
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Sepulang kerja, Nara dan Viana menuju rumah kontrakan mereka. Setibanya disana Nara menghentikan Viana yang hendak pergi ke kamarnya, Viana pun menoleh pada Nara.
"Vi, lo harus benar-benar menjauhi Ansel." Nara lagi-lagi memperingati Viana.
"Ra... Udahlah gue capek ya, jangan bahas itu sekarang."
"Tapi...."
Viana yang sudah lelah pun langsung masuk ke kamarnya tanpa mendengar ocehan sahabatnya. Nara dengan kesal menghembuskan nafasnya dengan kasar. Lalu ia juga masuk ke dalam kamarnya untuk merehatkan tubuh dan raganya yang sudah sangat lelah.
Setelah selesai membersihkan diri, Nara mebaringkan tubuhnya diatas kasur. Ia menutup matanya perlahan, tetapi tiba-tiba saja sebuah ingatan kejadian di belakang restoran terlintas di benaknya. Nara pun kembali membuka matanya.
"Huft, gimana caranya gue ngejauhin Viana dari Ansel ya?"
"Ahhh bodo amat lah... Gue gak usah pikirin itu sekarang. Alam mimpi gue udah manggil-manggil gue disana." Nara terlelap dalam tidurnya.
Pagi Harinya
Sinar mentari sudah muncul di upuk timur. Hari ini adalah hari dimana dua makhluk untuk bermalas-malasan. Nara dan Viana masih sibuk dengan mimpinya sampai pukul 08:00 pagi. Tak selang beberapa lama, dering ponsel Viana berbunyi.
Drrttt... Drtt... Drtt...
"Ahh... Berisik banget sih! Gak tau apa hari ini hari weekend. Hari tersantuy buat gue!" Dengan malas dan kesal, Viana mengangkat telpon tersebut dengan mata masih tertutup.
"Halo..." Ucap Viana dengan khas bangun tidur.
"Halo Viana... Masih tidur ya?" Ucap seseorang itu disebrang telpon.
"Udah tau nanya lagi! Siapa sih ini... Ganggu aja!"
"Ah maaf gue ganggu lo ya. Ini gue Ansel, masa lo gak nyimpen nomor handphone gue sih."
Ucap Ansel disebarang telpon dengan nada yang sedikit merajuk. Padahal itu hanya akal-akalnya saja berupa-pura merajuk pada Viana.
"Ansel? HAH ANSEL!?" Ketika mendengar kata Ansel, Viana yang tadinya masih menutup matanya kini ia membuka matanya lebar-lebar karna terkejut.
"Iya ini gue Ansel."
"Oh, eh, iya... An~Ansel a~ada apa ya telpon gue pagi-pagi gini?" Tanya Viana dengan menahan rasa riangnya.
"Gue pengen ngajak lo joging pagi di taman dekat rumah kontrakan lo. Mau kan?" Ajak Ansel.
"Jo~joging? Oke, gue siap-siap dulu ya. Lo tunggu aja disana." Ucap Viana dengan sangat semangat.
"Oke."
Ansel pun mengakhiri sambungan telponnya dan bersiap-siap joging. Rencananya kini berhasil untuk mengajak Viana joging berdua dengannya dan membuat Viana semakin tertarik padanya.
Viana dengan beribu semangat dengan cepat membersihkan badannya dan bersiap-siap. Nara yang masih tertidur pun terbangun oleh suara gerupuhan Viana yang sangat berisik dan membuat Nara terusik. Nara dengan malasnya keluar dari kamarnya untuk mengecek ada apa dengan Viana yang sangat berisik sekali.
Tok... Tok...
Ketuk Nara mengetuk pintu kamar Viana, agak lama Nara mengetuk pintu kamar Viana akhirnya pemilik kamar itu pun membuka pintunya. Nara sangat terkejut ketika melihat Viana. Bagaimana tidak terkejut? Viana berpenampilan aneh pagi ini, dengan memakai celana joger, memakai kaos putih yang ketat.
Dari segi penampilan sangat jelas bahwa Viana ingin pergi berolahraga, tetapi ketika melihat wajah Viana ia terlihat seperti ingin arisan atau pergi kepesta. Lipstik merah menyala dan bedak yang sedikit tebal. Nara memgkerutkan kedua alisnya melihat penampilan Viana.
