Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 25


#Happy Reading's🌻


.


.


.


Nara mengelilingi pasar malam seorang diri, tak ada yang menemaninya saat ini. Hati nya gundah, hati nya risau, dan hati nya bergetar ngilu memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Apa yg harus aku lakukan? Haruskah aku menyerah?" Lirih Nara lalu duduk di sebuah kursi.


"Hah... Tidak. Aku tidak akan menyerah begitu saja. Aku akan menyelamatkan hati Viana dari pria breng*ek itu! Walaupun hanya separuhnya saja, asalkan aku sudah berusaha meyakinkan Viana." Keluhnya.


"Jangan sampai, Viana memiliki trauma seperti ku. Itu akan menyulitkan hidupnya. Aku tau, ini bukan urusanku. Tetapi, Viana adalah sahabatku satu-satunya. Jadi aku harus berjuang demi kebaikannya." Lirihnya.


"Oke! Semangat Nara!" Nara pun beranjak dari duduknya, lalu kembali menghampiri Viana dan Ansel di wahana kincir ria. Tak selang beberapa lama, Viana dan Ansel sudah turun dari wahana tersebut.


Viana dan Ansel terlihat sangat gembira setelah turun dari kincir ria. Itu tak luput dari pandangan Nara. Nara terlihat menahan emosi, bukan karna ia cemburu tetapi ia meringis melihat bagaimana Ansel memperlakukan Viana dengan baik. Bagaimana jadinya jika Viana mengetahui sifat asli Ansel, dan bagaimana jika Viana mengetahui niat sebenarnya Ansel. Ah! Itu pasti akan menyakiti nya.


"Nara?" Viana melihat Nara berdiri yang tak jauh dari wahana kincir ria. Viana pun menghampiri Nara dan di ikuti oleh Ansel.


"Perempuan aneh!" Batin Ansel bingung melihat Nara. Tadi Nara pergi begitu saja karna marah akibat ulah nya, sekarang Nara berdiri menunggunya dan Viana yang terlihat tak terjadi apapun.


"Hei Ra... Lo dari mana aja?" Tanya Viana.


"Gue cuman keliling pasar malam tadi." Nara menatap Viana lalu beralih menatap Ansel dengan tajam.


"Ada apa dengannya? Tadi dia marah, sekarang baik-baik saja tanpa ada masalah apapun. Lo sungguh wanita yang menarik Nara." Batin Ansel membalas tatapan Nara.


"Oh... Ah ya, sekarang gue pengen kerumah hantu. Pasti bakal seru! Ini yang gue tunggu-tunggu dari tadi." Ucap Viana semangat.


Mendengar hal itu, Nara langsung menatap Viana terkejut. "Apa? Rumah hantu? Enggak deh Vi... Mending kita ke wahana lain aja ya." Ujar Nara.


"Kenapa? Lo takut ya? Dasar pengecut! Muka aja yang galak, tapi taunya takut sama hantu! Hahaha..." Ansel menertawakan Nara.


"Si~siapa bilang gue takut! Ayo Vi... Kita langsung aja ke rumah hantu nya!" Nara menarik lengan Viana. Ia tak terima jika dikatai pengecut oleh Ansel, walaupun sebenarnya ia sangat takut pada yang namanya hantu.


Mereka bertiga sudah berada di depan rumah hantu. Luarnya saja begitu terlihat menyeramkan bagi Nara, apalagi dalamnya. Nara hanya menelan salivanya dengan kasar sambil menatap rumah hantu itu.


"Ra, lo kan ta.... emmm...." Nara membungkan mulut Viana agar tak berbicara kelemahannya di depan Ansel.


"Udah jangan banyak bicara! Ayo..." Nara kembali menarik Viana kedalam rumah hantu tersebut. Ansel mengikutinya dari belakang.


Mereka sudah membayar tiket masuk. Perlahan mereka berjalan di ruangan-ruangan rumah hantu itu. Banyak jenis-jenis hantu yang mereka temui disana. Nara memegang erat tangan Viana, tangannya semakin bergetar ketika mereka bertiga semakin memasuki rumah hantu itu. Suara seram, nyanyian seram terdengar sangat menakutkan. Rasanya ingin sekali Nara lari dari sana. Tetapi ia gengsi dan tak mau kalah dari Ansel.


Sedangkan Viana menikmati suasana seram itu, ia sangat senang dan tak takut dengan hantu. Ya walaupun kadang ia juga terkejut jika hantu nya tiba-tiba datang dihadapannya dan mengejutkannya. Ansel sama halnya dengan Viana, ia terlihat biasa-biasa saja dan tak takut dengan hantu. Ansel yang berada di belakang Nara dan Viana, hanya tersenyum melihat Nara gemetaran dan terlihat takut.


"Udah tau takut sama hantu, tapi sok-sok an berani. Dasar keras kepala!" Batin Ansel menggelengkan kepala nya dan tersenyum kecil melihat Nara dari belakang.


Xixixixi ( Suara cekikikan hantu )


"Vi, masih jauh ya pintu keluarnya?" Bisik Nara pada Viana.


"Lumayan sih kayaknya. Kenapa? Lo udah gak kuat ya? Lo sih, sok-sok an pengen ikut kerumah hantu. Kan dari dulu lo takut banget sama hantu." Bisiknya Viana.


"Demi harga diri gue!" Balas bisikan Nara dan Viana hanya menggelengkan kepalanya saja.


