Satu Hati Dua Rasa

Satu Hati Dua Rasa
Episode 84


#Happy Reading's🌻


.


.


.


Setelah mereka berjalan-jalan di pantai, mereka melanjutkan perjalanan. Kurang dari satu jam mereka sampai di kediaman Viana. Semuanya pun tampak turun dari mobil.


"Assalamu'alaikum..." Viana mengetuk pintu rumah, tak selang beberapa lama Bundanya membukakan pintu.


"Wa'alaikumsalam... Eh Viana?" Bundanya terkejut melihat anaknya karna sebelumnya Viana tak mengabari terlebih dahulu jika dirinya akan berkunjung.


"Bunda..." Viana langsung memeluk bundanya yang susul oleh Tony, Nara dan Ansel yang menyalami Bundanya Viana.


"Ada apa ini?" Tanya Bundanya.


"Bun kita masuk dulu, nanti aku ceritakan alasan kita datang kesini." Jawab Viana.


"Baiklah... Ayo masuk."


"Bun, Vi, aku gak ikut masuk ya... Mau langsung kerumah Ayah sama Mama aja." Sela Nara.


"Oh yaudah kalo gitu. Besok kita lanjut jalan-jalan lagi ya..." Ucap Viana.


"Siap..." Jawab Nara.


Nara dan Ansel pun pergi kerumah kedua orang tua Nara, sedangkan Viana dan Tony masuk kedalam rumah bundanya Viana.


"Silahkan duduk nak Tony. Bunda ambilkan minum sebentar."


Viana memegang tangan Tony. "Tony... Kita bilang apa nanti sama Bunda masalah pernikahan dan kehamilanku?" Bisik Viana khawatir.


"Kita jujur aja sama Bunda kamu, kalo kamu hamil setelah itu kita meminta pernikahan kita di majukan." Jawab Tony.


"Kalo Bunda marah gimana?"


"Tenang... Bunda gak bakal marah. Aku akan menangani semuanya, kamu tenang aja ya..." Tony berusaha menenangkan Viana, ia beberapa kali mengusap lengan Viana. Walaupun dihatinya ia begitu sangat takut, tetapi ia berusaha untuk tetap baik-baik saja agar Viana tidak semakin khawatir.


Bundanya datang membawakan dua cangkir teh. "Ini kalian minum dulu, pasti perjalanan kalian sangat panjang."


"Makasih Bun..." Serentak Viana dan Tony.


"Nah, sekarang kalian ceritakan sama Bunda ada apa sebenarnya kalian tiba-tiba datang kemari? Bukanya tanggal pernikahan kalian masih lumayan lama?" Tanyanya.


"Itu Bun... Anu... Itu..." Viana sangat gugup, tangannya merem*s-rem*s baju bagian bawah yang tertutup meja sofa. Bundanya mengerutkan dahinya, ia bingung melihat tingkah anaknya.


"Bun~Bunda... Vi~Viana... Viana hamil bun." Viana memejamkan matanya erat-erat dan Tony menenangkannya kembali dengan setia memegang tangannya.


"APA?! Maksud kamu hamil apa Viana?" Bundanya sangat terkejut bukan kepalang.


"Bunda, maafkan Tony... Ini semua salah Tony. Tony yang menghamili Viana..." Sela Tony.


"Bunda tidak menyangka kalian akan melakukan hal sejauh itu!"


"Hiks, Bunda... Maafkan Viana ya... Viana benar-benar khilaf." Viana duduk dibawah kaki Bundanya dan memegang kedua tangannya.


"Bunda bener-bener kecewa sama kamu Viana! Bunda gak habis pikir dengan kalian!" Bundanya menepis tangannya dan memijat pelipisnya yang terasa pening.


"Bunda... Maafkan kita... Hukum saja Tony, jangan hukum Viana. Tony siap menanggung semuanya Bun." Tony pun ikut duduk dibawah disamping Viana.


Bundanya diam dan sesekali menghapus air matanya. Antara sedih, kecewa dan bahagia yang ia rasakan mengenai kehamilan anaknya ini.


"Bangunlah..." Pintanya.


"Viana gak mau bangun sebelum Bunda maafin Viana..."


"Bunda maafin kamu dan Tony. Bagaimana pun kalian juga akan menikah. Bunda hanya kecewa saja pada tindakan kalian yang berbuat diluar batas seperti ini."


"Makasih Bunda... Sekali lagi maafin Viana ya..." Langsung saja Viana memeluk Bundanya.


"Bun, Tony dan Viana akan memajukan tanggal pernikahan kita." Lanjut Tony.


"Atur saja sama kalian. Bunda selalu menyetujui keputusan kalian asalkan itu yang terbaik untuk kalian berdua kedepannya."


