
🌻Happy Reading's
.
.
.
Nara dan Ansel sudah bersiap-siap, dan tak lupa mereka berpamitan terlebih dahulu pada Riani dan Abraham.
Kini mereka sedang berada didalam mobil. Posisi Nara di belakang bersama Ansel, sedangkan Viana di depan bersama Tony yang mengemudi mobil.
"Cepet lo ceritain sama kita alasan lo mau majuin pernikahan kalian." Ucap Ansel.
"Ah elah kadal ijo... Lo gak sabaran banget jadi orang." Tutur Tony.
"Ck... Cepet ceritain."
"Iya-iya gue ceritain..." Ujar Tony. Sebelum Tony menceritakan semuanya, ia melirik Viana untuk meminta persetujuannya. Viana pun tau maksud dari tatapan Tony dan ia mengangguk mengiyakan.
"Ada yang aneh." Batin Nara seraya memperhatikan tingkah Viana dan Tony secara bersamaan.
"Viana hamil."
"APA?!" Nara dan Ansel sangat terkejut mendengar itu.
"Wah-wah... Gue gak nyangka lo sebejat itu Ton." Ucap tak percaya Ansel.
"Ini bukan salah Tony... Ini salah gue." Timpal Viana.
"Vi, ceritain semuanya. Sebenernya apa yang terjadi diantara kalian sampe-sampe lo hamil kayak gini." Ujar Nara datar.
Dengan perlahan-lahan Viana menceritakan semua kejadian hari itu.
"Gue menyesal Ra karna gue gak bisa tahan hawa ***** gue." Isak Viana yang kini sudah menangis.
Nara mengelus pundak Viana berusaha untuk menenangkannya. Ia tau jika sahabatnya ini sangat salah, tetapi ia juga tidak tega melihatnya menangis. Tony yang berada disampingnya pun ikut menenangkannya dengan memegang tangannya dengan tangan sebelahnya.
"Udah ya, lo jangan nangis lagi. Gue tau lo salah, tapi takdir gak bisa di hindari." Ucap Nara.
"Yang Nara katakan benar, aku juga berfikir seperti itu. Ini tidak sepenuhnya salahmu..." Timpal Tony.
"Hiks... Makasih ya kalian udah ngertiin gue." Isak Viana terharu.
"Gue boleh pegang perut lo Vi?" Ucap Nara.
Viana mengusap air matanya. "Boleh." Jawab Viana tersenyum.
Nara pun memegang perut Viana, ia begitu senang. "Gue punya keponakan dari lo Vi." Ucap Nara seraya mengelus-mengelus perut Viana.
"Anggap bayi ini anak lo juga ya Ra." Ucap spontan Viana.
Nara menatap Viana. "Emangnya kenapa?" Tanyanya.
"Ng... Nggak kenapa-napa. Ya gue pengen aja anak gue nanti punya dua ibu." Jelas Viana.
Nara mendengarnya tersenyum. "Baiklah..."
"Gue mungkin gak selamanya liat anak gue tumbuh besar Ra. Kali ini, maafin gue sekali lagi karna gue bohong sama lo masalah penyakit gue." Batin Viana.
Ansel menarik tubuh Nara yang sedang memegangi perut Viana. "Aku juga bisa buat perut kamu berisi bayi seperti Viana." Ucap Ansel memeluk pinggang Nara dengan erat.
"A~apaan sih!" Gugup Nara berusaha melepaskan pelukan.
"Kita akan membuatnya nanti..." Ansel mendekati wajahnya ke wajah Nara.
"Woy Inget... Disini masih ada makhluk hidup!" Ujar Tony seraya melihat Ansel dan Nara dari kaca depan.
Nara langsung mendorong tubuh Ansel. "Ck... Iri aja lo keong racun!" Kesal Ansel.
"Hahaha... Nanti lo bisa lanjutin pas lagi berduaan. Jangan disini, nanti gue juga pengen masalahnya." Ucap Tony melirik Viana, yang membuat wajah Nara dan Viana bersemu merah mendengarnya.
"Dasar keong racun mata keranjang lo!" Ansel yang tepat berada di belakang Tony pun menoyorkan kepalanya.
"Aduh! Hey bro! Jangan sembarangan sentuh dong... Mahal nih kepala gue!"
"Berisik lo!" Mood Ansel menjadi tidak baik karna ulah Tony.
Jarak dari ibu kota ke Bandung tempat tinggal bundanya Viana, cukup memakan waktu banyak sehingga mereka berniat untuk singgah sebentar. Mereka singgah di salah satu restoran pondok bambu dekat pantai.
"Kalian mau pesan apa? Gue yang pesan." Ucap Tony menawarkan diri.
"Aku pengen hidangan seafood terbaik disini." Ucap Viana.
"Gue juga mau hidangan seafood terbaik disini."
"Gue samain aja kayak Nara."
Tak selang beberapa lama, makanan pesanan mereka pun datang. Mereka menyantapnya sampai habis.
"Ra, kita jalan-jalan dulu yuk ke pantai sebentar. Rasanya gue udah lama banget gak ke pantai." Pinta Viana.
"Ayo." Setuju Nara.
Nara dan Viana pergi kearah pantai meninggalkan Ansel dan Tony di restoran pondok bambu dekat pantai.
"Kita ikuti mereka, gue takut mereka kenapa-napa." Ujar Ansel dan dibalas anggukan Tony.
