
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Kedua perusahaan itu tengah membicarakan kerjasamanya. Nara berusaha tetap bersikap profesional, begitu juga Ansel. Walaupun Ansel sesekali memperhatikan Nara dengan penuh arti.
"Baik, jadi kerjasama kita dimulai hari ini. Saya harap kedua belah pihak mendapatkan keuntungan masing-masing." Jelas Ansel.
"Saya harap juga seperti itu. Saya sangat berterimakasih kepada tuan Ansel yang telah menerima kerjasama dari perusahaan kami." Ucap pak Tian.
"Sama-sama. Oh ya, rapatnya di majukan saja jadi besok tidak lusa. Karna lusa saya ada janji dengan seseorang." Ujar Ansel.
"Baiklah, jam 10 pagi kita mulai rapat nya." Pak Tian tersenyum.
"Ya, saya harap bu Nara juga mengikuti rapatnya." Ansel melihat Nara yang berada di hadapannya. Duduk saling bersebrangan.
Nara yang sedang minum, langsung tersedak mendengar ucapan Ansel.
"Maaf tuan Ansel, pekerjaan saya tidak menyangkut dengan kerjasama ini." Nara berusaha tersenyum pada Ansel, walaupun hatinya mengumpati Ansel.
"Bukankah bu Nara ketua bagian produksi periklanan? Ini juga menyangkut dengan produksi periklanan. Kerjasama kita, mengiklankan sebuah alat teknologi dari perusahaan ku." Jelas Ansel.
"Aku mengerti tuan Ansel... Dan itu bukan tugas saya. Itu tugas salah satu pegawai devisi saya." Tegas Nara.
"Alangkah baiknya, itu langsung di wakili dengan ketua devisinya. Bukankah begitu pak Tian?" Tanya Ansel. Ia melirik pak Tian dengan tajam mengisyaratkan agar pak Tian menyetujui ucapannya. Pak Tian pun mengerti hal itu.
"I~iya... Itu lebih baik ditangani langsung denganmu Nara." Ucap pak Tian.
"Nara?! Bukankah pak Tian harus memanggilnya dengan sebutan bu juga? Itu terlalu tidak formal dan tidak sopan jika langsung memanggilnya nama!" Ansel sangat kesal ketika pak Tian memanggil Nara dengan begitu akrab. Pak Tian, Mira, bahkan Roni pun terheran-heran dengan perkataan Ansel.
"Kenapa si bos? Kan pak Tian gak salah ngomong. Apa si bos cemburu ya? Tapi apa hubungannya dengan bu Nara?" Pikir Roni memperhatikan gelagat Ansel. Ia bingung dengan sikap atasannya ini sedari awal bertemu Nara.
"Apa aku salah jika menyebutnya seperti itu?" Batin pak Tian juga dengan bingung.
"Apa hubungan tuan Ansel dan Nara? Apa mereka sedekat itu?" Lirih Mira dalam hati memperhatikan Ansel dan Nara secara bergantian.
"Cih, apa maksudnya berbicara seperti itu?!" Gerutu Nara.
Ansel mulai menyadari situasinya. Ia melihat ketiga orang yang dihadapan dan di sampingnya tengah memperhatikannya dengan bingung. Ia berdehem berusaha mencairkan suasana, dan sedikit salah tingkah.
"Ekhem... Ma~maksud ku tidak seperti yang kalian bayangkan. Aku..." Ansel menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Ah saya mengerti... Maksud tuan Ansel, saya harus bersikap profesional disaat masih didalam pekerjaan. Jadi saya tadi tidak menyebut bu Nara dengan formal, maafkan saya..." Ucap pak Tian salah paham.
"Ah ya~ya... Seperti itu! Kita harus bersikap profesional walau menyebut nama sekalipun itu orang terdekat kita." Ujar Ansel.
"Tidak masuk akal." Batin Roni menggelengkan kepalanya.
"Baiklah pertemuan kita akhiri saja hari ini. Saya harus pergi, karna selain ini ada pekerjaan yang harus saya kerjakan." Ansel bangkit dari duduknya. Begitu pun dengan Roni.
"Ya, sekali lagi saya berterimakasih kepada tuan Ansel karna telah bekerja sama dengan perusahaan kami." Pak Tian pun ikut bangkit dari duduknya, di ikuti Nara dan Mira.
"Ya. Ayo Roni..." Ansel melihat Nara sekilas lalu pergi keluar cafe.
"Kalian boleh pulang hari ini." Pinta pak Tian.
"Baik pak." Serentak Nara dan Mira.
......
