
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Malam hari pun tiba. Malam ini Nara dan Viana hendak pergi ke prom night kampus mereka. Keduanya tengah berdandan dan berganti pakaian. Nara menggunakan gaun berwarna hitam, menjuntai sampai kakinya. Sobekan di sebelah kaki kirinya menambah kesan sexi dan elegan, dengan gaya rambut terurai.
Sedangkan Viana, ia memakai gaun diatas lutut berwarna merah terang. Lekukan tubuhnya begitu terpampang terkesan sangat sexi. Rambutnya di cepol keatas menyisakan anak rambut nya. Sungguh sempurna penampilan keduanya.
"Viana... Udah dong, gue gak mau menor-menor kayak lo!" Ucap Nara pada Viana yang tengah memakaikan lipstik pada Nara.
"Malam ini aja Nara..." Kekehan Viana yang terus memoleskan lipstik di bibir Nara.
"Udah!!" Nara menyingkirkan tangan Viana
"Oke-oke..." Viana akhirnya mengalah.
"Udah yuk, nanti kita telat lagi."
Nara dan Viana pun berangkat ke kampus dengan memesan taxi online. Mereka berdua kini sudah berada di kampus. Ketika mereka turun dari taxi, semua mata memandang mereka dengan takjub. Nara dan Viana berjalan menuju aula kampus.
"Gila! Mereka cantik banget!"
"Bidadari-bidadari gue..."
"Andaikan gue di tengah mereka, pasti bakal sempurna deh hidup gue."
"Dua calon bini gue!"
"Ya ampun... Jodoh gue bening banget malem ini!"
Dan masih banyak lagi pujian-pujian para kaum lelaki. Viana memperlihatkan senyumannya dan membalas setiap pandangan laki-laki. Sedangkan Nara, wajah nya tak berekspresi apa-apa. Ia hanya memandang lurus jalan saja tanpa minat membalas pandangan laki-laki.
Nara dan Viana sudah sampai di aula kampus. Yang mereka temui adalah Ansel dan Bayu, keduanya sudah berada di dalam aula. Nara dan Viana pun menghampiri mereka yang tengah memperhatikan mc acara yang sudah memulai acaranya.
"Sayang..." Panggil Viana pada Ansel. Dan Ansel pun menengok kearahnya.
Ansel memperhatikan penampilan Viana dari ujung kaki sampai kepala. Entah kenapa Ansel terlihat biasa-biasa saja melihat penampilan itu. Ia tak aneh lagi melihat Viana terlihat sexi seperti itu, memang Ansel akui bahwa Viana begitu mempesona dan juga sangat cantik. Tetapi hatinya terlihat biasa saja tidak merespon.
"Hai Bay..." Nara muncul dari arah belakang, membawa secangkir minuman. Awalnya ia berada di samping Viana, tetapi waktu ia ingin menuju kearah Ansel dan Bayu dirinya melihat meja yang berisi beberapa minuman dan ia pun mengambilnya terlebih dahulu.
"Nara?" Bayu terpesona dengan penampilan Nara saat ini.
Begitu juga dengan Ansel, ia mengalihkan pandangannya pada Nara. untuk yang kedua kalinya ia terhipnotis dengan penampilan nya yang begitu berbeda dan cantik. Tak henti-hentinya Ansel mematap Nara sampai Nara sudah berada di depan nya, bukan tetapi tepat di hadapan Bayu. Ansel begitu jelas melihat kecantikan Nara. Viana memperhatikan tingkah Ansel untuk yang ke sekian kalinya.
"Aku harap, kamu tidak menyukainya Ans." Batin Viana melihat wajah Ansel, sedangkan Ansel masih tetap menatap Nara tanpa mengedip.
"Kenapa lo membuat gue begitu terpincut sama lo Nara?! Kenapa lo hadir di hati gue? dan kenapa juga gue bisa cinta sama lo? Padahalkan gue udah banyak pacarin cewek-cewek cantik. Tapi gue mengaku, lo berbeda Ra dari cewek-cewek yang pernah gue temui." Batin Ansel yang terus menatap Nara.
"Ini beneran kamu Nara?" Tanya tak percaya Bayu.
"Bukan, ini cuman roh nya. Ya iyalah, ini gue Nara... Kenapa, gue cantik banget ya?" Percaya diri Nara pada Bayu.
"Sangat sempurna..." Bayu mengacungkan kedua jempolnya.
"Hahahaha... Bisa saja. Yang lebih sempurna itu Viana, iya kan Vi?" Ucap Nara lalu menoleh pada Viana.
