
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Los Angeles
Viana melempar tas nya ke atas ranjang. Lalu ia duduk di pinggir kasurnya. Ia meremas rambutnya yang panjang merasakan rasa sakit di kepalanya. Akhir-akhir ini Viana sering mengeluh sakit di kepalanya. Ia tak ingin pergi ke dokter karna menurut nya ini hanyalah efek dari pekerjaan dan pikirannya saja.
"Hah..." Viana menghela nafasnya panjang. Ia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai mandi dan memakai piyama, ia pergi ke teras depan apartemen nya.
Viana memejamkan matanya, menghirup suasana malam yang sejuk di hidungnya.
"Ujian apakah ini tuhan?" Ucap Viana yang masih memejamkan matanya.
"Sahabat yang aku sayangi, begitu tega mengkhianati ku. Dulu aku menyayanginya tetapi sekarang? Heh... Aku bahkan tidak mau menyebut namanya. Aku sangat-sangat membencinya." Viana menggertakan giginya mengingat kejadian dimana Ansel berciuman dengan Nara.
"Kau juga Ansel... Kau sama saja dengannya. Aku begitu mencintai mu, tetapi kamu mengkhianati ku! Kalian memang sangat cocok. Pasangan yang menjijikan!" Viana pun kembali kedalam dan mengistirahatkan tubuhnya.
......
Sedikit informasi, untuk waktu di Los Angeles dan Indonesia berbeda ya:)
.
Setelah selesai rapat, Nara langsung kembali ke ruangannya. Tanpa memperdulikan Ansel yang menatapnya terus sedari tadi. Ingin sekali Ansel menyusul Nara, tetapi ia harus mengerjakan pekerjaannya.
"Tuan... Habis ini kita akan ada rapat dengan JR Corp." Ucap Roni memberitahu Ansel.
"Baiklah, kita berangkat sekarang." Ujar Ansel. Dan mereka berdua pun keluar dari perusahaan Swift Corp.
"Sebenarnya apa hubungan tuan dengan nona Nara ya?" Batin Roni. Ia sedari tadi selalu memperhatikan tuannya yang terus memperhatikan Nara. Ingin sekali Roni bertanya, tetapi nyalinya ciut. Ia tak berani megatakannya takut Ansel memarahinya karna terlalu mengikut campuri urusan pribadinya.
Tok... Tok...
Sebuah ketukan pintu menghentikan pekerjaan Nara.
"Masuklah..." Perintah Nara.
"Nara, ini ada beberapa berkas yang harus di tandatangani." Ujar Tari seraya memberikan dokumen. Nara pun mengambil dokumen itu dan menandatangani nya.
Setelah Nara selesai menandatangani, Tari masih belum juga pergi dari ruangan Nara.
"Ada apa lagi?" Tanya Nara melihat Tari berdiri dan terlihat berfikir.
"Emm, aku mau bertanya sesuatu." Ucap Tari.
"Apa?" Tanya Nara melihat Tari dengan serius.
"Apa kamu pacarnya tuan Ansel yang dari perusahaan Wihama Corp itu?" Tanya Tari penasaran. Sebenarnya Tari melihat kejadian tadi pagi, ketika Ansel menarik Nara dari Bayu. Ia bertanya-tanya tentang kejadian itu.
"Tidak." Jawab singkat Nara.
"Tapi, aku melihat..."
"Kamu hanya salah paham saja, sudahlah sana kembali ke pekerjaan mu." Pinta Nara tanpa ingin mendengar penjelasan Tari. Ia sangat jengah jika itu menyangkut Ansel.
"Baiklah..." Tari mengalah. Ia pun keluar dari ruangan Nara.
Nara memijat pelipisnya. "Haruskah aku pergi ke pulau pluto?! Hadeuh... Kenapa harus laki-laki macam Ansel yang harus hadir di kehidupan ku!" Gerutu Nara memijat pelipisnya.
Nara pun kembali pada pekerjaannya. Ia berusaha agar tetap fokus pada pekerjaannya. Walaupun hati dan pikirannya susah untuk di ajak kompromi agar tidak memikirkan Ansel dan Viana.
Hari pun semakin sore. Nara membereskan pekerjaannya untuk bersiap pulang. Ketika Nara sedang membereskan berkas-berkas, tiba-tiba saja ponselnya berbunyi menandakan sebuah notifikasi masuk. Nara pun membuka notifikasi itu.
Bayu
"Gue tunggu lo di depan perusahaan lo."
Begitulah pesan dari Bayu. Nara membalasnya.
Nara
"Baiklah..."
Nara menyimpan ponselnya ke dalam tas. Ia menghela nafasnya. Ia juga harus meminta maaf pada Bayu atas kejadian waktu pagi.
"Aku harus minta maaf sama Bayu..." Lirih Nara.
"Lama ya?" Tanya Nara.
