Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 79


2 bulan kemudian...


Kehidupan Nara dan Ansel semakin baik. Nara sedikit demi sedikit mulai bisa mengukir nama Ansel dihatinya walaupun ia tidak menyadari akan hal itu. Begitupula dengan hubungan Viana dan Tony. Mereka berdua sudah bertunangan tinggal menghitung hari menuju pernikahan. Untuk penyakit yang di derita Viana tak ada seorang pun yang tau, ia menyembunyikannya dari semua orang.


"Hoek... Hoek..."


Berkali-kali perut Viana terasa mual. Sejak kemarin malam, ia merasakan hal aneh ditubuhnya. Dimulai dari posesif dengan Tony, moody, dan mual-mual. Tony dan bundanya sudah mengajaknya untuk kedokter tetapi Viana menolaknya. Ia sangat takut jika dokter memberitahu penyakitnya. Mungkin saja ini efek dari penyakitnya pikirnya saat itu.


"Aku antar ke rumah sakit ya..." Ucap Tony memegang bahu Viana.


"Ng... Nggak mau!" Viana melepaskan pegangan tangan Tony.


"Tapi kamu terus mual-mual seperti ini sejak kemarin malam Viana... Aku takut kamu kenapa-napa." Tegas Tony. Ia begitu mengkhawatirkan Viana.


Viana menatap Tony, perlahan matanya berkaca-kaca. Entah kenapa ia merasa sedih dan ingin menangis mendengar suara tegas Tony. Tak lama dari itu Viana benar-benar menangis. Tony kelabakan melihat Viana menangis semakin kencang.


"Vi... Viana... Kenapa kamu nangis?" Tony melihat kesekelilingnya karna mereka saat ini sedang berada di pusat perbelanjaan.


"Hiks... Kenapa kamu marah-marah Tony... Hiks." Isak Viana. Semua orang berkerumung mengelilingi keduanya. Tony semakin gusar dibuatnya.


"Hei tuan... Anda jangan kasar-kasar dong sama istri anda sendiri!" Ucap salah satu pengunjung disana.


"Ma... Maaf ini hanya salah paham." Tony segera saja menarik lengan Viana menjauh dari keramaian.


Disaat Tony merangkul Viana membawanya kedalam mobil, tiba-tiba saja Viana pingsan. Tony langsung menangkapnya.


"Viana... Sayang... Kamu kenapa?" Panik Tony menepuk-nepuk pipi Viana dengan pelan. Segera saja Tony langsung menggendongnya kedalam mobil dan membawanya kerumah sakit.


Dirumah sakit, Viana sedang tingani oleh dokter. Saat itu Viana siuman dari pingsannya. Hatinya risau, badannya gemetaran karna ia takut Tony mengetahui penyakitnya.


"Bagaimana kondisi tunangan saya dok?" Ucap Tony.


Dokter melepas stetoskop ditelinganya. "Selamat tuan, tunangan anda sedang mengandung. Usia kandungannya sudah 4 minggu." Jelas dokter itu.


"Apa dok? Mengandung?" Tony terkejut.


"Iya benar tunangan anda sedang mengandung anak anda. Tapi penya..." Belum sempat dokter itu menjelaskan, Viana menyelanya.


"Dokter, apa saya sudah bisa pulang?"


"Tentu saja sudah..."


"Dokter tapi apa yang anda maksud?" Tanya Tony.


"Itu..."


"Tony... Sudahlah aku mau pulang!!" Sela Viana.


"Viana tunggu dulu, aku ingin mendengarkan penjelasan dokter mengenai kandunganmu."


"Hua... Hiks. Tony... Kamu tega biarin aku disini terus sedangkan aku mau istirahat dirumah..." Viana memulai aktingnya agar Tony tidak mendengarkan penjelasan dokter mengenai penyakitnya.


"Tapi..."


"Sudahlah, sebaiknya anda menuruti permintaan tunangan anda tuan." Ucap sang dokter.


"Baiklah-baiklah... Ayo." Akhirnya Tony mengalah. Viana tersenyum kemenangan.


Didalam mobil, Viana terus saja mengelus perutnya. Ia merasa sangat senang dengan kehamilannya begitu juga dengan Tony ia pun sangat senang. Perlahan Tony ikut mengelus perut Viana.


"Selamat datang baby..." Ucap Tony seraya tersenyum.


Viana melihat kearah tangan dan wajah Tony yang terlihat begitu bahagia. Tetapi sesaat ia memikirkan penyakitnya. Apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang nanti? Apakah dirinya bisa melihat anaknya tumbuh dewasa? Ataukah dirinya tak mampu melihatnya sama sekali? Air matanya lagi-lagi lolos dari pelupuk matanya.


"Kamu nangis lagi?" Tanya Tony melihat sekilas wajah Viana.


"Mungkin ini efek dari kehamilanku." Jawab Viana menghapus air matanya. Tony tersenyum dan memegang tangan Viana.


......................


