
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Hiasan bunga dan beberapa dekorasi memenuhi ruangan. Kebahagiaan tampak terlihat diwajah semua orang. Hari ini adalah hari istimewa untuk Viana dan Tony. Ya, hari ini adalah hari pernikahan mereka. Kedua mempelai kini sedang mengucapkan janji dan sumpah pernikahan. Ketika ucapan sah terucap, rasa bahagia pun semakin terpancar. Sedikit ada rasa kesedihan dihati Viana karna Nara sampai saat ini belum juga datang.
"Kamu pasti sedih karna Nara belum datang." Ucap Tony mengelus punggung Viana. Ia berusaha menenangkannya.
"Iya, kenapa dia belum datang juga?" Viana Cemberut.
"Jangan cemberut gitu dong... Nanti cantiknya ilang. Ayo senyum..." Tony menarik kedua sudut bibir Viana.
"Nah kan kalo senyum begini cantiknya nambah dan enak dipandang." Godanya.
"Ish apaan sih!" Viana mencubit perut Tony.
"Aww... Kenapa dicubit? Sakit tau!"
"Gombal! Jangan digombalin lagi, aku takut atap gedung ini berlubang."
"Loh kenapa?"
"Takut aku terbang menembus atap gedung ini."
"Hahahaha...." Keduanya tertawa.
Disaat Viana dan Tony sedang bercanda gurau, suara yang selama acara ini ditunggu-tunggu akhirnya datang.
"Duh, duh, duh... Bahagianya pengantin baru..."
Seketika Viana dan Tony menoleh. "Ah... Nara!" Viana langsung memeluknya.
"Akhirnya lo dateng juga."
"Maaf ya gue sama Ansel telat. Tadi ada sedikit masalah disana."
"Masalah? Masalah apa?" Tanya Viana.
"Nanti gue ceritain. Kita rayakan dulu pernikahan lo." Ucap Nara.
Ansel dan Tony sedang berbincang-bincang dengan beberapa tamu undangan, sedangkan Nara dan Viana sedang berbincang-bincang dengan teman-teman mereka.
"Vi, gue duduk ya disana soalnya kaki gue pegel." Ujar Nara menunjukkan kearah kursi yang berada di pojokan.
"Iya." Balas Viaba lalu ia kembali berbincang-bincang dengan temannya.
Nara sejenak merenung dan raut sedih terlihat diwajahnya. Ansel yang sedari tadi memperhatikan istrinya dari kejauhan merasakan hal yang sama. Kejadian-kejadian yang terjadi di London sebelum mereka berangkat ke Indonesia tadi selalu berputar-putar di benak Nara.
Falshback on...
Dengan riang Nara memoleskan make up diwajahnya. Baru saja ia mempelajari merias wajah dengan melihat beberapa tutorial di youtube. Maklumlah Nara belum pernah merias wajahnya. Melihat istrinya merias diri, Ansel tersenyum lalu memeluknya dari belakang.
"Aduh! Ansel Awas dulu, aku ini sedang memakai lipstik... Nanti berantakan." Protes Nara.
"Kamu seharusnya hanya memakainya didepan suamimu saja! Tidak perlu menunjukan pada semua orang. Kalo mereka tertarik padamu bagaimana? Aku tidak suka itu!" Tutur Ansel yang masih memeluk Nara.
"Hei... Kalo aku tidak memoleskan make up diwajahku, nanti aku akan mempermalukanmu karna memiliki istri yang jelek dan tidak pandai merias."
Ansel membalikan tubuh Nara. "Kata siapa kamu jelek tanpa riasan apapun? Kamu selalu cantik dimataku."
"Itu menurutmu! Sudahlah jangan ganggu. Kita akan telat nanti. Aku akan tetap memoles wajahku di hari istimewa Viana dan Tony.
"Baiklah... Tapi ini yang terakhir. Jika aku melihatmu memakai riasan untuk diperlihatkan semua orang..."
Ansel berbisik. "Aku akan membuatmu tidak bisa berjalan satu hari penuh." Ancamnya lalu pergi ke kamar mandi.