Ketika mereka berada di ruangan lorong yang terlihat ada tiga jalan, mereka di kejutkan oleh hantu bohongan di pertigaan lorong ruangan itu. Tentu saja itu membuat ketiganya terkejut. Viana dan Ansel dengan spontan berlari kedepan lorong sedangkan Nara ia malah berbelok ke arah kanan lorong.


"Aaahhhhhhhh....." Nara terus berlari menyusuri lorong sambil menangis karna takut. Ia tak menyadari, Viana dan Ansel tidak bersamanya.


Hosh... Hosh... Hosh...


"Etdah tu hantu, bikin gue jantungan aja! Ra, lo gak apa-apa kan?" Viana menoleh kesamping, tetapi ia tak menemukan Nara.


"Ans, Nara dimana? Tadi bukannya ada di samping aku ya?" Panik Viana.


"Nara? Bukankah... Ah shit!! Pasti tadi dia berbelok arah!" Ansel juga tak kalah paniknya dengan Viana.


"Astaga!! Bagaimana ini?! Nara kan sangat takut dengan hantu! Dan Nara juga phasmophobia. Aku takut dia kenapa-napa disana." Panik Viana menjelaskan bahwa Nara phasmophobia ( pobia dengan hal mistis dan hantu ).


"APA?! Nara phasmophobia? Bagaimana ini terjadi? Ahh! Dia sangat keras kepala sekali!"


"Yasudah, kamu pergilah keluar dari tempat ini. Aku akan mencari Nara." Ucap Ansel kembali.


"Tapi, aku juga mau ikut Ans." Ujar Viana.


"Percayalah sama aku Vi... Aku gak mau kamu kenapa-napa, jadi kamu harus keluar terlebih dahulu dari sini lalu carilah bantuan." Ucap Ansel meyakinkan Viana. Dan Viana pun menyetujuinya.


"Baiklah, kamu harus hati-hati... Dan temukan Nara segera. Aku akan keluar dan mencari bantuan." Viana pun segera pergi mencari pintu keluar, sedangkan Ansel kembali kedalam mencari Nara.


"Nara... Lo harus baik-baik aja!" Lirih Ansel sambil berlari menyelusuri setiap lorong rumah hantu.


Sedangkan di satu sisi di sebuah ruang yang cukup gelap, dan banyak sekali sarang laba-laba. Nara meringkuk di balik meja yang usang dan menangis tersedu-sedu.


"Hiks... Gue mau pulang! Hiks... Hiks... Mamah, ayah, Rio... Tolong Nara. Nara takut! Hiks..." Nara menyembunyikan wajahnya dan mengingat kejadian dimana awal mula ia memiliki phasmophobia.


Flashback on


Di ruang yang gelap dan usang, terlihat seorang anak kecil berumuran 7 tahun meringkuk di lantai yang kotor. Ia menggigil kedinginan karna tak memakai alas apapun. Suasana dibandung memanglah sangat dingin ketika malam. Itulah yang dirasakan Nara kecil saat itu.


"Mamah, ayah... Tolong Nara!" Rintih Nara kedinginan dan ketakutan.


"Tolong Nara... Disini gelap!" Rintihnya kembali.


BYUR


Guyuran air dingin membasahi seluruh tubuh Nara. Ia semakin menggigil kedinginan.


"Di~dingin tante..."


"Hahaha... Ini balasan untuk orang tua kamu! Ranty dan Dani akan semakin menderita jika aku menghabisi mu malam ini dan membuang jasad mu kedalam hutan yang di penuhi oleh binatang buas dan juga hantu! Hahaha..." Ucap seorang wanita bernama Mira. Ia merupakan tante dari Nara dan adik tiri Ranty.


Mira sangat iri dengan kehidupan Ranty dan Dani. Dan ia juga tak terima semua harta warisan keluarganya di berikan pada Ranty yang jelas-jelas hanya anak tiri. Sedangkan ia anak kandungnya, hanya di berikan separuhnya saja.


"Ta~tante... To~tolong lepasin Na~ra..." Lirih Nara kedinginan dan juga takut.


"Diam! Dasar anak sia*an! Aku akan memberikan mu pada hantu penghuni gudang ini, jika kamu masih saja berisik!"


"Hiks... Ta~tante... Jangan... Aku~aku takut! Hiks, hiks..." Nara semakin takut mendengar kalimat tantenya yang menakutinya.


Mira semakin tertawa dengan keras mendengar rintihan ketakutan dari Nara. Sebenarnya jiwanya sudah tak waras atau gila.


"Hahaha... Aku suka melihat mu takut seperti ini! Hahaha..." Mira kembali tertawa keras, bahkan suaranya memenuhi gudang tua itu. Nara menutup kuping nya dengan erat.


Mira merogoh handphone nya dan memutar audio suara cekikikan hantu yang membuat Nara semakin histeris takut.


"Aahhh hentikan tante! Aku takut! Hiks..." Nara memegang kedua telinga nya dengan sangat kencang, dan membuat kepalanya terasa pusing. Tiba-tiba saja kesadaran Nara hilang, ia pingsan ketakutan dan kedinginan.


"Hahaha... Baru begitu saja pingsan! Dasar anak bod*h! Haha..."


BRAK


Suara dobrakan pintu gudang dengan keras, dan terlihat lah beberapa polisi menyergap Mira dan membawa Nara ke rumah sakit. Itulah awal mula Nara mengidap phasmophobia.


Flashback off