutku kamu adalah istri yang terbaik..." Ansel terus mengelus tangan Nara yang berada di genggamannya.
Nara mendengarnya begitu terharu. Inikah sosok Ansel yang sebenarnya? Pikir Nara saat ini. Ia sejenak memandangi Ansel, dan ia membalas genggamannya.
"Kenapa kamu mencintaiku? Bukannya aku selalu membencimu dan selalu berlaku kasar?" Tanya Nara.
Ansel tersenyum dan mendekati wajahnya ke wajah Nara. "Karna kau wanita yang aku cari. Kamu berbeda, dan kamu juga adalah wanita pertama yang berani menantangku bahkan membenciku. Banyak wanita yang tergila-gila padaku, tapi kamu tidak sama sekali tertarik padaku."
"Benarkah? Kan banyak wanita diluaran sana yang pasti ada saja yang sama sepertiku."
"Tidak ada. Tidak ada untukku... Yang ada hanyalah satu wanita saja. Yaitu kamu Nara..." Ansel menyelipkan anak rambut Nara.
"Tapi aku belum mencintaimu."
"Hanya belum saja. Bukan berarti kamu tidak akan mencintaiku. Aku yakin suatu saat nanti, hati mu..."
Ansel menekan dada Nara dengan telunjuknya. "Hati mu akan ada namaku. Setiap ingatanmu, pasti ada diriku. Dan matamu..." Ansel menyentuh mata Nara dengan perlahan.
"Akan selalu memandang ku. Aku yakin itu semua akan terjadi Nara. Tuhan bersamaku, jadi aku tidak takut jika kamu belum mencintaiku."
Nara meneteskan air matanya. Hatinya benar-benar luluh mendengar kesungguhan Ansel. "Tunggu aku seperti itu." Lirih Nara pelan.
Ansel tercengang mendengarnya.
"Akan aku tunggu..." Ansel pun memeluk Nara dan Nara membalasnya.
"Ayo kita masuk kedalam. Udara malam tidak baik untuk kesehatan mu." Ucap Ansel. Nara mengangguk mengiyakan ucapan Ansel.
Dengan perlahan dan hati-hati, Ansel mengangkat tubuh Nara yang masih belum pulih masuk ke kamar mereka. Ansel menidurkan Nara di kasur. Sesudah Ansel menutup pintu balkon, ia pun menidurkan dirinya di samping Nara. Mereka berdua kini saling berhadapan.
Ansel mengelus pipi Nara dengan lembut. Nara merasakan kehangatan dengan elusan yang diberikan Ansel. Perlahan Ansel mendekati Nara dan ia pun mencium bibirnya dengan lembut. Perlahan Nara terbuai dengan itu, ia memejamkan matanya.
Ansel sudah berhasrat. Ia menaikan tubuhnya ke atas tubuh Nara dan memulai aksinya. Tetapi ditengah kegiatannya, tiba-tiba saja Nara tersadar. Ia mendorong dada Ansel dan memalingkan wajahnya. Ansel terheran-heran wajahnya pun sudah memerah menahan hasratnya.
"Ma... Maafkan aku... Aku~aku belum siap." Nara terbata-bata mengatakan isi hatinya. Ia memejamkan matanya.
Ansel mengerti hal itu. Ia menyentuh pipi Nara dan menarik wajahnya agar menghadapnya. "Aku mengerti. Maafkan aku..." Ansel mencium dahi Nara dengan lembut. Lalu ia pun berguling kesamping.
"Tidurlah..." Ansel menyelimuti Nara. Sungguh, Nara benar-benar merasa bersalah. Ansel memunggungi Nara.
"Apa aku keterlaluan ya? Aku sudah seharusnya memberikannya pada Ansel, karna ia sudah menjadi suami ku." Batin Nara memandangi punggung Ansel.
Nara menggigit bibir bawahnya, lalu dengan perlahan ia memeluk Ansel dari belakang.
"Maafkan aku..." Ucap Nara seraya memeluk Ansel.
"Tidak apa-apa... Aku mengerti, jika kamu belum siap melakukannya. Aku akan menunggumu." Ansel membalas pelukan Nara.
Keduanya pun terlelap dengan saling memberikan kehangatan.
.........
Drrtt... Drrtt...
Dering ponsel Viana berbunyi. Viana yang sedang mengerjakan beberapa dokumen pun menghentikan kegiatannya. Ia melihat kelayar ponsel.
"Ck, kenapa dia telpon malam-malam begini?!" Ucap Viana melihat Maxim lah yang menelponnya. Sejak di bandara waktu itu, baru malam inilah Maxim menelponnya.
Viana mengangkat telpon itu.
"Ada apa?" Ucap Viana dengan nada malas.
"Hei kau melupakan ku?! Ini sudah tiga minggu kita tidak bertemu. Berikan alamat tempat tinggalmu." Ucap Maxim di balik telpon itu.
"Tidak akan!" Viana mematikan sambungan telpon.
Maxim menggerutu kesal karna Viana memutuskan sambungannya begitu saja. Tony yang kebetulan ada di apartemen nya terlihat kebingungan dengan tingkah sahabatnya ini.
"Kenapa mukamu ditekuk seperti itu?" Tanya Tony heran.
"Aku kesal! Kenapa dia selalu menolakku!" Lirih Maxim.
"Seorang wanita?" Tanya Tony. Maxim mengangguk mengiyakan.
"Pfftt... Hahaha... Kau menyukai seorang wanita?! Apa ini Maxim yang aku kenal?" Tony terkekeh.
Tony tahu jika Maxim tidak pernah menyukai wanita manapun. Walaupun Maxim selalu bermain-main dengan wanita, tetapi ia tidak pernah jatuh cinta pada wanita manapun. Karna menurutnya membawa wanita kedalam hatinya akan membahayakan dirinya sendiri. Dan benar saja, ketika ia sudah mencintai wanita tetapi ia selalu ditolak. Kini dirinya merasa lemah dengan itu.
"Aku juga tidak tau, bagaimana bisa aku mencintai wanita kasar itu... Heh." Maxim pun juga terkekeh dengan dirinya sendiri.
"Tetapi aku suka dengan kegigihannya. Ia terlihat keras tetapi di dalam hatinya ia begitu lemah." Tutur Maxim.
Tony menepuk-nepuk punggung Maxim. "Kau harus bersabar dan perjuangkan cintamu itu." Ujar Tony.
"Kau benar, aku harus bersabar dan terus memperjuangkannya. Oh ya, kau kapan mendapatkan wanita yang benar-benar menyentuh hatimu?"
Tony tampak berfikir. Tiba-tiba saja wajah Viana melintas dibenaknya. Ia pun menggeleng-gelengkan kepalanya. Tidak mungkin bukan Viana yang menyentuh hatinya? Tetapi sepertinya iya.
"Kau kenapa?" Heran Maxim.
"Ah... Tidak ada. Aku belum mendapatkan wanita yang benar-benar bisa menyentuh hatiku." Ucap Tony.
"Sepertinya sebentar lagi." Batin Tony.
"Aku doakan semoga kau secepatnya mendapatkan wanita pilihanmu. Aku juga berharap suatu hari nanti kita akan menikah bersama di pelaminan. Bagaimana?" Usul Maxim.
"Ide bagus!" Ujar Tony menyetujui usulan Maxim.
Keduanya saling berjabat tangan dan saling tersenyum. Mereka membayangkan akan menikah di satu pelaminan. Mereka tidak tahu, apa yang akan terjadi kedepannya.
.
.
.
TBC