"Sebelum itu terjadi, aku akan menghajarmu sampai babak belur!" Umpat pelan Nara dan melanjutkan kegiatannya.
Setelah selesai membereskan barang-barang dan bersih diri, Ansel dan Nara pun pun bergegas keluar. Tetapi kedatangan Elsa membuat mereka menundanya.
"Elsa?" Ansel mengerutkan alisnya.
PLAK
Tiba-tiba saja Elsa menampar Nara di depan lobi hotel. Banyak orang-orang memperhatikan mereka. Bisikan-bisikan orang-orang disekitar mulai terdengar.
"Apa yang kamu lakukan?!" Ansel mendorong tubuh Elsa.
"Kamu baik-baik saja sayang?" Tanya Ansel pada Nara dengan khawatir.
"Aku baik-baik saja." Jawabnya seraya memegangi pipinya.
"Dasar perempuan perebut! Aku tidak akan biarkan Ansel tetap bersama mu... Ansel milikku!" Teriak histeris Elsa. Lalu ia pun bangun hendak memukul Nara kembali. Ansel dengan sigap menarik tubuh Nara kebelakang tubuhnya berusaha melindungi.
"Kamu sudah gila Elsa! Atas dasar apa kamu memukul istriku!" Geram Ansel penuh amarah.
Elsa tersenyum meremehkan. "Atas dasar apa katamu?! Atas dasar dia telah merebut mu dariku! Gara-gara perempuan ini hubungan kita putus." Teriak Elsa seraya menangis. Ada rasa iba dihati Nara melihat Elsa menangis. Ada rasa bersalah juga dihatinya.
"Elsa, kita bisa bicarakan ini ditempat lain. Disini banyak orang yang menyaksikan." Ucap Nara.
"ELSA!" Bentak Ansel.
"Ikut aku..." Ansel menarik Elsa menjauhi kerumunan orang-orang.
"Lepaskan aku!" Ronta Elsa berusaha melepaskan cekalan Ansel.
Nara ingin mengikuti suaminya dan Elsa, tetapi ia dicegah oleh salah seorang wanita. "Dasar wanita perebut! Apa kamu tidak merasa kasihan pada wanita yang telah kamu rebut kekasihnya tadi? Apa kamu tidak mempunyai hati? Kamu tidak pantas disebut wanita heh!" Wanita itu pun pergi begitu saja.
Tatapan-tatapan tak suka terlihat dimata semua orang. Dada Nara terasa sesak. Ia pergi dan menenangkan dirinya disebuah taman yang tak jauh dari hotel.
"Ini bukan salahku... Aku tidak pernah merebut Ansel dari Elsa. Ini semua hanya salah paham. Aku harus menjelaskannya langsung pada Elsa." Nara menghampiri Ansel dan Elsa.
Langkahnya terhenti disaat Elsa memeluk Ansel. Senyum mengejek Elsa dibalik pelukan Ansel membuat Nara menghilangkan rasa iba dan bersalahnya. Ia tidak merasa sakit hati dengan ejekan Elsa, malah sebaliknya. Ia tau arti dari senyuman mengejeknya itu.
"Aku akan mengikuti permainan mu." Batin Nara.
Ia mendekati mereka berdua dan merubah mimik wajahnya menjadi marah. "Apa yang kalian lakukan?!" Ucap Nara.
Ansel mendorong Elsa menjauh dari tubuhnya. "Sayang... Ini tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku tidak..."
"Apa kamu tidak menghargai ku sebagai istrimu Ansel?"
"Kena kau! Aku akan merusak hubungan kalian. Dengan begitu, Ansel menjadi milikku lagi." Batin Elsa tersenyum menang.
Nara melirik sekilas kearah Elsa. "Aku tidak mudah dijebak." Batinnya.
Ansel kelabakan karna Nara salah paham dengannya. "Sayang... Aku tidak bermaksud seperti itu." Ansel memegang lengan Nara tetapi ditepis.
"Aku tidak butuh penjelasanmu!"
