
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Malam harinya di taman rumah sakit, Viana sedang termenung memandangi langit dan bulan purnama yang memancar indah di langit. Ia memejamkan matanya menghirup dalam-dalam udara malam yang segar. Ia merasa senang karna persahabatannya kembali lagi.
"Minumlah..."
Tony duduk di samping Viana dan memberinya sebotol minuman. Viana menerimanya dan meminumnya.
"Terimakasih." Senyum Viana.
"Sama-sama... Oh ya, aku dengar dari Nara kamu CEO perusahaan Swift Corp?" Ucap Tony.
"Iya, aku sementara menggantikan uncle Edward menjabat di perusahaannya." Jawab Viana.
"Oh..." Tony mengangguk-angukan kepalanya.
Tony melihat Viana menggosok-gosokan telapak tangannya. Ia mengerti jika Viana kedinginan. Ia berinisiatif membuka jas yang digunakannya pada Viana dan ia juga langsung memakaikannya di pundaknya. Viana terkejut dengan itu, lalu ia memandanginya begitu juga Tony. Mereka beberapa detik saling memandang.
"Ekhem... Ini aku~ itu aku melihat kamu kedinginan, jadi aku meminjamkan jasku untukmu." Tony memutuskan pandangannya, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal karna salah tingkah.
"Terimakasih..." Ucap Viana.
"Iya. Ayo aku antar kamu pulang." Ajak Tony.
"Kau saja. Aku akan menemani Nara..." Tolak Viana.
"Hei... Nara kan ada Ansel yang menemaninya. Nanti besok kita kembali lagi kesini."
"Emm, baiklah..."
Viana dan Tony pun pergi dari rumah sakit. Dan tak lupa mereka berpamitan terlebih dahulu pada Nara dan Ansel takut mereka mencarinya. Tony lupa jika dirinya berada di kawasan yang lumayan jauh dari apartemen nya dan Viana. Akhirnya Tony dan Viana berniat mencari hotel terdekat.
"Mba, kita pesan dua kamar kosong." Ucap Tony pada resepsionis hotel.
"Maaf tuan, kamar hotel hari ini sangat penuh. Jadi hotel kami hanya tersisa satu kamar saja."
"Bagaimana ini?" Lirih Tony pada Viana.
"Baiklah kita ambil kamar itu." Ucap Viana.
"Tapi Vi, kita kan..."
"Ssttt... Kita tidak punya pilihan lain."
"Apa kalian pasangan suami istri?" Tanya resepsionis hotel tersebut.
"Kebetulan kita adalah sodara kandung. Ini kakak saya." Jelas Viana berbohong.
"Oh kalo begitu, ini kuncinya..." Resepsionis hotel itupun memberikan ku ci kamarnya dan Viana menerimanya.
Tony dan Viana menuju kamar mereka.
"Vi, kenapa kita tidak mencari hotel lain saja." Ujar Tony.
"Ini sudah malam, aku sudah lelah jika mencari hotel lain. Tenang saja, aku akan tidur di sofa." Ucap Viana santai dan ia mengambil handuk dan masuk kedalam kamar mandi.
Di satu sisi, Ansel sedang menyuapi Nara makan malam. Ingin sekali Nara merebut mangkuk bubur itu dari Ansel agar dirinya bisa makan sendiri, tetapi Ansel selalu menghalanginya.
"Biarkan aku saja Ans..." Nara mencoba mengambil mangkuk di tangan Ansel.
"Tidak Nara... Biarkan aku saja. Kamu diam, dan nikmati saja oke." Pinta Ansel seraya menyuapi Nara.
"Ck..." Nara berdecak kesal.
"Aku sudah kenyang."
"Baiklah." Ansel menyimpan mangkuk bubur itu ke atas meja lalu ia mengambil tisu dan mengelapkannya pada mulut Nara.
"Aku saja..." Nara ingin mengambil tisu di tangan Ansel.
"Ssttt..." Ansel melarangnya dan memegang tangan Nara. Ia melanjutkan kegiatan mengelap mulut Nara. Nara terperangah oleh perlakuan manis dan perhatian Ansel padanya. Hatinya berdegub sangat kencang memperhatikan wajah Ansel yang fokus mengelap bibirnya.
"Ada apa melihatku seperti itu? Baru sadar ya jika suami mu ini sangat tampan?"
"Ish Apaan sih! Kepedean banget jadi orang!" Wajah Nara memerah.
"Pfftt... Tapi Kenyataannya seperti itu bukan? Suami mu ini sangat tampan. Oh ya, Bukankah ini malam pertama kita?" Goda Ansel.
