
#Happy Reading's🌻
.
.
.
"Lo berat banget sih Ans! Serasa bawa ban mobil kontener deh gue!" Ucap Tony mengangkat tubuh Ansel yang tengah mabuk kedalam apartemen nya.
"Kalo bukan lo sepupu gue, udah gue seret badan lo ini! Hah..." Dengan susah payah Tony membaringkan tubuh Ansel di kasurnya.
Ya, Tony merupakan sepupu Ansel. Ia anak dari adik Riani yang tak lain mommy Ansel. Tony baru saja tiba dari Sydey dua hari yang lalu. Ia baru menyelesaikan S2 nya disana. Beberapa hari ini lebih tepatnya dua hari ini, Tony tengah bingung dengan sikap Ansel. Sepulang kerja, Ansel selalu pergi ke club untuk minum setelah itu ia pergi entah kemana. Dan untungnya saja, sebelum Ansel pergi dari club tadi. Tony sudah memasang alat pelacak di ponsel Ansel. Sehingga ia tak lagi mencari-cari Ansel.
"Perempuan mana yang membuat seorang playboy cap kadal kayak lo bisa sefrustasi ini?" Heran Tony melihat tubuh Ansel yang terkulai diatas kasur.
"Hebat tu cewek..." Tony pun pergi hendak ke kamar mandi untuk membersihkan seluruh tubuhnya. Ketika ia hendak pergi, tiba-tiba saja ia menyenggol laci di sebelah nya. Dan sebuah kotak kecil terjatuh.
Tony pun mengambil kotak kecil itu, lalu membukanya. Ia memperhatikan sebuah gantungan kunci berbentuk hati dan angsa disana. Hatinya merasa ngilu mengingat masa lalunya.
"Apa kabar mu Nara?" Tony menggenggam gantungan kunci itu dan memejamkan matanya, mengingat kesalahan yang ia perbuat di masa lalu.
Ke esokkan harinya...
"Eunghh..." Ansel melenguh. Kepala nya sangat sakit sekali. Ia bangun perlahan-lahan.
"Dimana gue?" Ujar Ansel memegangi keoalnay yang terasa sangat pusing akibat mabuk nya semalam.
"Lo di apartemen gue!" Tony masuk kedalam kamar. Ia membawakan obat pengar ( Pereda mabuk ) pada Ansel.
"Kenapa gue ada disini?!" Tanya heran Ansel.
"Lo mabuk semalem!" Jawab Tony, lalu ia duduk dipinggir Ansel.
"Lo kenapa sih segitunya bucin sama cewek? Gue sempet kaget, liat playboy cap kadal kayak lo bisa bucin juga. Eh bukan sekedar bucin, tapi udah frustasi karna cewek!"
Plak...
"Bisa diem gak lo?! Ngebacot mulu lo! udah tau pala gue pusing, ditambah sama pertanyaan lo yang membagongkan itu! nambah pusing pala gue!" Ansel melempar bantal kearah Tony dengan kesal.
"Caelah... Kan gue kepo pengen denger dari mulut playboy cap kadal lo itu, kenapa bisa bucin akut kayak gitu?!" Cecar Tony.
"Berisik lo!" Ansel tak menjawab pertanyaan Tony, ia melainkan langsung beranjak dari tempat tidurnya.
"Mau kemana lo?" Tanya Tony.
"Mau ke kamar mandi! Kenapa? mau ikut lo? ayo..." Jawab Ansel.
"Gila lo!" Tony pergi keluar kamar.
"Nara... Gue gak akan lepasin lo sampai kapanpun! Lo milik gue, seterusnya milik gue! Oke, gue bebasin lo dulu untuk sementara ini." Seringai Ansel, lalu pergi ke kamar mandi.
.......
Nara berkutat sedang berkutat di pekerjaannya. Ia terlihat begitu santai, karna pekerjaan nya yang separuh sudah ia kerjakan kemarin. Sesekali Nara menyesapkan minumannya, untuk menghilangkan dahaga.
Nara melihat arloji di tangannya. "Ah setengah jam lagi rapat." Nara menyiapkan beberapa berkas yang ingin ia bawa keruang rapat.
"Semuanya... Rapat akan segera dimulai, saya harap proposal yang sudah saya berikan kemarin itu sudah selesai semua. Kalian bersiap lah untuk yang akan menghadiri rapat hari ini." Ucap Nara kepada pegawainya.
"Cih, berlagak seperti bos disini." Bisik Rani salah seorang pegawai yang tak suka pada Nara.
"Iya, sombong banget!" Timpal temannya Hani.
"Bagaimana bisa?" Nara terkejut mendengar hal itu.