"Dasar wanita tak tau diri! Lihatlah Ansel... Wanita ini tidak mempercayaimu sedikit pun. Kamu salah membuatnya menjadi istrimu. Aku lebih pantas daripada dia!"
"Cukup Elsa! Aku sudah muak denganmu. Tidak ada yang lebih pantas menjadi istriku selain Nara. Kamu sedikitpun tidak pantas!!" Gertak Ansel.
"Kamu sudah dibutakan dengan perempuan perebut ini! Hei perempuan perebut, kau apakan Ansel sampai seperti ini? Beritahu aku bagaimana kamu menggodanya? Oh tidak-tidak, aku lebih ingin tau bagaimana kamu menaiki ranjangnya?"
Mendengar hal itu Nara mengepalkan tangannya menahan rasa emosi.
"ELSA!!" Ansel ingin memukulnya tetapi dicegah oleh Nara.
"Jangan kotori tanganmu. Apakah kamu tidak jijik dengan wajah pengemisnya itu?" Ucap Nara lembut membuat Elsa marah.
"Kau!" Tangannya melayangkan pukulannya di wajah Nara dan Nara langsung memegangnya.
Tangan sebelahnya meninju perut Elsa. "Huf!" Ia meniup kepalannya yang telah meninju perut Elsa.
"AKH!" Elsa terjatuh dan meringis kesakitan.
"An~Ansel... Dia memukulku!"
"Sayang... Kenapa malah kamu yang mengotori tanganmu. Berikan tanganmu, aku akan membersihkannya." Ansel membersihkan tangan Nara menggunakan sapu tangannya.
Nara mendekatkan dirinya pada Elsa. "Oh ya?"
Nara berbisik. "Aku tau siasat mu. Kamu ingin menjebakku bukan? Kamu ingin memisahkan aku dan Ansel. Asal kamu tau, aku tidak akan biarkan itu terjadi. Kamu bagiku hanyalah pengimis, yang haus akan cinta suamiku!" Setelah berbicara seperti itu, Nara pun berdiri dan mengajak Ansel pergi.
"AKH!!! Aku benci kalian! Ingat Nara, suatu saat nanti aku akan merebut kebahagiaan kalian! Aku juga akan membuat keturunan kalian sengsara! Aku bersumpah untuk itu!"
Langkah Nara dan Ansel terhenti mendengar sumpah Elsa. Nara hendak berbalik tetapi Ansel mencegahnya dan memberitahunya untuk mengabaikannya saja.
Flashback Off...
Sejak sumpah yang dilontarkan Elsa itulah Nara mulai risau dan khawatir. Ia takut sumpah Elsa menjadi kenyataan. Apalagi itu akan berdampak pada anak-anaknya nanti. Sebuah tepukan dipundaknya membuat lamunannya terhenti.
"Jangan dipikirkan." Ucap Ansel menenangkan.
Nara menyenderkan kepalanya dipundak Ansel. "Bagaimana jika Elsa berbuat sesuatu pada kita dan anak-anak kita nanti? Aku mengkhawatirkan itu."
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Jangan dipikirkan lagi ya..." Tutur Ansel.
Nara mengangguk. "Jika itu terjadi, mari kita berjuang bersama-sama." Nara mendongakkan kepalanya dan Ansel mencium keningnya singkat.
"Iya, kita akan menghadapinya bersama-sama. Aku orang pertama yang akan melindungi mu dan anak-anak kita nanti." Ucap Ansel. Nara mengeratkan pelukannya. Ia benar-benar bersyukur memiliki Ansel menjadi pendamping hidupnya.
.
.
.
.
TBC...
Hallo Reader's🙌🏻 Maafkeun Author ya baru up sekarang dan ngilang tiba-tiba kayak kentut... Author benar-benar sibuk dengan urusan kehidupan nyata Author. Semoga kalian memakluminya ya🙏
Ikuti terus jalan cerita Novel ini... Ada banyak kejutan di episode-episode berikutnya. Terimakasih bagi yang sudah menunggu dan terus mengikuti Novel Author ini🌹
Lope sekebon buat kalian❤❤❤