Nara membulatkan kedua matanya. "Tidak ada kata malam pertama! Kita menikah hanya keterpaksaan saja, bukan karna cinta!" Ucap Nara. Ansel mendengarnya merasakan sakit dihatinya.
"Itukan kamu, bukan aku. Aku menikahimu karna cinta." Jawab Ansel dengan wajah datarnya.
"Ya~ya... Itu... Itu berbeda." Nara terbata-bata ketika melihat tatapan Ansel.
"Tidak ada yang berbeda. Kita sudah sah menjadi suami istri di mata agama dan negara." Wajah Ansel mendekati wajah Nara.
"A~aku tau itu. Tapi... Ah sudahlah aku mengantuk! Lagi pula aku ini sedang sakit, tidak bisa melakukan hal seperti itu!" Elak Nara.
"Oh... Berarti jika sudah pulih, kamu bisa melakukan itu denganku?" Goda Ansel kembali.
"Bicara sekali lagi, aku akan membunuh mu menggunakan pisau itu." Tunjuk Nara pada pisau buah di sampingnya.
"Kalo kamu bisa." Ansel menggidikan bahu dan bangkit dari duduknya.
"Geserkan tubuhmu kesamping." Pinta Ansel.
"Untuk apa?" Ucap bingung Nara mengerutkan alisnya.
"Sudah, geser saja."
Nara pun menggeser badannya kesamping. Melihat kesempatan itu, Ansel membaringkan tubuhnya di samping Nara.
"Eh apa-apaan kamu! Tidurlah di sofa! Ini tempatku... Aww!" Nara menggeserkan tubuh Ansel, tetapi karna sebelah tangannya terpasang infus ia merasa kesakitan karna infus itu tertarik olehnya.
"Jangan bergerak... Infus mu nanti copot. Diam, dan tidurlah." Ansel menyampingkan tubuhnya dan tidur memeluk Nara. Dengan terpaksa Nara pun mendiaminya saja.
Kasur yang ditiduri Nara lumayan besar dan bisa ditiduri untuk dua orang. Nara tadi sore sudah dipindahkan keruang VIP.
.....
Viana sudah selesai dengan kegiatan mandi nya. Badannya terasa segar, ia mengeringkan rambutnya menggunakan handuk kecil. Tony yang berada duduk di kepala ranjang seraya memainkan ponselnya, memperhatikan gerak-gerik Viana. Ia sungguh terpesona dengan kecantikan yang dimiliki Viana.
"Kenapa jantungku berdegub kencang seperti ini ketika melihat Viana?" Batin Tony memegang dadanya.
"Kamu mau mandi juga Ton?" Tanya Viana duduk diatas sofa yang tak jauh dari kasur yang di duduki Tony.
Tony tampak diam saja. Tetapi matanya tetap melihat kearah Viana. Entah apa yang ada dipikiran Tony saat ini, Viana tidak tahu. Viana terheran-heran melihat tingkah Tony yang terus memperhatikannya. Tanpa disadari Tony, Viana sudah di hadapannya.
"Hei!" Viana menjentikan jarinya diwajah Tony.
"Eh ya ada apa?" Tony tersentak.
"Kamu kenapa melihatku seperti itu?" Tanya Viana.
"Emmm... Itu... Aku juga tidak tau. Maaf..." Gugup Tony.
"Dasar aneh! Yasudah sana, mandi. Badan mu pasti lengket." Ucap Viana.
"Ah iya aku akan mandi." Tony bangun dari duduknya dengan tergesa-gesa sampai-sampai ia lupa jika yang ia pinjak bukanlah lantai, melainkan selimut.
"AH!" Tony terjatuh dengan telungkup. Viana tertawa melihat konyol nya Tony.
"Ah sial! Memalukan!" Umpat Tony. Ia segera bangkit dari jatuhnya dan langsung berlari menuju kamar mandi. Sungguh, sakit yang ia dapatkan tak sebanding dengan rasa malunya.
Viana menggeleng-gelengkan kepalanya. "Bagaimana jika kamu mengetahui kalo aku pernah bermalam denganmu Tony? dan bagaimana akibat kejadian malam itu aku hamil? apa kamu akan bertanggungjawab Tony? Aku takut, kamu tidak akan menerimanya..." Lirih Viana. Ia menghembuskan nafasnya dengan kasar, mencoba menghilangkan kekhawatirannya.
"Aku tidak akan memberitahumu sampai kapanpun Tony. Aku tidak mau kamu mengetahuinya."
.
.
.
TBC