Didalam kamar, Nara membaringkan tubuhnya setelah membersihkan badan. Ia memikirkan perkataan Ansel di cafe tadi.
"Selamat datang dikehidupanku lagi sayang..."
Kalimat itu selalu terngiang-ngilang di kepala nya. Nara bangkit dan pergi ke dapur. Ia mengambil minuman didalam kulkas guna menyegarkan pikirannya.
Tring...
"Uhuk... Uhuk... Ansel?" Ia terkejut Ansel mengiriminya sms dengan nomor ponsel yang baru.
Sudah berpuluh-puluh kali Nara memblokir nomor ponsel Ansel. Tetapi Ansel terus saja menggangu Nara dengan cara berganti-ganti nomor ponselnya. Nara pun dengan kesal mengganti kartunya. Tapi usahanya sia-sia saja karna Ansel pasti selalu mendapatkan nomor ponselnya.
+618.....
'Aku harap, kamu mengikuti rapatnya besok. Dan perlu kamu ingat, berapa kali pun kamu memblokir ku bahkan mengganti nomor ponsel, aku selalu tau. Kamu hanya milikku, dan akan selamanya seperti itu. Aku mencintaimu Nara...
~By. Ansel '
Begitulah isi sms Nara dari Ansel. Nara menggertakan giginya. Ia seakan-akan mengira bahwa Ansel itu sudah gila. Ia juga mencurigai Ansel, bahwa ia bukan cinta padanya melainkan hanya obsesi saja. Itu terbukti selama ini Ansel selalu mengejarnya walaupun beberapa kali Nara menolaknya dengan cara apapun itu.
"Bisa-biasa aku yang menjadi gila!" Nara memijat pelipisnya.
Ia bingung menyikapi Ansel itu harus bagaimana. Ia juga sangat bingung, mengapa takdir mempermainkan nya dengan selalu menghadirkan Ansel di kehidupan. Sudah beberapa kali Nara menghindari Ansel, tetapi takdir kembali mempermainkannya seolah-olah Ansel ialah bagian dari hidupnya.
"Biarkan saja deh..." Nara mengabaikan pesan Ansel, ia kembali kedalam kamar dan mengistirahatkan dirinya.
Pagi harinya...
Nara tengah bersiap-siap hendak pergi kekantor. Ketika ia ingin mengeluarkan motornya, tiba-tiba saja ketukan pintu mengejutkannya.
"Bayu?" Nara melihat jika yang mengetuk pintu itu Bayu.
"Selamat pagi Nara..." Bayu tersenyum manis pada Nara.
"Lagi apa lo disini pagi-pagi gini?" Tanya Nara.
"Gue tadi mau ke kantor, terus sekalian lewat jadi gue mau ngajak lo bareng deh. Kebetulan kan kantor kita searah." Alasan Bayu.
"Kan kantor gue masih kesananya lagi. Agak jauhan dari kantor lo."
"Gak apa-apa lah... Mumpung jam masuk gue masih satu jam lagi, jadi kan gue kesini dulu jemput lo."
"Kan gue bawa motor."
"Lo jangan bawa motor, hari ini gue bakal antar jemput lo." Ucap Bayu.
"Serius lo?"
"Serius lah... Masa gue bohong. Ayo, keburu masuk lo." Ujar Bayu.
Nara pun menyetujui ajakan Bayu karna merasa tak enak hati. Ia pun mengunci pintunya dan pergi bersama Bayu. Setelah sampai didepan kantor, Nara menyerahkan helmnya pada Bayu.
"Makasih ya Bay..." Nara tersenyum mengucapkan terimakasih.
"Sama-sama... Nanti gue jemput lo pulang." Bayu memegang pucuk kepala Nara dan mengelusnya. Nara terdiam merasakan sentuhan Bayu di kepala nya. Ia menatap Bayu lekat, begitu juga dengan Bayu.
"Apa gue terima Bayu aja ya? Dia keliatannya tulus sama gue. Bahkan dia masih nunggu gue sampe sekarang..." Pikir Nara menatap Bayu.
"Gue cinta sama lo Nara... Semoga lo secepatnya terima cinta gue." Batin Bayu membalas tatapan Nara.
Plak
Tangan Bayu tiba-tiba dihempaskan oleh tangan seseorang. Bayu dan Nara terkejut dengan itu, sepontan mereka menatap kearah yang telah menghempaskan tangan Bayu.
"Ansel?"
"Ansel?"
Bayu dan Nara terkejut melihat Ansel. Mata Ansel tampak memerah, giginya menggertak, dan keduanya tangannya mengepal. Nafasnya pun memburu, menandakan kecemburuannya.
.
.
.
TBC