"Enggak, baru aja gue dateng." Jawab Bayu lalu menyerahkan helmnya.
"Emm, Bayu... Gue minta maaf ya sama lo atas kejadian waktu pagi tadi." Ucap Nara. Sebelum memakai helmnya.
"Ini bukan salah lo. Mending kita bahasnya di cafe atau restoran aja... Gue udah laper nih." Ucap Bayu. Nara mengangguk mengiyakan, lalu ia memakai helmnya dan menaiki motor Bayu.
Restoran
Setelah memesan makanan dan minuman, Bayu dan Nara memulai pembicaraan mereka berdua.
"Gue minta maaf ya." Ujar Nara yang memulai pembicaraan.
"Gue udah bilang tadi, kalo ini bukan salah lo. Jadi lo gak usah minta maaf gitu ke gue." Jawab Bayu sembari memakan pesanannya.
"Gue ngerasa gak enak aja Bay sama lo..."
"Sudahlah... Lupakan aja." Ucap Bayu, Nara mengangguk. Mereka pun menghabiskan makanan mereka berdua.
"Ra..." Panggil Bayu setelah menyeka mulutnya menggunakan tisu.
"Iya?"
"Lo ada hubungan apa sama Ansel?" Tanya Bayu penasaran. Ia sangat penasaran, mengapa Ansel sebegitunya dengan Nara.
"Gak ada apa-apa." Jawab Nara.
"Terus kenapa Ansel waktu pagi segitunya sama lo? Padahalkan lo sama dia gak ada hubungan apa-apa." Ucap Bayu. Tatapannya menyelidiki Nara.
"Gue juga gak ngerti." Nara mengedikkan bahunya.
"Apa jangan-jangan Ansel suka sama lo?!"
"Gue gak tau." Nara tak ingin menjawab Bayu dengan sebetulnya. Ia tak ingin ada keributan di antara Bayu dan Ansel.
"Apa jangan-jangan keretakan persahabatan lo sama Viana itu ulah Ansel? Iya?" Selidik Bayu.
"Apa sih Bay... Udah lah jangan di bahas." Nara mengalihkan pandangannya tak ingin menatap Bayu.
"Jawab gue Nara..." Bayu memegang tangan Nara.
"Itu..." Nara masih enggan menatap Bayu. Ia menundukkan kepalanya, ia menyembunyikan matanya yang sudah berkaca-kaca.
"Tatap gue Nara... Apa benar yang gue katakan tadi?" Bayu terus mendesak Nara.
"Udah lah Bay... Jangan di bahas! Lo gak usah ikut campur urusan pribadi gue!" Nara melepaskan genggaman tangan Bayu. Ia pun bangkit dari duduknya dan pergi keluar restoran meninggalkan Bayu.
Bayu tak ingin Nara pergi begitu saja. Ia pun memberikan tip nya diatas meja lalu mengejar Nara. Ia menarik Nara, terlihat air mata Nara sudah merembes keluar dari pelupuk matanya.
Bayu menghapus air mata Nara. "Gue tau kalo itu semua karna Ansel." Bayu tak tahan melihat Nara bersedih. Ia pun memeluknya.
"Menangislah Nara... Gue tau, lo terus memendam semua ini sendiri. Gue juga tau kalo lo itu sangat lemah. Lo cuman pura-pura tegar di hadapan semua orang. Keluarkan semuanya Ra... Gue akan selalu bersama lo." Tutur Bayu memeluk Nara.
Mendengar itu, Nara tak kuasa menahan kesedihannya. Ia pun membalas pelukan Bayu dan melampiaskan semua kesedihannya. Nara sampai sesegukan. Ia tak peduli bahwa ia menangis di tempat umum, bahkan di pelukan Bayu. Ia terlihat begitu rapuh.
Bayu melepaskan pelukan Nara, ia menghapus air matanya.
"Jangan menangis lagi... Gue selalu ada buat lo. Plis, jangan pernah air mata ini keluar lagi dari mata indah lo ini. Terkecuali air mata kebahagiaan. Lo tau? Gue sakit ngeliat lo rapuh seperti ini. Ayo..." Bayu menuntun Nara ke motornya.
"Pake ini... Kita akan pulang. Lo gak perlu ngasih penjelasan apapun ke gue. Gue ngertiin lo kok." Senyum Bayu seraya memakaikan helm pada Nara.
Nara terdiam mendengar setiap kata yang di lontarkan Bayu. Hatinya tersentuh dengan itu. Sebelum Bayu naik dari motor, Nara memeluknya dari belakang.
"Hiks... Terimakasih... Terimakasih Bayu." Peluk Nara sembari menangis.
Bayu memegang tangan Nara dan berbalik.
"Lo gak usah berterimakasih... Ayo naik ke motor, gue antar lo pulang." Ucap Bayu.
"Iya." Nara mengangguk dan menaiki motor Bayu.
.
.
.
TBC