
#Happy Reading's🌻
.
.
.
Nara masih berkutat dengan pekerjaan nya. Sedangkan pegawai lain, sudah pulang. Nara sengaja mengambil lembur untuk meringankan pekerjaannya besok. Jam menunjukan pukul 8 malam. Suasana kantor sudah sangat sepi.
"Hoam... Ah, akhirnya selesai juga." Nara merenggangkan tubuhnya yang cukup pegal. Ia membereskan barang-barang nya dan pergi untuk pulang.
"Pantas aja sepi, ternyata udah jam 8 malam. Huft..." Nara melihat jam di tangannya.
Ia menuju parkiran hendak mengambil motornya. "Saatnya pulang..." Sumringah Nara. Ia menyalakan mesin motornya dan melaju ke rumah kontrakannya yang baru.
Semenjak pertengkaran tiga bulan yang lalu, Nara sudah meninggalkan rumah kontrakannya yang dulu ia tinggali bersama Viana. Ia mencari rumah kontrakan yang baru. Untungnya saja, rumah kontrakan nya yang baru ini tidak jauh dari perusahaannya bekerja.
Sesampainya di rumah, Nara terheran-heran ketika melihat sebuah mobil berwarna hitam terparkir didepan rumahnya. "Mobil siapa itu?" Nara membuka helmnya dan menghampiri mobil tersebut.
Tok, tok...
"Permisi, bisakah anda tidak memarkirkan mobil di depan rumah saya." Nara mengetuk kaca mobil itu. Seketika kaca mobil itu turun menampakkan seseorang yang di hindari Nara selama ini.
"LO!!" Nara memundurkan tubuhnya. Ia terkejut melihat Ansel dibalik mobil hitam itu.
Ansel terdiam, ia terus menatap Nara. Lalu, Ansel turun dari mobilnya. Penampilan Ansel terlihat berantakan, dengan dasi di lehernya ya tak karuan. Kancing baju bagian atas terbuka dan kemeja kerja yang tampak lusuh. Nara mengernyitkan alisnya, heran melihat penampilan Ansel.
"Nara..." Suara Ansel bergetar.
"A~ansel... L~lo kenapa?" Nara terlihat takut, melihat bola mata Ansel yang memerah. Ia juga merasa kasihan dengan penampilan Ansel.
"Nara... Aku mohon, maafkan aku kali ini! Aku tak tahan dengan semua ini... Maafkan aku." Ansel langsung memeluk Nara. Tercium aroma alkohol dari mulut Ansel.
"Ansel... Lo mabuk! Lepasin..." Nara mendorong Ansel hingga terhuyung kebelakang.
"Gue udah berapa kali bilang sama lo, jangan pernah muncul di kehidupan gue lagi! Gue gak akan pernah memaafkan lo! Dan satu lagi, jangan pernah mata-matain gue lagi!" Nara pun melenggang masuk kedalam rumah, meninggalkan Ansel yang masih terduduk di atas aspal.
Selama ini Nara tahu, jika Ansel selalu memantaunya dan memata-matainya. Ia yakini, bahwa seseorang yang ia curigai yang selama ini selalu mengawasinya itu adalah suruhan Ansel. Nara sudah jengah dengan sikap Ansel selama ini, selalu saja mengejarnya walaupun sudah beberapa kali Nara menolaknya.
"Nara... Maafkan aku! Aku cinta sama kamu... Aku gak mau kamu tinggalkan aku!" Racau Ansel yang masih terpengaruh alkohol.
"Dasar gila! Aku harus pindah dari rumah kontrakan ini supaya Ansel tak lagi bisa menemui ku!" Lirih Nara memasuki rumahnya. Ketika Nara hendak pergi ke kamarnya, ia mendengar suara yang sangat tak asing di telinganya.
"Astaga Ans, lo mabuk lagi! Ya ampun... Gue cari kemana-kemana ternyata lo disini! Untung nya gue pasang pelacak di ponsel lo!" Ujar seorang pria yang tiba-tiba saja datang. Ia mengangkat tubuh Ansel kedalam mobilnya.
"Jake, bawa mobil Ansel. Biar gue yang bawa Ansel ke apartemen gue." Ujar pria tersebut.
"Baik tuan." Jake pun membawa mobil Ansel, sedangkan pria tersebut mmebawa Ansel kedalam mobilnya.
"Tunggu-tunggu, Suara itu..." Nara membuka pintunya. Ia terlambat, karna kedua mobil itu sudah melaju pergi.
"Apa pendengaran ku salah ya? Aku mendengar suara Tony." Gumam Nara.
"Ah! Mungkin pendengaran ku salah. Tidak mungkin aku mendengar suara Tony... Apa aku terlalu lelah ya?" Nara pun kembali masuk kedalam. Ia melepas semua pakaian yang melekat ditubuhnya, dan menyalakan shower.
