Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 54


#Happy Reading's🌻


.


.


.


Ansel mengambil kotak obat di dashboard mobilnya.


"Gue aja sini..." Pinta Nara ingin mengambil kotak obat, tapi Ansel mencegahnya.


"Aku aja... Berikan lengan mu." Ansel membuka kotak obatnya. Ia mengambil kapas dan di teteskannya alkohol ke kapas itu, lalu menekan-nekan kan kearah luka Nara.


Nara meringis mendapati lukanya di olesi kapas yang sudah dibaluri alkohol untuk membersihkan lukanya. Ansel begitu serius dan telaten mengobati lukanya. Nara memperhatikan wajah Ansel dari jarak dekat. Jantung nya dengan seiring berdetak kencang, entah kenapa itu Nara tak tahu.


"Kenapa dengan jantungku?" Batin Nara memegang dadanya.


"Ansel ternyata sangat tampan jika di liat dari dekat seperti ini. Tunggu-tunggu... Hei Nara! Plis, jangan ngelantur! Inget Bayu masih kekasih mu Nara!" Batin Nara meronta.


Sesudah membersihkan luka di lengan Nara, Ansel pun membaluti lukanya dengan kasa steril. Sudah membaluti perban di lengan Nara. Ia pun mengangkat wajahnya menatap Nara dari jarak dekat, malah sangat dekat. Nara menahan nafasnya.


"Kenapa tahan nafas?" Kekeh Ansel melihat Nara tengah menahan nafas.


"Si~siapa yang tahan nafas!" Elak gugup Nara dan memalingkan wajahnya.


"Pfft... Luka kamu sudah aku obati. Apa masih sakit?" Tanya Ansel menjauhkan wajahnya dan menatap lekat Nara.


"Tidak." Singkat Nara tak melihat kearah Ansel.


"Syukurlah. Aku sangat kagum kamu bisa melawan penjahat tadi walaupun lengan kamu sedang terluka." Kagum Ansel.


"Biasa saja. Cepatlah... Kita kerumah sakit." Nara mengalihkan pembicaraannya.


"Baiklah... Oh ya, keluarga mu sudah ada di rumah sakit. Roni sudah memberitahu mereka." Ujar Ansel.


"Terimakasih." Ucap Nara. Kini pandangan nya beralih ke arah Ansel.


"Sama-sama. Lain kali tak perlu berterimakasih. Aku ikhlas melakukan apapun jika itu menyangkutmu Nara." Ansel menatap lekat Nara.


"Aku harus tetap berterimakasih padamu, atau dengan siapapun itu jika menyangkut dengan keluarga ku." Balas Nara datar.


"Apa kamu sudah memaafkan aku?" Tanya Ansel.


"Aku akan belajar memaafkan kamu." Jawab Nara mengalihkan pandangannya kedepan.


"Eh kenapa pake aku-kamu gini sih ini lambe (Mulut)!" Gerutu Nara merutuki dirinya karna tak biasanya ia berbicara aku-kamu dengan Ansel.


"Terimakasih." Ansel menyentuh tangan Nara dan mengusapnya. Nara spontan menarik tangannya karna tak nyaman.


"Maaf. Ayo kita ke rumah sakit." Ansel pun menghidupkan mesin mobilnya dan melajukannya ke rumah sakit dimana Mario berada.


Sesampainya mereka di rumah sakit, keduanya turun dan menghampiri resepsionis rumah sakit dan menanyai nomor kamar Mario berada. Setelah mereka diberitahu nomor kamar Mario, keduanya pun berjalan menghampiri ruangan yang di tuju. Ansel dan Nara melihat kedua orang tua merekasudah berada dalam ruangan kamar Mario. Mario terlihat terbaring lemah dan banyak sekali luka lebam di wajahnya.


"Mario..." Nara menghampiri adiknya.


"Kakak..." Lirih Mario membalas pelukan Nara.


"Kenapa bisa kayak gini?" Tanya Nara dengan nada khawatir nya.


"Aku juga gak tau kak. Sewaktu aku mau pulang ke rumah, tiba-tiba aja segerombolan orang menghadang aku di tengah jalan. Dan mereka tiba-tiba nyerang aku, setelah itu aku gak tau lagi karna aku pingsan akibat pukulan mereka." Jelas Mario.


