
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Ansel terus berjalan menghampiri Nara dan Bayu.
"Sedang apa kalian disini?" Ucap Ansel yang sudah ada di hadapan Nara dan Bayu.
"Ansel?" Serantak Nara dan Bayu. Mereka pun berdiri.
"Kalian sedang apa disini?!" Geram Ansel, menggertakan giginya dengan kesal.
"Kami sedang berkencan! Memangnya kenapa?!" Bayu dengan sengaja memeluk pinggang Nara di hadapan Ansel.
Ansel semakin menggertakan giginya dan mengepalkan kedua tangan nya sampai memutih. "Lepaskan pelukanmu dari Nara!" Gertak Ansel.
"Apa hubungan lo sama Nara hah?! Lo gak ada hubungan apapun sama Nara, jadi lo gak berhak ngatur-ngatur gue ataupun Nara!" Tegas Bayu.
Ansel menarik lengan Nara dengan keras sehingga lepas dari pelukan Bayu.
"LO?! Lepasin pacar gue brengsek!" Teriak Bayu. Semua orang yang ada di cafe itu melihat kearah mereka. Semuanya menyaksikan itu. Tak terkecuali mom Riani. Ia mengernyitkan alisnya melihat keributan itu.
"Kenapa aku merasa familiar dengan laki-laki yang sedang memegang tangan gadis itu yah?" Pikir Riani yang tengah menyaksikan keributan itu.
"Apa? Pacar?!" Ujar Ansel. Ia semakin mengeratkan cekalannya di tangan Nara sampai tangan Nara memerah akibatnya.
"Aww!! Ansel... Lepasin! Tangan gue sakit!" Lirih Nara kesakitan. Ansel melihat Nara sekilas dengan tatapan tajam dan membunuh.
"Apa benar yang dia ucapkan? Kalo kamu itu pacar dia?!" Tunjuk Ansel.
"Ya! Aku pacar Bayu!!" Tegas Nara meyakinkan.
"Tidak! Kamu hanya milikku! Cepat putuskan dia sekarang juga!" Perintah Ansel. Kedua matanya sudah memerah menahan amarah yang bergejolak di aliran tubuhnya.
"Lepasin tangan Nara bajingan!" Bayu menarik sebelah tangan Nara.
"Lo gak berhak memutuskan hubungan kami! Kita saling mencintai, dan lo? Lo cuman seorang bajingan yang hanya ingin kepuasan saja! Demi kepuasan lo tercapai, lo sampai ngehancurin persahabatan Nara dan Viana!" Geram Bayu yang tak kalah emosinya.
"Lo gak perlu ikut campur urusan gue!"
BUK
Ansel menendang Bayu keras sampai ia terjungkal kebelakang menabrak meja cafe.
"BAYU!!" Nara berteriak melihat Bayu tersungkur. Semuanya tampak kacau dan riuh.
"Sialan!" Bayu bangkit dan membalas tendang Ansel dengan pukulannya.
Terjadilah baku hantam diantara keduanya. Nara tak bisa berbuat apapun terkecuali memanggil petugas keamanan.
"Oh my god! Itu kan anakku! Ansel! Dasar anak nakal... Kenapa dia cari keributan disini!" Mom Riani pun menghampiri anaknya yang sedang baku hantam itu.
"ANSEL!" Teriak mom Riani. Tetapi tak di hiraukan oleh Ansel.
"Hei berhenti!" Para penjaga keamanan yang sudah datang itu meleraikan keduanya. Dan akhirnya Ansel dan Bayu sudah di tangani oleh pihak keamanan. Keduanya tengah di pegangi.
"Sebaiknya kalian pergi dari sini! Sebelum kami memanggil polisi!" Ujar salah seorang petugas.
"Oh jangan pak... Baik kami akan pergi dari sini." Ucap mom Riani.
"Haish... Dasar bedebah ini! Ayo pulang!" Mom Riani menarik lengan Ansel.
"Tunggu mom..." Ansel menghentikan mommy nya. Ia berjalan menghampiri Nara yang sedang membantu Bayu. Hatinya begitu panas dan kesal melihat itu.
"Gue peringatin lo supaya jauhin Nara! Dia milik gue! Kalo lo gak bisa lepasin dia, lo akan tau akibatnya nanti." Ujar Ansel pada Bayu.
"Gue gak akan lepasin Nara! Sampai kapan pun itu!" Balas Bayu menatap Ansel tajam.
"Heh! Kita liat aja nanti!" Senyum sinis Ansel. Sebelum ia pergi, ia melirik kearah Nara sebentar. Lalu pergi dari mall itu.
"Kenapa aku merasa familiar dengan gadis itu?" Pikir mom Riani melihat kearah Nara sebelum ia pergi dari mall itu. Ansel dan mommy nya pun sudah pergi.
"Sebaiknya kita pergi juga." Ujar Nara.
"Tapi nonton kita?"
"Kita bisa menonton nya lain kali." Senyum Nara.
