Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 39


#Happy Reading's🌻


.


.


.


.


Dikantin, Nara dan Tiara saling diam, salah satu dari mereka tak ada yang membuka suara. Nara tengah sibuk dengan ponselnya, tidak menghiraukan siapa yang berada di depannya. Sedangkan Tiara, ia terlihat canggung.


"Ekhem... Nara, aku ingin bertanya." Tiara membuka suaranya dengan ragu.


"Apa?" Tanya Nara tanpa mengalihkan ponselnya.


"Emmm.... Bagaimana kamu bisa tau, kalo aku adalah pelakunya?" Tiara meremas-remas jemarinya karna gugup sekaligus canggung.


Nara menghentikan pandangannya pada ponselnya, lalu ia menatap Tiara. Nara mencondongkan tubuhnya.


"Menurut mu bagaimana?" Tanya Nara balik.


Tiara semakin gusar dengan pertanyaan balik Nara.


"A~aku ti~tidak tau. Makanya aku bertanya." Ucap Tira gemetar.


"Pfftt... Tidak usah takut seperti itu. Aku tidak akan mengigitmu! Begini...." Nara meceritakan kejadian dimana ia menemukan semua bukti yang mengarah pada Tiara. Ia tak sungkan-sungkan untuk bercerita pada Tiara.


Flashback on


Setelah rapat selesai, Nara mengajak Tari ke sebuah tempat. Sedangkan Diana, ia pergi ke toilet.


"Kita akan kemana Nara?" Tanya Tari.


"Menemukan kebenaran." Jawab Nara dengan seringai nya.


"Kebenaran?" Heran Tari yang terus mengikuti Nara.


Nara membawanya ke ruang cctv. Ia meminta sebuah rekaman pada salah satu penjaga disana. Dan untungnya, ia diperbolehkan untuk melihatnya. Nara dan Tari terus fokus pada rekaman cctv itu.


"Bukankah cctv ini tidak berfungsi?" Tanya heran Tari pada Nara sembari fokus melihat rekaman cctv itu.


"Kemarin pagi aku meminta pak Tian mengganti cctv nya untuk menjaga keamanan devisi kita." Jelas Nara. Tari hanya mengangguk mengiyakan.


Beberapa menit kemudian, terlihat di rekaman cctv itu seseorang tengah mengendap-endap mengambil sesuatu di sebuah laci dekat meja Tiara.


"Apa orang itu yang mengambil dokumen proposal kita?" Ujar Tari.


"Pak, tolong berhenti! Dan zoom orang itu..." Pinta Nara.


"Oh my god! Bukankah itu Tiara?" Tari terkejut melihat sosok yang mengambil dokumen proposal secara diam-diam itu ternyata Tiara. Tetapi Nara melihatnya biasa saja. Ia sudah menduganya sedari awal.


"Ya, kau benar. Itu Tiara..." Ucap Nara.


"Pak, bolehkah bapak kirim rekaman ini pada ponsel saya?" Pinta Nara kembali.


"Untuk apa? Rekaman cctv ini tidak bisa disimpan ke ponsel secara sembarangan dan ini pelanggaran! Itu sudah peraturan perusahaan!" Tolak petugas itu.


"Bukankah keamanan perusahaan adalah yang paling utama dan Bukankah itu juga salah satu peraturan perusahaan? Ini menyangkut keamanan perusahaan, orang di dalam itu telah merugikan devisi kami! Jadi, apa meminta bukti rekaman itu adalah sebuah pelanggaran?" Tegas Nara.


Dua petugas itu saling memandang satu sama lain mendengar ucapan yang dilontarkan Nara ada benarnya juga.


"Baiklah, kita akan kirim rekaman ini." Dan para petugas itu pun mengirim bukti rekaman pada Nara.


"Berhasil." Senyum Nara.


"Tari, pegang ini." Nara memberikan sebuah gelang.


"Gelang? Gelang siapa ini?" Tanya Tari memperhatikan gelang itu.


"Tiara." Singkat Nara, lalu ia keluar dari ruang cctv.


"Ba~bagaimana ini berada di kamu?" Heran Tari. Ia dibuat bingung oleh Nara. Ia baru mengetahui Nara sehebat itu dalam menyelesaikan sebuah masalah.


"Aku menemukannya di bawah laci."


Disaat tadi berpencar mencari dokumen proposal, Nara sempat melihat gelang itu dibawah laci. Dan itu bisa menjadi bukti kuat.


Flashback off


Tiara tercengang mendengar penjelasan Nara. Ia masih tak menyangka, Nara bisa secerdik itu. Ia menundukan kepalanya merasa bersalah dengan Nara.


"Tidak." Nara kembali membuka ponselnya.


"Be~benarkah? Terimakasih.... Maafkan aku." Tunduk Tiara menyesal.