"Aku akan menyelidiki mereka." Sela Ansel.


"Terimakasih banyak ya nak Ansel. Maaf telah merepotkan nak Ansel." Ujar Ranty.


"Tidak merepotkan kok tan. Ansel ikhlas jika menyangkut dengan Nara." Senyum Ansel.


"Apa kamu menyukai Nara?" Dani tiba-tiba saja menyela dan berucap seperti itu pada Ansel. Semuanya menoleh kearah Dani tak terkecuali Nara.


"Ya, saya menyukai Nara om... Bahkan saya sudah mencintainya." Jujur Ansel. Nara terkejut mendengarnya, ia tak mengira Ansel begitu berani.


"Saya senang mendengarnya." Senyum Dani kearah Ansel.


"Bagaimana Abraham tawaran ku waktu itu? Bagaimana jika mereka kita jodohkan?" Tutur Dani kembali.


"Dijodohkan? Aku sangat mengharapkan itu." Batin Ansel senang.


"Apa-apaan ayah berbicara seperti itu?!" Batin Nara. Ia mengerutkan dahi nya.


"Tapi Ansel..." Belum sempat Abraham berbicara, Ansel menyela nya.


"Jika dad bertanya tentang hubungan ku dengan Elsa, itu akan aku urus nanti. Aku sudah berniat ingin memutuskannya. Ans sedari awal tidak mencintainya." Tutur Ansel.


"Dad selalu mendukung mu apapun keputusan mu Ans." Abraham menepuk-nepuk punggung Ansel.


"Jadi kesepakatan kita sudah bulat, jika mereka dijodohkan?" Antusias Dani.


"Apa ayah tidak menanyai keputusanku?!" Tanya Nara menahan emosinya. Ia sedari tadi hanya diam saja tidak menyahuti, tetapi kini ia mulai berbicara.


"Ah iya ayah lupa... Ayah pastikan kamu menyetujui ini." Senyum Dani melihat putrinya.


"Apa seyakin itu ayah berbicara seperti ini? Aku tidak akan menyetujui perjodohan gila ini!" Ujar Nara.


"Nara!!" Gertak Ranty.


Ansel mengepalkan kedua tangannya. Ia begitu marah mendengar perkataan yang di lontarkan Nara. Hatinya sangat sakit ketika Nara tak menyetujui perjodohan ini, walaupun Ansel sudah tahu jawabannya tetapi tetap saja terasa sakit.


"Mah, ayah... Aku tidak mau dijodohkan dengan Ansel! Karna aku sudah mempunyai pacar!"


Semuanya tampak diam dengan itu. Lalu Riani pun mulai berbicara.


"Benar kata Nara, kita tidak usah menjodohkan mereka berdua karna Nara sudah memiliki pacar." Lerai Riani.


"Kalo begitu, bawa pacar kamu ke rumah dan temui ayah." Lantang Dani.


"A~aku... Aku tidak bisa membawanya yah." Nara menunduk.


"Kenapa?" Tanya Dani.


"Dia sedang koma saat ini. Dan perkiraan dokter, itu akan memakan waktu panjang untuk dia sadar dari komanya." Jelas Nara. Terlihat guratan sedih di wajahnya. Ranty pun memeluk Nara.


"Yang sabar ya sayang." Ranty menenangkan Nara.


"Jika begitu, kamu terima saja perjodohan ini. Belum tentu dia akan bangun dari komanya." Tutur Dani.


Nara mendongakkan kepalanya menatap sang ayah. Ia tak menyangka jika ayahnya bisa berkata seperti itu.


"Ayah! Kenapa ayah berkata seperti itu? Apa ayah mendoakan Bayu tidak bangun?" Air mata Nara tak bisa terbendung lagi. Hatinya begitu sakit mendengar perkataan sang ayah.


"A~ayah tidak bermaksud seperti itu... Ayah..."


"Nara benar-benar tak menyangka ayah seperti ini!" Nara melenggang keluar dari ruangan.


"Nara..." Dani hendak menyusul Nara tetapi langkahnya di hentikan oleh Ansel.


"Biar saya saja om..." Ansel pun menyusul Nara keluar ruangan. Langkahnya terhenti melihat Nara terpaku berdiri di hadapan seorang wanita paruh baya.


.


.


.


TBC