
#Happy Reading's🌻
.
.
.
"Nara, Mama liat kamu cemberut terus dari tadi... Ada apa? Apa kalian sedang berantem?" Tanya Ranty melihat Nara sedari tadi cemberut saja.
"Nggak kok Mah... Nara udah kenyang, Nara mau jalan-jalan dulu sebentar di luar." Ucap Nara langsung berdiri meninggalkan Ansel yang masih memakan sarapan paginya.
"Ada apa dengannya? Apa aku melakukan sesuatu yang salah?" Pikir Ansel.
"Ah aku lupa! Pasti Nara masih marah mengenai tadi malam... ****! Kenapa aku sampe lupa buat minta maaf ya." Pikir Ansel kembali.
"Kalian ada masalah?" Tanya Dani.
"Nggak kok Yah kita baik-baik aja. Oh ya Ansel mau menyusul Nara ya Yah, Mah... Permisi." Pamit Ansel lalu menyusul Nara keluar.
Disetiap jalan, Nara terus saja menggerutu kesal. Setiap ada sesuatu di depannya misalkan botol, kaleng ataupun batu, ia tendang begitu saja.
"Katanya mau minta maaf! Tapi dia masih belum minta maaf! Dasar Ansel pembohong... Gila... Bren*sek!" Kesal Nara.
"Udah puas ngumpatnya?"
DEG
Nara menghentikan langkahnya. Ia membalikkan tubuhnya dan melihat Ansel yang sudah berdiri tegap dibelakangnya. Seperkian detik kemudian, Nara kembali membalikkan badannya dan mempercepat jalannya untuk menghindari Ansel.
Ansel tersenyum melihat tingkah Nara yang menggemaskan. "Ternyata dia nunggu ucapan maafku... Lucu sekali istriku ini." Kekehan Ansel lalu ia mengejar Nara.
"Nara tunggu..."
Ansel menarik lengan Nara dan menggandengnya. Nara berusaha melepaskan gandengannya, tetapi Ansel mempererat genggamannya.
"Kamu marah ya sama aku?" Tanya Ansel basa-basi.
"Udah tau nanya lagi!" Batin Nara tanpa menjawab pertanyaan Ansel.
"Tapi kalo kamu beneran marah masalah semalam, itu tidak masuk akal." Ucap Ansel.
"Tidak masuk akal pala lo pitak! Enak banget kalo ngomong!" Gerutu Nara dalam hati yang memilih tetap diam. Wajahnya semakin terlihat kesal dan itu membuat Ansel semakin senang menggodanya.
"Seharusnya sudah sepatutnya aku melihatnya lebih dari semalam... Akukan suami kamu dan tubuhmu ini adalah milikku juga." Goda Ansel.
BLUSH
Wajah Nara memerah, ia menghentikan langkahnya dan menatap Ansel dengan tajam. "Kamu bisa diem gak sih?! Udah sana balik aja kerumah! Aku lagi mau sendiri." Ketus Nara dan mempercepat langkahnya.
Ansel menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Kenapa jadi begini?" Ucapnya pada diri sendiri.
"Aku ada ide!" Ansel pun menyusul Nara, dan memeluknya.
"A~Ansel... Apa yang kamu lakukan?" Nara berusaha melepaskan pelukannya karna ia begitu malu diperhatikan oleh banyak orang disekitar itu.
"Maafkan aku... Aku tadi hanya membual saja tanpa ada maksud apa-apa. Begitu juga dengan kejadian semalam, aku benar-benar tidak sengaja melihatnya." Ucap Ansel.
"I~iya.... Tapi lepasin dulu, semua orang sedang memperhatikan kita!" Bisik Nara.
"Aku akan melepaskannya kalo kamu memaafkanku..."
"Ta~Tapi... Tapi jangan seperti ini!" Nara berusaha melepaskan pelukan Ansel.
"Wah... Neng Nara, ini suaminya ya? Ganteng banget... Udah gitu Romantis lagi." Ujar salah seorang tetangga.
Nara menanggapinya hanya tersenyum malu saja. "Ansel!!" Bisik Nara penuh penekanan.
"Maafkan aku dulu..." Balas bisik Ansel tepat di telinga Nara.
"Haish... Baiklah-baiklah aku memaafkanmu! Puas?! Cepet lepasin pelukannya Ansel... Aku sangat malu!"
Ansel tersenyum kemenangan. "Bicara dengan baik maka aku akan melepaskanmu."
"Sabar Nara... Jangan di banting dulu." Batin Nara yang amat-amat kesal.
"Ansel sayang... Aku memaafkanmu. Jadi tolong lepaskan aku ya." Ucap lembut Nara mengikuti permintaan Ansel.
Mendengar itu, Ansel mengulaskan senyumannya lalu melepaskan Nara. "Terimakasih sayang..." Ansel mengecup singkat pipi Nara.
"Aduh... Romantis banget kalian. Jadi keinget masa-masa muda. " Ucap salah seorang tetangga itu lagi.