"Aduh... Hei apa yang kamu lakukan?"


"Memelukmu."


Nara sedang memasak makan malam tapi tiba-tiba saja Ansel datang dan memeluknya dari belakang. Sudah sangat biasa bagi Nara menerima perlakuan Ansel seperti ini.


Nara menyikut perut Ansel sehingga membuat siempunya menggaduh kesakitan. "ADUH!! Kenapa kamu menyikutku!" Ansel memegangi perutnya yang sakit.


"Jangan dekat-dekat... Aku lagi menggoreng ikan." Ucap Nara yang tak menghiraukan gaduhan Ansel. Ia tetap fokus menggoreng ikan.


"Lalu? Apa salahnya memeluk dan menggoreng ikan?"


"Oh... Jadi kamu gak mau aku terluka, begitu?" Goda Ansel menaikkan kedua alisnya.


"Jangan kepedean deh!" Ketus Nara melepas celemeknya dan membawa beberapa makanan ke meja makan.


"Kamu jujur aja... Kamu khawatirkan sama aku? Gak mau aku kenapa-napa." Ansel berbicara sambil mengekori Nara.


"Ayo jujur aja..."


Nara tak menghiraukan ucapan Ansel ia fokus menata makanan.


"Nara... Ayolah jawab pertanyaan ku!" Rengek Ansel layaknya anak kecil yang menginginkan uang jajan pada ibunya.


Nara membalikan badannya menghadap Ansel. "Kamu mau tau jawabannya?" Tanya Nara dan dibalas anggukan Ansel.


"Ada syaratnya..." Ucap Nara diselingi dengan senyuman penuh rencana.


"Apa?"


"Kamu harus menuruti semua permintaanku selama 24 jam. Itu berlaku untuk besok... Bagaimana?"


"Emmm... Boleh. Tapi aku juga punya syarat untukmu."


"Pihak kedua tidak boleh meminta syarat apapun terkecuali aku sebagai pihak pertama yang berhak mengajukan syarat." Nara melipatkan kedua tangannya di dadanya.


"Hei itu curang namanya!"


"Terserah wle..." Nara menjulurkan lidahnya.


"Oke-oke, aku setuju dengan syaratmu dan aku juga tidak akan mengajukan syarat. Asalkan setelah itu kamu akan menjawab pertanyaanku apakah kamu sudah mencintaiku apa belum!"


"Apa-apaan! Pertanyaannya kan hanya khawatir atau tidak, bukan sudah mencintaimu apa belum!" Protes Nara.


"Terserah aku dong wle..." Ansel membalas uluran lidah Nara tadi. Ia pun langsung berlari kearah kamar.


Nara tersenyum melihat itu. "Eh, kenapa aku tersenyum? Hei sadarlah Nara..." Nara memukul kepalanya menyadarkan dirinya sendiri agar tidak terlalu larut dengan perasaannya.


Di lain tempat, seseorang yang terbaring koma selama dua bulan lebih mulai menggerakkan jarinya secara perlahan, siapa lagi kalo bukan Bayu. Ibu Bayu yang melihat anaknya menggerakkan jarinya, ia segera memanggil dokter.


"Nara..." Gumam Bayu. Perlahan matanya membuka.


"Dokter bagaimana kondisi anak saya dok?" Ucap ibu Bayu yang sudah manggil sang dokter.


"Syukurlah... Akhirnya pak Bayu sudah siuman. Ia sudah baik-baik saja saat ini."


"Ah... Syukurlah..." Ibu Bayu menangis terharu melihat anak sulungnya sadar dari komanya.


"Nara..." Gumam Bayu kembali. Ia melihat sekelilingnya, ia mencari-cari sosok yang dicintainya.


"Bayu anakku... Ini ibu nak."


"Ibu..." Ucap lirih Bayu.


"Iya nak, ini ibu..." Ibu Bayu mengelus sayang kepala Bayu. Mata Bayu melihat sekeliling ruangan.


"Kamu mencari siapa nak? Ibu disini."


"Nara dimana bu?" Tanya Bayu.


"Nara? Oh si perempuan tak tau diri itu? Kamu tidak usah mencarinya lagi!"


"Kenapa? Aku mau Nara ku bu..."


"Lupakan dia... Dia sudah melupakanmu. Buktinya saja disaat kamu seperti in dia tidak pernah datang." Ujar ibunya Bayu.


"Tidak mungkin! Nara tidak seperti itu... Aku mau Nara bu..." Bayu hendak bangun tetapi karna ia masih lemah, jadi ia tak mampu untuk bangun.


"Bayu! Ibu bilang lupakan dia... Dia tidak pantas untukmu!" Tegas ibu Bayu.


"Tidak! Aku tidak akan melupakannya... Aku sangat mencintainya!" Kekeh Bayu.


Ibu Bayu memijat kepalanya. "Baiklah ibu akan meminta Nara kemari." Ibu Bayu akhirnya mengalah.


.


.


.


TBC