Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 27


🌻Happy Reading's


.


.


.


.


Rumah sakit


Ambulan yang membawa Nara telah sampai di rumah sakit. Dengan tergopoh-gopoh para perawat dan juga Viana membawa Nara yang terbaring lemas menuju ruang UGD.


"Ra, lo harus bertahan." Ucap Viana yang masih mendorong kasur perawatan ( Maaf author kurang tau namanya hehe ) Nara.


"Maaf, anda tunggu saja disini." Ujar salah seorang perawat mencegah Viana masuk ke ruang UGD.


Viana terlihat cemas, ia mondar-mandir dengan gelisah. Lalu ia duduk di kursi tunggu. Tak selang beberapa lama, seseorang tengah berlari menghampiri Viana. Ya, itu adalah Ansel ia juga terlihat sangat cemas.


"Vi, gimana keadaan Nara?" Ansel berdiri dihadapan Viana yang tengah duduk sambil menutup wajahnya menggunakan kedua tangannya.


Viana mendongakkan kepalanya melihat kearah Ansel. "Dia sedang ditangani oleh dokter di dalam." Viana menunjuk ruang UGD dengan kepalanya.


Ansel mengusap wajahnya dengan kasar. Entah kenapa hatinya begitu mengkhawatirkan Nara. Ia juga sempat bingung, mengapa dirinya bisa seperti itu pada Nara. Baru kali ini Ansel merasakan ke khawatiran terhadap seorang wanita.


"Apakah ada yang salah dengan hatiku? Kenapa aku begitu mengkhawatirkan Nara?" Batin Ansel dengan gusar.


Viana melihat guratan ke khawatiran Ansel. Ia melihatnya begitu kebingungan, mengapa Ansel bisa sekhawatir itu pada sahabatnya? Apa itu hanya sebuah rasa kasihan, atau ada arti lain?


"Kenapa kamu begitu khawatir pada Nara?" Tanya Viana menatap wajah Ansel yang tengah duduk di sebrangnya.


Ansel pun menatap Viana. Ia bingung ingin menjawab apa, sedangkan dirinya juga kebingungan dengan kondisinya.


"A~aku... Aku hanya khawatir saja. Tidak lebih..." Ansel mengalihkan pandangannya kearah lain.


"Benarkah?" Ucap Viana meragukan.


"Iya, memangnya kenapa? Apa aku salah mengkhawatirkannya?" Kini Ansel menatap Viana tak suka, ia tak suka jika diragukan seperti itu. Tetapi nyatanya, ia ragu dengan jawabannya.


"Tidak. Hanya saja kamu begitu berlebihan..." Ucap Viana.


"Itu hanya perasaan mu saja. Sudahlah... Jangan dipikirkan yang tidak-tidak." Ansel menghampiri Viana dan duduk disamping, lalu Ansel memegang Tangan Viana.


"Kenapa? Kamu cemburu?" Ucapnya kembali sembari memegang kedua tangan Viana.


"Ya, tentu saja aku cemburu. Wanita mana yang tak cemburu, ketika melihat prianya mengkhawatirkan perempuan lain." Jawab Viana dengan nada yang bergetar.


Ansel memeluk Viana. "Sudahlah... Aku hanya mengkhawatirkannya saja karna dia adalah sahabatmu. Tidak lebih, jadi tak perlu di cemburukan."


"Benarkah?" Viana mendongakkan kepalanya menatap Ansel.


"Iya."


Tak lama kemudian, dokter keluar dari ruangan rawat Nara. Ansel dan Viana pun menghampiri nya.


"Ba..." Belum sempat Viana berbicara, Ansel menyela terlebih dahulu.


"Bagaimana keadaannya dok?" Tanya Ansel. Viana melihat kearah Ansel, ia berusaha menahan rasa cemburunya. Ia harus percaya pada Ansel, bahwa dirinya tak akan meragukan Ansel lagi.


"Keadaannya sudah membaik. Ia cuman harus beristirahat dengan baik saja. Dan pastikan, ini tak akan terjadi padanya lagi. Pobia nya ini sangat berbahaya untuk kesehatan mentalnya." Tutur dokter itu.


"Baik dok, saya akan pastikan ini tak akan terjadi lagi. Apakah kita bisa menjenguknya dok?" Ucap Viana.


"Iya silahkan. Saya pamit terlebih dahulu, permisi." Dokter itupun pergi sedangkan Ansel dan Viana masuk kedalam ruang rawat.


Terlihat Nara yang terbaring lemah dan terlihat sangat pucat. Viana duduk disisi ranjang, sedangkan Ansel berdiri di sebrang Viana.


"Ra, bangun..." Viana menggoyangkan lengan Nara dengan pelan. Tetapi Nara masih tak bangun juga.


"Nara, bangunlah... Jangan membuatku merasa bersalah seperti ini. Kita harus menyelesaikan permainan ini." Batin Ansel sembari melihat kearah Nara.