"Saya dan suami saya permisi dulu bu..." Ucap sopan Nara.
"Oh iya silahkan..."
Nara menarik tangan Ansel menjauhi para tetangganya. Setelah jauh dari jangkauan tetangganya, Nara berhenti. Ia memukul-mukul Ansel.
"Dasar gila! Kenapa harus lakukan hal memalukan seperti tadi di tempat umum sih?! Gak tau malu... Ih!!!" Nara terus saja memukul-mukul Ansel tanpa ampun.
"Aduh! Aduh! Iya-iya aku minta maaf, aku minta maaf... Aduh hei, udah dong mukulnya."
"Jahat banget sih!"
Ansel memegang tangan Nara untuk menghentikannya. "It's oke, aku salah... Jadi aku minta maaf ya." Ucap lembut Ansel.
Nara terdiam ia tiba-tiba saja tersirih oleh ucapan lembut Ansel ditambah lagi dengan wajah tampan Ansel yang kini sudah mengeluarkan keringat dan terkesan begitu sexy.
"Ekhem... Oke aku maafin kamu. Tapi jika hal ini terjadi lagi, jangan pernah mengharapkan kata maafku lagi." Nara menetralkan dirinya.
Ansel memegang kedua telinganya lalu menunjukan puppy eyesnya yang begitu menggemaskan. "Aku janji gak akan mengulanginya lagi."
"Kenapa dia begitu imut sekali..." Batin Nara tercengang.
"Jangan sok imut! Ayo kembali kerumah." Ucap Nara mengubah ekspresinya.
"Jangan sok imut? Maksud kamu aku imut gitu?"
"Nggak!" Elak Nara seraya berjalan.
"Ayo ngaku aja... Aku benar-benar imutkan dimata kamu?" Tanya Ansel menyeimbangkan langkahnya dengan Nara.
"Nggak!"
"Iya!"
"Nggak!"
"Iya!"
"Aku bilang nggak ya nggak!" Tegas Nara.
"Aku bilang iya ya iya!" Balas Ansel.
Mereka berdua terus saja berdebat sampai rumah tanpa akhir.
"Pagi kak Viana..." Sapa Viona adiknya Viana.
"Pagi juga dek..." Balas sapa Viana.
"Pagi kak Tony..."
"Pagi Viona..." Balas Tony.
"Bun, kita sama Nara dan Ansel mau jalan-jalan disekitaran Bandung... Mungkin nanti langsung pulang ke ibu kota." Ucap Viana.
"Kalo begitu hati-hati." Tanpa banyak bicara lagi, Bundanya pergi melenggang masuk kedalam kamar.
"Kak, Bunda kenapa? Biasanya Bunda banyak bicara, tapi kenapa hari ini banyak diam ya?" Tanya heran Viona.
"Mungkin Bunda lagi capek atau banyak pikiran..." Ucap bohong Viana.
"Oh gitu ya..." Viona mengangguk-anggukan kepalanya.
"Aku tau Bunda masih sedikit marah dengan Viana. Tidak apa-apa, Viana sangat mengerti kalo Bunda benar-benar kecewa pada Viana." Batin Viana.
"Yaudah, kakak mau siap-siap dulu." Ujar Viana.
"Iya kak."
"Ayo sayang..." Ajak Viana pada Tony.
Setibanya dirumah, Nara dan Ansel langsung menuju kamar. "Aku dulu yang mandi." Ucap Nara mengambil handuk dan pakaian gantinya. Ia tidak mau kejadian semalam terulang kembali.
"Kita mandi bersama ya..." Pinta Ansel.
"Ogah!" Tolak Nara bergegas ke kamar mandi.
"Ayolah sayang... Kita mandi bersama. Aku janji gak akan macam-macam."
"GAK MAU!" Tegas Nara lalu menutup pintu kamar mandi dengan kencang.
"Baiklah... Untuk sekarang tidak, tapi nanti kita pasti mandi bersama." Tukas Ansel.
"Karna kamu diam, aku anggap kamu menyetujuinya." Tukas Ansel kembali.
"Benar-benar Ansel gila!" Lirih Nara dan ia pun menyelesaikan ritual mandinya.
Setelah semuanya bersiap, mereka berpamitan untuk pergi kembali ke ibu kota. Dan kini keempatnya sudah berada di dalam mobil. Posisi mereka berubah, Ansel mengemudi, Nara disamping Ansel sedangkan Viana dan Tony berada di belakang.
"Pernikahan kalian akan dimajukan kapan?" Tanya Nara.
"Minggu depan kita melangsung pernikahan." Jawab Viana.
"Terus pekerjaan lo gimana Vi?" Tanya Nara kembali.
"Untuk 2 hari nanti gue yang tetep handle perusahaan, abis itu digantikan sama uncle Edward deh."
"Oh..."
"Iya. Oh ya Ra, Ans, Ton kita jalan-jalan dulu yuk sebentar ketempat wahana daerah sini." Ujar Viana.
