
#Happy Reading's🌻
.
.
.
"Caelah... Romantisannya bisa dirumah aja gak? Ini kan hari pernikahan gue sama Viana, jadi gak boleh ada yang lebih romantis di sini selain pengantin!" Ucap Tony menghampiri Nara dan Ansel yang masih saling berpelukan.
Ansel dan Nara melepaskan pelukan mereka. "Ck, iri aja lo keong racun!" Kesal Ansel mendengar ocehan Tony.
"Gue gak iri, cuman gak suka aja ada orang yang lebih romantis dari gue."
"Sama aja kamvret!!"
"Heh lo itu ya..."
"Jangan ngoceh mulu... Mending lo samperin istri lo sebelum direbut orang." Tutur Ansel.
"Direbut gimana?" Tanya bingung Tony.
"Noh ada cowok yang lebih cakep dari lo lagi ngobrol sama istri lo." Tunjuk Ansel pada Viana yang sedang berbincang dengan salah seorang pria.
"APA?!" Tony langsung menoleh kearah yang ditunjukan Ansel. Tony sangat mengenal siapa pria yang bersama Viana.
"Maxim?" Lirihnya.
"Cepet sono... Keburu istri lo bener-bener diambil!" Gurau Ansel.
"Ikut sama gue..." Tony menarik Ansel.
"Eh kenapa gue mesti ikut kamvret!!"
Nara menggelengkan kepalanya melihat tingkah suaminya dan Tony. Lalu ia pun pergi ke toilet.
"Hai bro!!" Tony merangkul Maxim dari belakang.
"Eh hai Ton... Selamat ya atas pernikahan lo sama Viana." Ucap Maxim.
Tony menepuk-nepuk bahu Maxim. "Iya terimakasih. Max, bukannya lo udah berangkat ya ke LA?" Tanya Tony.
"Emmm..." Maxim melirik sekilas Viana. Tony menyadari lirikan Maxim, ia pun curiga. Sedangkan Viana gugup dibuatnya.
"Ada urusan mendadak yang harus gue kerjakan waktu itu. Makanya gue menunda penerbangan ke LA." Alasan Maxim.
"Oh..."
"Eh ya, ini kenalin sepupu gue Ansel..."
"Hallo, Maxim..." Maxim menjulurkan tangannya.
Ansel membalasnya. "Ansel..."
"Kalian ngobrol aja berdua ya, gue mau ngomong sama Viana." Tony pun menarik Viana pergi menjauhi Maxim dan Ansel. Sebenarnya Tony hanya beralasan saja, ia tidak ingin Viana berdekatan dengan Maxim. Karna ia tau bahwa Maxim masih menyimpan rasa pada Viana.
"Sialan! Gue dijadiin tumbal sama si keong racun kamvret itu!" Gerutu kesal Ansel.
Di dalam toilet, Nara membetulkan make up nya yang hampir luntur. Setelah itu ia pun mencuci tangannya di wastafel. Ketika ia hendak keluar toilet, tiba-tiba saja sebuah tangan kekar menariknya dan membawanya ke sebuah ruangan.
"Aduh lepasin! Siapa sih lo!!" Ronta Nara. Ia tidak mengenali siapa pria yang menariknya. Pria itu menggunakan topi hitam dan jaket hitam.
Pria itu langsung menutup dan mengunci ruangan yang bisa disebut sebagai gudang. Ia memojokan Nara dan menguncinya dengan tubuhnya di dinding. Nara berusaha melepaskan diri dengan semua tenaganya. Ketika ia berhasil lolos, pria itu menariknya kembali dan mendekapnya dari belakang.
"Diam! Ini aku sayang..." Ucap pria itu ditelinga Nara.
Nara terkejut, ia mengenali suara itu. "Bayu?!" Nara menoleh kebelakang berusaha memastikan bahwa pria ini adalah Bayu.
"Pintar! Iya ini aku Bayu... Aku merindukanmu." Bayu mengeratkan pelukannya.
"Bayu apa yang kamu lakukan?! Lepasin!!" Nara berontak. Ia menyikut perut Bayu hingga terlepas.
"Bayu, apa yang kamu lakukan?!" Tanya Nara.
"Aku merindukanmu." Ucapnya lalu mendekati Nara dan Nara memundurkan langkahnya.
"Bayu kita bisa bicara baik-baik tidak seperti ini. Ayo kita bicara ditempat lain." Bujuk Nara.
Bayu memegang tangan Nara. "Kita bisa bicara disini." Seringai Bayu.