"Saya tidak tau bu... Saya sudah menyimpannya di dalam laci, tetapi ketika saya lihat tadi sudah tidak ada." Ucap Tiara panik.
"24 menit lagi rapat akan segera di mulai... Kalian secepatnya cari proposal itu sampai dapat. Jika tidak, bukan saya saja yang kena imbasnya... Tetapi semua bagian produksi periklanan yang kena imbasnya." Terang Nara yang tak kalah paniknya juga.
Mendengar penuturan Nara, semua pegawai produksi periklanan panik dan gusar. Semuanya pun segera berpencar mencari berkas proposal tersebut. Ditengah kesibukan semua orang, Tiara yang menyebarkan informasi bahwa proposal yang ingin di bawa rapat itu hilang, terlihat tersenyum dengan sinis.
"Rencana berhasil." Seringainya, lalu menelpon seseorang.
"Bagaimana rencanya?" Ujar seseorang dibalik telpon itu.
"Rencana sesuai keinginan kita." Seringai Tiara, sembari melihat kesekelilingnya yang dimana semua pegawai tengah sibuk mencari berkas proposal.
"Bagus! Aku akan mengirim uangnya ke rekening mu!" Sambungan itu langsung terputus.
Nara dan semua pegawai terus mencari, tetapi tidak menemukannya. Nara merasakan ada kejanggalan di balik kehilangan proposal itu. Ia mengingat-ingat siapa yang menaruh proposal itu terakhir kali. Dan pikirannya tertuju pada satu nama, yaitu Tiara.
"Apakah kalian sudah menemukannya?" Teriak Nara.
"Kami belum menemukannya..." Jawab Rani.
"Tiara!" Panggil Nara.
"Kamu kan yang terakhir kali, menyimpan proposal itu?" Tanya Nara.
"I... Iya bu." Gugup Tiara
"Semoga saja, Nara tidak mencurigaiku!" Batin Tiara cemas.
"Apa kamu sudah benar-benar menyimpannya di dalam laci?" Tanya Nara mengintimidasi.
"I... Iya... Saya sudah menyimpannya. Memangnya kenapa? Apa ibu menuduh saya yang menyembunyikan nya?" Tanya balik Tiara. Dan itu semakin menguatkan alibi Nara tentang kecurigaannya terhadap Tiara. Tetapi ini bukan waktunya untuk berdebat. Nara menahan nya.
"Saya tidak menuduh kamu. Sudahlah... Itu urus an belakangan. Yang terpenting sekarang bagaimana caranya proposal itu bisa disampaikan disaat rapat nanti. Waktu kita hanya tinggal 5 menit lagi." Jelas Nara
"Terus, kita harus bagaimana bu? jika proposal itu tidak ditemukan, lalu bagaimana dengan rapatnya? Pasti devisi kita akan kena imbasnya." Panik Hani.
"Huft... Saya akan menyampaikan ini, tanpa proposal." Enteng Nara.
Semua pegawai disana terkejut mendengar nya. Bagaimana bisa rapat itu dilakukan tanpa melihat isi proposal? Ini namanya cari mati. Jika ada sedikit kesalahan saja, bisa-bisa terjadi masalah.
"Kalian tenang saja... Aku bisa mengatasi ini semua. Saya masih sedikit ingat mengenai isi proposal itu. Ini sudah waktunya rapat. Saya berharap, kalian mendoakan saya agar program yang saya jelaskan di rapat ini bisa lancar." Setelah menjelaskan, Nara pun pergi keruang rapat. Sebelum ia pergi, ia melewati Tiara yang berdiri mematung. Nara menatapnya tajam, lalu pergi melangkah.
"Apakah dia bisa menyampaikan program kita tanpa melihat isi proposal?" Ragu Rezi salah seorang pegawai disana.
"Aku juga tidak tahu... Yang terpenting saat ini, kita harus mendoakan bu Nara agar dia bisa menangani ini semua." Dengan serentak semua orang mengucapkan amin.
"Jika bu Nara bisa menyampaikan program itu tanpa melihat proposal, berarti keraguan kita terhadap bu Nara itu salah. Dan kita harus mengakui bu Nara, kalo dia langsung naik pangkat itu karna kepintaran otaknya bukan main belakang." Ujar Rani.
"Setuju!!!" Serentak semua orang.
Tiara yang mendengarnya pun merasa kesal. "Semoga saja dia tidak bisa melakukannya!" Kesal Tiara. Sejak Nara magang di perusahaan itu, Tiara selalu tak suka dengan Nara. Maka dari itu, ia berusaha untuk menjatuhkan Nara.
.
.
.
TBC