Nara dan Viana bergandengan tangan menyusuri pantai dan akhirnya mereka duduk di atas karang yang besar di pinggir pantai.
"Gue masih bener-bener gak nyangka lo adalah jodohnya Ansel." Ucap Viana serah menatap lurus memandangi pantai.
"Gue juga bener-bener gak nyangka yang bakal jadi istrinya Tony itu adalah lo. Dulu, gue nyangkanya bakal jadi istrinya Tony tapi... Takdir membawa gue kearah yang berbeda seperti sekarang ini." Balas Nara yang sama menatap lurus memandangi pantai.
Viana tersenyum lirih. "Memang, kita tidak bisa menyangkal takdir yang udah di garisi oleh tuhan."
Nara menyenderkan kepalanya di bahu Viana, begitu juga dengan Viana yang menyenderkan kepalanya dikepala Nara.
"Gue seneng, takdir tidak memisahkan kita." Lirih Nara.
"Iya." Balas lirih Viana.
"Ra... Kalo gue terjadi sesuatu, suatu saat nanti... Gue mau lo jadi ibu kedua dari anak gue." Ucap Viana dengan lirih.
Nara menegakkan tubuhnya dan menatap Viana dengan berkaca-kaca. "Lo jangan ngomong kayak gitu! Gue gak akan biarin lo pergi bahkan ninggalin anak lo sendiri!"
Viana memeluk Nara dan menanggahkan matanya keatas agar air matanya tidak jatuh. "Gue gak bermaksud ninggalin lo ataupun anak gue..."
Nara melepaskan pelukan Viana. "Terus maksud lo apaan hah ngomong kayak gitu?" Tegas Nara yang tak suka dengan ucapan Viana.
"Huft..." Viana menghembuskan nafasnya kasar, berusaha tenang dan tersenyum.
"Gue pernah liat di internet kalo ngelahirin itu bakal taruhin hidup dan mati... Jadi, gue cuman takut Ra." Bohong Viana.
Nara memeluk Viana kembali. "Lo jangan nakutin gue Vi... Gue yakin lo kuat! Lo gak bakal kenapa-napa, ada gue yang selalu doain lo Vi." Ucap Nara.
Mendengar hal itu, Viana begitu terharu. Air matanya tak bisa dibendung lagi, ia terisak menumpahkan semuanya.
Nara melepaskan pelukannya dan memegang pundak Viana. "Udah lo jangan khawatir ya Vi..." Nara menghapus air matanya Viana.
"Tapi lo harus janji dulu sama gue, kalo lo bakal jaga anak gue layaknya anak lo sendiri kalo suatu saat nanti gue bener-bener terjadi sesuatu."
"Iya gue janji." Nara mengangguk mengiyakan.
"Makasih..." Viana memegang kedua tangan Nara dan tersenyum.
"Udah yuk kita lanjutin perjalanannya. Ini udah mau sore." Ujar Nara.
"Iya ayo..." Nara membantu Viana berdiri. Ketika mereka berbalik, sudah ada Ansel dan Tony berdiri teoat dihadapan mereka. Mereka pun sangat terkejut.
"Kenapa muka kalian?" Tanya heran Viana melihat wajah Ansel dan Tony merah. Terutama pada bagian hidung dan mata.
"Ng~nggak apa-apa!!" Ansel dan Tony secara bersamaan menutup wajah mereka. Tetapi konyolnya, Ansel malah menutup wajah Tony bukan wajahnya begitu pun sebaliknya Tony pun menutupi wajah Ansel bukan menutupi wajahnya.
"Aneh!" Serentak Nara dan Viana lalu pergi dari hadapan Ansel dan Tony yang masih saling menutupi muka.
Ansel dan Tony melepaskan tangan mereka. "Kenapa gue dibikin nangis gini ya sama kisah mereka. Terutama ketika gue ngedenger kekhawatiran Viana... Gue juga takut Viana bener-bener ninggalin gue." Ucap Tony yang kembali menangis.
"Kenapa lo nangis? Cengeng banget lo jadi laki!" Ucap Ansel pada Tony yang tak menyadari dirinya pun ikut menangis tadi ketika mendengar percakapan antara Nara dan Viana.
Tanpa disadari Nara dan Viana, Ansel dan Tony mendengar percakapan mereka dari belakang hingga akhir dan itu membuat hati Ansel dan Tony terenyuh dan tanpa sadar juga mereka meneteskan air mata alias menangis.
"Eh pantat kadal! Lo gak sadar atau pura-pura gak sadar? Lo juga nangis kampret!" Kesal Tony.
"Kata siapa gue nangis?"
"Kalo lo gak nangis, kenapa mata lo ngeluarin air mata?! Jangan bilang lo dicolok sama nyi Roro Kidul?"
"Gue gak nangis! Mata gue ngeluarin air mata gara-gara mata gue kecolok jari gue sendiri bukan nyi Roro Kendul!" Sergah Ansel seraya menunjukan telunjuknya.
"Nyi Roro Kidul kamvret! Terserah lo dah... Bisa gila gue ngomong sama lo!" Tony pun pergi meninggalkan Ansel yang sedang mengerutuki dirinya sendiri karna bisa-bisanya ia menangis.
"Eh tungguin gue keong racun!" Ansel pun menyusul Tony.
.
.
.
TBC