Nara menepis pegangan tangan Bayu. "Baiklah... Bayu, aku minta maaf padamu masalah waktu itu. Aku tidak bermaksud mempermainkan mu. Ini semua benar-benar tidak terduga, aku juga tidak tau kalo aku di jodohkan dengan Ansel." Jelas Nara
"Bercerai dengannya dan kembali bersamaku. Simple bukan?" Ucapnya.
Nara mengerutkan keningnya. "Tidak semudah itu."
"Heh..." Bayu tersenyum kecut.
"Tidak mudah karna kamu mencintainya kan?" Ujar Bayu mendekati Nara.
Nara memundurkan langkahnya. "Ya aku mencintainya, kau juga sudah tau itu."
Bayu menarik Nara dengan kasar ketubuhnya. "Bercerai dengannya!" Gertak Bayu diwajah Nara.
"Kau gila Bayu!" Nara berusaha melepaskan diri. Tetapi kini cekalan Bayu begitu kuat sehingga Nara kesusahan melepaskan diri.
"Ya aku gila! Aku gila karna mencintaimu!" Bayu mengusap lembut rambut Nara.
"Jika kamu mencintaiku, maka lepaskan aku. Biarkan aku bahagia!" Nara menghindari sentuhan tangan Bayu di rambutnya.
"Kau egois! Kau akan bahagia, sedangkan aku? Tidak Nara!."
"AKH" Nara meringis karna Bayu mencengkram rambutnya.
"Dengarkan aku, bercerai dengannya atau aku yang akan memaksa kalian bercerai! Aku akan membawamu pergi jauh dari sini, setelah itu kita bisa hidup berdua saja."
Nara membulatkan matanya, iya tidak menyangka Bayu akan senekat itu. "Bayu, ini semua salah... Jangan seperti ini! Aku yakin kamu akan mendapatkan wanita yang lebih baik dariku."
"Tidak ada yang lebih baik darimu!" Bayu mendekatkan wajahnya ke wajah Nara yang berusaha menciumnya. Nara memalingkan wajahnya, tetapi Bayu memaksanya dengan memegang wajahnya.
"Emmm!!" Nara memukul-mukul dada Bayu berusaha melepaskan diri. Air matanya mulai mengalir menahan rasa takut. Ketika Bayu mulai membuka sebagian baju Nara, ia langsung menendang perutnya dengan lutut kakinya.
"AKH!!" Bayu meringis kesakitan.
Nara mendekati pintu, ia kesulitan membukanya karna pintu terkunci. Ia pun menggedor-gedor pintu untuk meminta pertolongan.
"Hahaha... Kamu tidak akan bisa keluar dari sini. Tidak ada yang akan menolongmu... Jadi menurutlah sayang!"
Bayu semakin mendekatinya. "Ayolah sayang... Jangan kasar-kasar seperti itu! Ini akan menyenangkan jika kita melakukannya disini. Kamu tenang saja... Aku akan bertanggungjawab." Ucapnya menyeringai.
"Aku bilang jangan mendekat!" Tangan Nara sudah bergetar ketakutan. Bayu tak menghiraukannya, ia tetap mendekat.
BUGH
Pukulan sapu yang di tangannya ia layangkan. Tetapi sayang, Bayu menghempasnya jauh dan kembali menarik Nara ke tubuhnya. Bayu mulai menggila, ia merobek baju Nara dengan satu tarikan. Nara pun menjerit histeris, lalu Bayu menyeringai sebelum akhirnya ia menciumi leher Nara.
Diam-diam Nara mengambil ponsel disakunya dengan tangan bergetar dan ia mengirimi pesan pada Ansel.
"Tolong aku Ansel, aku ada digudang!" Begitulah kira-kira pesannya.
"Aku harus mengulur waktu sampai Ansel datang kemari." Pikir Nara.
"Bayu hentikan!" Ia mendorong Bayu. Tetapi Bayu tetap pada posisinya.
"Ba~baiklah... Aku akan bercerai dengan Ansel." Spontan Nara.
Bayu menghentikan kegiatannya. "Benarkah?" Tanya nya memastikan.
"Iya..." Nara menganggukan kepalanya seraya menutupi tubuhnya.
Bayu mengusap air mata Nara dan mencium keningnya. "Aku senang mendengarnya. Maafkan aku, tadi aku tidak bisa mengotrol diri." Ucapnya.
"I~Iya... Tidak apa-apa." Senyum canggung Nara.