"Sudah aku katakan, aku sudah memaafkan kamu. Dan tidak perlu berterimakasih." Nara berdiri hendak pergi. Dan sebelum ia pergi, ia menoleh pada Tiara.


"Lain kali, jika membenci seseorang tak perlu susah payah untuk merencanakan sesuatu yang bodoh untuk menjatuhkannya. Kamu hanya perlu, berbicara terus terang padanya bahwa kamu membencinya." Setelah berbicara seperti itu pada Tiara, Nara kembali melanjutkan langkahnya.


......


Di perusahaan IT Wihama Corp


"Tuan, diluar ada seseorang yang ingin bertemu dengan tuan." Ujar Roni asisten Ansel.


"Siapa?" Tanya Ansel yang tengah sibuk memeriksa berkas-berkas.


"Dia..." Belum sempat Roni melanjutkan bicaranya, Tony langsung masuk tanpa mengetuk pintu membuat Ansel dan Roni terperanjat kaget.


"Oy!! Kenapa harus minta ijin segala sih! Ribet amat..." Teriak Tony lalu duduk di sofa yang tak jauh dari kursi kerja Ansel.


"Eh keong racun! Gak sopan banget lo! Emang ini perusahaan lo apa, seenaknya aja masuk!" Kesal Ansel.


"Kelamaan kalo harus minta ijin dulu! Lagian kan ini gue bukan orang lain... Masa harus minta izin dulu!" Protes Tony.


"Terserah lo deh, cape gue ngasih tau muka keong racun kayak lo! Ada apa lo kesini?" Ansel menghentikan pekerjaannya.


"Enak aja lo! muka mirip Justine Bieber gini di katain muka keong racun! Gue kesini cuman mau nge-cek keadaan lo aja..." Jawab Tony.


"Nge cek apaan lo? Emangnya gue apanya lo, segala nge-cek - nge-cek gue!"


"Yoyoyo.... Gue kan sepupu lo, masa ngekhawatirin sepupunya sendiri salah sih?! Lo harusnya beruntung punya sepupu perhatian kayak gue!" Ucap Tony.


"Beruntung apanya gue?! Malah gue jijay di khawatirin macam muka keong racun kayak lo! Gue curiga, jangan-jangan lo suka lagi sama gue?!" Tunjuk Ansel pada Tony.


Bugh


Tony melempar bantal sofa kearah muka Ansel, dan itu tepat sasaran.


"Emang gue apaan suka sesama jenis! Gue normal, inget... Gue NORMAL!" Tony menekankan kata Normal.


"Lo berani lempar bantal ke gue?! Lo mau gue seret keluar dari kantor ini?" Kesal Ansel.


"Waduh... Sans mas bro!! Gue heran sama lo, tumben banget lo jam-jam segini sibuk sama pekerjaan lo. Biasanya, jam segini lo udah pergi ke club atau gak tiduran di sofa sambil ngelantur." Tony mengingat selama dua hari ini, setiap ia ke kantor Ansel pasti Ansel tak melakukan apapun selain memikirkan perempuannya.


"Bukan urusan lo, udah sana pergi lo dari kantor gue!" Usir Ansel.


"Yaelah... Gue kan baru nyampe. Seharusnya lo siapin gue kopi atau apa kek, masa tamu setampan gue langsung di usir!" Celoteh Tony.


"Mau gue siapin air panas segentong buat lo?!" Ansel menajamkan tatapan matanya pada Tony.


"Boleh juga, kebetulan badan gue udah lengket nih... Lumayan buat pake mandi gue."


"Tony..." Geram Ansel.


"Hahahaha... Gue becanda. Eh ya, gue bener-bener penasaran sama cewek yang lo bucinin itu. Secantik apa sih dia?!" Tony mengalihkan ucapan.


"Dia sangat cantik." Ansel membayangkan wajah Nara lalu tersenyum.


"Benarkah?"


"Ya. Dan yang paling gue kagumi itu kepribadiannya. Dia berbeda dari perempuan yang selama ini gue temui." Ucap Ansel kembali yang masih mebayangkan Nara.


"Ckck... Gue kasian sama cewek yang lo kagumi itu." Tony menggelang-gelengkan kepala nya, berusaha menggoda Ansel.


"Kasian apanya lo?!"


"Ya kasian aja... Dia sial banget dapet cowok playboy cap kadal kayak lo!" Setelah berbicara itu, Tony langsung bangkit dari duduknya dan langsung berlari keluar menghindari amukan dari Ansel.


"Brengsek lo!!" Ansel melayangkan pensil nya ke arah Tony. Tetapi itu sia-sia saja, karna Tony sudah terlebih dahulu keluar.


"Huft, Tony benar... Nara tidak pantas untuk ku yang playboy ini. Dia terlalu sempurna. Tapi, bagaimana pun caranya aku akan berusaha mendapatkan Nara. Biarlah, untuk terakhir kali ini aku egois." Pikir Ansel.


.


.


.


TBC