"Kita langsung pulang aja, aku gak mau kamu sampe kecapean Vi." Ucap Tony memegang tangan Viana.
Viana mengerucutkan bibirnya. "Pokoknya aku mau jalan-jalan ketempat wahana! Titik!" Kekehnya.
"Tapi..."
"Udahlah Ton... Turuti aja. Viana kan lagi hamil, mungkin itu bawaan dari bayinya." Sela Ansel yang dibalas anggukan Viana.
"Oke, tapi kamu jangan sampe kecapean Janji?"
Viana mengangguk cepat. "Janji."
Akhirnya mereka benar-benar pergi ketempat wahana yang masih disekitaran daerah Bandung. Suasananya sangat ramai, banyak sekali macam-macam wahana disana dan beberapa makanan ringan.
"Lo masih inget gak Ra dulu setiap liburan pasti kita kesini."
"Iya gue masih banget. Kita sering naik Roller Coster. Mumpung kita disini, ayo kita naik Roller Coster itu lagi."
"Ayo!" Semangat Viana.
"Gak boleh! Kamu gak boleh naik Roller Coster itu selagi hamil seperti ini. Kalo kamu kenapa-napa gimana?" Cemas Tony.
"Tapi aku mau naik Ton..."
"Tenang aja, gue bisa jagain Viana." Timpal Nara memegang pundak Viana.
"Nara, kita cari wahana yang lain aja ya. Benar kata Tony, Viana kan lagi hamil kalo dia dan bayinya kenapa-napa gimana?" Ucap Ansel dengan lembut.
"Oke-oke kita gak akan naik Roller Coster itu." Ucap Nara.
Dengan berat hati Viana pun mengikuti saran agar tidak naik Roller Coster. Lalu mereka berempat terpisah, Viana dan Tony pergi ke tempat melempar bola ke kaleng-kaleng, sedangkan Nara dan Ansel pergi ketempat memanah. Beralih pada Ansel dan Nara. Beberapa kali Nara menembakan anak panahnya yang meleset terus-menerus.
"Pfftt... Caramu memegang busur dan berdirinya salah. Begini..." Ansel membenarkan posisi kaki Nara dan pinggangnya. Lalu membenarkan posisi lengannya memegang busur.
"Fokuskan anak panah ini dan lihat titik targetmu." Ucap Ansel berada dibelakang tubuh Nara untuk memandunya.
"Ini terlalu dekat." Batin Nara menahan nafasnya karna posisi Ansel begitu dekat dengan dirinya.
"Satu, dua, tiga!"
SHUT
Satu anak panah berhasil tertancap ditengah target.
"Yeay berhasil!" Girang Nara. Ansel pun ikut tersenyum senang melihatnya.
"Ayo coba lagi." Ujar Ansel memberikan panah itu.
Selagi Nara sibuk menembakan anak panah, Ansel melihat penjual es krim di sebrang jalan tempat wahana tersebut.
"Aku akan membelikan es krim untukmu dulu."
"Iya." Jawab Nara yang tak lepas dari permainan memanahnya.
10 menit Nara menyelesaikan permainanya. Ia melihat-lihat kesekelilingnya mencari keberadaan Ansel yang belum datang-datang juga.
"Ansel kemana sih? lama banget beli es krimnya."
Ia menunggu Ansel tapi tetap saja Ansel tak kunjung datang. Pada akhirnya ia pergi mencari Ansel. Disaat Nara sedang mencari-cari keberadaan Ansel, ia melihat sekumpulan orang-orang berkerumun dekat penjual es krim. Karna penasaran, Nara pun menghampirinya.
"Permisi bu, itu ada apa ya ramai-ramai?" Tanya Nara pada seorang ibu-ibu.
"Oh itu ada kecelakaan neng. Mending si neng jangan liat deh... Ngeri banget soalnya." Ujar si ibu tersebut.
"Ngeri gimana bu?"
"Mukanya hancur tergusur aspal... Ngeri banget deh neng kalo di liat. Dari postur tubuhnya sih laki-laki itu sangat tampan, tapi sayang dia udah gak bisa tertolong."
Mendengar hal itu pikiran Nara tiba-tiba saja tertuju pada Ansel. Bukankah Ansel pergi membeli es krim? dan korban kecelakaan yang disebutkan ibu-ibu tadi tepat berada didepan penjual es krim bahkan ciri-ciri postur tubuhnya pun terdengar seperti Ansel. Tanpa pikir panjang lagi, Nara berlari menghampiri korban kecelakaan itu dengan hati yang was-was. Saat ia sudah berada didepan korban yang tengah tergeletak itu seketika jantung Nara berhenti, matanya membulat sempurna bahkan kakinya pun sangat lemas tak mampu untuk berdiri.
"Ba~baju itu..."
.
.
.
.
TBC
Hayo... Siapa kira-kira korban kecelakaan itu ya?🤔