Ketika Nara menoleh kearah Viana. Ia terkejut sekaligus bingung melihat pemandangan di depan nya. Yang tak lain, ia melihat Viana menatap Ansel dengan tatapan sendu dan terlihat sedih. Sedangkan Ansel, malah menatap dirinya dengan tatapan begitu dalam. Bayu yang melihat Nara terpaku, ia pun juga ikut menatap kearah Viana dan Ansel.
"Hei! Ada apa dengan kalian?" Tanya bingung Bayu.
Mendengar itu, keduanya tersadar dati pikiran mereka masing-masing.
"Ikut gue." Ansel menarik tangan Nara.
"Eh, mau dibawa kemana Nara?!" Cegah Bayu menahan Ansel.
"Buka urusan lo!" Ansel mendorong Bayu lalu melanjutkan langkahnya membawa Nara. Lagi-lagi Bayu mencegah. Ia menahan tangan Nara yang satunya. Ansel pun terhenti, lalu ia menatap tajam Bayu. Bayu pun tak mau kalah, ia juga menatap tatapan Ansel.
"Lepasin tangan lo dari tangan Nara!" Geram Ansel menggertakan giginya.
"Gue gak mau! Lo yang lepasin tangan lo dari Nara!" Tegas Bayu.
"Ahh!! Tangan gue sakit Bayu, Ansel!!" Nara menggaduh kesakitan menahan rasa sakitnya di kedua pergelangan tangannya.
"Lepasin breng*ek!" Geram Ansel kembali.
"Bayu..." Lirih Nara mengangguk pada Bayu, ia memberitahu bahwa dirinya akan baik-baik saja. Dan Bayu pun melepaskan ny mengikuti perintah Nara. Ansel pun menarik kembali Nara.
Nara terus meronta ingin dilepaskan, tetapi Ansel tak memberinya celah untuk bebas. Ansel terus menyeret Nara sampai belakang kampus. Setelah sampai disana, Ansel melepaskan cekalan tangannya.
"Lo apa-apaan sih hah!!" Teriak Nara.
Srekk
Ansel menarik lengan Nara dan merangkul pingangganya ke pelukannya. Ansel menatap bola mata Nara dalam-dalam, begitu pun dengan Nara. Hingga entah apa yang mendorong Ansel, ia ingin mencium Nara. Tetapi Nara dengan sigap langsung mendorong nya dengan keras.
"BRENG*EK! Lo apa-apaan sih Ansel!" Nara menahan rasa takutnya. Ia juga sangat kesal pada Ansel yang sangat kurang ngajar padanya.
"GUE UDAH PERNAH BILANG SAMA LO NARA, KALO GUE CINTA SAMA LO!" Teriak Ansel dengan emosi. Nara membeku, melihat kemarahan Ansel. Ia masih tetap tak percaya dengan apa yang di ucapkan Ansel.
Ansel menghampiri Nara lalu memeluknya.
"Percaya sama gue Ra, gue benar-benar cinta sama lo." Ucap Ansel di dalam eolukan Nara.
"Apa mau lo?" Tanya Nara tanpa membalas pelukan Ansel.
Ansel melepas pelukannya dan menatap lekat Nara. "Gue mau, lo terima cinta gue." Jawab Ansel dengan lantang.
"Lo mau gue terima lo? Heh..." Kekehan Nara.
"LO SADAR GAK SAMA UCAPAN LO HAH?! LO MASIH PUNYA VIANA, DAN LO SEENAKNYA BILANG KALO LO CINTA SAMA GUE?! LO EMANG BRENG*EK ANSEL!" Teriak Nara.
"YA! MEMANG... MEMANG GUE BRENGSEK NARA! GUE AKUI KALO GUE ITU BRENGSEK! GUE BRENGSEK SAMPAI-SAMPAI GUE JATUH CINTA SAMA LO DAN INGIN MEMILIKI LO! SI BRENGSEK INI SUDAH JATUH CINTA SAMA CEWEK KAYAK LO!" Tegas Ansel. Matanya memerah menahan rasa sakit di ulu hatinya. Ia merasakan betapa kecawanya pada dirinya sendiri.
"Lo benar-benar breng*ek! Dan gue benci itu! Gue mohon, tolong tinggalkan Viana dan pergi dari kehidupan gu..."
CUP
Ansel tahu apa yang ingin dikatakan Nara. Ia tak ingin mendengar perkataan Nara selanjutnya. Hatinya sangat sakit saat kalimat itu di lontarkan. Ansel langsung membungkamnya dengan ciuman.
PRANG
Sebuah gelas terjatuh mengejutkan Ansel dan Nara. Keduanya menoleh kearah suara itu.
"Viana?"
"Viana?"
.
.
.
TBC