"Baiklah... Ayo kita cari tempat lain saja." Pinta Bayu. Nara menganggukkan kepalanya mengiyakan. Dan mereka pun pergi, mencari tempat lain untuk berkencan.
.....
Viana saat ini sedang sibuk dengan pekerjaannya. Hari-harinya di penuhi oleh pekerjaan kantor. Ia bahkan tak ada waktu untuk bersenang-senang. Ia hanya ada waktu untuk bekerja saja.
"Viana... Sudahlah jangan bekerja terus. Apa otak mu tidak capek?" Celoteh Maxim. Seperti biasanya laki-laki itu mengunjungi Viana di saat jam makan siang, bahkan membawakan makan siangnya setiap hari.
"Apa kau juga tidak capek selalu datang kemari hanya untuk memberikan ku makan siang?!" Ucap Viana ketus.
"Cih," Decih Viana.
"Andaikan kamu tau perasaanku Viana..." Lirih Maxim dalam hati.
Ia selama ini sudah menaruh rasa pada Viana. Di saat pandangan pertama ia sudah tertarik dengan Viana. Ia selalu mencari alasan untuk menemui nya setiap saat.
"Berhentilah menatap ku bodoh!" Ujar Viana. Pandangan nya tetap fokus pada laptopnya.
"Haish... Kau ini galak sekali!"
Tok... Tok...
"Miss, di luar ada Mr. Edward ingin bertemu..." Ucap Clair asisten Viana.
"Uncle? Suruh dia masuk..." Perintah Viana.
"Apa itu uncle mu?" Tanya Maxim yang masih duduk di sofa dekat Viana.
"Ya, dia uncle ku... Kenapa kamu masih tetap disini?! Pergi sana!" Usir Viana.
"Baiklah... Aku akan pergi. Tapi setelah aku menemui uncle mu..." Sengit Maxim.
"Ck, merepotkan." Gerutu Viana.
"Viana..." Uncle Edward pun masuk kedalam ruangan Viana.
"Hai uncle..." Viana menghampiri uncle nya dan memeluknya.
"Saat aku datang, aku tak pernah di peluk seperti itu!" Lirih Maxim melihat Viana dan uncle nya.
"Kenapa uncle ke Los Angeles? Bukanya uncle sedang mengurusi perusahaan uncle yang berada di indonesia?" Tanya Viana.
Ya, Edwart si pemilik Swift Corp itu merupakan paman dari Viana. Ia tak pernah menceritakan mengenai pamannya itu pada siapa pun, terutama pada mantan sahabatnya Nara. Walaupun mereka sudah lama bersahabat, tapi Viana tak pernah menceritakan mengenai pamannya itu. Karna menurutnya itu tak penting untuk di ceritakan.
"Uncle kemari hanya ingin pulang kerumah uncle. Uncle kangen dengan aunty mu..." Ucap Edward.
"Oh... Begitu ya." Viana mengangguk-anggukan kepalanya.
"Ekhem-ekhem..." Maxim berdehem. Ia merasa di cuekan.
Viana dan Edward pun menoleh kearahnya.
"Pacar mu?" Tanya Edward melihat kearah Maxim.
"Bukan! Dia bukan pacar ku!" Elak Viana.
"Hallo uncle... Perkenalkan, saya Maxim temannya Viana." Maxim menghampiri Edward dan ia memperkenalkan dirinya.
"Sejak kapan kita berteman?!" Viana mengernyitkan keningnya tak suka.
"Sejak aku mengatakannya tadi..." Jawab Maxim.
"Ck," Decak Viana.
"Ayo uncle, silahkan duduk..." Viana mempersilahkan Edward duduk.
"Viana, aku pergi dulu ya... Sebentar lagi jam rapat ku di mulai." Ujar Maxim.
"Terserah!" Viana duduk di sofa di temani Edward. Maxim pun pergi.
"Viana... Uncle sangat kagum dengan cara mu mengolah perusahaan. Kamu sangat baik mengurusnya."
"Terimakasih uncle, itu sudah kewajiban ku."
"Uncle bangga padamu. Uncle ingin memberitahu kondisi ayah mu Viana..."
"Ayah? Ayah kenapa lagi uncle?" Khawatir Viana.
"Ayah mu kritis... Uncle ingin memindahkan pekerjaan mu ke indonesia, mengurus anak perusahaan paman disana." Jelas Edward.
"Ayah..." Viana meneteskan air matanya mengingat ayahnya yang sedang melawan penyakitnya.
"Tapi, aku masih belum siap ke indonesia..." Batin Viana yang masih melupakan luka itu.
"Tidak-tidak... Itu tidak penting! Yang terpenting saat ini adalah menemui ayah." Pikirnya memastikan.
"Oke uncle, aku akan ke indonesia minggu ini."
"Baik... Kamu akan menggantikan uncle di perusahaan Swift Corp sebagai CEO."
"Oke uncle..."
.
.
.
TBC