"Iya Bun, sekali lagi terimakasih..."


"Yasudah, kalian pergi istirahat. Bunda akan meminta adikmu Viona tidur dikamarmu untuk sementara waktu. Dan Tony akan tidur dikamar Viona." Tutur Bunda Viana. Viana dan Tony menyetujui hal tersebut.


Di satu sisi, Nara dan Ansel kini sedang beristirahat dikamar Nara.


"Ah... Akhirnya bisa tiduran juga." Lenguh Nara meniduri tubuhnya dikasur.


"Kamu gak mandi dulu?" Tanya Ansel.


"Kamu dulu aja..." Jawab Nara.


"Yasudah kalo gitu. Aku mandi dulu..." Ansel pun masuk kedalam kamar mandi.


Tak butuh waktu lama, Ansel selesai dengan mandinya. Ia menyuruh Nara mandi juga. Tetapi disaat Nara selesai mandi, ia lupa untuk membawa baju ganti.


"Duh gimana ini? Mana gak bawa baju ganti lagi! Gak mungkinkan aku keluar pake handuk kayak gini."


Nara berpikir sejenak. "Apa aku minta Ansel buat ambilin bajuku aja ya? Ah, tapi masa aku harus nyuruh dia bawa daleman aku juga sih! Kan malu banget!"


Nara membuka sedikit pintu kamar mandi dan mengintip keluar mencari keberadaan Ansel. Ia sangat lega ketika melihat kesekeliling kamar bahwa Ansel tidak ada disana. Melihat kesempatan itu, Nara keluar kamar mandi menggunakan handuk dan segera saja ia memakai baju.


Tapi ketika Nara sedang memakai pakaian dal*m*n, ia dikejutkan dengan kedatangan Ansel yang sudah berada di ambang pintu menatapnya dengan wajah yang tak kalah terkejutnya dengan Nara. Sungguh sial bagi Nara dan keberuntungan bagi Ansel dalam situasi itu.


"AAAA..." Teriak Nara dan langsung menutupi tubuh bagian tertentunya.


Teriakan Nara membuat Ansel tersentak dari keterkejutannya. "Ma~maafkan aku..." Ansel langsung kembali keluar dan menutup pintu.


Ansel memegangi dadanya yang berdetak sangat kencang. "Menakjubkan..." Ucap Ansel tanpa sadar dan berusaha menelan salivanya susah payah.


"Ada apa kak?" Mario yang kamarnya tepat disebelah kamar Nara mendengar teriakan Nara, segera saja ia menghampiri keluar dan melihat kakak iparnya yang sedang berdiri didepan pintu kamar kakaknya.


"Ng~nggak ada apa-apa kok." Ucap Ansel salah tingkah.


"Kak Nana kenapa teriak?" Tanya Mario kembali.


"Oh itu... Tadi ada kecowa lewat, makanya dia teriak." Dalih Ansel.


Mario mengangguk-anggukan kepalanya. "Tapi kenapa kakak berdiri diluar pintu? Kenapa gak masuk?" Tanya Mario kembali.


"Emmm... itu... Kakak mau ngambil minum... Ya, mau ngambil minum. Kakak ambil minum dulu ya." Tanpa banyak bicara lagi, Ansel langsung pergi kedapur.


Mario mengedikan bahunya. "Aneh." Ucapnya lalu masuk kembali kedalam kamar.


Ansel meneguk habis air minum di gelas. "Benar-benar mengangetkan saja... Kenapa aku pas sekali masuk kedalam kamar dan melihat Nara seperti itu. ****! Ini menyiksaku!" Gumam Ansel mengingat tubuh Nara yang hanya mengenakan dal*m*nnya saja.


Setelah itu Ansel kembali masuk kedalam kamar dan melihat Nara sudah berbaring dengan selimut yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Ansel pun membaringkan tubuhnya juga dan ikut masuk kedalam selimut. Sebenarnya Nara belum benar-benar tidur. Ia masih mengingat kejadian memalukan tadi.


"Benar-benar bodoh sekali aku! Ini sangat memalukan!" Batin Nara meradang.


"Nara... Kamu udah tidur?" Tanya Ansel mencolek bahunya. Nara tidak merespon pertanyaan Ansel. Ia benar-benar malu hanya untuk berbicara saja dengannya.


"Huft... Kamu udah tidur ternyata. Tidak apa-apa, aku akan meminta maaf padamu besok hari. Selamat tidur sayang..." Ansel mencium kepala Nara sebelum akhirnya ia tertidur.


Nara membuka matanya dan tersenyum. "Aku menantinya..." Lirihnya dan ia pun ikut tidur.


.


.


.


TBC