"Kenapa lo liatin gue kayak gitu? Gue udah cantik kan?" Tanya Viana pada Nara.
"Ah... Kenapa lo ngomong gitu sih! Gue kan mau joging tau... Mana ada kondangan pake kayak ginian." Cemberut Viana.
"Dikira gue lo mau joging sambil kondangan... Pffttt." Nara menahan tawanya.
"Hishh udah napa ngejeknya! Eh tau gak tadi siapa yang pagi-pagi telpon gue, terus ngajak gue joging?" Yang tadinya cemberut, kini Viana terlihat gembira kembali mengingat siapa yang menelpon dan mengajaknya joging.
"Mana gue tau... Gue kan bukan bayangan lo, yang tau segalanya tentang lo."
"Gue serius Ra..."
"Gue juga serius Vi..."
"Haish... Tadi Ansel nelpon gue, abis itu dia ngajak joging deh."
"Oh." Nara hanya ber-oh ria saja mendengar ucapan Viana. Nara sudah jengah dengan yang namanya Ansel.
"Kok oh doang sih. Lo mau ikut gak?" Tawar Viana. Nara memikirkan sesuatu, dan ia mempunyai rencana kali ini.
"Eum boleh... Lo tungguin gue ya, sebentar gue mau siap-siap dulu." Ucap Nara dan dibalas anggukan oleh Viana.
"Lihat aja lo Ansel! gue tau lo punya niat untuk mendekati Viana lebih dekat lagi, dan membuat Viana lebih suka sama lo. Gua bakal rusak rencana lo itu." Smrik Nara dalam hati, ketika memikirkan rencananya.
Tak membutuhkan waktu lama, Nara sudah bersiap. Ia tak membutuhkan waktu lama untuk bersiap-siap berjoging saja.
"Udah yuk..." Ucap Nara menghampiri Viana yang sedang menunggunya diteras depan.
"Lo gini doang?" tanya Viana.
"Iya, memangnya kenapa? Ada yang aneh?" Tanya Nara memperhatikan penampilannya.
Nara berpenampilan sederhana, dengan memakai celana lejing panjang, baju kaos yang sedikit kebesaran, rambut di kuncir kuda yang membiarkan anak-anak rambutnya di biarkan terurai oleh Nara, dan ia tak memakai polesan apapun di wajahnya sehingga terlihat wajah Nara yang cantik alami.
"Nggk ada sih hehe... Udah yuk, Ansel pasti udah nungguin kita." Ajak Viana.
"Syukur deh Nara tidak memoles wajahnya dengan make up. Gue pastikan Ansel akan mandang gue terus." Gumam Viana dalam hati.
Mereka berdua pun pergi berlari ke taman kota yang tak jauh dari rumah kontrakan mereka. Sesampainya mereka di sana, taman kota sangat ramai sekali. Karna banyak orang-orang yang berolahraga di taman kota. Taman kota merupakan pusatnya melakukan aktifitas berolahraga, dengan lingkungan yang sangat luas.
Viana terlihat celingak-celingukan melihat lingkungan sekitar mencari sosok Ansel. Dan tak lama kemudian, terlihat Ansel memanggil nama Viana dari arah kejauhan. Melihat itu Viana pun menghampiri Ansel yang di ikuti Nara dari belakang.
"Hai Ans..." Sapa Viana.
"Hai juga Viana." Balas sapa Ansel dengan senyum di bibirnya. Ketika Ansel melihat kearah samping Viana, Ansel tersentak kaget melihat penampilan Nara yang tanpa polesan apapun di wajahnya.
"Tidak ku sangka... Cantiknya masih terlihat walaupun tidak memakai make up di wajahnya sekalipun." Lirih Ansel dalam hati yang pandangan masih menatap Nara.
Viana yang melihat Ansel terus memandangi Nara, ia terlihat kesal. Sedangkan Nara yang merasa Ansel terus memandangi nya, ia sangat risih dan rasanya Nara ingin sekali mencongkel mata Ansel yang terus memandangi nya.
"Ekhem..." Viana ber dehem mencairkan suasana. Ansel pun tersentak.
"Eh ya... Ayo kita kelilingi taman kota." Ajak Ansel.
"Ayo." Ucap Viana dengan semangat, tetapi tidak dengan Nara yang hanya diam saja. Mereka pun joging dengan mengelilingi taman kota.
.
.
.
TBC