"Ra..." Viana kembali mengguncangkan lengan Nara, kini ia menambahkan guncangannya.


"Emmm..." Nara akhirnya menggeliat.


Perlahan Nara membuka matanya. Yang pertama kali ia lihat yaitu Ansel, lalu ia beralih kearah Viana.


"Kalian?" Lirih Nara dengan lemah.


"Iya Ra, ini gue sama Ansel..."


"Gue ada dimana?" Tanya Nara memegang kepalanya karna merasakan sakit. Dan Nara juga berusaha bangun.


"Lo ada dirumah sakit. Udah jangan bergerak dulu! Lo kan masih lemah!" Ucap Ansel. Ia kini merubah sikapnya yang tadinya terlihat khawatir kini menjadi ketus seperti dulu.


"Ck!" Nara berdecak kesal. Dan kembali membaringkan tubuhnya.


"Gue gak lemah!" Ujar Nara dengan ketus juga.


"Udahlah... Jangan sok kuat gitu!" Ucap Ansel kembali. Kini nada bicaranya terdengar datar.


"Ya emang gue kuat!" Elak Nara.


"Cih, pobia sama hantu aja sok berani ke rumah hantu. Dan akhirnya, lo ngerepotin gue sama Viana!"


"Eh cobul gila bin gesrek! Kalo lo ngerasa di repotin sama gue, kenapa lo nolongin gue?"


"Ya~ya... Itu... Gue cuman gak mau lo menderita. Lo cuman boleh menderita karna gue!" Ansel menahan kegugupannya.


"Dasar cobul gila!" Nara memolototi Ansel dengan galak. Ansel yang melihatnya pun terkekeh dalam hati.


"Ini yang gue mau dari lo. Kembali ke perempuan yang galak. Gue gak suka lo yang lemah seperti tadi." Batin Ansel sambil memandang Nara.


Viana sedari tadi hanya memperhatikan keduanya saja tanpa ikut menyahut. Ia sudah lelah untuk menyahuti mereka. Ia juga merasa lega melihat Ansel sikapnya kembali seperti semula, yaitu kembali ketus dan biasa saja pada sahabatnya Nara.


"Ini mungkin perasaan ku saja. Aku percaya jika Ansel tak akan mungkin suka pada Nara." Batin Viana


"Ekhem... Sudah-sudah. Ra, nih di makan dulu bubur lo abis itu lo minum obat." Viana mengambil semangkuk bubur yang sudah disediakan perawat sedari mereka masuk.


"Gue belum laper." Tolak Nara.


"Kapan sembuhnya, kalo lo gak mau makan sama minum obat. Makan dulu sedikit aja." Bujuk Viana.


"Baiklah." Nara mengiyakan ia pun memakan bubur yang di suapi oleh Viana.


"Vi, gue pulang duluan ya..." Ujar Ansel.


"Iya, hati-hati dijalan." Ucap Viana.


Ansel mengangguk, lalu sekilas ia menatap kearah Nara yang sibuk dengan makannya.


"Cepet sembuh." Lirih Ansel dengan sangat pelan, tapi mampu terdengar oleh Nara. Seketika Nara menengok kearah Ansel yang sudah menjauh.


"Apa gue gak salah denger?" Batin Nara melihat punggung Ansel.


..........


Ansel sudah berada di dalam mobil. Ketika ia menyalakan mesin mobilnya, tiba-tiba saja dering ponselnya berbunyi. Ansel melihat kearah layar ponsel, dan menerima panggilan itu dengan malas.


"Sayang! Kamu kemana saja?! Aku telpon dari kemarin, ponsel mu selalu sibuk! Apa kamu sudah melupakan aku?!" Ujar seorang wanita di sebrang telpon yang tak lain Elsa, kekasih Ansel dari London.


"Aku sibuk dengan kuliah ku." Singkat Ansel.


"Tapi kan kamu seharusnya telpon aku, untuk mengabari keadaan ku! Kamu sudah tak sayang lagi sama aku? Atau jangan-jangan, kamu sudah ada wanita lain disana?! Jawab Ans!!" Kesal Elsa di balik telpon.


"Cerewet!" Ansel pun dengan kesal langsung mematikan sambungan telponnya, dan melempatkan handphone nya ke dasboard.


"Halo? Halo sayang? Ansel? AHHH!!! Dia mematikannya, damn it!!" Elsa membanting ponsel nya ke kasur dengan kesal.


"Aku yakin, pasti Ansel memiliki wanita lain disana. Aku tak akan biarkan Ansel meninggalkan ku! Ya, satu-satunya cara untuk aku mengetahui wanita mana yang berani mendekati Ansel yaitu aku harus menemui nya ke indonesia. Dan meminta daddy untuk memasukan ku ke universitas yang sama dengan Ansel disana." Elsa pun meraih ponselnya lalu menelpon seseorang.


.


.


.


Tbc