"Pakai ini..." Bayu melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Nara.
"Kita akan menikah sekarang... Ayo." Bayu menarik tangan Nara.
"A~apa?! Menikah? Sekarang?" Ia benar-benar terkejut mendengar pernyataan Bayu.
"Iya. Bukankah kamu menyetujui untuk bercerai dengan Ansel?"
"Iya, tapi kenapa harus menikah sekarang? Aku harus bercerai dulu baru menikah denganmu."
"Itu akan membutuhkan waktu yang lama. Aku ingin secepatnya memiliki mu." Bayu pun kembali menarik.
"Tu~Tunggu Bayu..."
BRAK
Dobrakan pintu gudang terbuka. Terlihat sosok Ansel berdiri di ambang pintu. Hati Nara perlahan lega karna Ansel sudah datang.
"Lepaskan istriku!" Titah Ansel menghampiri Bayu dan Nara.
"Kau menipuku Nara!" Ucap Bayu lalu ia pun membekap Nara dari belakang.
"Tidak akan! Nara milikku!"
"Lepaskan breng*ek!!" Geram Ansel menahan amarahnya. Ia semakin marah ketika melihat Nara memakai jaket Bayu.
"Tidak akan!"
"KAU!!" Ansel hendak menghajar Bayu.
Bayu mengambil sebuah pistol dibalik celananya. "Jangan mendekat... Atau aku tembak Nara. Setelah aku menembaknya, aku juga akan menembakkan diri. Dengan begitu kita pergi bersama. Hahaha..." Ia menodongkan pistol itu kearah kepala Nara.
"Ba... Bayu... Ja~jangan!" Lirih Nara.
"Shiitt!! Kau benar-benar breng*ek! Tembakkan dirimu sendiri saja tanpa melibatkan istriku!"
"Berhenti memanggilnya istri! Aku sangat jijik mendengarnya." Perlahan Bayu menekan pelatuknya.
Melihat itu Ansel benar-benar panik. "Bayu... Gue mohon, jangan lakukan itu!"
"A~Ansel..." Nara memejamkan matanya menahan rasa takutnya.
"Sayang... Kamu tenang ya, kamu tidak akan apa-apa." Ucap Ansel berusaha menenangkan.
Bayu membalikan pistolnya. Ia mengarahkannya pada Ansel. "Bayu!" Nara terkejut dibuatnya. Ansel mengangkat kedua tangannya.
"Gue berubah pikiran, bagaimana jika lo aja yang mati? Dengan begitu Nara milikku sepenuhnya."
"Bayu... Biarkan aku saja yang mati, jangan Ansel."
"DIAM! Aku tidak ingin mendengar perlindungan mu untuk pria seperti dia!"
"A~Ansel..." Panggil Nara lirih dan Ansel hanya tersenyum meyakini bahwa dia akan baik-baik saja.
"Gue itung sampai tiga dan gue akan tembakkan pistol ini di kepala lo!"
"Satu... Dua... Ti... Ga!!"
DOR
"ANSEL!!"
"AKH!!!"
"Tangan gue!"
Nara menutup mulutnya melihat tangan Bayu lah yang tertembak. Ia melirik siapa yang menembaknya. Dan ternyata itu Tony yang berada dibalik dinding yang sebenarnya dari tadi ia bersembunyi disitu. Ansel dengan sigap langsung menarik Nara menjauhi Bayu.
"Gimana tembakkan gue? Tepat bukan?" Ucap Tony berbangga diri seraya meniup pelatuk pistol. Ansel memberinya jempol.
"Nara!!" Viana langsung memeluknya dan beberapa keluarga berhamburan menghampiri Nara.
"Nara... Lo gak apa-apa kan?" Viana membulak-balikkan tubuhnya.
"Astaga... Baju lo kenapa bisa gini? Jangan-jangan?" Viana menutup mulutnya melirik Bayu yang sedang merintih kesakitan.
Ansel yang menyaksikan itu sangat marah, "Dasar bajing*n! Beraninya lo sentuh istri gue!!" ia pun membabi buta memukul Bayu hingga pingsan.
"Ansel udah cukup, nanti mati anak orang! Kita serahin aja dia kepolisi." Ucap Tony memegangi pundak Ansel.
Dengan terengah-engah, Ansel menghentikan pukulannya. Lalu menghempaskan pegangan Tony dipundaknya, dan ia pun membawa Nara pergi menjauhi tempat itu dan membawanya pulang.
.
.
.
TBC