"Hah... Cobaan seperti apa yang kau berikan tuhan?" Keluh Nara, lalu kembali membilas seluruh tubuhnya.
Setelah ia mandi dan berganti pakaian, tiba-tiba saja ponsel Nara berdering. Ia tersenyum melihat nama yang tertera di layar ponsenya. Ia pun mengangkat.
Ya, saat ini Nara hanya memiliki Bayu. Semenjak renggangnya persahabatan Nara, Bayu sangat terlihat kebingungan dengan sutuasinya. Ia sempat menanyai ini pada Nara, tetapi Nara hanya menjawabnya ini hanya kesalahpahaman saja.
Bayu pun tak ingin memaksa Nara untuk bercerita lebih rinci. Jadi ia hanya tetap berusaha sesuai janjinya dulu untuk melabuhi hati Nara. Sampai sekarang, Nara sangat sulit dilabuhkan oleh Bayu. Tapi Bayu tak pantang menyerah untuk itu. Ia harus berjuang demi mendapatkan hati Nara.
"Hai juga Ra. Bagaimana kegiatan lo hari ini?" Tanya Bayu dibalik telpon.
"Tidak terduga." Ucap Nara sembari membaringkan tubuhnya di kasur.
"Tidak terduga seperti apa maksud lo?" Tanya bingung Bayu.
"Lo tau Bay, gue udah jadi pegawai tetap! Bukan hanya itu, gue juga dipilih sebagai kepala bagian produksi periklanan." Nara menceritakannya dengan begitu antusias.
"Wah... Benarkah? lo hebat Ra..." Kagum Bayu dibalik telpon.
"Ini berkat kepintaran otak gue! hahaha..." Gurau Nara.
"Kalo itu jangan diragukan lagi... Gue tau kalo otak lo itu sangat pintar. Sampai-sampai gue pun jatuh hati dengan si pemilik otak pintar ini." Goda Bayu.
"Hahaha... Lo ini bisa aja!" Nara tersenyum malu.
"Gue tebak, pasti lo lagi senyum-senyum malu?" Tebak Bayu.
"Kok tau?" Tanya Nara dengan heran, pasalnya Bayu menebaknya dengan tepat sasaran.
"Bisa dong... Karna aku adalah pemilik hati dan jiwamu! Makanya aku bisa tahu! Eya..." Gurauan Bayu.
"Hoek!! Bay, cukup jangan diterusin lagi... Gak tahan gue dengernya!" Balas gurauan Nara.
"Hahaha... Gue tau, Gue tau... Kalo gombalan gue ini mampu mengaduk-ngaduk hati lo, terus turun ke empedu, dan turun lagi keperut, setelah itu keluar deh jadi hembusan angin yang beracun dan memabukkan hidung dan jiwa... Hahahahaha...." Bayu terbahak-bahak mendengar ucapannya sendiri.
"Ihh Bayu!! Jorok banget ngomongnya!! Tapi gak apa-apa, lucu! Hahaha...." Nara pun ikut tertawa mendengar setiap gurauan Bayu.
Ia tak menyangka, jika Bayu memiliki humor yang cukup tinggi. Ia juga sedikit demi sedikit mengenal Bayu lebih lanjut. Kini Bayu sedang bekerja di salah satu perusahaan teknologi. Ia bekerja sebagai pegawai administrasi. Dengan kepintaran Bayu juga, ia ditawari bahkan dipercaya sebagai administrasi di perusahaan itu tanpa magang.
"Ra, lo masih belum nerima gue jadi kekasih lo?" Ucap Bayu.
"Emmm gimana ya Bay... Gue... Gue masih bimbang. Dan gue juga mau fokus ke pekerjaan gue juga." Ragu Nara. Ia sangat berhati-hati ketika berbicara itu dengan Bayu. Ia takut melukai hati Bayu.
"Sampai kapan?" Tanya Bayu.
"Bay, tolong ngertiin gue ya... Gue juga berusaha kok buat buka hati gue ke lo."
"Huft, oke-oke gue ngertiin lo. Yaudah, gue tutup dulu ya... Gue ada pekerjaan yang mau gue kelarin." Ujar Bayu lalu mematikan sambungan telponnya. Bayu sangat kecewa dengan jawaban Nara yang selaku saja mencari alasan untuk menolaknya.
"Sekeras itukah hati lo Ra?" Lirih Bayu.
"Maafin gue Bay..." Nara benar-benar tak enak hati pada Bayu. Selama ini, Bayu selalu ada untuknya. Ketika Nara kesulitan pun, Bayu selalu menolomgnya tampa imbalan apapun. Tetapi, hatinya tetap saja masih tak menerima Bayu.
.
.
.
TBC